
...***...
Sidang masih berlanjut, kali ini hakim benar-benar bimbang untuk memutuskan masalah ini. Pembunuhan itu terjadi karena dorongan dari berbagai pihak. Ucapan Renn juga seakan-akan menekan mereka semua, sehingga keputusan itu diambil dalam keadaan desakan yang sangat luar biasa.
"Karena putus asa dengan perlakuan mereka semua yang telah melecehkan pelaku, apalagi tidak ada tanggapan dari pemerintah yang memegang hukum, akhirnya pelaku memutuskan untuk menerima uluran tangan kegelapan itu. Tentunya yang dilakukan oleh pelaku adalah ungkapan dari bentuk pelarian. Sama saja pelaku membunuh dirinya sendiri dengan menerima uluran tangan kegelapan itu." Renn membacakan itu dengan perasaan yang tidak karuan. "Akan tetapi, dengan bantuan tuan x. Tuan x berharap dapat memberikan harapan pada pelaku untuk bertanggung jawab dengan baik atas apa yang telah dilakukan oleh pelaku. Bukan justru malah membunuhnya. Jika tuan x ingin membunuhnya, maka tuan x tidak akan menyelematkan hidupnya dengan mengambil semua racun yang ada di dalam tubuhnya." Renn sedikit menjelaskan tentang Tuan X yang telah menyelamatkan Akemi Chika. "Taun x telah mengetahui dengan jelas, bahwa tindakan yang dilakukan oleh akemi chika sangat salah. Harusnya tuan x membuatkan pelaku meninggal setelah melakukan tiga kali perubahan. Tapi faktanya apa?. Tuan x malah menghilangkan semua racun itu." Perasaan yang ia rasakan pada saat ini benar-benar sangat bergejolak.
Mereka semua benar-benar menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Renn. Mereka mencoba menimbang dengan baik apa yang dikatakan Renn pada saat itu.
"Pelaku pembunuhan memang bersalah, karena telah melakukan kejahatan. Akan tetapi, kejahatan yang dilakukannya pelaku tentunya karena pengaruh obat. Itu memang sangat salah, bahkan pelaku mengakuinya." Renn tidak berbohong tentang maslah itu. Mereka dapat mendengarkan ucapan Renn dengan baik. "Dalam sidang ini, saya sebagai perwakilan pelaku hanya memohon, untuk diringankan hukuman. Supaya pelaku dengan sepenuh hati dapat membayar atas apa yang dilakukan pelaku. Jika yang mulia memberi hukuman mati, bukan malah membayar atas apa yang dilakukan pelaku, melainkan membuat pelaku lari dari tanggung jawabnya atas apa yang telah pelaku lakukan. Jika memang ingin memberikan hukuman pada pelaku agar jera melakukan kejahatan yang telah ia lakukan, maka pertimbangkan kembali hukuman mati tersebut. Mohon pertimbangan atas apa yang telah saya katakan. Terima kasih, saya rasa sekian dari saya." Rasanya memang tidak ada lagi yang hendak ia sampaikan.
Mereka semua menghela nafas dengan sesak, memang ada benarnya apa yang dikatakan Renn. Memberi hukuman mati pada pelaku kejahatan membunuh dalam jumlah korban yang sangat banyak tidak akan membayar apapun. Justru malah membuat pelaku lari dari tanggung jawabnya atas apa yang telah ia lakukan. Selain itu, menghukum mati pelaku kejahatan pun tidak akan mengembalikan beberapa nyawa yang telah pergi. Mereka sedang dalam kebimbangan, mereka tidak bisa memutuskan masalah itu dalam waktu yang singkat. Kepala mereka dibentur oleh dua fakta yang sangat menyakitkan. Mereka tidak bisa bertindak saat ini karena ucapan Renn.
"Keputusan akan ditetapkan lima belas menit lagi." Hakim merasa pusing, tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Meskipun dari awal mereka sangat bersemangat karena hanya memutuskan perkara hukuman mati untuk Akemi Chika. Namun siapa sangka akan berakhir seperti ini setelah kedatangan Renn?.
Hakim meninggalkan ruangan, mereka benar-benar ingin berdiskusi, mereka saat ini tidak bisa berpikir jernih setelah mendengarkan ucapan Renn.
__ADS_1
CREK!!!.
