
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, dengan perlahan Dimas membuka pintu kamar Amy untuk memeriksa keadaannya. Amy tampak gelisah dalam tidurnya, beberapa kali ia mengubah posisi tidurnya dengan tidak nyaman.
Dimas mengelus lembut perut Amy mencoba menenangkan, namun justru ia membangunkan Amy dari tidurnya.
“Ka Dimas!” seru Amy kaget. Ia mengucek-ngucek matanya yang sangat
mengantuk.
“Maaf membangunkanmu, apa kamu baik-baik saja? Apa malaikat kecilku
mengganggumu?” Amy mendengus kesal, iapun menjitak kepala Dimas dengan gusar.
“Dia malaikatku! Bukan malaikatmu! Menyebalkan, aku mau tidur lagi,
sana kamu pergi” rungut Amy sebal.
Dimas mengacak-acak rambut Amy, gadis itu masih saja kekanak-kanakkan. Padahal sebentar lagi sudah akan menjadi seorang ibu, namun melihat sikapnya itu, jangan-jangan saat anaknya lahir dan tumbuh besar, ia bisa berebut permen dan bertengkar dengan anaknya.
“Ya sudah, kamu tidur lagi, ok. Sebentar lagi langit terang”
Dimas menyelimuti tubuh Amy agar ia bisa tidur dengan nyaman, waktu di Negara B memang sangat sedikit di waktu malam, sementara siang begitu panjang. Apalagi kalau sudah masuk musim panas, mereka yang tak terbiasa akan sangat bingung dengan waktu di Negara B. Bukan apa-apa,
tidak seperti di Negara A di mana perbandingan siang dan malam itu 12
jam. Namun, tidak di Negara B, waktu malam yang hanya 5 jam bahkan kurang membuat mereka harus berusaha keras beradabtasi.
“Ka…” panggil Amy ragu-ragu.
“Hhmmm… ada apa?”
Dimas duduk di samping Amy, gadis itu duduk perlahan dan bersandar di bantal yang empuk untuk menyamankan diri.
“Kenapa? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Dimas lembut.
“Aku… aku bingung, tidak lama lagi bayiku akan lahir. Namun, bagaimana nanti nasibnya, dia lahir tanpa seorang ayah membuatku sedih” manik mata Amy berkaca-kaca, sepanjang malam ia begitu gundah, entah harus berbuat apa.
__ADS_1
“Hhmmm… soal itu nanti kita cari jalan keluar, jangan terlalu di bebani, aku pasti akan membantumu yang terbaik. Jadi, jangan khuatir. Sekarang kamu tidur, istirahat dengan baik, ok!”
Amy menatap Dimas, laki-laki di hadapannya sepertinya ia sudah memiliki rencana. Walaupun Amy tidak tahu apa yang sedang ia
rencanakan, namun Amy percaya, Dimas pasti akan melakukan yang terbaik untuknya dan juga bayi mungilnya.
“Hhmmm… ok. Terimakasih ya, Ka!” seru Amy, iapun kembali merebahkan badan dan menarik selimutnya.
***
Dimas menatap Amy, hatinya begitu gundah, dalam pikirannya ingin sekali ia bersikap egois. Andai saja bisa, ia ingin memiliki Amy dan anaknya untuk dirinya sendiri, ia tidak rela, selama ini ia sudah bersusah payah melindungi Amy dan kandungannya. Namun, pada akhirnya ia harus menyerahkan mereka ketangan Arga.
‘Haruskah aku menjauhkanmu dari Arga dan pergi ketempat dimana tidak ada siapapun yang bisa mengenalimu? Akankah kamu akan membenciku suatu saat nanti, jika aku melakukan itu?’ gumam Dimas dalam hati.
“Ada apa, Ka?” tanya Amy, keningnya mengernyit bingung.
Amy merasa ada yang aneh dengan Dimas, sorot matanya begitu dalam. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tak biasanya Dimas melamun di hadapannya, seolah ada yang sedang ia pikirkan.
“Apa Ka Dimas baik-baik saja?” tanya Amy lagi, memastikan.
“Hmmm… maaf, ya sudah aku… aku keluar. Kamu istirahatlah, tidak usah khuatir, aku baik-baik saja” ucap Dimas, iapun mengecup kening Amy dan pergi dengan segera.
***
Arga menyeruput kopinya dengan santai, beberapa kali ia menepis tangannya yang terus-terusan di gelayuti oleh Hellen si perempuan genit yang menyebalkan. Melihat tingkah Hellen yang gatal, Naura menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Iapun sungguh geli melihatnya, namun kalau saja bukan karena orang tunya yang merupakan orang penting, sejujurnya ia begitu risih dengan Hellen. Sifatnya yang manja dan genit membuat Naura geli di buatnya, belum lagi kecanduannya dengan Operasi Plastik, dari ujung kaki hingga kepalanya tampak jelas, gadis itu begitu palsu bahkan tampangnya tampak dewasa di usianya yang
masih muda.
