
Tomi memeriksa CCTV yang telah ia pasang di sekitar kamar rawat Amy, semua kamera tampak menunjukkan aktifitas yang normal, tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
Dengan teliti ia terus menulang-ulang
memperhatikan layar, hingga akhirnya ia menemukan sebuah kejanggalan. Tomi memperhatikan sosok seorang gadis yang terus menerus memperhatikan kearah kamar Amy, ia didapati beberapa kali terlihat di
beberapa sudut.
Tampaknya gadis itu tengah mencari celah untuk pergi ke kamar Amy, namun pengawalan yang ketat membuatnya tampak kesulitan.
Tomi sudah tampak lelah, namun petunjuk yang sedikit tidak bisa membantunya untuk mencari informasi siapa gadis yang terlihat di
Kamera CCTV itu. Tomi tampak beberapa kali menguap, ia benar-benar mengantuk karena belum tidur sama sekali dan kabar tentang insiden yang di alami Amy membuatnya harus segera bergegas ke rumah sakit
subuh tadi.
Mentari pagi sudah menyinari di luar sana, namun Tomi masih berkutat di depan layar memperhatikan, hingga akhirnya Tomi menemukan sebuah kejanggalan pada sosok perawat yang tertangkap di layar. Perawat itu tampak tak asing, iapun menganalisa wajah perawat itu, dan benar saja ia adalah gadis yang yang mengintai kamar Amy pada siang kemarin.
“Kena kau!” seru Tomi antusias.
Iapun dengan segera mencari informasi tentang gadis itu dengan keahliannya. Tomi tampak serius menatap layar, ia memeriksa identitas gadis itu dengan teliti, senyuman tersungging di sudut bibir Tomi. Akhirnya setelah beberapa saat identitas gadis misterius itu berhasil ia dapatkan.
“Shelly, anak dari pengusaha rental mobil yang bangkrut akibat insiden kecelakaan yang Amy alami, pantas saja ia menargetkan Amy dan mencelakainya. Haaiiissshh…kamu sudah menggali lubang kuburanmu sendiri, sayang sekali gadis secantik kamu akan mengalami hal buruk sekali lagi, dan kali ini karena ulahmu sendiri!”
Tomi berdecak ia sangat menyayangkan, hanya karena emosi sesaat gadis itu mencari masalah dengan orang yang tidak tepat, ia benar-benar kasihan namun apa yang akan terjadi pada gadis itu memang pantas ia dapatkan, siapa suruh ia menyakiti Amy istri dari Boss sekaligus sahabatnya itu.
“Boss…!” seru Tomi, ia menghampiri Arga yang sedang duduk dengan raut wajahnya yang kusut menanti kabar baik dari dokter.
__ADS_1
“Ada apa” jawab Arga tidak bersemangat.
“Ini data orang yang sudah mencelakai Nyonya Amy. akupun sudah mengerahkan orang untuk mencari keberadaan gadis itu, Boss tidak usah khuatir kami akan bekerja semaksimal mungkin agar gadis itu cepat di
tangkap. Soal perusahaan Boss tenang saja, aku sudah mengatur semuanya dengan baik, untuk urusan yang belum selesai semuanya sudah kuserahkan ke beberapa bagian agar mereka membantu menyelesaikannya, jika ada masalah mereka akan segera menghubungiku dan jika mendesak maka aku
akan mengabari Boss, maka dari itu untuk saat ini Boss fokus saja menjaga Nyonya dan serahkan semuanya padaku!”
Arga menatap Tomi, dia memang selalu bisa di andalkan. Walaupun tampangnya tampak bodoh namun hanya dia yang mampu mengerti apa yang ada dalam pikirannya.
“Ya sudah, terimakasih ya. Semuanya aku serahkan padamu!” seru Arga.
Tomi mengangguk perlahan, iapun pergi meninggalkan Arga dan keluarganya. Banyak hal yang harus ia urus, secepat mungkin semua masalah harus ia selesaikan.
Dokter keluar dengan para perawat di belakangnya, ia memberitahukan kondisi Amy saat ini sudah baik-baik saja. Untung saja racun belum sampai menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga dokter bisa dengan
Saat ini Amy sudah melewati masa kritisnya, ia butuh istirahat total selebihnya tidak ada lagi masalah yang bisa mengancam nyawa Amy.
