Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Firasat Buruk Amy


__ADS_3

Amy mengernyitkan kening, tubuh Arga terasa kaku dan berat, dengan susah payah ia mendorong tubuhnya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja. Amy menjerit, ia histeris dan panik, tangannya gemetar, darah segar terasa hangat dan lengket di kedua tangnnya.


Dengan gemetar ia menatap Arga yang seketika tersungkur, tubuhnya basah berlumuran darah segar yang mengalir di punggungnya, pisau belati menancap dalam membuat tubuh Arga mengejang hingga tak sadarkan diri.


“Tidak… Arga… tidak… Jangan menakutiku seperti ini! Aku mohon bangunlah, Arga!”


Tubuh Amy bergetar hebat, ia berusaha menutupi luka Arga dengan kedua tangannya untuk menghentikan darah yang terus mengalir keluar.


“Jangan seperti ini aku mohon, jangan menakutiku! Arga… aku mohon… Ka


Dimas, Ka… kamu dimana? Aku mohon tolong Arga… Ka Dimas!… siapapun aku mohon!” Amy terus menjerit, berteriak meminta bantuan, namun suasana tampak hening, tak ada siapapun disana.


Dengan erat Amy memeluk tubuh Arga yang semakin kaku dan dingin, ia terus menjerit berteriak meminta bantuan. Perasaannya begitu hancur seakan dunianya seketika runtuh saat melihat kondisi Arga yang semakin menderita tak berdaya, wajahnya begitu pucat pasi karena darah terus mengalir ke pasir putih pantai yang berubah menjadi merah darah.


“Amy… Amy…Amy…” suara perempuan memanggilya dengan nada mengejek.


“Sungguh pemandangan yang sangat tragis! Namun, begitu indah…” sambungnya, orang itu terkekeh, seakan merasa puas melihat pemandangan tragis di hadapannya.


“Ibu!” pekik Amy.


“Bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu! Aku mohon cepat tolong Arga, dia putramu! Bagaimana bisa kamu begitu keji!” teriak Amy


frustasi.


“Putra? Dia bahkan tidak pernah bersikap seperti seorang putra! Sedari kecil ia begitu nakal dan pembangkang, bahkan setelah dia bertemu denganmu, karena tragedy yang menimpa orangtuamu, membuatnya semakin


membangkang dan menjauh dariku. Dia sendiri yang sudah membangun tembok penghalang sehingga aku, ibunya! Tidak pernah bisa menggapainya, dia sendiri yang memposisikan dirinya seperti orang asing! Jadi jangan salahkan aku, jika aku tidak pernah menganggapnya sebagai putraku, dia tidak pantas!”


Sorot mata Naura tampak merah penuh kebencian, dengan kasar ia mencabut belati yang tertancap di punggung Arga dan mengelap darah yang tersisa di pisau itu.


“Bukankah ini yang kamu inginkan! Menjauh dan pergi dengan kekasih tercintamu Dimas? Harusnya kamu bahagia, karena penghalangmu sudah aku singkirkan, mulai sekarang kamu bebas.”


Naura melangkah pergi menjauh meninggalkan Amy dan Arga yang semakin


sekarat, ia bahkan tidak memperdulikan Amy yang terus memanggilnya dan memohon bantuan, agar Arga segera di bawa ke Rumah Sakit. Bayangan Naura lambat laun semakin menghilang di telan kabut yang pekat, Amy


terus menjerit memanggil Arga, ia begitu putus asa tidak tahu harus berbuat apa hingga akhirnya Arga mengejang dan menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


“Arga! Tidak… tidak… jangan seperti ini, jangan tinggalkan aku, aku


mohon! Arga… Arga… tidak…Argaaaaa…!”


***


Dimas mengeratkan rahang, sepertinya Amy sedang bermimpi buruk, ia terus menerus memanggil nama Arga, hatinya benar-benar panas mendengar nama itu terus menerus keluar dari mulut gadis yang sangat ia cintai.


“Tidak… Arga… jangan pergi… jangan tinggalkan aku…Arga…Arga…”


Keringat dingin mengucur membasahi tubuh Amy, pipinya tampak memerah, dengan lembut Dimas menempelkan punggung tangannya, benar saja suhu tubuh Amy semakin panas, demamnya semakin tinggi. Walaupun hatinya saat ini terasa sakit karena Amy terus memanggil nama Arga, namun


dengan sabar ia mengompres kening Amy dan mengelap keringat yang terus mengucur, saat ini ia harus bersabar.


Amy mencengkram tangan Dimas yang sedang mengompresnya, entah ia sedang bermimpi apa. Ingin rasanya ia membangunkan Amy, namun ia tidak ingin mengganggu istirahatnya.


