Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Lembaran Hidup Baru 1


__ADS_3

Dimas mengerahkan orang suruhannya untuk mencari keberadaan Arga, tak butuh waktu lama, sesaat setelah mereka berangkat Dimas sudah mendapatkan informasi tentang keberadaannya.


Sangat kebetulan sekali, posisi Arga saat ini benar-benar menguntungkan untuk Dimas. Sekilas ia menyunggingkan senyum, dia sudah tidak sabar dengan apa yang akan


terjadi saat Amy dan Arga bertemu nanti.


“Ka Dimas, bagaimna? Apa sudah ketemu?” tanya Amy.


“Hhmmm… sudah, kita akan langsung ketempat di mana Arga berada!” seru


Dimas, ia mengelus lembut rambut Amy.


Amy tampak tak tenang di sepanjang jalan, ia bagaikan seorang gadis remaja yang akan pergi berkencan dengan lelaki idamannya, tak


henti-hentinya ia memainkan jari-jarinya bahkan kakinya terus-terusan ia goyang-goyangkan. Semakin dekat dengan tujuan, sikap Amy semakin salah tingkah. Dimas menyunggingkan senyum seraya mengacak-acak rambut Amy. Sontak saja Amy mendengus kesal, dengan segera ia merapikan kembali rambutnya yang berantakkan.


“Kamu ini, tenang sedikit kenapa. Apa kamu mau turun menemuinya?” tanya Dimas mengejek.


“Enggak! Aku hanya ingin melihatnya dari jauh saja. Aku ingin memastikan apakah dia baik-baik saja, setelah itu aku benar-benar


ingin menghilang dari kehidupannya.”


Dimas dapat melihat, apa yang keluar dari bibir mungil Amy tampak tak sesuai dengan isi hatinya. Manik mata Amy seakan menahan kerinduan dan kesedihan yang mendalam, ia mungkin sudah bertekad untuk meninggalkan Arga, namun hatinya tentu tidak. Bahkan Dimas yakin, beberapa menit


kemudian siapa yang tahu Amy akan merubah pendiriannya.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, aku benar-benar yakin dengan keputusanku, ingat itu baik-baik!” dengus Amy kesal, ia tidak menerima dengan tatapan Dimas yang seakan mengejeknya.


Dimas menarik tubuh Amy dan memeluknya dengan erat, ia benar-benar gemas dengan sikap Amy yang manja dan pemarah. Amy berontak, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Dimas, namun dengan sengaja


Dimas semakin mengeratkan tangannya.


“Ka Dimas, lepaskan!” pekik Amy.


“Haaahhh… baiklah… tapi dengan satu syarat”

__ADS_1


“Hhmmm…” Amy menengadah sambil mengerutkan kening.


“Cium aku…” jahil Dimas.


“Iihhh… Ka Dimas!” teriak Amy kesal.


“Hahaha… baiklah… baiklah…” ucap Dimas, ia melepaskan pelukannya.


Seketika Amy beringsut menjauh, raut wajahnya tampak gusar, ia benar-benar sebal dengan candaan Dimas yang keterlaluan.


Mobil berhenti tepat di depan lobi Hotel yang begitu mewah, Amy mengerutkan dahi, entah apa yang ada dalam pikiran Dimas.


“Ka…”


“Di depan!” jawab Dimas singkat, wajahnya tampak serius menatap tepat kearah depan.


Amy memalingkan wajah, ia menoleh kearah yang di tunjuk Dimas. Jantung Amy seketika seakan berhenti, Amy terbelalak, manik matanya berkaca-kaca. Sosok Arga tepat tak jauh di hadapannya, ia berdiri sambil menggandeng seorang perempuan cantik dengan gaun mewah yang sangat terbuka. Perempuan itu bergelayut manja dengan ekspresi wajahnya yang genit dan menggoda. Namun, sedikitpun Arga tidak merasa risih, ia justru sangat menikmatinya.


Amy mencengkram gaunnya, tubuhnya gemetar melihat kemesraan mereka, hatinya begitu sakit, bagaimana bisa Arga melupakannya dan dengan mudahnya mencari pengganti dirinya. Arga tampak bahagia, ia tersenyum mesra kepada perempuan itu. Dengan agresif dan tak tahu malunya, mereka bermesraan di depan umum seperti itu, Arga mencium perempuan itu dengan rakus, tak perduli dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya.


