
Arga tampak serius membaca berkas yang Tomi serahkan, nomor telepon
yang Amy beri benar saja atas nama si Rubah Tua itu. Anjar Wiyoso, si tua bangka yang sudah membuat hidupnya hancur dan penuh penyesalan dalam hidupnya.
Entah apa yang akan ia perbuat lagi, ataukah dia akan menggunakan cara yang sama mengancamnya dan memeras Arga seperti yang sudah ia lakukan sebelumnya?
Anjar Wiyoso diam-diam ingin menemui Amy, apa karena ia tahu Amy adalah kelemahannya, ataukah ada hal lain yang ia rencanakan?
Arga menggebrak meja dengan emosi, sontak Tomi terperanjak kaget, jantungnya seketika berdegup dengan kencang. Tomi menghela nafas menenangkan jantungnya yang selalu tersiksa jika berdekatan dengan Arga, entah kenapa walau sudah bertahun-tahun tetap saja ia belum terbiasa dan selalu jantungan saat Arga mulai emosi.
“Tua Bangka kurang ajar, selidiki secara mendetil apa yang ingin ia lakukan dengan mendekati Amy diam-diam” perintah Arga dengan nada emosi.
“Ok Boss…siap laksanakan” ucap Tomi.
“Eemmm… Boss, ada satu hal lagi,” sambung Tomi ragu-ragu, ia tidak tahu apakah ini waktu yang tepat atau tidak karena hubungan antara
Arga dan Amy baru saja membaik.
“Apa?” Tanya Arga dengan raut muka yang serius.
“Aaahh… itu. Sebenarnya subuh tadi aku melihat Nyonya Amy sedang berbincang dengan seseorang di pinggir jalan tak jauh dari rumah Boss, tapi aku rasa dia bukan Anjar Wiyoso, melainkan Dimas!”
Arga menatap Tomi dengan tatapan tajam, raut wajahnya tampak penuh amarah, sekali lagi Tomi menghela nafas mencoba menenangkan diri. Tomi tampak menyesal, ia sangat kesal pada dirinya sendiri karena kurang peka dengan situasi. Saat ini, ia bagaikan menyiram bensin di atas
kobaran api.
‘Entah kebodohan tingkat berapa otakku ini, benar-benar bodoh, matilah aku’ batin Tomi. Ia sadar betul kesalahannya, dan lagi yang akan kena imbasnya pastilah dirinya sendiri.
Brraaaakkk…
“Mmampuuusss…” pekik Tomi kaget, jantungnya benar-benar butuh di
periksa, jika seperti ini terus ia bisa mati muda terkena serangan jantung.
Arga mengeratkan tangannya kesal, ia selalu saja lengah. Puluhan pengawal yang ia pekerjakan satupun tidak ada yang bisa ia andalkan, lagi-lagi Dimas dengan mudah bisa menemui Amy tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
“Cari orang-orang terpilih yang bisa di andalkan, pecat semua cecunguk-cecunguk bodoh yang tidak becus dan tidak berguna! Kali ini jangan pernah memberikan kesempatan siapapun mendekati Amy dengan mudah tanpa sepengetahuanku, Mengerti!”
Tomi segera pergi melaksanakan perintah Arga, ia tidak mau terkena serangan jantung lagi karena ulah Bossnya yang temperamental.
Sesuai perintah Arga, tomi segera mencari informasi tentang orang-orang yang
mampu bekerja dengan serius. Tidak mudah memang, namun kemampuan Tomi yang seorang Programer mampu menembus informasi apapun dengan mudah semudah membalik telapak tangan. Karena itulah Arga memilihnya menjadi asisten sekaligus orang kepercayaannya.
“Baiklaahh… sudah selesai” seru Tomi, setelah ia menemukan beberapa orang-orang yang cocok iapun segera memerintahkan utusannya menemui orang-orang itu dan merekrutnya.
***
Amy berkeliling mencari-cari bahan makanan untuk persediaan, ia di temani bibi Ann juru masak di rumahnya. Walaupun awalnya Arga tidak mengijinkan, namun akhirnya ia bisa juga keluar rumah, walaupun ia cukup sebal karena ia harus membawa bibi Ann dan juga dua pengawal yang selalu mengikutinya.