“Dalam keadaan sadar ataupun tidak, Dia masih saja tidak pernah lepas dari hati dan pikiranmu! Dulu, apakah kamu juga seperti ini saat masih bersamaku? Namun, aku merasa, sepertinya cintamu padaku dan cintamu


kepada Arga jauh lebih besar terhadapnya. Padahal selama kamu bersamanya, kamu selalu di sakiti dan tertindas, namun bagaimana bisa dia justru lebih unggul dariku!” dengus Dimas, iapun berdiri, hatinya


***


Amy membuka mata perlahan, ia menatap punggung Dimas yang semakin menjauh hingga pintu tertutup. Ia sudah tersadar dari mimpinya saat Dimas sedang mengompresnya, namun saat dia hendak membuka mata, seketika ia mengurungkan niatnya. Amy merasa bersalah, tanpa sadar


ternyata ia sudah menyakiti Dimas. Ia sudah berusaha dengan keras untuk melupakan Arga, namun hatinya begitu sulit untuk berkompromi, seakan otak dan hatinya tak sejalan saling bersinggungan. Hal itu membuatnya justru semakin frustasi, karena semakin ia mencoba melupakan Arga, bayangannya semakin sulit ia singkirkan.


“Haaahhh… Arga! Apa kamu baik-baik saja? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak!” gumam Amy, entah kenapa sepertinya ia merasakan firasat buruk tentang Arga, semenjak ia pergi hingga saat ini ia tidak tahu


apakah laki-laki itu baik-baik saja.


Apakah dia mencarinya saat tahu Amy sudah pergi meninggalkannya, ataukah Arga membencinya dan melupakannya, entahlah. Namun, hanya membayangkan Arga tidak perduli lagi padanya membuat hatinya terasa sakit.


“Apa kamu baik-baik saja, Arga?” tanya Amy dalam hati.


“Untuk terakhir kalinya, dapatkah aku menemuimu? Aku hanya ingin memastikan, apakah kamu baik-baik saja, agar aku bisa pergi dengan tenang.”


Amy duduk bersandar memeluk guling, mimpi buruk itu terus menghantuinya, perasaannya kini menjadi gundah. ‘Mungkinkah terjadi

__ADS_1


sesuatu terhadap Arga?’ gumamnya.


***


Dimas duduk termenung sambil menyeruput kopi panas menikmati pemadangan pagi hari, mentari pagi tampaknya enggan untuk mengedarkan kehangatannya, langitpun tampak mendung seolah mewakili perasaan Dimas saat ini. Sesekali ia menoleh melihat layar ponsel, seakan ada yang sedang ia nanti.


Pandangannya teralihkan, sosok bagaikan dewi turun melangkah menuruni tangga satu persatu, gaun putih sebetis melambai-lambai mengikuti irama langkah kakinya, kulit mulus putih bersih tampak indah dengan balutan gaun yang ia kenakan. Hari ini tampaknya suasana hati Amy sedang bagus, ia berdandan cantik dengan makeup tipis, rambutnya yang mulai panjang ia kerli hingga penampilannya terlihat anggun dan


dewasa.


“Pagi, Ka…” sapa Amy, ia duduk di sebrang meja sambil menyeruput susu yang sudah tersedia di meja makan.


“Hari ini kamu tampak cantik!” puji Dimas.


“Hmmm… Ka Dimas bisa saja, emmm… Ka, boleh enggak hari ini aku…” Amy


tampak ragu-ragu, entah Dimas akan mengijinkannya atau tidak, namun ia


benar-benar ingin melihat keadaan Arga, karena dari semalam ia begitu gundah, hatinya tidak tenang takut terjadi sesuatu dengan Arga.


“Heemmm… kenapa? Apa kamu mau pergi ke suatu tempat?” tanya Dimas berpura-pura.


Tentu saja ia tahu apa yang ada dalam pikiran Amy, ia tahu Amy pasti ingin menemui Arga, walaupun sangat berat namun ia tidak bisa


menghalanginya, karena hal itu pasti akan membuat Amy semakin menjauh darinya.


“I… itu…Ka, emmm… bolehkah aku… aku ingin melihat Arga, tapi Ka Dimas jangan salah faham, aku hanya ingin melihatnya dari jauh, aku tidak ingin menemuinya langsung. Bisakah Ka Dimas mengantarku?”


Dimas terdiam sejenak, ia meletakkan cangkir kopi di tangannya. Sekali lagi ia menatap layar ponselnya. Raut wajah Dimas tampak datar tak terbaca, membuat Amy menjadi bingung dibuatnya.


“Sarapan dulu, setelah itu kita jalan” seru Dimas.


Amy mengangguk senang, iapun melahap roti lapis yang ada dihadapannya, ia terlihat terburu-buru seakan tidak sabar ingin melihat Arga, tentu Dimas merasa kesal, ia menyunggingkan senyum kecut di sudut bibirnya, hatinya terasa tersengat membuat luka di hatinya semakin dalam.


“Pelan-pelan saja, aku akan mencari informasi tentang keberadaan Arga saat ini, setelah kamu selesai kita langsung berangkat. Namun, apa kamu akan baik-baik saja?” tanya Dimas khuatir.


“Hhmmm… ya…” jawab Amy singkat, ia tampak fokus dengan makanannya.

__ADS_1


__ADS_2