
Sinar matahari pagi terasa hangat menerpa pipi mulus Amy, kilaunya yang terang membangunkan Amy dari tidur lelapnya.
Amy menggeliat mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kamar yang ia tempati masih tampak asing, namun entah kenapa Amy bisa dengan mudah terlelap tidak seperti biasanya.
"Haaaahhh..... Pagi ini begitu segar, Eehhh.... siapa yang membuka jendela, apa ada seseorang yang membukanya?" gumam Amy tampak bingung.
"Oh, barang-barangku sudah di antar? iissshhh.... Aku bahkan tidak menyadarinya, Apa aku tidur selelap itu sampai-sampai tidak bisa mendengar apapun" sambungnya bergumam sendiri seperti orang bodoh.
"Aaahhh... Tau laahh... Aku mau mandi dulu".
Amy dengan segera menyiapkan baju untuk ia pakai dan segera mandi, kaus putih polos dan rok bunga-bunga jadi pilihannya, tampak simple dan nyaman saat di pakai. Toh ia tidak punya rencana pergi ke mana-mana.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Amy yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya yang panjang, tampa mengalihkan pandangan Amy menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk.
"Maaf nyonya, mau sarapan di bawah atau mau saya antar ke kamar?" Tanya seorang pelayan dengan penuh kesopanan.
"Nyonya?" Gumam Amy menahan senyum, pangilan 'Nyonya' tampak lucu baginya karena belum terbiasa.
"Nanti Aku turun saja. Oh ia, apa Arga ada di bawah?"
"Tuan sudah berangkat kerja, tadi pagi-pagi tuan berpesa untuk menyuruh nyonya makan sarapan sendiri dan menikmati sarapannya" jelas pelayan itu.
Amy mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum di bibir tipisnya, ia mendengus kesal dengan sikap Arga yang begitu sombong dan tidak masuk akal.
Bagaimana bisa Arga bersikap seperti ini, di malam pengantin dia bersikap aneh dan meninggalkan Amy sendiri. Bukan berarti Amy mengharapkan malam pertama layaknya seorang pengantin, namun ini sangat membingungkan bagi Amy.
Apa lagi Arga ini pengantin yang baru menikah, bagaimana bisa dia malah pergi bekerja. apa yang akan orang-orang katakan nanti.
"Menyesalkah dia sekarang? ciiih... benar-benar. Pergi saja sana pergi, Aku tidak perduli" dengus Amy jengkel.
Amy melahap sarapannya dengan sangat rakus, ia tidak perduli dengan tatapan para pelayan yang berjejer memperhatikannya, 'Apa-apaan mereka ini, kemana-mana terus mengikutiku apa aku ini tahanan' batin Amy.
'Benar-benar bikin nafsu makanku hilang, semua orang di sini membuatku jengkel' sambungnya semakin emosi.
"Aku sudah selesai, ada beberapa urusan yang harus aku urus di panti mungkin siang baru kembali" seru Amy dan hendak meninggalkan ruang makan.
"Maaf nyonya, Anda tidak di izinkan meningalkan rumah ini tanpa seizin Tuan" sergah salah satu dari mereka.
__ADS_1
Amy terpaku heran, apa mereka tidak keterlaluan, bahkan ia benar-benar seperti tahanan yang tidak bisa kemana-mana.
"Saya antar anda kekamar, mari Nyonya"
Para pelayan menggiring Amy masuk kekamarnya dan bahkan mengunci kamar Amy dari luar, Amy berteriak kesal karena sudah di perlakukan semena-mena.
Arga melamun menatap kosong keluar jendela, gedung-gedung tinggi menjulang menghalangi pandangannya.
Lalu lalang kendaraan tampak seperti semut di bawah sana, beberapa kali Arga menghela nafas berat membuat Tomi asistennya tampak gundah hingga tampak keringat dingin mengucur di keningnya.
Sangat berat bagi Tomi memiliki Bos yang sangat menakutkan seperti Arga, Ia bisa kapanpun meledak seperti Bom Atom.
Kilas tragedi berdarah itu kembali terlintas dalam bayangan Arga.
Dentuman mobil berguling menghantam jalanan aspal dan menabrak pepohonan pinggir jalan, terdengar gaduh bergemuruh memecah suasana sepi malam itu, gemericik kaca yang hancur terseret-seret membuat ngilu pendengaran.
