Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Penantian Malaikat Kecil


__ADS_3

Amy duduk termenung di beranda rumah, ia menatap hamparan kebun anggur yang tumbuh subur di sepanjang mata memandang. Amy begitu menikmati


kegiatan rutinnya di setiap sore, udara hangat sore itu seakan menina bobokannya, beberapa kali ia menguap namun ia masih ingin menikmati suasana.


“Masuklah, kamu sudah lelah, kamu butuh istirahat.”


Dimas mengelus rambut Amy, perlakuannya yang lembut dan perhatian sama sekali tak membuat Amy merasa risih, ia justru senang. Beberapa bulan kebersamaan mereka membuat keduanya menjadi dekat, namun ada yang mengganjal di hati Dimas, sekeras apapun usahanya membuat Amy kembali


jatuh cinta padanya, sama sekali tak membuahkan hasil. Amy justru menganggap perlakuannya terhadap Amy sebatas perlakuan seorang kaka terhadap adiknya.


Dimas begitu miris dengan nasibnya itu, rasa cintanya terhadap Amy bagaikan pungguk merindukan bulan. Walau ia tahu di hati Amy tidak ada lagi celah untuknya, namun ia masih saja dengan bodohnya membohongi


diri sendiri suatu saat nanti Amy pasti menerimanya.


“Ijinkan aku di sini sebentar lagi,” ucap Amy dengan nada malas.


“Hhhmmm… baiklah tuan putriku, tapi ingat jika kamu sudah lelah atau mengantuk, panggilah aku. Ingat, jangan berlama-lama di luar, kamu harus jaga baik-baik malaikatku yang di dalam sana!” seru Dimas, ia menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


“Heeiii… dia milikku, apanya yang malaikatmu huuhhh…” dengus Amy.


Dimas terkekeh, semenjak Amy hamil ia menjadi kekanak-kanakkan, sangat menggemaskan. Apa lagi jika menyinggung bayi dalam rahimnya, ia begitu posesif seolah-olah orang lain akan merenggutnya.


“Ya sudah, ingat! Jangan lama-lama. Sebentar lagi langit gelap, akupun harus pergi, ada urusan sebentar. Kamu, tidak apa-apakan aku tinggal sebentar?”


“Hhhmmm… baiklah, kamu sana jalan. Aku bukan anak kecil, jadi kamu tidak usah khuatir!”


Dimas mengacak-acak rambut Amy, gadis di hadapannya benar-benar menggemaskan, membuat Dimas selalu ingin menjahilinya.


“Ka!... kamu sangat menyebalkan!” rungut Amy kesal. Dimas terkekeh, iapun pergi meninggalkan Amy yang masih memakinya karena kesal.

__ADS_1


***


Amy menghela nafas berat, ia mengelus perutnya yang semakin membuncit.


Ada yang mengganjal di hatinya, sejujurnya ia sangat sedih dan mengkhawatirkan anak yang ia kandung. Ia belum begitu siap menghadapi kenyataan, saat waktunya tiba, buah hatinya lahir ke dunia, bagaimana


ia akan memberikan statusnya nanti.


Membayangkan ia lahir tanpa seorang ayah membuat hati Amy sakit dan sedih. Namun, ia sangat bingung, jika ia mencantumkan Arga kedalam Akta Kelahiran anaknya nanti, apakah akan baik-baik saja? Akan tetapi ia tidak yakin.


“Haaahhh… maafkan mama sayang, mama bingung harus bagaimana! Namun, kamu tidak usah khuatir, mama akan melakukan apapun yang terbaik buat kamu, jadi kamu sehat-sehat ya di sana. Kita harus berjuang


bersama-sama, sampai kamu lahir ke dunia.”


Amy mengelus lembut perutnya penuh kasih sayang, ia bersyukur, di saat masa-masa terpuruknya Tuhan memberikannya sebuah kejutan yang membuatnya bisa bertahan dan semangat melanjutkan hidupnya. Untunglah


kembali.


“Waktu masih panjang, namun sudah waktunya kita beristirahat. Haaahh… mama masih belum terbiasa dengan suasana di Negara ini, kita memang tidak cocok berada di sini” bisik Amy seperti biasa mengajak buah hati dalam rahimnya mengobrol.


“Sebaiknya kita masuk, kita harus banyak istirahat agar kamu cepat tumbuh dan sehat seperti harapan mama ya sayang.”


