
Suasana mencekam seakan memenuhi ke seluruh ruang rapat, karyawan yang menghadiri rapat saat itu seakan membeku, bahkan mereka seakan segan walau hanya sekedar bernafas.
Sesekali Arga menghela nafas berat, sontak seisi ruangan menjadi gugup, keringat dingin membasahi tubuh mereka.
‘Kalau begini terus bisa-bisa mati berdiri aku’ gumam Tomi.
Tomi menatap karyawan lainnya yang tertunduk kaku, tampang-tampang
mereka terlihat tegang. Satu sama lainnya saling melirik menantikan Arga memulai rapat, agar rapat cepat selesai dan mereka bisa segera pergi. Aura Arga yang begitu dingin membuat dada mereka sesak,
tekanannya terlalu kuat membuat mereka gugup dan takut.
‘Haaaahhh… ada apa lagi sekarang, ini benar-benar membuatku stress’
Tomi menghela nafas, ia benar-benar bingung dengan Bossnya ini, seolah-olah ia terlahir dengan nasib yang sangat suram.
“Kalian kembali ke meja masing-masing, rapat kita tunda dulu” seru Tomi berinisiatif.
Seisi ruangan langsung bergegas meninggalkan ruang rapat, mereka
tampak bernafas lega akhirnya bisa keluar dari tekanan Aura arga yang menakutkan.
“Apa kamu gila! Siapa bosnya disini, Haaahhh...!” Bentak Arga marah.
Tomi mengernyitkan kening, jika bukan karena dirinya para karyawan akan mati sia-sia terkena tekanan batin gara-gara Arga.
“Apa kamu tidak berkaca? Lihat tampangmu itu, begitu mengerikan seakan-akan dalam tubuhmu mengeluarkan aura membunuh, siapa yang tahan berada di satu ruangan denganmu yang seperti ini!”
“Lihat tampang mereka seperti apa? Mereka tampak pucat, tinggal tunggu beberapa menit lagi akan ada yang masuk rumah sakit gara-gara jantungan atau jatuh pingsan” seru Tomi.
Arga menghela nafas berat, ia benar-benar bingung harus bagaimana. Gara-gara emosi sesaatnya kini Amy pasti sangat membencinya. Dengan kasar ia mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.
Tomi terkekeh melihat tingkah Arga, ia bisa menebak Bosnya ini pasti sudah melakukan hal bodoh yang akhirnya ia sesali.
Namun menyesalpun percuma karena sifat Arga yang kaku pasti tidak akan pernah
merendahkan dirinya untuk sebuah permintaan maaf.
“Kamu pikir ini lucu? Apa kamu minta aku hajar haaaahhh…” teriak Arga.
Sekali lagi Tomi terkekeh, tampang Arga benar-benar kacau.
“Boss… tenang sedikit kenapa, dengan emosi apa semua masalah bisa terselesaikan? tenangkan dirimu Boss. Kalau kamu mau, ceritakan padaku siapa tahu aku bisa membantu”
__ADS_1
Arga menatap tomi serius, namun sesaat kemudian ia ragu. Bagaimana mungkin ia akan mengatakan bahwa ia sudah memperkosa istrinya sendiri benar-benar memalukan.
“Lupakan…” Seru Arga, iapun mengusir Tomi agar pergi meninggalkannya sendiri.
Kamar Amy tampak gelap gulita, tangan Arga meraba-raba mencari stop kontak. Saat lampu menyala Arga mengedarkan pandangan, kamar itu tampak kosong, dengan panik ia mencari-cari keberadaan Amy.
“Amy...Amy...” teriak Arga, suaranya menggelegar menggema di seluruh
ruangan yang begitu luas.
Pak Her menghampiri Arga dengan segera, ia tampak megap-megap kehabisan nafas. Karena panik sekuat tenaga ia berlari kearah Arga.
“Haahhh… Haaahhhh… kenapa Mas kok teriak-teriak?” Tanya Pak Her sambil menghela nafas perlahan.
“Amy…Di mana Amy sekarang?” Tanya Arga panik, raut wajah Arga tampak jelas ada ketakutan yang mendalam di manik hitamnya.
“Haaahhh… Saya pikir ada apa,” Pak Her masih berusaha menenangkan nafasnya yang masih tersenggal-senggal.
“Nyonya ada di dapur, ia sedang memasak” jawab Pak Her, Arga menghela nafas lega, jantungnya seakan hampir meledak karena takut Amy pergi meninggalkannya.
