DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)

DETEKTIF X (KASUS MANUSIA ULAR)
CHAPTER 42


__ADS_3

...***...


Renn on.


Saat itu aku melihat ada raut kebahagiaan yang dirasakan oleh Chika san. Dia menangis ketakutan, namun saat aku datang dia seperti memliki harapan. Semoga saja aku bisa memberikan harapan itu padamu Chika san. Semoga saja aku tidak mengecewakan dirimu.


Renn off.


"Apakah kau diundang di dalam sidang ini?." Shark menodongkan senjatanya ke arah kepala Renn. Ia terlihat sangat marah, tidak menduga ada orang lain bisa masuk dengan mudahnya ke ruangan sidang. "Siapa kau?. Berani sekali kau masuk tanpa izin kami." Ingin sekali ia melepaskan tembakan itu pada Renn, jika ia tidak ingat keadaannya yang sekarang.


Renn tertawa geli mendengarkan apa yang dikatakan Shark. "He?. Apakah kau tidak mengerti shark chan?." Bisiknya dengan nada bercanda. "Aku telah duduk di bangku pembela, itu artinya aku datang sebagai orang yang akan membela klien ku. Harusnya kau mengetahui itu dengan sangat baik." Ia bahkan menunjukkan posisi duduk serta nama tag di meja itu pada Shark. "Aku tidak harus datang dengan undangan kalian." Kali ini senyumannya senyuman sangat mengejek, karena ia sebenarnya sangat jengkel dengan sikap itu. "Aku datang melalui jalur mandiri. Jadi jangan halangi aku untuk membela klien ku yang berusaha kau tekan seperti itu." Lanjutnya lagi sambil melirik ke arah Akemi Chika yang terlihat sangat pucat. Ia merasa kasihan pada wanita malang itu. Ia harus segera membantu wanita itu dari masalah yang terjadi hari ini.


"Diam kau!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Amarahnya telah sampai pada puncaknya. Ia tidak dapat lagi menahan amarahnya mendengarkan apa yang dikatakan Renn. "Sebaiknya kau tinggalkan tempat ini atau kau akan aku tembak mati di sini!." Ucapnya dengan ancaman yang tidak main-main, sehingga mereka semua dapat mendengarkan betapa mengerikan ancaman itu. Bagaimana jika ruangan itu menjadi ruangan berdarah hanya untuk mengusir satu orang yang tidak terduga kedatangannya.


"Renn san." Akemi Chika langsung bereaksi, ia langsung berdiri mendengarkan ucapan itu. Namun saat itu ia teringat tentang percakapan mereka pada saat itu. "Kau tenang saja Chika san. Apapun yang terjadi di dalam ruangan nanti, jangan sebut namaku, atau kita dalam bahaya." Akemi Chika mengingat apa yang telah dikatakan Renn padanya. "Panggil saja aku dx. Apakah kau mengerti chika san?." Bahkan ia ingat bagaimana senyuman ramah nan hangat dari Renn yang berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya dapat ia tangani dengan baik nantinya.


"Ckckckck!. Itu sangat tidak adil loh." Ia berdecak jengkel, tapi ia masih menampilkan senyuman manis. Meskipun senapan itu masih menempel di kepalanya, itu sama sekali tidak berpengaruh padanya. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. "Jika kau menembak mati aku di sini, kalian akan dalam masalah loh?." Ia mencoba mengancam balik Shark yang merasa sangat berkuasa. Tangannya mengarah pada hadirin yang berada di ruangan itu, membuat Shark semakin marah.


"Kau tidak usah banyak bicara!. Kami tidak mengizinkan siapapun menjadi pembela pembunuh sadis itu." Matanya menatap tajam ke arah Renn, hatinya sangat panas dengan apa yang dikatakan Renn.


"Oh renn san." Akemi Chika sangat khawatir dengan keadaan Renn. Ia takut akan membahayakan orang yang telah berniat baik padanya. Apalagi hatinya sangat miris mendengarkan apa yang dikatakan Shark.


"Siapa yang mengatakan bahwa penjahat tidak boleh dibela?." Renn terlihat sangat serius. Raut wajahnya kini telah berubah, begitu juga dengan sorot matanya. "Bahkan dalam sidang sebelum ini seorang penjahat kasus korupsi dibela mati-matian oleh pengacaranya." Ucapannya membuat mereka semua yang berada di ruangan itu sangat terkejut, termasuk hakim yang telah memimpin sidang itu. "Kalian hanya menjatuhi hukuman penjara lima tahun dan denda tujuh puluh juta. Padahal uang yang dia makan selama ini lebih dari itu." Renn melihat ke arah para hakim yang terdiam mendengarkan apa yang ia katakan. "Apakah kalian pikir itu cukup adil?." Ia bertanya pada para hakim yang terdiam, karena mereka tidak menduga ada yang mengetahui tentang masalah itu. "Bahkan yang paling parahnya adalah ketika publik bertanya tentang kasus pembunuhan sadis yang dilakukan oleh penjahat kelas atas putra dari sebuah perusahaan ternama, tapi kalian hanya menjatuhi hukuman empat tahun penjara, serta denda lima belas juta. Apakah kalian pikir itu sebanding dengan nyawa yang telah ia bunuh, termasuk salah satu putra DPR yang memergokinya melakukan pembunuhan itu." Renn benar-benar mengetahui apa yang telah mereka sembunyikan, membuat mereka semua bereaksi. "Apakah kalian pikir klien ku nona akemi chika tidak berhak mendapatkan pembelaan?. Apakah kalian berpikir kalian adalah orang yang pantas untuk mengadili orang lain dengan cara seperti itu?." Emosinya hampir saja memuncak karena apa yang ia lakukan hanyalah untuk membebaskan Akemi Chika dari perasaan bersalah itu.


