
“Boss, aku pikir siapa. Bikin kaget saja!” seru Tomi, sambil mengelus dadanya.
“Kepalaku masih terasa pening, batalkan semua jadwal untuk siang ini dan pastikan, jangan ada yang menggangguku. Aku ingin beristirahat, aku benar-benar membutuhkannya.”
Arga masuk keruangan rahasia di balik rak bukunya, tempat itu hanya dia dan Tomi yang tahu. Di situlah dia sering menghabiskan waktu dengan kesendiriannya, ruangan yang cukup luas itu seperti layaknya Apartemen yang memiliki kamar, ruang tamu dan juga dapur. Cukup nyaman, sangat cocok untuk seseorang yang sedang ingin bersembunyi
dari dunia luar, seperti keadaan Arga saat ini.
“Tunggu dulu, si Boss sudah tahu punya ruang rahasia, kenapa dia harus pergi keluar? Ckckck…saat orang sedang patah hati, bahkan akal sehatnyapun ikut rusak haaaahhh… Boss… Boss… aku benar-benar
prihatin!” gumam Tomi, iapun kembali menyeruput kopinya sambil mengirimkan email ke beberapa client untuk memberikan kabar di undurnya jadwal meeting.
***
Suasana kota B begitu hangat, rupanya musim semi telah tiba. Arga dan Tomi baru saja sampai pagi ini, setelah mereka sampai di hotel tujuan, mereka tidak langsung beristirahat. Namun, mereka sengaja ingin
menikmati suasana pergantian musim yang begitu menyenangkan.
Banyak warga lokal yang berkumpul di café-café, mereka bercengkrama dengan
penuh suka cita.
“Suasananya begitu nyaman dan menyenangkan, waktu akan terasa sangat
panjang selama musim semi ini, selama kita di sini bagaimana kalau kita pergi ke beberapa tempat? Pasti banyak tempat menakjubkan yang bisa kita jumpai!” seru Tomi antusias.
__ADS_1
“Kamu tahu tujuan kita ke sini untuk apa, bukan untuk liburan!”
Arga berjalan mendahului Tomi yang terlihat jengkel, tentu dia tahu tujuan mereka datang ke Negara B bukan hanya untuk Bisnis, namun untuk menemui Amy walau hanya sekedar melihatnya dari jauh. Arga tidak ingin
menyia-nyiakan kedatangannya ke Negara di mana Amy berada sekarang hanya untuk berbisnis saja, ia ingin melihat dan memastikan keadaan Amy, sekalipun dia hanya bisa melihatnya dari jauh namun itu sudah lebih dari cukup. Arga berharap, dia bisa mengendalikan diri agar ia tidak menemui Amy secara langsung. Karena jika itu terjadi, ia tidak bisa menjamin kalau dia bisa mengendalikan diri dan tak membawa Amy secara paksa.
“Boss, tunggu!” pekik Tomi tertahan.
Arga menoleh kearah Tomi, keningnya mengkerut. Entah apa lagi tingkah asistennya kali ini, Arga benar-benar ingin sekali menghajarnya.
“Jangan berbalik, jalan kearahku dan kita masuk ke dalam café sebelahku. Jangan berbalik! Nanti kamu akan tahu alasannya!”
Arga mengikuti intruksi dari Tomi, merekapun masuk ke dalam café, Tomi mengajak Arga duduk di sudut ruangan yang agak tertutup tanaman hias di sekitar café. Arga mengernyit, entah apa maksud Tomi bertingkah seaneh itu. Namun, sesaat Tomi menunjuk kearah jendela, seketika jantung Arga berdegup tak karuan, tepat di depan café Amy lewat bersama Dimas. Mereka tampak bahagia, bahkan Amy tertawa dengan lepasnya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, namun jantung Arga terasa berdenyut, rasa nyeri seakan menghujam jantungnya saat melihat kemesraan mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan. Bahkan mata Arga seakan terbelalak saat melihat perut Amy yang terlihat membuncit.
emosi bossnya saat ini, ia pasti terpukul melihat Amy dan Dimas begitu mesra dan tampak bahagia. Belum lagi perut Amy yang membuncit, di lihat sekilas juga sudah tahu dia pasti sedang hamil muda, hal itu pasti membuat Arga frustasi dan bisa saja ia akan kehilangan kendali.
