
...***...
Perlahan-lahan tubuh Akemi Chika telah kembali normal ke wujud manusia. Ia tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan. Karena selama ini hanya rasa sakit yang ia dapatkan.
"Kenapa kau mengubahku kembali ke wujud manusia. Seharusnya kau membiarkan aku mati." Tangisnya begitu pilu, mengingat semua kesakitan yang ia rasakan selama ini.
"Kau harus bisa bangkit lagi akemi san." Renn tersenyum lembut menatap wajah Akemi Chika. "Hidup ini memang penuh dengan dengan rasa sakit. Karena itulah kau tidak boleh menyerah." Renn berusaha untuk meyakinkan Akemi Chika, bahwa ia masih memiliki harapan untuk berjuang.
"Tapi kenapa kau ingin aku bangkit kembali. Siapa kau memangnya?. Kenapa kau ikut campur dalam urusanku?. Untuk apa kau melakukan itu?." Akemi Chika sama sekali tidak mengerti kenapa orang asing itu mau membantunya?. "Siapa kau sebenarnya?. Kenapa kau bisa mengembalikan wujudku?. Sudah sangat jelas bahwa jika tiga kali melakukan perubahan wujud ular cobra raksasa maka kau tidak akan akan bisa kembali ke wujud manusia, kecuali kematian yang akan aku dapatkan." Tangisnya semakin pecah, dadanya terasa sangat sesak. Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup.
Renn tersenyum lembut mendengarkan apa yang dikatakan Akemi Chika. Saat ini mereka sama-sama dalam posisi duduk, sehingga mereka terlihat sejajar. "Kau lihat aku dengan baik-baik akemi san." Dengan pelan Renn berkata seperti itu.
Akemi Chika mencoba mengikuti apa yang dikatakan oleh Renn. Dengan pelan ia dan secara hati-hati ia melihat, serta mengamati Renn.
Deg!!!.
Akemi Chika sangat terkejut melihat dibelakang Renn. Sangat besar, dan tentunya membuat bulu kuduk merinding luar biasa. "Ka-ka-kau." Akemi Chika hampir saja kehilangan kata-kata dengan apa yang ia lihat.
"Akemi san. Di dunia ini masih ada harapan. Walaupun sangat kecil, kau harus mengambil kesempatan kecil itu." Renn tersenyum lembut, namun dadanya terasa sangat sesak.
"Meskipun kau berkata seperti itu, apa yang akan aku lakukan nantinya." Akemi Chika berusaha menenangkan kembali hatinya setelah melihat apa yang ia lihat tadi. "Aku telah membunuh banyak orang. Aku yakin aku akan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan apa yang aku lakukan. Aku yakin aku tidak akan dibiarkan bebas begitu saja oleh organisasi H2C." Akemi Chika mengerti akan hal itu. Tidak mungkin rasanya ia kembali ke kehidupannya yang normal. "Setidaknya hukuman mati yang akan aku dapatkan nantinya." Lanjutnya lagi dengan perasaan sedih yang mendalam.
"Akemi san. Aku adalah detektif x, aku telah menyelidiki semua latar belakang kehidupan mu yang menyakitkan itu. Karena itulah, percayakan semuanya padaku. Jika kau ditangkap oleh mereka dan kemudian kau disidang untuk formalitas mereka, maka aku akan menjadi pembelamu saat itu juga." Renn benar-benar meyakinkan Akemi Chika, bahwa ia tidak akan membiarkan Akemi Chika sendirian.
"Tapi-." Akemi Chika masih ragu dengan apa yang telah dikatakan oleh Renn.