“Baik Dokter, terimakasih banyak” seru Bunda Aisyah.
Dokterpun pergi berlalu dengan para perawat, Arga masuk dengan segera, Amy tampak pucat, ia tertidur lelap karena pengaruh obat.
‘Syukurlah kamu baik-baik saja’ gumam Arga lega. Ia mengelus pipi Amy lembut, Arga benar-benar sangat menyesal gara-gara kecerobohannya sehingga Amy mengalami hal buruk itu.
“Sudah biarkan Amy istirahat, kamupun sudah lelah, lebih baik kamu istirahat juga” seru Naura, ia sangat khuatir melihat kondisi putranya ini, Arga benar-benar berantakan gara-gara gadis di hadapannya itu.
Naura memicingkan mata, andai saja ia bisa menjauhkan Arga dari Amy pastilah putranya itu tidak akan pernah mengalami keburukan terus menerus. Gara-gara gadis itu hidup anaknya tidak pernah tenang lagi, alasan rasa bersalah tidaklah sebanding dengan pengorbanan yang di lalui Arga, sedari kecil hingga saat ini. Dari awal ia sudah tidak
__ADS_1
menyukai Amy namun karena sikap Arga yang keras ia tidak bisa berbuat apa-apa di tambah suaminya selalu mendukung Arga sehingga ia tidak bisa gegabah mengambil tindakan.
“Sepertinya tak hanya aku yang ingin menyingkirkanmu, baguslah! Aku harus menemui orang itu sebelum Arga, sepertinya aku bisa menggunakan tangannya untuk menyingkirkanmu” gumam Naura dalam hati.
“Arga, kamu pulang dulu untuk beristirahat. Disini ada Bunda yang menemani, nanti kalau ada apa-apa Bunda pasti kabari kamu” seru Bunda Aisyah.
Ia tidak tega melihat kondisi Arga yang tampak kelelahan, selain sibuk bekerja ia juga harus menjaga Amy setiap waktu, pastilah Arga terlalu memaksakan dirinya hingga seperti ini.
“Tidak apa-apa bunda, Aku baik-baik saja” seru Arga.
“Apanya yang baik-baik saja, lihat kamu! Kondisimu sudah seperti mayat hidup!” ketus Naura, iapun mengelus rambut putra kesayangannya dan tersenyum lembut.
“Pulang sama ibu ya, kamu bisa istirahat sebentar saja di rumah, kalau kondisi Amy sudah membaik kita bawa pulang ke rumah, akan lebih baik jika Amy di rawat di rumah saja supaya kita bisa menjaganya dengan
baik dan kamupun bisa nyaman beristirahat!”
Arga menatap ibunya, apa yang dia bilang tidaklah buruk. Akan jauh lebih baik jika Amy di rawat di rumah saja, mungkin kondisinya akan cepat membaik.
“Hmmm… ya sudah, kalau itu menurut Ibu, aku akan menurutinya”
Naura tersenyum senang, iapun mengajak pulang Arga dan pamit pulang kepada Bunda Aisyah.
Di sepanjang jalan Arga tampak diam membisu menatap keluar jendela mobil, pikirannya tampak kalut entah apa yang
sedang ia pikirkan, naura tampak kesal di buatnya. Putranya kini sudah dewasa, dia pasti sudah tidak bisa di bodohi lagi maka dari itu secepat mungkin ia harus menyingkirkan Amy sebelum Arga menyadarinya.
Naura sudah tidak tahan dengan masalah yang selalu melibatkan putranya ini, dari awal ia sudah tahu Amy bukanlah orang biasa, kehidupannya sangat rumit jadi tidak heran jika ia selalu berurusan dengan orang-orang yang berdarah dingin. Oleh karena itu Naura harus bisa menjauhkan Arga dari Amy si pembawa sial, karena selama Arga masih
__ADS_1
berhubungan dengan Amy putranya ini tidak akan pernah lepas dari masalah, dan yang paling dia takutkan adalah jika sampai ia kehilangan putranya itu, maka ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri terutama Amy karena dialah akar dari permaslahannya.