Perlahan Arga melangkahkan kaki menuju dapur, ia memperhatikan dari kejauhan, ia tidak berani mendekati Amy saat ini. Arga benar-benar di hantui oleh rasa bersalahnya.
Amy tampak fokus mengolah makanan yang ia masak, raut wajahnya tampak pucat namun ia terlihat sangat cantik.
sendiri.
“Anda tidak masuk, Mas?” Tanya Pak Sam, saat ia hendak masuk kedapur.
Arga terperanjat kaget, ia tampak salah tingkah. Tanpa berkata apa-apa
iapun pergi menuju ruang kerjanya.
Tok…Tok…Tok…
Suara pintu di ketuk, Arga menoleh ke arah pintu dan mempersilahkannya masuk. Ia terdiam, Amy datang menghampiri membawakan secangkir kopi kehadapannya. Tidak biasanya Amy berinisiatif langsung mencarinya, hal itu membuat Arga menjadi curiga karenanya.
“Kamu pasti lelah, ini aku buatkan kopi, minumlah”
Amy meletakan kopi di atas meja, tanpa berkata apa-apa lagi iapun pergi meninggalkan Arga yang masih terdiam.
“Tunggu…” Seru Arga. Seketika Amy menghentikan langkahnya.
“Ya…” Tanya Amy singkat.
__ADS_1
Arga terdiam membisu, ia tidak tahu harus berkata apa. Arga menatap Amy yang tampak menunggunya, pandangannya tampak sayu ia benar-benar menyesal, namun Arga sangat bingung dengan sikap Amy saat ini.
“Maaf…” lirih Arga hampir tidak terdengar.
“Apa…?” Tanya Amy, suara Arga sama sekali tidak terdengar.
“Hhmmm… i… itu… Aku minta maaf” seru Arga mengulang, Arga menantikan jawaban Amy, di lihatnya Amy tampak menatapnya tajam, manik mata Amy terlihat berkaca-kaca.
Arga segera menghampiri Amy hendak mengusap Air matanya yang mengalir,
namun Amy beringsut mundur, menghindarinya.
Arga mengernyitkan dahi, ada rasa sakit yang seakan menusuk ke ulu hatinya, melihat Amy tampak takut dengannya membuat Arga semakin merasa bersalah.
“Amy…” panggil Arga lirih. Amy menatap Arga dengan tatapan penuh kebencian.
Arga tertunduk, di raihnya tangan Amy. Amy tercekat kaget, ia mencoba melepaskan diri akan tetapi cengkraman tangan Arga begitu kuat membuatnya sulit untuk melepaskan diri.
“Aku mohon maafkan Aku” pinta Arga berharap, Amy terdiam. Ia tidak bisa dengan mudah memaafkan Arga begitu saja, ia sangat terluka dengan perbuatan Arga padanya, dengan sekuat tenaga Amy meronta-meronta mencoba melepaskan diri.
“Inikah caramu meminta maaf? Lepaskan tanganmu, ini sangat menyakitkan!” jerit Amy.
Saat tangan Arga terlepas ia mencoba
melarikan diri namun dengan sigap Arga memeluk tubuh mungil Amy dengan
sangat erat.
Amy terdiam tak bergeming, ia menangis sejadi-jadinya. Awalnya ia ingin sekali mencoba memaafkan Arga dan agar ia membiarkannya pergi, namun ia tak sanggup. Rasa bencinya benar-benar sudah keubun-ubun, kesalahan Arga sudah sangat fatal. Setiap Amy melihat luka lebam di
sekujur tubuhnya perasaan jijik itu selalu timbul, ia benar-benar tidak tahan.
“Aku sangat membencimu, kamu brengsek yang menjijikan” maki Amy di sela-sela tangisannya.
“Maaf….. maafkan aku…” seru Arga, tubuh Arga tampak bergetar, ia benar-benar menyesali perbuatannya. Bulir bening membasahi wajahnya membuat Amy tertegun.
Punggung Amy terasa hangat, Arga menangis
suaranya bergetar.
Amy terdiam membisu, ini kali kedua melihat Arga yang seperti ini. Di balik sikapnya yang dingin dan kejam terdapat sosok Arga yang rapuh tak berdaya.
Perasaan Amy menjadi bimbang, ia tidak tahu apakah Arga sudah menyesali perbuatannya ataukah hanya berpura-pura? Namun di
__ADS_1
lubuk hatinya yang terdalam ia tidak bisa melihat Arga yang seperti ini.