
Malam itu jalanan begitu sepi, entah kemana orang itu akan membawa Amy, sepanjang perjalanan dia hanya diam membisu fokus mengendarai mobil dengan seriusnya.
Jantung Amy berdegup tak karuan, saat ini ada rasa penyesalan di hatinya, bisa-bisanya ia ikut dengan orang asing di sampingnya ini.
Gara-gara emosi sesaat hingga ia sembarangan mengambil keputusan.
Keluar jalan utama mobil itu berbelok melaju kearah jalanan sempit yang di keilingi hutan belantara, Amy memegang seatbelt dengan erat, jalanan yan tidak rata mengguncang-guncang mobil sehingga kepanikan mulai menguasai Amy. Entah kemana orang itu membawanya, sangat
menakutkan. sepanjang jalan tidak ada penerangan, sangat gelap dan menyeramkan, hanya lampu sorot mobil satu-satunya sumber cahaya jalanan.
“Tidak usah takut, kita sebentar lagi akan sampai di rumahku!” seru orang itu dengan nada datar.
Amy mengangguk perlahan, ia hanya bisa menurut karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi, semua sudah terlanjur. Tinggal tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah yang tampak sudah usang dan berkarat, sekitar gerbang di tumbuhi rumput ilalang yang cukup tinggi, tampak sudah lama tidak dihuni. Decitan nyaring terdengar memekakan telinga, orang itu mendorong pintu gerbang dengan paksa hingga akhirnya gerbangpun terbuka lebar. Diapun segera menyetir kembali memasuki halaman rumah besar yang tampak menyeramkan itu.
“Ini rumahku, sudah lama tidak dihuni, karena itulah tampak sangat berantakan” seru orang itu.
Amy mengedarkan pandangan, rumah besar dengan halaman yang luas di kelilingi hutan belantara. Sangat mengerikan seperti rumah berhantu.
Orang misterius itu menggendong tubuh Amy dan merekapun masuk ke dalam rumah. Kondisi rumah gelap gulita, tampak sangat berantakan penuh sampah dedaunan dan debu berserakan. Furniture di dalamnya masih tersusun rapi di tutupi kain putih, membuat Amy ngeri dibuatnya.
“Kamu istirahatlah di sini, ada baju di lemari kamu bisa memilihnya sendiri,” orang itu menurunkan Amy di atas tempat tidur, iapun
menyalakan beberapa lilin untuk penerangan.
Amy menatap laki-laki itu, ia baru sadar.
Laki-laki di hadapannya merupakan pria paruh baya dengan kaki sebelah kanannya pincang.
__ADS_1
“Aku akan segera kembali, apa kamu bisa mengurus dirimu sendiri untuk saat ini? Aku ada sesuatu hal yang harus di kerjakan!”
“Tentu! Anda tenang saja, aku bisa mengurus diriku sendiri.” Seru Amy dengan cepat, ia tidak ingin lama-lama bersama orang itu, sangat menakutkan membuat jantung Amy tidak karuan.
Amy memilah-milah baju yang akan ia kenakan, baju-baju masih tertata rapi. Hanya saja bau apek tercium menyengat di indra penciumannya, mungkin karena sudah lama tergantung di lemari! Amy memilih baju
terusan selutut, baju yang ia kenakan sangat pas di tubuhnya.
“Bajunya bagus juga, walaupun sudah usang namun masih nyaman di pakai” gumamnya.
Sepasang mata menatap Amy tampak tertegun, ia diam mematung tak bergeming. Di lihatnya Amy dari ujung kaki hingga kepala, Amy tampak mirip dengan seseorang di masa lalunya.
“Aahhh… Tuan! Anda mengagetkan saya!” pekik Amy.
Jantung Amy berdegup tak karuan, saat sosok itu berdiri menatapnya di ambang pintu.
“Maaf… maaf… saya terkesima, kamu sangat mirip dengan seseorang” orang itu berjalan mendekati Amy dan menyerahkan secangkir teh hangat untuk Amy.
“Tuan… bolehkah saya tanya?” Tanya Amy ragu-ragu.
“Hhmmm… tentu”
“Eemmm… siapa anda sebenarnya? Bagaimana bisa anda di rumah Arga dan
kenapa anda membantu saya?”
