Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Pembunuhan Terencana


__ADS_3

Arga terdiam membisu, pikirannya masih kalut akibat kematian Anjar. Ia benar-benar tertekan, setiap langkahnya selalu saja ada penghalang. Seolah keadaan tidak pernah berpihak padanya.


“Arga. Kamu kenapa?” tanya Amy.


Arga masih terdiam, beberapa kali ia mengguncang tubuh Arga namun ia


masih diam tak bergeming. Dengan kesal Amy mendengus dan tidur membelakangi Arga.


“Aahhh… sayang, maaf tadi kenapa?” tanya Arga merasa bersalah.


Ia membujuk Amy yang tampak cemberut, ia tahu Amy pasti kesal karena sedari tadi ia terdiam hanyut dalam lamunan.


“Sayang, tolong maafkan aku ya. Banyak masalah di kantor, aku jadi tidak fokus”


Amy berbalik badan, di lihatnya Arga tampak kusut, lingkar matanya tampak menghitam. Ia pun mencoba mengerti, dengan lembut di raihnya tangan Arga dan mengelusnya lembut.


“Hhmmm…ya sudah, bangunkan Tomi dan suruh dia pulang. Kamu butuh istirahat begitupun aku. Hari ini aku hanya ingin tidur, benar-benar sangat mengantuk!”


Dengan patuh Arga membangunkan Tomi dan menyuruhnya pulang, walaupun Tomi tampak masih ngantuk berat Arga tetap memaksanya keluar.


“Di sini saja tidur bersamaku” seru Amy sambil menepuk tempat tidur agar Arga tidur di sampingnya.


Arga tersenyum dengan tatapan penuh arti, melihat tingkah suaminya itu Amy mendengus namun tidak dapat di pungkiri jantungnya berdegup dengan kencangnya.


Keduanya tampak tertidur pulas, bahkan saat perawat memeriksa infusan di tangan Amypun mereka sama sekali tidak terusik, para perawat tersipu malu melihat kedua insan yang sedang tertidur itu, mereka


tidur dengan pulasnya sambil berpelukan erat seakan enggan melepas satu sama lain.


Apa yang mereka lakukan begitu romantis di mata para perawat, tak ayal kedua insan itu menjadi topik bahan gossip yang tersebar di sepanjang lorong Rumah Sakit.


“Aaahhh… irinya, sudah ganteng, kaya, diapun sangat mencitai istrinya. Benar-benar sempurna!” seru salah satu perawat yang sedang asik berbincang dengan sesama teman kerjanya.


Perbincangan mereka terdengar oleh telinga yang sengaja menguping pembicaraan, ia penasaran siapa yang sedang di bicarakan. ia pun basa-basi dengan berpura-pura antusias dengan pembicaraan mereka, ia mengorek informasi dengan sangat hati-hati hingga ia akhirnya tahu siapa yang sedang mereka


bicarakan.


Gadis itu tampak mondar-mandir, ia benar-benar tidak bisa mendekati ruang perawatan Amy. di depan kamarnya di jaga ketat para pengawal yang silih berganti berjaga, sehingga membuatnya tidak ada peluang sedikitpun.


Hasil Autopsi Anjar akhirnya keluar, Tomy dengan bergegas menuju ruang rawat Amy. ia harus cepat-cepat sampai karena Arga sudah sangat bawel menelponnya agar segera datang membawa hasilnya.

__ADS_1


“Boss…!” seru Tomi terengah-engah. Saat ia masuk Arga sedang menyuapi Amy buah yang sedang ia kupas.


Dengan segera Arga menaruh buah dan pisau di meja samping tempat tidur, iapun mengambilnya dan membaca Map yang di bawa Tomi dengan sangat teliti.


Arga benar-benar geram, bagaimana bisa hasil Autopsi menyatakan Anjar


murni mati bunuh diri, ‘ini benar-benar tidak masuk akal’ pikir Arga.


“Ada apa?” tanya Amy penasaran.


“Bukan apa-apa, ini soal pekerjaan”


Amy mengangguk pelan sambil memakan Apel di tangannya, ia tidak ingin mengganggu Arga yang sedang sibuk mengurus pekerjaannya, toh ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sama sekali tidak mengerti soal bisnis. Walaupun ia sangat khuatir namun ia yakin Arga mampu menyelesaikan


masalahnya.


Malam sudah tampak larut, Amy tertidur pulas setelah meminum obatnya.