Amy bangun dengan perlahan, pergerakkannya semakin sulit saja,


pinggangnya terasa panas dan kaku, perutnya terasa begah, kehamilannya semakin hari semakin membesar. Amy sudah mulai merasakan kesulitan dalam bergerak, seakan gerakannya sangat terbatas. Apa lagi saat sudah duduk, pinggangnya terasa kaku, betisnya sakit dan kakinya sering kesemutan. Walaupun kehamilan pertamanya sangat sulit, banyak hal baru yang ia rasakan namun ia sangat menikmati prosesnya.


***


Arga dan Tomi memperhatikan dari kejauhan, mereka tampak serius menatap Amy yang dengan santainya duduk menikmati suasana sore yang hangat dan nyaman. Bulir bening membasahi pipi Arga perlahan, ingin sekali ia datang dan mengelus lembut perut Amy yang membuncit. Namun keadaan saat ini masih belum aman, ia tidak mau kalau sampai ia

__ADS_1


berbuat ceroboh, nantinya akan membuat Amy dalam bahaya lagi.


“Maafkan aku, Amy!” seru Arga menyesal.


“Itu bukan kesalahanmu! Saat ini Amy baik-baik saja, jangan melakukan hal yang akan membahayakan Amy dan janinnya. Kamu harus ingat, ibumu masih memperhatikan gerak-gerik Amy, sedikit saja kamu melakukan kesalahan, akibatnya bisa fatal!”


Arga menoleh kearah suara, tampak laki-laki itu berdiri dengan angkuhnya, iapun berjalan menghampiri Arga dan Tomi sembari menghisap rokoknya yang sudah hampir habis.


“Bukankah sangat indah? Pemandangan sore, menatap gadis yang di cintai dengan perutnya yang membuncit, dia begitu cantik dan menawan. Tatapannya yang teduh saat menatap dan mengelus perutnya, membayangkan malaikat kecil di dalamnya, pemandangan itu begitu hangat. Kamu tahu?


Diam-diam aku selalu menikmati pemandangan itu setiap hari, memikirkan


hanya aku yang menikmatinya, banyak waktu yang ku habiskan bersamanya, aku merasa inilah duniaku! Semua yang aku inginkan ada di sana, Amy dan malaikat kecilnya, kini semua ada di hadapanku. Namun, kenyataan


mereka bukanlah milikku membuatku harus menelan kepahitan itu setiap hari. Bukankah sangat tidak adil? Aku yang menjaga mereka, aku yang melindungi mereka, namun, itu semua bukan milikku! Ha…hahaha… sangat


lucu… benar-benar lucu!” Dimas terkekeh dengan raut wajah yang masam.


Arga menatap laki-laki itu, walaupun ia tidak bisa menyangkal betapa ia begitu membenci laki-laki di hadapannya. Namun, Arga tahu apa yang Dimas rasakan, saat ini keadaan keduanya tak jauh berbeda. Hidup mereka sangat sulit, mereka berdua tidak bisa memiliki gadis yang mereka cintai karena ada Naura yang akan Akan melakukan apapun untuk memisahkan mereka. Akan tetapi Arga haruslah berterimakasih kepadanya, karena walau bagaimanapun Dimas sudah menjaga Amy selama ini, berkat dia juga Amy dan kandungannya baik-baik saja.


“Kamu tahu! Aku benar-benar membencimu, namun aku harus berterimakasih padamu. Tolong jaga dia baik-baik, aku masih butuh bantuanmu untuk itu. Saat ini aku masih butuh waktu untuk membereskan masalah yang ada, setelah semuanya beres, aku akan membawa Amy bersamaku.”


“Ciiihhh… harus berapa lama lagi? Lihatlah perut Amy, tidak akan lama lagi bayi itu akan segera lahir! Satu masalah saja membutuhkan begitu banyak waktu, apa kamu pikir kamu sudah melakukan segala hal? Itulah kelemahanmu! Kamu tahu letak masalah ada pada siapa, tapi kamu masih


saja tidak bertindak. Itulah, mengapa dia bisa dengan leluasa menguasaimu dan berusaha mencelakai Amy lagi dan lagi! Itu karena kamu terlalu lembek dan lamban, makanya dia selalu bertindak lebih maju selangkah darimu, kamu tahu itu!” laki-laki itu begitu geram, iapun pergi meninggalkan Arga dan Tomi yang masih terdiam tak berkutik.


“Boss…”


“Aku tahu! Kita kembali kehotel” ajak Arga, ia beranjak pergi, suasana hatinya menjadi buruk setelah mendengar ucapan Dimas yang tepat menusuk hingga jantungnya. Ia sadar, selama ini dia terlalu lemah sehingga membiarkan Amy terus-terusan dalam bahaya.

__ADS_1


__ADS_2