Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Suara bising membangunkan Amy dari tidur lelapnya, dengan gontai ia segera bangun dan membuka jendela kamar.


Matanya yang masih sangat mengantuk beberapa kali ia kucek-kucek dengan punggung tangannya.


"Aaahhhh ya ampun, Aku benar-benar mengantuk sekali" keluh Amy.


"Eeehhhhh.... Apa ini? masih gelap tetapi kenapa begitu berisik sekali?" Amy menggerutu, iapun dengan segera pergi mencari asal suara bising yang sudah membangunkannya.


Lalu lalang orang-orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Amy tampak bingung saat Panti di sulap dengan berbagai hiasan bunga yang sangat cantik.


Kursi-kursi berjejer rapi di taman, pot-pot bunga berjejer dengan bunga-bunga yang harum dan mekar, taman tampak indah dengan nuansa putih.


Namun ketakjuban itu seketika lenyap, Amy tersadar. Ia benar-benar bingun dengan apa yang sudah terjadi, kakinya melangkah setengah berlari menuju kantor Bunda Aisyah, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, ada acara apa ini sebenarnya.


"Assalamualaikum Bun...." seru Amy sesaat setelah ia mengetuk pintu.


Perlahan pintu terbuka, Amy tampak terkejut disana Bunda sedang duduk bersama seorang lelaki yang tak ingin ia temui. Arga menatap Amy dengan senyumannya yang menawan namun sangat memuakkan bagi Amy.


"Maaf Bunda, maaf Aku sudah mengganggu, nanti Aku datang lagi" pamit Amy hendak pergi.


"Tunggu Amy," seru Bunda Aisyah, "Tolong kamu kesini, ada yang mau Nak Arga bicarakan".


Amy menghela nafas perlahan, ia masuk dan menghampiri Arga.


Bunda Aisyahpun pergi meninggalkan mereka berdua untuk berbincang.


"Terkejut?" seru Arga dengan suara baritonnya, Amy menggeleng pelan. Ia diam mematung menundukkan pandangannya seolah enggan melihat Arga.


Tangannya tampak tak bisa diam memainkan kuku.


Arga tersenyum kecut, Ia tahu Amy tidak menyukainya namun baginya itu tidaklah penting, yang ia tahu apapun yang ia suka maka orang lainpun harus menyukainya.


"Duduklah jangan sampai aku meminta kedua kalinya, Aku tidak akan bersikap baik lagi. Kecuali kamu mau mencobanya!"


Amy terkesiap, dengan segera ia duduk di sudut kursi, sebisa mungkin tetap jauh dari Arga.

__ADS_1


Arga mendengus kesal, ini kali pertamanya ada seorang gadis yang membuatnya sangat jengkel, namun Arga justru semakin menyukainya.


"Ini baru jam 03.00 Pagi, sebentar lagi kamu harus bersiap-siap. Pagi ini kita menikah!".


Bagaikan sambaran petir menyambar keseluruh tubuh Amy, bagaimana bisa laki-laki di hadapannya ini dengan mudahnya memerintah, bahkan ini tentang Pernikahan!.


Tubuh Amy bergetar, jantungnya berdegup dengan kencang, mata Amy tampak berkaca-kaca namun mulutnya seolah terkunci. Ia tidak mampu berkata apa-apa di saat seperti ini.


Amy benar-benar membenci laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Aku ingin mengumumkan pernikahanku dengan Amy" kata-kata itu terus menggema di telinga Amy, ia benar-benar tidak menyangka laki-laki bernama Arga langsung mengumumkan pernyataan itu di depan semua tamu undangan yang hadir di acara pembukaan Panti Asuhan Citra seminggu yang lalu.


Semua mata memandang kepadanya, Ia bahkan tidak mengenal laki-laki itu. Pertemuan keduanya baru beberapa waktu saat Amy menyambut tamu undangan di halaman Panti.


Ia bahkan tidak pernah memperhatikan siapa mereka, karena Amy di sibukkan menyapa tamu-tamu yang hadir.


Bunda Aisyah menatapnya bingung, ia tidak pernah tahu kedekatan keduanya. Pengumuman Arga membuatnya benar-benar terkejut.


