DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)

DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)
CHAPTER 59


__ADS_3

...***...


Renn on.


Mungkin apa yang kita lakukan adalah hal yang sia-sia, tapi jangan sampai kau hina dirimu sendiri jika kau merasa itu adalah hal yang sia-sia. Hanya kau yang bisa mengangkat derajat dirimu sendiri, dengan kekuatanmu sendiri. Tapi jangan lupa meminta dukungan pada orang-orang yang benar ingin kau menjadi orang yang sukses, bukan orang yang hanya menjatuhkanmu. Apalagi dia yang menginginkan kamu berada di bawahnya. Kuatkan hatimu di saat tidak ada seorangpun yang akan membantu dirimu selain dia yang menatap benci padamu.


Renn off.


Di sebuah sekolah yang cukup terkenal, di sini lah kabar buruk sedang beredar. Banyak siswa yang menghilang, satu kelas siswa menghilang secara misterius. Mereka mencurigai Takemaru Osawa yang telah melemahkan perbuatan jahat itu.


"Pagi pak." Sapa mereka dengan ramahnya.


"Selamat pagi." Balasnya dengan suara jutek. Setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan itu karena ia akan mengajar ke kelas dua belas.


"Ish seram sekali." Mereka sangat tidak nyaman padanya, dengan sikapnya yang seperti itu.


"Tapi kabar yang beredar ada beberapa siswa yang menghilang setelah ikut bersamanya." Mereka sempat mendengar kabar buruk itu, bahkan kabar buruk itu telah tersebar di seluruh SMA tersebut.


"Masa sih?!." Walaupun ada yang masih belum percaya sepenuhnya.


"Kenapa ada guru yang galak di sekolah kita?." Mereka tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan pak Takemaru Osawa. "Harusnya guru seperti dia tidak ada di sekolah kita ini." Mereka yang membencinya tentunya akan berkata seperti itu.


"Benar, itu sangat berbahaya. Bahkan kabar yang aku dengar siswa kelas dua belas lima tidak ada yang pulang satupun. Begitu juga dengan kelas dua belas tiga, tidak ada satupun dari mereka yang pulang." Memang sangat menyeramkan jika memang seperti itu yang terjadi diantara mereka.


"Lalu bagaimana penyelesaian masalah siswa yang hilang itu?." Siapa yang tidak khawatir dengan keadaan yang seperti itu?.


"Saat ini polisi sedang berupaya untuk mencari keberadaan mereka." Kabar itu juga beredar. "Semoga saja polisi dapat mengatasi masalah ini dengan baik." Hanya itu harapan mereka semua.


Sementara itu pak Takemaru Osawa yang menyimpan itu semua.


"Mereka lah yang tidak seharusnya berada di dunia ini. Mereka hanyalah anak-anak yang tidak berguna itu seharusnya tidak berada di sini." Hatinya sedang mengutuk apa yang telah mereka lakukan padanya selama ini. Baginya itu adalah pelajaran yang harus mereka ingat, bahwa tidak semuanya bisa remehkan hanya karena pangkat dan derajat yang meraka dapatkan karena orang tua mereka yang berada.


...***...


Saat itu ia merasa ada yang salah degan perutnya. Perutnya yang terasa sakit, ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya. Ia yang tadinya tertidur namun terganggu karena ada yang salah dengan perutnya.


"Bffh!. Bwekh!." Bukan hanya cairan bening saja, melainkan darah yang ia muntahkan. 


"Renn san!." Yui sangat khawatir dengan keadaan Renn, ia bergegas mendekati Renn, menampung apa yang telah dimuntahkan Renn.


"Aki chan!."  Mika yang melihat itu langsung mengambil kain kecil, setelah itu ia seka darah itu.


"Arigatou." Renn hanya tersenyum kecil ketika Yui dan Mika begitu perhatian padanya.


"Minum, aku akan mengambil minuman untukmu." Perasaanya yang gelisah membuat Mika tidak bisa tenang. Ia dari tadi menahan tangisnya karena keadaan Renn yang belum juga bangun.


"Renn san, apa kau baik-baik saja?." Yui hanya ingin memastikan Renn baik-baik saja setelah tidur hampir dua hari?.


"Aku baik-baik saja." Renn tidak ingin membuat keduanya khawatir tentangnya.

__ADS_1


"Minumlah. Minumlah obat ini untuk mengembalikan stamina mu." Mika yang baru datang dari dapur segera memberikan segelas air putih pada Renn.


"Terima masih mika." Renn tersenyum kecil. Setelah itu ia meminum air itu.