“Ka, kita pergi!” ucap Amy, suaranya tercekat.


***


“Istirahatlah… “ seru Dimas saat sesampainya mereka di rumah. Amy mengangguk


perlahan, iapun pergi menuju kamarnya.


***


Malam terasa dingin, entah sudah berapa lama Amy tertidur. Badannya terasa kaku, matanya tampak sembab, namun perasaannya setidaknya sedikit lega. Ia sama sekali tak menyalahkan Arga, sudah seharusnya Arga melupakannya. Karena, selama ini hubungan mereka begitu rumit.


Mau bagaimanapun mereka tidak bisa bersama, dan sudah seharusnya


mereka berpisah selamanya.

__ADS_1


‘Semua akan baik-baik saja, setidaknya aku sudah lega melihat dia baik-baik saja’ gumam Amy.


Tok… tok…tok…


Suara ketukkan pintu terdengar, Amy menoleh kearah pintu.


“Sudah bangun, aku bawakan teh hangat, minumlah.” Dimas meletakkan nampan teh di atas meja balkon.


Amy mengernyit, bukankah itu terlalu kejauhan, kenapa Dimas tidak meletakkannya di meja samping tempat tidur, dengan begitu Amy bisa dengan mudah mengambilnya.


Amy bangun dari tempat tidur, iapun mengikuti Dimas ke balkon. Amy merasakan kepalanya masih terasa pening, karena ia terlalu lama menangis hingga tersedu-sedu. Mau bagaimanapun Amy masih memiliki


perasaan terhadap Arga, pantaslah ia begitu terpukul dan sakit hati.


“Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan!” seru Dimas.


“Hmmm… baik” jawab Amy, iapun duduk dengan perlahan.


“Apa kamu baik-baik saja? Apakah perasaanmu sudah membaik?” tanya Dimas khuatir.


“Hmmm… tentu, aku baik-baik saja. Ka Dimas, tidak usah khuatir!” jawab Amy dengan nada yang datar. Iapun menyeruput teh yang Dimas bawakan.


“Baguslah kalau begitu, rencananya besok kita akan pergi ke Belanda. Kita akan tinggal di sana, itupun kalau kamu mau. Atau mungkin kamu ingin tinggal di sebuah Kota atau Negara? Kamu bilang saja, di manapun


itu asal kamu bahagia, aku akan ikut denganmu!”


Amy menatap Dimas, ia tampak ragu harus meninggalkan kota ini. Namun, iapun tidak tahu jika dia terus bertahan di kota ini apakah akan baik-baik saja.


“Hmmm… kemanapun Ka Dimas pergi, aku ikut. Aku tidak punya siapa-siapa yang bisa aku mintai pertolongan, aku sudah tidak percaya lagi dengan orang-orang panti. Untuk saat ini, aku hanya bisa bergantung dengan Ka Dimas, oleh karena itu, aku benar-benar minta maaf harus merepotkan Ka Dimas terus.”


Amy terlihat murung, tentu saja ia sudah tidak percaya dengan orang-orang panti, kenyataan pahit tentang siapa mereka sebenarnya membuat Amy sangat terpukul. bagaimana tidak, ia begitu tulus terhadap mereka, namun kenyataan mereka adalah orang-orang suruhan Arga membuatnya tak mungkin lagi percaya.


“Kamu yakin?” tanya Dimas ragu, ia bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Amy, tentu saja gadis di depannya ini masih merasa berat untuk pergi dari kota ini dan tentu saja ia masih belum bisa meninggalkan


Arga, namun Dimas akan terus meyakinkan Amy, ini adalah satu-satunya cara untuk Amy bisa menjalani hidup baru dan kesempatan untuknya bisa mendapatkan hati Amy kembali.

__ADS_1


“Tentu, aku hanya ingin menjalani hidup baru. Aku mohon, Ka Dimas bantu aku, ok!”


Dimas tersenyum lembut, iapun mengelus rambut Amy dan memeluknya erat. Ia tahu ini adalah keputusan sulit, namun ia akan berusaha membuat Amy melupakan semuanya dan menjalani kehidupannya dengan kebahagiaan.


__ADS_2