Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Rencana Pemberontakkan 2


__ADS_3

Arga menendang apapun yang ada di hadapannya, bagaimana bisa barang-barang mereka bisa hilang. Padahal kamar mereka adalah kamar VIP, namun masih saja bisa kebobolan. Kesabarannya sudah habis, kali


Naura benar-benar sudah keterlaluan.


“Sekarang juga cari informasi, siapapun yang berani menggangguku, habisi!” seru Arga penuh emosi.


Tomi segera bergegas menghubungi orang-orang suruhannya, sepertinya kali ini Arga tidak akan membiarkan siapapun lolos dari genggamannya.


Kejadian ini sangat menguntungkan juga baginya, Tomi merasa senang, akhir-akhir ini Arga terlalu lemah, dan akhirnya kini Arga kembali seperti dirinya sendiri. Walaupun terlihat kejam, namun orang-orang yang sudah mengusik Argalah orang-orang kejam sesungguhnya.


Mereka sudah salah memilih musuh, Arga bisa saja menjadi orang baik, namun merekalah yang memaksanya bertindak kejam. Jadi, jangan salahkan Arga jika ia tidak berbelas kasihan, dan Tomi, dia akan dengan senang hati menjadi senjata dan perisai untuk Arga, menyingkirkan siapapun yang berani megusik Boss sekaligus sahabat baiknya.


***


Naura terbahak-bahak saat melihat Arga tampak geram karena sudah kehilangan paspor dan dokumen penting lainnya. Dia sangat puas dengan hasil kerja para suruhannya itu, tidak sia-sia ia membayar mahal para anjing-anjing peliharaannya.


Naura hanya ingin memberi pelajaran Arga,


agar ia bisa mengerti arti tunduk dan patuh terhadapnya. Ia sudah sangat muak dengan kisah cintanya dengan Amy yang sangat memuakkan, karena gara-gara perempuan itu Arga tidak pernah mematuhinya dan selalu membangkang. Padahal ia sudah berusaha bersikap seolah ibu yang baik baginya, namun bagi Arga itu tidaklah cukup. Hingga membuat Naura muak dan ingin menghancurkan hidup Amy bahkan menyingkirkan gadis itu mencabiknya hingga berkeping-keping.


Kebencian Naura sudah berakar dan mendarah daging, terutama karena dia


adalah anak dari perempuan pembawa sial yang sudah menyebabkan orang yang ia cintai meninggal dengan sangat tragis.


Karena dia pulalah yang sudah menghancurkan segala rencana yang sudah ia susun dengan rapi menjadi hancur berantakkan.


“Jika saja perempuan sialan itu tidak selalu menempel kepada Bima Sanjaya, dia tidak akan mati dengan sia-sia. Gara-gara dia, aku harus terkurung dalam hubungan yang memuakkan ini, jadi jangan salahkan aku,


jika anakmu harus membayar penderitaanku selama ini. Niatku yang hanya ingin menguasai kekayaan keluarga Prasetyo dan menyingkirkannya supaya bisa hidup bahagia dengan Bima kini hanya menjadi angan-angan saja. Gara-gara kamu, aku harus hidup menderita dengan penuh kepura-puraan, hidup dengan si bodoh Prasetyo dan anaknya yang tidak berguna.”


Naura mencengkram gelas minuman di tanggannya dengan kuat, rasa bencinya terhadap Thalia ibu kandung Amy benar-benar sudah semakin memuncak. Hanya dengan mengingatnya kembali ingin rasanya ia membunuh perempuan itu hingga mati untuk kedua kalinya.

__ADS_1


“Lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadap putri kesayanganmu itu, akan ku buat dia merasakan beribu-ribu rasa sakit dan penderitaan hingga ia sendirilah yang akan mengakhiri hidupnya dan menyusulmu


dengan sendirinya, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot menggunakan tangan cantikku untuk menyentuh tubuh  kotornya!”


Naura terkekeh seperti seorang psikopat, membayangkan Amy mati dengan tragis membuatnya senang bukan kepalang. Gelas dalam genggamannya hancur berkeping-keping, darah segar bercampur anggur merah mengalir dari tangannya, dengan sunggingan senyum sinis ia mengelap darah di tangannya tanpa merasakan sakit sedikitpun.


“Boss, tanganmu!”


Anak buah Naura bergidik ngeri melihat tingkah Bossnya yang sangat mengerikan, perempuan cantik dan anggun sepertinya bisa sesadis itu, sangat di sayangkan karena dia seperti seorang perempuan iblis berdarah dingin.