Arga mematung tertegun tak bergeming, kakinya seakan kaku tak mampu bergerak, jeritan dan tangisan orang-orang dalam mobil begitu mengerikan membuat Arga semakin ketakutan.
darah segar mengucur membasahi wajah salah satu penumpang mobil itu yang masih tersadar, ia merangkak berusaha melepaskan diri dari bangakai mobil yang sudah hancur tak berbentuk.
Tubuhnya bergetar, ia mendekap erat sosok mungil terbungkus selimut putih bercampurkan darah.
Semburan darah segar menyembur Ia pun tersungkur, sekuat tenaga ia menyerahkan mahluk mungil itu ke arah Arga.
"Tolong..... Tolong jaga....." Tak sampai selesai apa yang ingin ia katakan, perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Pak....Pak Arga" Untuk kesekian kalinya Tomi memberanikan diri memanggil-manggil Arga yang terhanyut dalam lamunannya.
"Pak Arga.... Pak...." Sekali lagi Tomi memanggil, keringat dingin benar-benar sudah membasahi sekujur tubuhnya, menghadapi Arga seakan-akan menghadapi Raja Iblis yang bisa membuatnya serangan jantung setiap saat.
Arga tersentak saat Tomi menepuk pundaknya, tatapan Arga seakan ingin menelan Tomi hidup-hidup.
Tubuh Tomi seketika tersentak tak bergeming, jantungnya memburu seakan ingin meledak.
"Ada apa?" Singkat Arga jengkel.
"Anu Pak.... Eemmm... itu.... Nyonya... Nyonya...."
__ADS_1
"Bicara dengan jelas sebelum Ku robek tenggorokanmu" Seru Arga kesal.
"Aa...aaanu... Pak, Nyonya Amy kabur lewat jendela!"
Tomi terperanjat saat Arga menggebrak meja kerjanya.
Arga tampak geram, dengan segera ia meninggalkan ruangannya dan pergi mencari Amy.
Sepanjang jalan Arga menghubungi nomor Amy, Namun tidak ada jawaban darinya.
Arga benar-benar kesal di buatnya.
"Tidak berguna...." Teriak Arga kesal.
"Segitu banyak penjaga, bisa-bisanya Amy bisa lolos dari penjagaan mereka"
Arga semakin kencang melajukan mobilnya, ia tahu betul Amy pasti kembali ke Panti Asuhan.
Sesampainya di sana Arga terdiam menenangkan emosinya, ia tidak mau terkesan buruk di depan orang-orang panti.
Tok....tok....tok......
Terdengar suara ketukan kaca mobil, Arga menoleh. Tampak Amy menyapanya dengan senyumannya yang sangat menawan,
Arga menghela nafas berat, iapun turun dari mobil. Ia tersenyum lembut dan mengelus rambut Amy yang terurai panjang, sebisa mungkin ia berusaha terlihat seakan semuanya baik-baik saja, karena di samping Amy ada Bunda Aisyah menemaninya.
"Bunda.... Anakmu ini begitu tidak penurut" Seru Arga dan mencubit hidung Amy.
"Apa?.....Aaaiiihhh.... kamu ternyata berbohong ya Amy" sentil bunda perlahan, "Kamu bilang sudah izin hemm" sambung bunda Aisyah.
"Aaahh...itu....iitu...." Amy tersenyum canggung, ia tidak mungkin bilang ke Bunda kalau ia kabur menuruni balkon kamarnya.
"Ya sudah kami pamit pulang ya Bunda, Aku masih ada pekerjaan, nanti saat senggang kami pasti main kesini lagi" seru Arga berpamitan.
Amy tampak mengekor di belakang Arga setelah sebelumnya pamit pulang ke Bunda Aisyah, Ia benar-benar tidak ingin pulang namun Ia takut bunda akan salah faham.
Sepanjang jalan Arga terdiam membisu, Amy benar-benar tidak nyaman dibuatnya, suasana saat itu membuat Amy seakan-akan sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
__ADS_1
Beberapa kali Amy menghela nafas berusaha menenangkan diri, namun sikap Arga yang dingin membuat Amy takut Arga akan menghukumnya.