Sontak saja orang-orang terus memperhatikan mereka, karena para pengawal itu terlalu mencolok dengan setelan serba hitamnya, mereka lebih mirip seorang Agen yang di film “Men In Black”
Suasana sangat canggung berada di dekat mereka yang kaku dan terlalu taat peraturan membuat Amy frustasi.
“Bibi Ann, tidak bisakah mereka menunggu kita di mobil saja? Aku benar-benar tidak nyaman!” bisik Amy kepada bibi Ann.
Amy mendengus kesal, di liriknya kedua pengawal itu. Mereka benar-benar sangat mencolok. Amy berjalan menjaga jarak dengan kedua pengawal itu, entah apa yang ada di pikiran Arga sehingga membuat
posisi Amy menjadi sangat sulit seperti ini. Akhir-akhir ini ruang geraknya semakin di batasi, begitu ketat membuat Amy sulit untuk
menikmati waktunya walau hanya sebentar saja.
‘Tahanan bahkan jauh lebih baik daripada aku’ gerutu Amy sebal.
“Apa kamu mau jadi seorang tahanan?”
Amy terperanjat kaget, sontak botol saus yang ia pegang hampir saja terlempar.
“Tio!” pekik Amy menahan suara, ia menoleh kearah bibi Ann yang sedang memilih buah apel tak jauh dari posisinya.
“Jangan menoleh kearah pengawalmu, berdiri saja di situ seolah kamu sedang memilih belanjaanmu. Kalau tidak mereka akan melihatku dan mengusirku” seru Tio, ia berusaha menyembunyikan diri di samping rak saus agar tidak terlihat oleh para pengawal Amy.
__ADS_1
“Sangat menyebalkan memang, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Arga sangat ketat akhir-akhir ini entah kenapa” gerutu Amy.
Tio terkekeh, tentu ia tahu kenapa Arga bisa seketat itu. Namun ia tidak mungkin mengatakannya, biarlah Amy mengetahi dengan sendirinya.
Setidaknya untuk saat ini Tio hanya akan mengikuti alur sesuai rencananya sendiri dan untuk sementara ia hanya akan menonton
musuh-musuhnya bergerak dan pada saatnya tiba mereka semua akan saling menghancurkan satu sama lain saat itu pula ia akan mengambil kesempatan dan membawa Amy pergi sejauh mungkin hingga taka da seorangpun yang tahu keberadaannya.
“Apa menurutmu ini lucu?” Amy mendengus kesal, melihat Tio yang mengejeknya.
“Maaf… maaf… kalau kamu mau, bagaimana kalau kita kabur dari mereka!”
ajak Tio, Amy menoleh kearah para pengawal itu yang masih berdiri memperhatikannya.
“Bagaimana bisa? Lihatlah mereka itu seperti robot yang tidak pernah lelah mengawalku” gerutu Amy berbisik.
“Itu mudah saja, kalo kamu mau aku bisa mengaturnya!”
Amy terdiam sejenak, ia tidak yakin apakah Tio benar-benar bisa membantunya lepas dari para pengawal itu. Amy merasa ragu iapun
menimbang-nimbang, ia tidak ingin gegabah sampai harus mencelakai orang lain hanya gara-gara keegoisannya.
“Bagaimana?” Tanya Tio memastikan.
“Hhhmmm… aku takut mereka bisa menangkap kita”
“Percaya padaku!” seru Tio meyakinkan.
Amy tampak bingung apa yang akan Tio lakukan untuk membantunya lepas dari para pengawal itu, ia sangat takut namun iapun ingin sekali bebas walau hanya sebentar saja.
Tio berjalan melewati Amy dengan membawa sebotol jus manga yang sudah ia buka tutupnya, dengan pura-pura tersandung Tio menumpahkan jus itu tepat mengenai mereka berdua.
Hal itu berhasil membuat keduanya kurang fokus dan tidak memperhatikan Amy, di saat itulah Amy berlari secepat mungkin memanfaatkan kondisi.
Bibi Ann yang menyadari ada yang tidak beres, ia menoleh ke arah Amy, benar saja dia menghilang meninggalkan troli belanjaannya.
__ADS_1
Bibi Ann menjerit memanggil-manggil Amy sontak kedua pengawat itu panik dan mencari Amy ke setiap penjuru Mall.