Laki-laki itu menatap Amy serius, iapun tertunduk seolah ia sedang mengingat kesedihannya. Ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya ingin dia lakukan, tentu apa yang ia ceritakan bukanlah hal yang sebenarnya. Laki-laki paruh baya itu hanya ingin membuat Amy percaya padanya dan ingin membuat Amy semakin membenci Arga.
“Psikopat itu benar-benar keji, dia sudah membunuh istriku dan anakku. Diapun memenjarakanku dengan menuduhku sebagai pembunuh keluargaku sendiri” ceritanya, ia menunjukan mimik wajah yang menyedihkan membuat Amy terenyuh dan merasa kasihan dengan pria itu.
__ADS_1
“Saat di penjara, iapun menyuruh orang-orang bayarannya untuk menyiksaku hingga mematahkan kaki kananku!” ia memijat kakinya.
Tangannya mengepal hingga menunjukkan buku-buku jarinya yang memutih. Sorot mata pria itu penuh kebencian, Amy dapat melihat jelas aura membunuh dari orang di hadapannya, kebencian itu begitu kuat, membuat Amy begidik ngeri.
Amy memang membenci Arga, namun melihat pria di hadapannya, ada rasa
takut jika orang itu benar-benar membunuh Arga.
“Hhmmm… sudah larut, kamu tidurlah! Kalau butuh apa-apa kamu panggil saja, aku ada di kamar sebelah” serunya, iapun pergi meninggalkan Amy yang masih terdiam menatapnya pergi berlalu.
Sayup-sayup terdengar suara kayu yang di seret-seret, suara itu semakin lama semakin jelas. Amy mengerjap-erjapkan matanya yang baru saja tertidur lelap. Ia begitu lelah, namun suara itu sudah mengganggu tidur lelapnya.
Perlahan Amy turun dari tempat tidur, ia
mengendap-endap mengintip keluar kamar, tampak gelap gulita. Amy mencoba mengedarkan pandangan berusaha beradabtasi dengan kegelapan.
Langkah demi langkah ia telusuri ruangan itu, di ketuknya pintu kamar tempat pria itu tidur namun tidak ada jawaban. Dengan sisa keberaniannya Amy membuka pintu kamar perlahan, cahaya lilin yang mulai meredup menampakan seisi kamar yang tampak kacau berantakkan.
Banyak Koran dan foto-foto yang tertempel di tembok, di atas meja terdapat beberapa senjata api dan peluru yang berserakan.
Deg… jantung Ami terhenyak, tubuhnya bergetar. semakin di perhatikan semakin jelas foto-foto itu. Itu adalah foto dirinya dari waktu ke waktu, bahkan ada beberapa foto yang tidak ia kenali siapa mereka.
Namun ada beberapa yang Amy kenal yaitu Arga, ka Dimas dan keluarga Panti Asuhan Citra.
“Rasa penasaran itu adalah pengantar untuk semakin dekat dengan kematian! Apa kamu tidak tahu itu? Nona Amy!” laki-laki itu menatap Amy dengat tatapan tajam, raut wajahnya tampak menyeramkan, ia tampak
geram karena kedoknya akan secepat itu terungkap oleh Amy.
“Sangat di sayangkan, tadinya aku akan memanfaatkamu terlebih dahulu untuk memancing anak sialan itu. Namun sepertinya kamu memang sudah
__ADS_1
tidak sabar untuk menyambut kematian, kamu memang anak yang tidak berguna untuk apa lagi aku masih membiarkanmu hidup! Kamu dan juga Arga harus menerima pembalasan yang setimpal karena sudah membuatku hidup seperti ini, kalian berdua harus mati di tanganku!”
Amy membalik tubuhnya perlahan, sekujur tubuh Amy bergetar dan kakinya seakan tak bertenaga. Orang itu berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah belati, sorot matanya tampak menakutkan. Ia benar-benar ingin membunuh Amy saat ini juga, Amy melangkah mundur, ia mencari-cari jalan keluar untuk melepaskan diri namun tiba-tiba Amy merasakan sengatan di kepalanya, ia kesakitan hingga iapun jatuh tersungkur, Amy mencoba tetap tersadar namun sesaat kemudian ia tak sadarkan diri.