__ADS_1
"Percayalah akemi san." Renn menggenggam tangan Akemi Chika untuk menguatkan wanita itu. "Kau tidak boleh menyerah. Kau harus bangkit kembali, menata kembali apa yang telah hancur. Jangan siksa dirimu hanya karena kau kecewa dengan sikap orang lain." Renn kembali meyakinkan Akemi Chika, bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Akemi Chika tidak tahu harus berkata seperti apa karena baru kali ini ada seseorang yang berusaha meyakinkan dirinya agar terus berusaha untuk berjuang. Tangisnya semakin pecah karena kebingungan yang ia rasakan pada saat itu. Tanpa sadar ia memeluk Renn untuk menguatkan dirinya.
"Ya, menangislah akemi san. Kau boleh menumpahkan semua rasa sakit yang kau rasakan selama ini padaku." Renn sedikit lega, setidaknya Akemi Chika mau membuka hatinya untuk berusaha.
Apakah yang akan dilakukan oleh Renn setelah ini?. Simak terus ceritanya.
...***...
Bos Organisasi hitam sangat marah, karena anak buahnya belum juga menemukan keberadaan orang misterius itu. Hatinya sangat panas, ingin marah karena anak buahnya tidak juga melakukan tugasnya dengan benar.
"Siapa sebenarnya dia!. Kenapa dia bisa mengubah seseorang kembali ke wujud aslinya?!." Dengan penuh kemarahan ia membanting apa saja yang ada di hadapannya. Ia tidak menduga bahwa akan ada seseorang yang memiliki kekuatan itu. Namun saat itu ia ingat sesuatu, bahwa ia sedang meneliti Penemuan baru. Ia bergegas menuju labor miliknya dengan senyuman mengerikan. "Heh!. Mari kita lihat!. Apakah kali ini kau bisa menghentikan aku atau tidak?. Tunjukan padaku, seberapa besar kekuatan yang kau miliki." Ucapnya seakan-akan menantang orang itu untuk bertarung dengannya.
...***...
"Cari di setiap tempat. Lacak keberadaan mereka. Jangan biarkan mereka lolos dari apa yang telah mereka lakukan." Suasana hati Shark saat ini tidak baik, sangat sakit, dan ingin melampiaskan segera pada seseorang.
"Akan kami usahakan dengan baik kapten." Sebagai anak buah, tentunya ia akan melakukan apapun yang diminta oleh kaptennya.
Tapi apakah mereka mampu menemukan keberadaan Akemi Chika dan keberadaan Renn?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Renn telah membawa kembali Akemi Chika ke dunia nyata. Setidaknya untuk saat ini Renn telah berhasil meyakinkan Akemi Chika, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku sangat takut sekali." Akemi Chika menatap Renn dengan takut.
"Tidak perlu takut. Aku akan membantumu." Renn tersenyum kecil.
"Bagaimana jika menangkapku nantinya?. Apa yang akan aku lakukan?." Akemi Chika kembali bertanya.
"Kau hanya ditangkap saja. Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan apapun padamu. Aku berjanji untuk itu." Renn selalu tersenyum, untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Baiklah-." Akemi Chika agak ragu berkata, karena ia tidak mengetahui siapa nama orang yang telah menyelamatkan dirinya.
"Akiyama renn. Namaku adalah akiyama renn." Renn mengerti jika Akemi Chika tidak mengetahui namanya sama sekali. Karena ia juga tidak menyebutkan namanya pada Akemi Chika.
"Terima kasih akiyama san. Kau telah membantuku." Akemi Chika terlihat sangat senang.
"Panggil saja aku renn, itu lebih baik." Renn tidak mau merasa formal, karena itulah ia menyuruh Akemi Chika memanggil nama kecilnya saja.
"Kalau begitu panggil saja namaku chika, itu juga lebih baik renn san." Akemi Chika mencoba untuk dekat dengan Renn.
"Baiklah kalau begitu chika san. Untuk saat ini kau kembali saja ke rumahmu. Aku yang akan menjamin semuanya." Renn mengusap pelan bahu Akemi Chika.
"Um." Ia hanya mengangguk saja.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya. Jangan lupa dukungannya ya.
Next.
__ADS_1
...***...