"Oh, aku telah menyiapkan bubur untukmu, kau harus memakannya. Aku akan mengambilnya untukmu." Saking gelisahnya ia langsung mengingat ada bubur yang telah ia buat untuk Renn. Ia pun bergegas menuju dapur untuk mengambilnya. 


"Maafkan aku, karena aku telah membuat kalian khawatir." Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan. Namun saat itu Yui memeluknya dengan sangat erat. Tubuhnya bergetar menahan tangisnya yang ia tahan selama Renn tidur?.


"Apa yang kau katakan?!. Aku sama sekali tidak khawatir padamu." Yui berusaha menahan tangisnya, menahan isak tangisnya dengan menggigit bibirnya. Memeluk erat leher Renn untuk menyembunyikan perasaan sedih yang ia rasakan.


"Yui." Renn tahu jika Yui saat ini sedang menangis.


"Aku bilang aku tidak khawatir!." Suaranya jelas terdengar bergetar, namun ia berusaha untuk menutupi itu.


"Mm. Aku mengerti." Renn tidak membantah, ia memahami apa yang telah dirasakan Yui selama ini. Renn mengerti jika dirinya telah membuat Yui dan Mika menangis karena dirinya.


Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Simak terus ceritanya.


...**...


Gedung H2C.


Shark dan Eagle saat ini sedang berdiskusi mengenai apa saja yang akan mereka lakukan setelah ini, termasuk menganalisa siapa yang dianggap telah menggunakan kapsul ular cobra raksasa.


"Di daerah ini, aku dapat melihatnya." Eagle menunjukan lokasi itu dengan mudahnya, seakan-akan ia mengetahui dengan pasti lokasi itu.


"Ish!. Kenapa kau selalu meragukan aku?." Eagle sangat kesal dengan Shark. "Jika kau tidak percaya kenapa kau malah menyuruh aku masuk ke sini?." Ia sangat jengkel jika Shark selalu ragu dengan apa yang telah ia lakukan.


"Baiklah. Akan aku lihat lokasi ini." Shark segera membuka lokasi yang ditunjuk oleh Eagle padanya. "Area anak sekolah?!." Ia sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat saat itu. "Jadi maksudmu lokasi ini adalah area anak sekolah?!. Ada siswa bandel yang teraniaya menggunakan itu?!." Ia mencoba menebak apa yang telah terjadi di sana.


"Bisa jadi seperti itu. Tapi aku berpendapat yang berbeda." Ucapnya dengan sangat yakin.


"Apanya yang beda?!." Shark sangat heran dengan ucapan itu.


"Lihat dia?." Eagle menampilkan foto seseorang.


"Sejak kapan kau seenaknya mengakses informasi pribadi seseorang?!." Shark kembali heran dengan informasi yang telah di dapatkan oleh temannya itu.


"Ayolah, kita ini adalah organisasi yang diberi kepercayaan untuk menjaga keamanan masalah ini. Tentunya kita memiliki hak untuk mencurigai seseorang yang diduga menggunakan kapsul ular cobra raksasa." Eagle tidak merasa itu adalah sebuah ilegal, akan tetapi itu adalah hak yang ia miliki. "Jika kita menunggu sampai mereka berubah terlalu lama itu akan sangat berbahaya nantinya." Lanjutnya lagi dengan kepercayaan yang ia yakini.


"Tapi kenapa kau mencurigai dia sebagai pengguna kapsul ular cobra raksasa?. Kau pasti memiliki pandangan yang tepat, kan?." Shark tentunya ingin mengetahui kenapa Eagle berkata seperti itu.


"Dia adalah guru olahraga yang paling sadis, mungkin pendapat siswa. Tapi sayangnya karena sikapnya yang seperti itu membuat semua siswa sangat membencinya. Apalagi siswa kelas dua belas yang sebenarnya selalu mengalami kesulitan mendapatkan nilai darinya. Mereka semua dendam padanya. Hingga timbul perselisihan, dan tak jarang sang guru mendapat perlakuan yang tidak baik dari siswa." Kira-kira seperti itulah yang ia dapatkan ketika melihat wajah foto itu.


"Jadi itu yang membuatnya mendorong untuk menggunakan kapsul ular cobra?." Ia mengingat perkataan seseorang.


"Mendorong ya?." Eagle heran mendengarkan ucapan Shark. "Kenapa kau berpikir seperti itu?." Tentunya ia bertanya kenapa.


"Pengacara yang diutus tuan x untuk menghadapi kami saat itu pernah berkata, jika seseorang melakukan kejahatan itu sepenuhnya bukan dorongan dari hatinya. Melainkan dari dorongan orang-orang sekitarnya, termasuk salah satunya kasus manusia ular ini." Ia sangat ingat dengan apa yang dikatakan detektif X yang waktu itu.

