
Amy begidik ngeri, sepertinya ada sesuatu yang menyeramkan di belakangnya. Bulu kuduknya berdiri, telinganya memerah, sangat panas.
‘Mungkin ada yang sedang menggunjingku’ gumam Amy.
‘Entahlah… aku tidak perduli’ sambungnya.
Amy bersandar menyamankan diri, ia menatap Arga yang sedang fokus bekerja dengan tumpukan-tumpukan Mapnya, sudut bibir Amy tersungging.
Melihat Arga yang sedang fokus benar-benar mempesona, bagaikan peran utama dalam kisah novel romantis yang menonjolkan pemeran utama yang tampan,gagah dan sexy.
Tak dapat di pungkiri, Arga benar-benar sangat sempurna di matanya, bibir tipisnya yang lembut dan hangat, matanya yang jernih dengan manik hitamnya yang memabukkan, hidungnya yang mancung dan rahangnya
yang kokoh benar-benar seperti jelmaan seorang dewa yang bisa membuat
para hawa bertekuk lutut di kakinya.
Dulu Amy tidak begitu memperhatikannya, ia merasa heran, bagaimana mahluk yang sempurna ini bisa sangat ia benci. Amy benar-benar buta, bagaimana bisa dulu ia menganggap Arga sebagai seorang monster jelek yang menyebalkan, mungkinkah karena rasa benci yang membutakan mata hatinya? Entahlah!
“Mau sampai kapan lagi kamu menatapku seperti itu? Bukankah sudah larut malam, cepat tidur kalau tidak kamu akan menyesal” seru Arga, ia masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya.
Tatapan Amy sangat mengganggunya, ia tidak bisa fokus karenanya.
“Ok, siap Boss…” seru Amy, iapun menarik selimutnya dan mencoba memejamkan mata untuk beristirahat.
Arga menyunggingkan senyum, ia sangat gemas dengan sikap Amy yang penurut, ia tidak menyangka akhirnya ia bisa menakhlukan hati Amy.
Suara getar handpone Arga beberapa kali berbunyi, Arga mencari-cari arah suara itu. Di Ambilnya handphonnya yang tertumpuk di bawah Map.
Arga mengernyit, tidak biasanya Tomi menelponnya dengan inisiatifnya sendiri. Biasanya Arga yang selalu menelpon Tomi, itupun jarang di angkat, sekalinya di angkat bocah itu tidak berhenti menggerutu
menyebut-nyebut soal kerja rodi.
“Hhmmm… ada apa?” tanya Arga, ia masih fokus menatap Mapnya.
“Boss… aku akan kirim foto, tapi Boss jangan marah ya!” seru Tomi terdengar serius.
__ADS_1
“Hhmmm… sudah cepat katakan aku masih banyak kerjaan!” dengus Arga sebal, ia paling tidak suka bertele-tele.
Tanpa berbicara apa-apa, Tomi mematikan handphonnya. Arga mendengus kesal dengan asistennya ini, benar-benar kurang ajar sudah berani menutup telpon tanpa seijinnya.
Triiing…Bunyi notifikasi pesan masuk.
Arga menatap layar handpone, rupanya Tomi mengirimkan beberapa video dan juga
foto beserta keterangannya. Dengan serius ia memperhatikan.
“Tidak aku sangka! trik apa lagi yang Ibu mainkan kali ini? Sudah seperti ini masih saja dia ingin memisahkanku dengan Amy.
Hhaaaaah…dari semua orang kenapa harus Dimas!”
Arga menyunggingkan senyum di sudut bibir tipisnya, ia tampak memiliki sebuah rencana, namun untuk sementara ia akan bersabar dan mengikuti alur sesuai keinginan Ibunya itu.
“Halo…Tomi, kamu segera ke sini. Aku akan menemui seseorang.”
Tomi melihat jam, sudah pukul 02.00 dini hari, dengan lesu iapun segera mengambil kunci mobil dan pergi menuju Rumah Sakit. Sejujurnya ia sangat lelah untuk hari ini, namun kejadian saat di parkiran
Ia sengaja tidak memberitahu Arga akan tindakannya, agar saat ia salah mengira, ia masih bisa selamat dari amukan Arga.
“Boss…” sapa Tomi saat ia melihat Arga berdiri di depan pintu kamar Amy.