“Ini hanya luka kecil, namun cantik. Hahaha…” Naura terkekeh, iapun meninggalkan para anjing-anjing peliharaannya yang terdiam dengan tertunduk melihat tingkah bosnya yang sangat mengerikan.


***


Arga duduk dengan tatapan tajam memandang dokumen-dokumen di


tangannya, rupanya saat ini Naura sedang berada di Negara B. Itu artinya Hellen perempuan jadi-jadian itu pasti ada bersamanya juga. Dan yang paling penting adalah keselamatan Amy dan bayinya sedang


Tok…tok…tok…


Arga dan Tomi saling memandang, mereka segera waspada karena mereka sama sekali tidak sedang menunggu seseorang, dan keberadaan merekapun sangat di rahasiakan. Terkecuali itu adalah Naura atau orang-orang


suruhannya.


“Bukalah, namun hati-hati!” seru Arga, dengan segera Tomi membukakan pintu. Namun, baru saja Tomi hendak membuka pintu, dengan kasar pintu di dorong hingga Tomi


mundur beberapa langkah hingga hampir tersungkur.


“Dimas!” serentak Arga dan Tomi berbarengan.


“Bangsaaatttt!” seru Dimas, dengan cepat ia melayangkan bogem mentah ke arah Arga, namun dengan sigap Arga menangkisnya hingga Dimas terpental ke lantai.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan!” teriak Arga gusar.


“Jangan berpura-pura bodoh! Naura ada di Negara ini, dan dia bertindak terlalu jauh! Jika saja aku telat pulang, Amy tidak akan selamat


lagi!” Dimas tampak geram, dengan gusar ia bangun dan duduk di sofa dengan dadanya yang kembang kempis karena emosi.


“Ami! Dimana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kondisi kandungannya?” tanya Arga panik.


“Saat ini dia baik-baik saja, aku sudah membawanya ketempat yang tersembunyi. Namun itu tidak akan lama, aku yakin ibumu pasti akan dengan sangat mudah menemukannya dan berusaha menyakitinya lagi!”


***


Ketiganya diam membisu, suasana menjadi hening. Raut wajah mereka tampak serius seolah memikirkan cara bagaimana mereka harus bertindak, karena jika mereka lengah sedikit saja mereka akan kehilangan Amy.


Satu-satunya cara adalah menyingkirkan dalang dari akar permasalahan ini, namun itu tentu akan menjadi keputusan yang sangat sulit. Karena bagaimanapun juga Naura adalah ibu kandung Arga, tidak mudah bagi


Arga menghadapinya, dan tidak mudah juga baginya membiarkan siapapun menyakitinya. Namun jika dia tidak bertindak Amy dan malaikat kecilnyalah yang akan menjadi korban.


Dengan gusar Arga mengacak-acak rambutnya, entah ia harus berbuat apa, siapapun yang ia pilih akan ada yang tersakiti, begitupun dirinya, ia pasti tidak akan pernah hidup tenang walau bagaimanapun keduanya adalah orang-orang yang sangat penting dalam hidupnya.


“Apa ada informasi tentang keberadaan ibuku?” tanya Arga. Beberapa kali ia menghela nafas berat, kepalanya terasa pening, ia tidak tahu harus berbuat apa terhadap ibunya itu. Sejujurnya ia tidak dapat


mengerti, bagaimana bisa ibunya yang tampak lembut namun bagaikan seorang iblis yang sagat keji. Padahal dia pasti tahu, anak yang di kandung Amy merupakan cucu kandungnya sendiri, tidakkah dia merasa


kasihan ataupun tersentuh hatinya, namun sepertinya hatinya benar-benar telah mati sehingga ia dengan tega terus dan terus ingin


menyingkirkan Amy dan anak yang ia kandung.


“Menurut orang-orangku, dia berada di Hotel XXX. Aku sudah mengirim beberapa orang untuk memperhatikan gerak-gerik mereka, dan kekasih genitmupun ada bersamanya. Mumpung mereka berada di sini, kamu harus


bertindak dengan cepat, sementara Amy serahkan dia padaku. Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya, dan aku peringatkan, kita sudah tidak punya banyak waktu. Ibumu pasti sudah mengira-ngira akan kondisi kehamilan Amy yang semakin membesar, tebakanku, dia tidak akan membiarkan anak itu lahir kedunia ini dengan selamat. Jadi aku sarankan jangan menunda-nuda!”

__ADS_1


__ADS_2