__ADS_1


"Hum." Eagle sedikit berpikir. "Aku jadi penasaran bagaimana sebenarnya tuan x, juga detektif x itu." Ia sangat heran dengan penjelasan temannya.


"Kalau begitu kau harus menangkapnya, supaya kau bisa melihat siapa dia yang sebenarnya." Shark tersenyum kecil.


"Baiklah. Akan aku lakukan itu." Eagle juga tersenyum kecil, ia membayangkan bagaimana pertemuan mereka nantinya.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisah ini.


...**...


Kembali pada Renn, Yui, dan Mika.


"Terima kasih yui, mika. Aku baik-baik saja karena kalian berdua." Renn memang telah baikan.


Namun saat itu kepalanya dijitak keras oleh mika yang terlanjur marah padanya.


DUAKH!.


"Itte!." Renn meringis sakit, mika benar-benar menghajar kepalanya tanpa ampun.


"Kau harus berhati-hati lagi. Kami tidak akan mengurusimu lagi." Mika sangat kesal dengan itu.


"Ahaha!. Jangan seperti itu. Rasanya itu sangat menyeramkan sekali." Renn tidak tahu harus berkata apa lagi. Mika semakin terlihat menyeramkan, apa yang terjadi sebenarnya?. Sehingga ia marah besar seperti itu?.


"Lalu bagaimana dengan pak polisi ushiro?. Apakah dia akan baik-baik saja?." Yui ingin mengetahui apa yang telah dilakukan Renn.


"Untuk saat ini keadaannya baik-baik saja." Renn telah memastikan itu dengan sangat baik.


"Kau kemanakan dia?. Sehingga dia tidak keluar seperti akemi chika?." Itulah yang menjadi pertanyaannya.


"Aku telah mengantarnya ke tempat yang lebih aman. Tempat yang hanya bisa dikunjungi orang-orang tertentu saja. Aku tidak ingin ia dalam bahaya lagi." Renn hanya tidak ingin nasib malang itu terulang kembali. "Jika aku menyerahkan pak ushiro ueda pada mereka, aku takut ia akan mendapatkan hukuman mati." Hatinya sangat sedih membayangkan itu.


"Apakah kau mengerti dengan apa yang kau lakukan renn san?." Yui sangat sedih dengan apa yang dikatakan Renn saat itu.


"Dengan apa yang kau lakukan, bukan hanya membuat dirimu menjadi buronan negara, tapi itu membahayakan keselamatan dirimu." Lanjut Mika sambil menekan perasaan yang ia rasakan pada saat itu.


"Aku tahu itu." Jawabnya singkat.


"Apakah kau tidak berpikir bahwa orang-orang yang mau selamatkan itu adalah orang jahat yang telah membunuh nyawa orang lain, apapun alasan yang mereka gunakan, tapi mereka tetaplah pembunuh." Hati Yui sangat sakit mendengarkan jawaban singkat seperti itu dari Renn. Apalagi raut wajahnya yang terlihat sangat sedih, menahan perasaan sakit yang ia tahan selama ini.


"Aku tahu itu." Jawabnya lagi. Ia juga berusaha untuk menahan perasaan sakit itu. Apakah yang ia lakukan adalah hal yang salah atau benar ia juga tidak mengetahuinya. Hatinya yang paling dalam menginginkan itu dirinya membantu mereka yang dalam keadaan seperti itu.


Mika dan Yui tidak lagi bertanya. Namun dalam hati mereka mencoba untuk menekan perasaan sedih itu. Mereka sangat yakin Renn telah berusaha untuk membantu orang lain. Sama dengan mereka yang dahulunya telah melakukan kesalahan, namun Renn yang menarik tangan mereka agar kembali melihat cahaya harapan. Mungkin itu yang ingin coba dilakukan oleh Renn saat ini. Ketika banyak orang yang orang yang terjatuh di dalam kegelapan, tidak ada yang menyambut mereka satupun. Maka Renn lah yang datang pada mereka agar mereka menyadari apa yang telah mereka lakukan itu adalah hal yang salah. Itulah yang dilakukan Renn saat ini, ia hanya ingin menyelamatkan mereka yang telah terlanjur tercebur ke dalam kubangan kegelapan. Pasti sakit rasanya walaupun orang lain beranggapan apa yang ia lakukan adalah mendukung penjahat itu.


Apakah yang akan terjadi jika?. Apakah Renn mampu melakukan itu walaupun terasa sangat sulit?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2