Amy tercekat saat sebuah tangan menariknya dan membawanya pergi meninggalkan kerumunan tamu undangan, Amy masih bingung dan linglung.


"Lepaskan..." teriak Amy saat ia tersadar.


"Tolong kembali dan bilang ke mereka kalau kamu hanya bercanda saja" pinta Amy masih dalam nada yang kesal.


"Ffttt....." Laki-laki itu menahan tawa.


"Kamu...." Kesal Amy, iapun hendak meninggalkan tempat itu.


"Apa yang aku ucapkan, maka akan terjadi" seru laki-laki itu percaya diri.


Amy benar-benar kesal di buatnya, ia berlari kekamarnya. Amy tidak bisa kembali ke tempat acara, ia benar-benar sudah di buat malu oleh laki-laki menyebalkan itu.


Tok....tok....tok....


Entah sudah berapa lama Amy tertidur setelah ia menangis karena kesal, Amy mengerjap-erjapkan matanya perlahan.

__ADS_1


"Mbak Amy..... Mbak.... Di panggil Bunda di suruh ke kantor sebentar"


Amy menghela nafas berat, ia tahu apa yang akan Bunda Aisyah katakan. Dia pasti sangat terkejut.


'Jangankan Bunda akupun sama terkejutnya, benar-benar lelaki menyebalkan' gerutu Amy kesal.


"Ia Mbak Imah, sebentar ya" jawab Amy.


Amy berjalan menelusuri kamar panti, tampak anak-anak menatapnya dengan tatapan yang tak biasa, namun ia mencoba mengabaikannya dan hanya tersenyum ramah seperti biasanya.


Amy terdiam sesaat setelah sampai di depan pintu kantor Bunda Aisyah, ia mendengar suara ramai sedang berbincang dan tertawa.


Sekali lagi Amy menghela nafas berat, iapun mengetuk pintu dan mengucap salam.


Pintu terbuka, tampak Bunda Aisyah tersenyum kepadanya, Amy hanya membalas dengan senyum tipis di sudut bibir tipisnya.


Amy tertegun, laki-laki itu sedang duduk dengan sepasang Orang Tua yang tampak ramah tersenyum kearahnya.


"Ya ampun cantiknya, sini sayang duduk" seru perempuan tengah baya dengan raut mukanya yang sangat ramah dengan senyumnya yang lembut.


Amy melangkah perlahan dan duduk di samping perempuan itu.


"Amy sayang mereka adalah orang tua Nak Arga, pemilik Panti ini" jelas Bunda Aisyah.


Amy memaksakan senyumnya, ia benar-benar tidak nyaman di suasanan saat ini. Terutama laki-laki menyebalkan itu terus menatapnya seakan ingin menerkam Amy dan melahapnya bulat-bulat.


"Salam kenal Om, Tante saya Amy" gugup Amy mengenalkan diri.


"Kami sudah tahu, Bunda Aisyah sudah mengenalkan kamu dengan sangat jelas, Haaahhh..... Apa yang bisa kami lakukan untuk pasangan muda seperti kalian" Perempuan itu meraih tangan Amy dan mengelusnya lembut.


"Kami benar-benar sangat menyukaimu Amy, Arga memang jeli bisa melihat mutiara seperti kamu"


"Mulai sekarang anggap kami seperti orang tuamu ya sayang, panggil saja Ayah dan Ibu seperti halnya Arga. Tidak lama lagi kita akan menjadi satu Keluarga" sambung perempuan paruh baya itu.


Mulut Amy seakan terkunci, ia menatap ke arah Bunda yang tampak senang dan terharu mendengarnya. Amy ingin sekali berbicara dan menolak, namun kebahagiaan tampak jelas di mata Bunda Aisyah yang sudah merawatnya sedari ia masih bayi.

__ADS_1


Bunda Aisyah begitu baik dan tulus menyayanginya, bahkan ia diperlakukan seperti putri kandungnya sendiri, bagaimana mungkin Amy mengecewakannya.


Amy mencoba tersenyum, perlahan ia mengangguk dan iapun menyetujui pernikahan itu, Pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan.


__ADS_2