Mereka semua yang berada di sana ruangan sidang itu terdiam, mereka tidak menyangka jika orang misterius itu mengetahui semua yang ada terjadi?. Apakah dia diam-diam menyelidiki apa yang telah terjadi pada hukum negeri ini?.


"Kau!. Siapa kau sebenarnya?. Kau pasti bukan sembarangan!." Shark membentak Renn dengan nada tinggi. Ingin rasanya ia menarik pelatuk itu.

__ADS_1


"Turunkan senjata mu." Dengan pelan Renn menjauhkan senapan itu dari kepalanya. "Apakah kau tidak melihat ada rekaman cctv di ruangan sidang ini?." Ia menunjukkan lokasi letak CCTV yang berada di ruangan itu. Bagaimana mungkin Renn bisa mengetahui ruangan ini ada CCTV, dan bahkan menunjukkan tempat kamera itu dipasang?. "Aku bisa meminta rekaman itu untuk menuntut mu nantinya dengan alasan pengancaman terhadap seorang pengacara." Renn tersenyum penuh dengan kemenangan. Ia memiliki senjata yang dapat membungkam Shark.


"Yang mulia hakim. Saya bisa menuntutnya atas ancaman ini?. Dia masih saja belum mau menurunkan senjatanya pada saya." Dengan tatapan memohon Renn berkata pada Kepala Hakim yang memimpin sidang itu.


"Turunkan senjata mu." Perintah Hakim dengan nada tegas.


"Tapi-." Shark merasa sangat keberatan.


"Mari kita lihat, sejauh mana sibedebah itu bisa melakukan apa yang ia inginkan." Hakim tersebut memberikan pengertian agar Shark lebih memahami kondisi mereka.


"Baiklah kalau begitu tuan hakim." Shark mengalah untuk sementara waktu. Ia sangat kesal diperintahkan seperti itu. "Kali ini kau bisa lolos. Tapi setelah ini kau akan aku habisi." Hatinya sangat sakit mendengarkan ucapan seperti itu.


"Ahaha!. Ancamanmu membuat kantongku jadi kering." Renn masih bisa tertawa setelah mendengarkan ancaman itu?. Sangat luar biasa sekali. "Sebaiknya jaga sikapmu. Kau boleh merasa menang karena pangkat yang kau miliki." Bisik Renn dengan kesalnya. "Ingat!. Raja hutan tidak akan bisa menang jika ia tidak mengetahui semut kecil menyerangnya dari arah mana. Apalagi hiu yang malang seperti kau." Renn tidak akan bermulut manis lagi pada wanita jahat itu. Ia sangat muak dengan sikap mereka yang berbuat sesuai hati hanya untuk kesenangan yang mereka miliki.


"Heh!. Bedebah busuk seperti kau tidak usah mengancamku. Kau akan menyesal karena telah berani ikut campur dalam sidang ini." Ancamnya lagi. Ingin rasanya ia membunuh Renn saat ini, ia tidak mengetahui sama sekali siapa orang yang telah hadir dalam sidang ini.


Sementara itu para orang tua yang menyaksikan itu tidak percaya jika Hakim dan wanita yang bernama Shark itu bisa melakukan hal yang tidak terduga. Tapi mereka diperintahkan untuk tetap menyaksikan sidang itu sampai selesai. Apa yang akan mereka dapatkan nantinya?. Mereka hanya menyimak saja sidang yang akan dimulai.


Renn segera mendekati Akemi Chika yang terlihat ketakutan. "Chika san." Renn tersenyum lembut menatap Akemi Chika yang terlihat pucat.


"Dx san." Akemi Chika langsung memeluk Renn. Ia sangat yakin dengan keadaan yang ia dapat saat ini. Sungguh ia tidak dapat menyembunyikan ketakutan yang ia rasakan.


"Tenanglah chika san." Renn mengerti bagaimana perasaan takut yang dihadapi Akemi Chika saat ini. "Maafkan aku karena aku datang agak terlambat." Renn meminta maaf pada Akemi Chika. "Kau pasti ketakutan karena tekanan dari wanita jahat itu." Matanya melirik tajam ke arah Shark yang masih dendam padanya.