Shark kembali menodongkan senjatanya, ia masih belum puas sebelum ia menembak kepala Renn.
"Dx san." Akemi Chika sangat takut melihat itu. Ia tidak dapat berbuat banyak karena kondisinya sekarang.
"Siapa kau sebenarnya?. Berani sekali kau berkata seperti itu dihadapan hakim. Apakah kau kenal dengan orang yang telah mengembalikan wujud ular cobra raksasa itu?." Ada dua pertanyaan yang ia tanyakan.
Renn dengan santainya menjauhkan senapan itu dari kepalanya. "Jika kau penasaran, kenapa kau tidak cari tahu saja?. Bukankah itu tugasmu sebagai kapten h2c?." Senyumannya begitu mengejek. "Dan kau tidak berhak menginterogasi seorang pengacara dalam ruang sidang. Sadarilah posisi mu sekarang, jangan berlagak kau memiliki kekuasaan di hadapan ku. Lakukan saja tugasmu dengan baik, shark chan." Renn menepuk pelan pundak Shark, membuat wanita itu semakin memanas. Setelah itu ia mendekati Akemi Chika, ia hanya ingin memastikan jika wanita itu baik-baik saja.
"Dx san." Akemi Chika tersenyum kecil. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi." Ia hanya menahan perasaan yang ia rasakan.
"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Pastikan dengan baik, jika kau membayar semua apa yang telah kau lakukan." Renn tersenyum kecil. "Aku telah melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Karena kau berhak mendapatkan semua itu." Renn kembali tersenyum. "Semua orang pernah melakukan kesalahan. Ada hukuman yang benar-benar hukuman mati untuk seseorang. Tapi kau tidak berhak mendapatkan hukuman itu. Kau masih harus hidup dengan baik. Banyak hal yang harus kau hadapi jika diberi kesempatan untuk hidup. Apakah kau mengerti dengan apa yang aku katakan, chika san?." Renn hanya ingin Akemi Chika mengerti, bahwa di dunia ini memang ada hukuman yang sangat kejam, tapi ada juga yang dapat ditangguhkan.
"Um. Um, aku berjanji akan membayar itu dengan baik dx san. Aku berjanji akan hidup lebih baik lagi setelah ini." Akemi Chika menangis haru. Ia tidak pernah membayangkan, ada seseorang yang telah memberikan cahaya harapan padanya. Cahaya untuk bertahan lebih lama di dunia yang sangat kejam ini. Ia tidak menduga jika masih ada orang yang peduli padanya.
__ADS_1
"Ya, aku akan menjadi saksinya. Aku akan melihatmu hidup dengan lebih baik lagi setelah ini." Renn juga hampir menangis melihat Akemi Chika menangis. Ia tidak sanggup melihat keadaan Akemi Chika yang seperti itu.
Mereka yang berada di ruangan itu juga dapat melihatnya, dan mereka dapat merasakan ketulusan yang diberikan Renn pada Akemi Chika. Kemarahan yang mereka rasakan tadinya hilang begitu saja saat menyaksikan itu semua. Apakah mereka kejam?. Apakah mereka tidak dapat melihat itu semua dengan hati nurani mereka?. Walaupun anak mereka yang dibunuh?. Apakah anak mereka telah melakukan kejahatan juga?. Sehingga Akemi Chika putus asa, putus asa menerima begitu saja apa yang datang padanya. Ia yang pada saat itu tidak memiliki siapapun untuk bertahan.
"Siapa laki-laki ini sebenarnya?. Kenapa dia membela seseorang yang jelas-jelas telah membunuh banyak nyawa?." Dalam hati Shark tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan Renn. "Kenapa dia mau membela seseorang hingga seperti itu?. Apa yang dia inginkan dengan membela orang lain seperti itu?." Hatinya sedang gelisah karena tidak dapat membayangkan keuntungan apa yang akan didapatkan Renn dengan melakukan itu?.
Renn on.
Di dunia ini ada hukum yang dapat diubah, yaitunya hukuman manusia yang memiliki perasaan yang bercabang. Sentuh sama hatinya, maka semua akan berubah dengan sendirinya. Tapi jika itu adalah hukum dari tuhan?. Manusia tidak akan bisa bertindak.
Renn off.
Bagaimana kelanjutan dari kisah ini?. Simak terus ceritanya ya.
...***...
__ADS_1