
Angin sore berhembus kencang di pesisir pantai, ombak tampak berdebur menabrak pekarangan yang berdiri kokoh tak bergeming. Jejak langkah kaki tercetak jelas menelusuri pasir pantai yang terhampar, tampak indah pemandangan sore itu, lembayung senja disebelah ufuk barat terlihat mulai menghias langit dan laut dengan warna keemasan semu merah jingga yang begitu menawan.
Manik coklat berhiaskan bulu mata lentik tampak takjub memandang keindahan senja itu, gaun selututnya melambai-lambai dipermainkan angin sore yang berhembus membelai kulit lembutnya. Saat ini hatinya tampak gundah, baru beberapa hari ia pergi meninggalkan rumah, namun rasa rindu sudah memenuhi dadanya seakan membuncah. Entah kenapa hatinya terasa sakit, ia baru menyadari laki-laki itu sudah memenuhi hatinya. Kini ia begitu gundah, ia tidak tahu sejak kapan ia mulai mencintai laki-laki itu, bukankah seharusnya ia membencinya? Namun, kenyataannya ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, saat ini ia ingin sekali memeluk pujaan hatinya dan mendekapnya dengan erat.
“Sudah hampir gelap, kita pulang sekarang” Ajak Dimas.
Amy menghela nafas berat, ia masih ingin menikmati keindahan di depan matanya. Suasana pantai yang sunyi dan keindahan alam yang menakjubkan, setidaknya sedikit menghiburnya melupakan kepelikkan hidupnya walaupun hanya sejenak.
“Aku masih ingin disini, kamu pulanglah terlebih dahulu. Biarkan aku disini sendiri untuk saat ini!” pinta Amy.
Dimas menatap sayu gadis di hadapannya, hatinya terasa sakit. Walaupun dia ada di dekatnya, dalam genggamannya, namun gadis itu sulit ia gapai. Dimas merasa pantas, apa yang ia rasakan saat ini sudah seharusnya. Seandainya dulu ia tidak meninggalkan Amy, saat ini ia tidak akan pernah merasakan kesakitan ini.
“Baiklah, aku tunggu kamu di rumah. Jangan terlalu larut, ok!”
“Hhmmm… ok” jawab Amy tanpa memalingkan pandangannya.
Dengan berat hati Dimas melangkahkan kaki menjauh dari hadapan Amy. ia menoleh, Amy masih terdiam memandang lautan luas dengan pandangan penuh kesedihan. Dimas tahu, saat ini Amy pasti sedang merindukan Arga, namun jalannya untuk kembali kini sudah tidaklah mungkin. Amy pasti tahu itu, apalagi ada Naura yang licik, dia pasti sudah mencuci otak Arga, membuatnya membenci Amy dan melupakannya. Namun Dimas berjanji, ia pasti akan melindungi Amy bagaimanapun caranya, sekalipun ia sudah tidak mungkin lagi membuat Amy menjadi miliknya, bagi Dimas cukuplah Amy selalu disisinya walaupun menyakitkan mengetahui hati Amy sudah tidak ada lagi dirinya, namun ia akan menerima segala konsekuensinya.
***
Lembayung senja kian pekat hingga gelap yang tersisa, langitpun tampak gelap tanpa adanya hiasan bintang dan bulan yang menyinari. Amy duduk menikmati angin yang berhembus kian kencang, deburan obak terdengar saling beradu kian keras, iapun mulai melangkahkan kaki mendekati air laut yang seakan meledeknya pasang surut membasahi pasir putih yang halus. Kaki telanjangnya kini basah terkena air laut, namun Amy tak menghiraukan, ia justru tampak senang. Lambat laun aura wajahnya semakin berseri-seri saat bermain air, ia bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainannya, tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikannya dengan senyuman yang tertahan.
“Semoga waktu mengembalikan senyum indahmu, saat ini hatimu mungkin tersesat, suatu saat kembalilah seperti dulu, tertawa dan bahagia menjalani kehidupanmu yang normal” gumamnya.
***
__ADS_1
“Haaaahhh…ini sudah keputusanku, aku tidak boleh gundah, tidak boleh plin-plan! Kedepannya aku harus terus bersemangat menjalani kehidupanku yang baru, masalalu biarkan menjadi masa lalu saat ini dan kedepannya akan menjadi awal kehidupanku.” Gumam Amy meyakinkan dalam hati.