"Um. Um. Um. Takut, aku takut padanya dx san." Akemi Chika menyembunyikan wajahnya diperlukan Renn, ia sangat ketakutan, dan karena perasaan takut itu membuatnya ingin mengakhiri hidup ini. "Dia terus mengancamku dengan kata-kata yang sangat menyeramkan." Akemi Chika sampai menangis sesegukan karena perasaan takut yang ia rasakan pada saat itu.


"Tenangkan dirimu. Aku datang untuk membantumu." Renn berusaha untuk menenangkan Akemi Chika, ia tahu bagaimana perasaan takut yang dirasakan Akemi Chika.

__ADS_1


"Terima kasih karena kau mau datang dx san." Akemi Chika perlahan-lahan dapat merasa lebih tenang dari yang sebelumnya.


"Ya, tentu saja aku datang sesuai dengan janji." Renn melepaskan pelukannya. "Wajahmu terlihat sangat pucat, bibirmu terlihat sangat kering." Ia memperhatikan bagaimana keadaan wanita malang itu. "Apakah mereka tidak memberimu minum?. Apakah mereka pikir kau ini bukan manusia?. Bahkan binatang pun membutuhkan air supaya terlihat lebih hidup." Renn mengambil sesuatu dari kantongnya. "Minumlah Chika san." Ia memberikan air mineral pada Akemi Chika.


"Mereka hanya memberikan ancaman padaku. Mereka sama sekali tidak menganggap aku sebagai manusia, karena itulah mereka tidak melakukan itu." Akemi Chika sangat ingat dengan apa yang ia rasakan ketika ditahan sebelum sidang.


"Ini makanlah, kau harus menyimak dengan baik dalam sidang itu. Setidaknya janggal perutmu dengan ini." Renn mengeluarkan Roti pada Akemi Chika supaya wanita itu lebih bertenaga. "Makanlah agar kau bertenaga. Supaya kau lebih konsentrasi lagi saat menyimak apa yang mereka katakan nantinya." Renn benar-benar tidak tega melihat keadaan Akemi Chika yang sekarang, dan ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Cukup sekali saja ia melakukan kesalahan itu, meskipun ia berniat baik untuk membantu orang lain keluar dari masalah yang mereka hadapi.


"Terima kasih re-dx san. Kau sangat baik sekali." Akemi Chika sangat tersentuh dengan apa yang telah dilakukan Renn padanya. Ia tidak pernah mendapatkan seseorang yang begitu perhatian padanya.


"Ya. Setelah sidang ini selesai, aku akan mentraktirmu makan. Kau juga harus menjaga kesehatanmu." Renn hanya berharap ia dapat melakukan itu setalah sidang ini.


"Kau memberikan aku sebuah harapan yang sangat tinggi dx san." Kembali ia ingin menangis dengan apa yang diucapkan Renn padanya. Apakah ia memang memiliki kesempatan seperti itu?. Tapi ada kemungkinan ia sangat berharap akan ada kesempatan itu.


"Karena kau berhak mendapatkan itu." Renn tersenyum lembut menatap Akemi Chika.


Mereka semua menyaksikan bagaimana perhatian yang diberikan Renn pada Akemi Chika. Meskipun yang akan ia bela adalah seorang penjahat, akan tetapi, ia masih memiliki hati nurani untuk memperlakukan seseorang secara manusiawi, itulah Renn. Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Apakah sidang itu akan berjalan dengan lancar?. Bagaimana dengan nasib Akemi Chika setelah sidang ini?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


Renn on.


Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tapi jangan buang mereka ke lubang kegelapan. Karena orang-orang jahat sebenarnya lahir dari sikap tidak adil, merasa kecewa atau disakiti oleh orang-orang sekitarnya. Jangan salahkan mereka jika pada akhirnya mereka jatuh ke dalam lubang yang salah atas apa yang telah kau lakukan padanya. Mereka juga memiliki perasaan takut ketika menyadari apa yang telah mereka lakukan itu adalah salah. Jadi hukum mereka dengan sesuai kesalahan mereka. Mereka telah salah, dan yang paling salah adalah orang yang menimbang hukum karena uang dan status sosial seseorang. Maka jadilah hakim yang dapat memberikan hukuman yang pantas.


Renn Off.


Memang hidup ini penuh dengan drama yang tidak bisa kita tebak ke arah mana, tapi percayalah setiap orang dapat menampilkan apa yang disebut dengan perasaan relung hati. Ke arah mana ia akan menggunakan relung hatinya itu. Apakah ke arah kejahatan atau malah ke arah yang lebih baik?. Itu semua tergantung penilaian relung hati serta hasrat yang dimiliki seseorang. Baik buruknya kau yang tentukan, dan jangan ikuti arus disekitarmu, karena suatu hari nanti kau akan menimbang perbuatanmu, juga kau tidak akan pernah melupakan apa saja yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri atau pada orang lain. Aku yakin kau lebih memahami dirimu sendiri dibandingkan dengan orang lain.


Next halaman.

__ADS_1


...***...


__ADS_2