“Boss…”
“Diam!... apa kamu sudah tahu itu? Apa kamu tahu kalau Amy sedang mengandung? Apa mereka sedekat itu sekarang? Apa mereka kembali menjalin hubungan? Hah…!”
Tomi terdiam, ia bahkan tidak tahu jika Amy sedang hamil, informan yang dia kirim sama sekali tidak pernah mengungkit soal kehamilan Amy. Mungkinkah ada seseorang yang sengaja menutupi informasi yang masuk. Tomi harus segera menyelidikinya, ia yakin, Naura pasti sudah ikut campur dan terlibat di dalamnya.
Arga bergegas keluar dari café, ia meninggalkan Tomi yang masih berkutat dengan pikirannya, ia ingin menyusul Amy. Arga tidak terima dan merasa di khianati, bagaimana bisa Amy dengan mudahnya
melupakannya dan menjalin hubungan dengan laki-laki lain bahkan sampai hamil.
__ADS_1
“Brengsek! Dimana kalian sialan!” geram Arga, ia tidak perduli dengan tatapan orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Boss… kita kembali dulu ke Hotel, jangan seperti ini, saat ini kamu dalam keadaan tidak baik, jangan hanya karena emosi sesaat kamu
menghancurkan semua yang sudah kamu rencanakan selama ini! Coba kamu pikir! Bukankah sangat aneh, informan yang kita kirim bahkan tidak mengungkit soal
kehamilan Amy, itu artinya ada seseorang yang ikut campur dalam rencana kita! Dari awal sepertinya kita sudah dikhianati, ada
mata-mata yang sudah masuk dan membaur dengan orang-orang yang kita kirim. Aku yakin, Ibumu pasti terlibat. Saat seperti ini kendalikan emosimu, jangan seperti ini!”
Arga terdiam, tubuhnya seakan tak bertenaga. Entah apa yang terjadi, keadaan seakan tidak pernah berpihak padanya sekalipun. Selalu saja ia harus menelan kenyataan pahit dalam hidupnya, semakin ia merencanakan semakin jauh pula tujuannya. Kini ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana, lagi-lagi dunia sedang menjauhinya, haruskah ia kembali kedalam kegelapan dan terpuruk menyendiri di sisa hidupannya.
“Ayo, jangan seperti ini. Secepatnya aku akan mencari informasi yang akurat, kamu jangan menyerah. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, siapa tahu anak yang Amy kandung adalah darah dagingmu! Bukan hal yang tidak mungkin, dia meninggalkan Negara kita baru 3 bulan, di lihat dari ukuran perutnya sepertinya dia sedang mengandung sekitar 4 atau 5 bulan. Jadi, jangan menyerah saat ini, segala kemungkinan masih bisa terjadi.”
Manik mata Arga seakan mengandung setitik harapan, apa yang Tomi katakan memang benar. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, yang terpenting saat ini mencari kebenarannya. Ia tidak boleh menyerah
begitu saja.
“Kamu benar, dunia belum runtuh, aku tidak boleh menyerah begitu saja.”
Tomi mengangguk senang, iapun segera mengajak bossnya itu segera kembali ke hotel. Saat ini keadaannya tidak stabil, kapanpun dia bisa saja merubah keputusannya dan kembali menggila.
“Yup, kita tidak boleh menyerah. Semangat!” seru Tomi menyemangati.
Sejujurnya ia merasa khuatir, namun ia tidak boleh menunjukkan. Saat ini Arga butuh dukungan, walau dari luar ia tampak kuat dan tegar, namun dari dalam ia begitu rapuh dan lemah. Cintanya terhadap Amy begitu besar, sampai kapanpun Tomi pasti membantunya untuk berjuang dan mendapatkan Amy kembali ke sisi Arga. Tomi percaya, cinta Amypun sama besarnya terhadap Arga, jadi tidak mungkin ia menghianati Arga walaupun Dimas selalu menemani di sisinya.
__ADS_1