“Baiklah, saatnya pulang. Aku sudah lapar” serunya, iapun melangkahkan kaki menuju rumah kecil tempat ia tinggal sekarang.
Dimas mengikuti Amy dari belakang, sedari tadi ia tidak pernah beranjak dari tempat itu, Dimas tahu Amy membutuhkan privasi. Namun iapun tidak bisa meninggalkannya sendiri, saat ini Amy dalam kondisi yang tidak stabil, ia khawatir Amy akan berbuat nekat.
“Mau sampai kapan kamu menguntitku?” seru Amy. ia menghentikkan langkahnya menunggu Dimas datang menghampirinya.
Dimas mendekat, ia mengelus lembut puncuk kepala Amy dengan gemas. Tidak di sangka ia bisa ketahuan, padahal Dimas sudah berhati-hati dan menjaga jarak namun tetap saja Amy dengan mudahnya menyadari keberadaannya.
“Sejak kapan kamu sadar?” tanya Dimas.
“Haaahhh… kamu bersembunyi tidak jauh dariku, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya! Apa kamu pikir aku begitu bodoh? Hah!” dengus Amy.
***
Triiiing…
Bunyi notifikasi handphone berbunyi, Dimas menatap layar, raut wajahnya seketika berubah. Entah apa yang terjadi, Amy hanya mengernyitkan dahi lalu iapun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Dimas dengan urusannya.
“Tunggu… aku antar kamu sampai rumah, setelah itu aku harus pergi ada urusan yang harus aku kerjakkan”
Dimas menyusul Amy, ia berjalan beriringan. Mereka berdua hanya terdiam, keduanya membisu tak ada satupun yang berucap hingga mereka sampai di depan rumah minimalis tempat mereka tinggal.
“Kamu masuklah, makan malam ada di dalam kulkas, kamu tinggal menghangatkannya saja! Setelah itu kamu tidur, mungkin aku pulang larut malam, tidak apa-apakan aku tinggal kamu sendiri?” tanya Dimas ragu.
__ADS_1
“Mmm… baiklah, aku tidak apa-apa” seru Amy, iapun masuk dan menutup pintu meninggalkan Dimas yang masih terdiam menatap kedaun pintu yang tertutup.
“Haaahh… ya sudah” gumam Dimas, iapun pergi berlalu di telan kegelapan malam.
Amy masih terdiam, ia bersandar di daun pintu, entah kenapa sepertinya ada yang tidak beres dengan Dimas. Setelah memastikan keadaan aman, Amy keluar dengan mengendap-endap, ia berusaha menyusul Dimas.
Jauh di depan sana Dimas berjalan dengan tergesa-gesa, setelah menembus jalanan hutan yang gelap ia berbelok kearah kiri, tampak sebuah mobil Porsche hitam sudah menunggunya di pinggir jalan.
Seseorang keluar dari mobil, mata Amy terbelalak, ia benar-benar tidak percaya.
“Ibu…” pekik Amy dalam hati.
Naura menampar Dimas dengan kencang, namun Dimas sama sekali tak bergeming, ia menatap Naura dengan penuh kebencian.
“Dasar anak kurang ajar! Apa kamu yang menyelamatkan Amy? Hah!” maki Naura.
“Aku sudah bayar mahal pembunuh itu agar menyingkirkan Amy, namun kamu malah menggagalkan rencanaku! Kamu bahkan menyembunyikannya!” sambung Naura, ia begitu emosi, berkali-kali ia menampar Dimas namun sekalipun ia tidak membalasnya.
“Aku tidak tahu apa maksudmu, aku bahkan tidak tahu apa yang sudah kamu rencanakan!” dengus Dimas.
“Ciihhh… kamu pikir aku bodoh! Tidak mungkin Amy bisa membunuh orang kirimanku dengan mudah, kalau bukan ada yang membantunya!” Naura kembali hendak menampar Dimas, namun dengan cepat Dimas menahan tangan Naura dan mencengkramnya dengan sekuat tenaga hingga Naura meringis kesakitan.
“Aku benar-benar tidak membantu Amy, aku bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi! Bukankah kamu menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk menyingkirkan orang yang sudah membunuh Anjar! agar Arga tidak menemukan bukti keterlibatanmu! Lalu bagaimana bisa aku berada di dua tempat sekaligus?” geram Dimas.
__ADS_1