“Bisakah kamu diam sebentar saja!” seru Arga jengkel.
“Sayang, kamu kenapa? Aku begitu merindukan kamu, apa kamu tidak
merindukanku?” rengek Hellen manja.
“Aku merindukan kamu atau tidak bukankah kamu sudah tahu jelas!” dengus Arga, sekali lagi ia menepis tangan Hellen yang terus
__ADS_1
menggelayutinya.
“Sayang…”
“Berhenti, jangan membuatku jijik!” seru Arga dengan sinis, “Aku bahkan tidak suka kamu sentuh, jadi berhenti merengek dan jauh-jauhlah dariku!” sambungnya.
Naura menatap Arga sinis, beberapa kali ia memberi peringatan kepada Arga, namun Arga sama sekali tidak perduli. Melihat anaknya yang keras kepala Naura mencoba membujuk Hellen agar ia tidak tersinggung dengan ucapan Arga yang begitu kasar. Namun, Arga sama sekali tidak perduli.
“Kalian harusnya tahu, aku sengaja menemui kalian karena aku sudah terlalu muak mengikuti permainan kalian!” seru Arga tegas.
“Mulai sekarang, kamu jangan pernah menemuiku lagi! Sedari awal urusanmu adalah dengan Ibuku, bukan denganku. Selama ini aku sudah cukup sabar, namun tidak untuk kali ini!” tegas Arga.
“Maksud kamu apa? Jaga bicaramu, Arga!” Naura tampak geram dibuatnya.
“Sudah cukup! Selama ini aku bersedia menjadi bonekamu, agar kamu melepaskan Amy, namun kamu masih saja tidak melepaskan dia! Kesabaranku sudah habis, sekali lagi kamu coba-coba mendekatinya, apa lagi sampai menyakitinya, saat itu juga jangan salahkan aku jika aku tidak lagi mengakuimu sebagai ibuku! Dan akupun akan memastikan, semua usahamu selama ini akan hancur dan kebusukanmu terbongkar! Apa kamu masih ingat dengan Emelly? Haaahh… aku beri tahu, dia masih secantik
dulu bahkan semakin cantik, dan dia baik-baik saja!”
Arga kembali menyeruput kopinya, ia menyunggingkan senyum saat melihat
Naura yang masih terbelalak dengan mukanya yang tampak pucat. Arga tahu betul, Emelly merupakan senjata paling tepat untuk menakuti ibunya, kekejiannya terhadap ibu dan anak itu merupakan kesalahan yang
tidak bisa termaafkan. Sesungguhnya Arga begitu berat, ini semua bukan hanya sekedar demi Amy dan anaknya, namun sudah saatnya ia menyadarkan ibunya dan menghentikannya agar ia tidak berbuat jahat lagi.
Seharusnya Naura bersyukur bisa menjalani kehidupannya yang lebih baik, namun ia terlalu serakah, sehingga ia terus dan terus melakukan kejahatan demi kepuasannya yang tidak berujung. Entah apa yang sebenarnya ia cari, semua sudah ia miliki namun ia tidak pernah ingin berhenti, justru ia semakin menjadi dan menggila. Arga benar-benar
pusing dibuatnya.
“Hentikan omong kosongmu, bagaimana mungkin orang yang sudah mati akan
hidup kembali!” seru Naura, suaranya tampak bergetar.
“Percaya atau tidak itu urusanmu. Namun, jika kamu berani mendekati Amy lagi, saat itu pula, buka lebar-lebar matamu. Aku akan membawa Emelly kehadapanmu dan juga ayah, dan lihat apa yang akan terjadi. Dan
semua bukti kejahatanmu, aku sudah memilikinya. Tinggal tunggu saja, kapanpun kamu bertindak, saat itu pula aku tidak akan menahan diri! Akupun tahu rahasiamu, Ibu. Jadi jangan uji kesabaranku!”
__ADS_1
Naura terbelalak, entah rahasia apa yang Arga maksud, 'Mungkinkah!' gumam Naura, jantungnya berdegup kencang, tidak mungkin Arga bisa tahu rahasia tentang dirinya, selama ini tak ada satupun yang mengetahui. Orang-orang yang tahu akan rahasianya sudah tidak ada lagi di dunia ini, bagaimana mungkin Arga bisa mengetahuinya.
“Ciihhh… kamu bahkan tidak mengangggapku sebagai ibumu! Hanya demi seorang gadis? Apa itu sepadan!” teriak Naura, hatinya terasa hancur, anak kandungnya sendiri begitu tega. Ia bahkan mengancamnya, Naura tidak habis pikir. Seumur hidupnya ia bertahan, bahkan melakukan banyak dosa hingga diapun sadar lambat laun hatinyapun sudah mati karena banyaknya kesalahan yang sudah ia perbuat. Namun, itu semua ia lakukan hanya untuk bisa menikmati hidup dan bisa memberikan masa depan cerah untuk putranya itu.