Beberapa kali Arga melihat pesan di ponselnya, ia masih belum mendapat


informasi apa-apa dari orang suruhannya. Semenjak Anjar mati bunuh diri, ia mengerahkan para informan untuk menyelidiki Naura dan Dimas.


Ia yakin kematian Anjar pasti ada hubungannya dengan mereka, karena


adalah Ibu kandung Arga, namun ia selalu saja ingin menyingkirkan Amy dari kehidupanya.


Arga tahu jelas sifat Ibunya itu, walaupun ia tampak lembut dan penyayang namun dia bisa sangat mengerikan di saat keinginannya tidak terpenuhi, ia bisa melakukan apapun bahkan hal terkeji sekalipun ia sanggup.


Arga mengecek keadaan Amy, walaupun sangat berat meninggalkannya namun ada yang harus ia kerjakan. Dengan berat hati ia meninggalkan Amy, ia bergegas pergi agar secepat mungkin menyelesaikan urusannya dan kembali ke Rumah Sakit.


Suara langkah kaki berjalan dengan sangat hati-hati, seorang perawat membawa nampan dengan peralatan medis berjalan menuju kamar rawat Amy.


Perawat tampak ramah memberi salam kepada para pengawal yang tampak


lelah karena seharian berdiri berjaga di depan pintu kamar.


Amy terperanjat kaget, tangannya terasa sakit. Iapun menoleh kearah sampingnya tampak seorang perawat sedang mengecek air infusan dan menyuntikkan obat kedalamnya.


“Maaf Nyonya Amy, apa saya mengagetkan anda?” tanya perawat dengan ramah.

__ADS_1


“Aahhh…ia, saya pikir ada apa!”


“Maafkan saya, apa saya menyakiti anda? Saya kurang berhati-hati” serunya.


Amy menggeleng, walaupun tangannya terasa sakit namun ia tidak ingin membuat keributan dan menyeret suster itu kedalam masalah, karena jika pengawal Arga tahu suster itu melakukan kesalahan, masalahnya akan menjadi panjang.


“Sudah, tidak apa-apa. Selesaikan pekerjaanmu aku akan lanjut tidur”


jawab Amy mencoba menenangkan, ia benar-benar lelah ingin segera lanjut tidur.


“Sudah selesai, saya permisi” seru perawat, iapun pergi dengan segera.


Amy menarik selimutnya, matanya benar-benar mengantuk, padahal sudah


seharian ia tidur dengan sangat pulas. Entah mungkin karena pengaruh obat sehingga membuatnya berat untuk membuka mata.


Lambat laun tubuh Amy terasa panas, tangan dan kakinya terasa kebal kesemutan, nafasnya tersenggal-senggal tenggorokannya terasa tercekik.


Amy benar-benar panik, ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Sekuat tenaga ia mencoba berteriak namun ia sama sekali tidak bisa bersuara, tubuh Amy semakin bergetar hebat, air matanya mengalir berharap siapapun dapat menolongnya.


Amy menoleh kearah gelas di meja samping


tempat tidur, sekuat tenaga ia mengulurkan tangan namun tangannya benar-benar sulit di gerakakkan.


Amy berusaha menggapai gelas, tubuhnya masih berguncang hebat entah apa yang terjadi padanya. Dengan susah payah akhirnya ia bisa menggapai gelas dan menjatuhkannya, berharap para pengawal


mendengarnya.


Benar saja dua orang pengawal bergegas masuk memeriksa,mereka tampak terkejut, dengan sigap salah satu dari mereka


memanggil dokter dan satunya lagi membantu menenangkan Amy yang masih


kejang-kejang.


Dengan terengah-engah Arga datang dengan raut mukanya yang panik, saat ini Amy sedang di periksa oleh Dokter sehingga ia harus dengan sabar menunggu dengan sangat cemas. Tak lama suara derap kaki terburu-buru semakin mendekat kearah Arga, iapun menengok kearah suara, di lihatnya


Bunda Aisyah dan kedua Orangtuanya berjalan setengah berlari ke arahnya.


“Sayang, bagaimana keadaan Amy?” tanya Naura dengan panik.

__ADS_1


Arga menggeleng lemah, ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal saat ia meninggalkan Amy, ia masih baik-baik


saja tidak terjadi apapun. Arga benar-benar menyesal karena telah meninggalkan Amy sehingga insiden ini terjadi.


__ADS_2