“Hhmmm… kamu tetap di sini, jaga Amy baik-baik jangan sampai ada kesalahan. Jika ada sesuatu yang mencurigakan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan! Dan untuk kalian jangan sampai lengah!” perintah Arga
untuk para pengawalnya.
“Siap Boss!” kompak mereka.
Arga segera pergi meninggalkan Rumah sakit, ia berjalan menuju kearah rumahnya. Ada sesuatu hal yang ingin ia kerjakan, Arga harus secepat mungkin menyelesaikan masalah demi masalah agar ia dan Amy bisa hidup
dengan tenang.
Sesampainya di rumah Arga turun menuju ruang bawah tanah, ruangan yang lembab dan pengap itu benar-benar membuat tidak nyaman indra penciumannya. Arga duduk di sofa, ia menatap Anjar yang tampak
__ADS_1
menyedihkan, namun ia memang pantas mendapatkan perlakuan itu.
Salahnya sendiri yang mencari masalah dengannya, apa lagi berani-beraninya ia mengusik wanitanya, hingga menyakiti Amy dengan sangat keji.
Anjar terkekeh saat ia di bangunkan paksa oleh para pengawal Arga, ia menatap Arga dengan tatapan mengejek. Ia sama sekali tidak takut akan kematian, ia sudah tahu saat-saat seperti ini pasti akan datang. Namun Anjar sangat yakin, ia tidak akan mati secepat itu, karena Arga pasti membutuhkan bantuannya.
“Bagaimana? Bukankah aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas? Apa
kamu sudah mencari tahu kebenarannya?” seru Anjar dengan nada mengejek, ia kembali terkekeh.
Arga mendengus kesal, saat ini ia belum menemukan apapun tentang yang ia bicarakan. Namun saat ini ada hal yang lebih penting baginya, yaitu soal Dimas.
“Itu tidaklah penting! Apapun yang ingin Amy lakukan itu bukan urusanmu. Itu adalah urusanku dengan Amy jadi kamu tidak perlu ikut campur! Aku datang kesini, untuk menanyakan soal Dimas.”
Anjar mengernyit, ia sama sekali tidak mengerti, ada apa dengan Dimas.
Bukankah dia hanya seorang pemuda biasa yang dikencani Amy saat Arga tidak ada!
“Dia hanya pemuda biasa, apa kamu sangat memandang tinggi dirinya hingga mau mengurus hal kecil seperti ini? Kamu bahkan bisa menyingkirkannya dengan mudah, kamu tahu itu!”
Arga menelisik, sangat tidak mungkin Anjar tidak tahu soal siapa Dimas sebenarnya, bukankah dia salah satu orang kirimannya.
“Bukankah dia orangmu?” tanya Arga.
Anjar terkekeh, sebetulnya ia sama sekali tidak mengetahui identitas laki-laki itu. yang ia tahu pemuda itu di kirim Ibunya Arga untuk mendekati Amy, sungguh sangat kebetulan, Baginya Dimas hanyalah pion yang sudah di sediakan Tuhan hingga orang-orang yang Arga kirim lengah dan fokus terhadap Dimas.
Sungguh kesempatan emas saat ia tahu Arga pergi ke Amerika cukup lama, membuatnya memiliki banyak kesempatan untuk
menyingkirkan Amy, salah satunya adalah kecelakaan yang Amy alami.
Namun keberuntungan selalu menyertainya, anak itu untuk kedua kalinya, Amy tetap saja selamat dari maut yang ia siapkan.
“Entahlah… aku tidak tahu siapa laki-laki yang tidak jelas itu, namun berkat dia aku pernah hampir berhasil menyingkirkan Amy. Tapi sayang, gadis itu benar-benar tangguh, ia bisa selamat dari maut. Benar-benar menakjubkan” kekehnya.
Arga tampak geram, ia mengeratkan rahanya. Seperti dugaannya, ini pasti rencana Naura. Ia sengaja mengirim Dimas untuk mendekati Amy selama Arga di Amerika, dia pula yang menyabotase informasi tentang Amy dan menyembunyikan informasi penting tentang Amy agar tidak sampai ketelinganya. Ia benar-benar takjub, Ibunya bisa melakukan hal itu dengan sangat baik. Bahkan selama 2 tahun ia dengan rapinya menyembunyikan masalah tentang Amy dan gara-gara dia, orang licik seperti Anjar memiliki kesempatan untuk mencelakai Amy hingga hampir
__ADS_1
kehilangan nyawanya.