Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Kesalahan Yang Sama


__ADS_3

Amy terengah-engah, seakan kehabisan nafas, begitupun dengan Dimas.


Wajah mereka tampak memerah, membuat keduanya gugup dan saling membuang muka.


“Maaf” pinta Dimas, dengan suara yang bergetar.


“Aku juga” jawab Amy merasa malu karena ia tidak bisa mengendalikan diri.


Lama keduanya terdiam, jantung mereka berdegup tak karuan. Dimas berusaha menenangkan hatinya, hampir saja ia hilang kendali jika saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya mungkin saja ia bisa melewati


batas, hingga membuat Amy membencinya seumur hidup.


Dimas bangun, ia mengulurkan tangan  dan membantu Amy. Mereka memutuskan untuk kembali pulang, kegilaan hari ini sudah cukup bagi mereka. Dimas tidak ingin sampai Arga tahu dan menggila, bisa saja nantinya Arga akan menyakiti Amy jika mereka tidak segera kembali.


“Apakah kamu akan baik-baik saja?” Tanya Dimas, ia sangat kuatir Arga akan bertindak kasar dan menyakiti Amy.


“Hhmmm… entahlah, nanti aku akan mencari alasan, semoga Arga tidak marah” jawab Amy, pikirannya tampak kosong, Amy benar-benar bingung, entah kenapa ia merasa bersalah kepada Arga.


Apa yang sudah ia perbuat sama saja ia sudah menghianati Arga, namun Amy tidak bisa apa-apa semua sudah terjadi. Kini ia merasa gundah, ia merasa bukan perempuan baik-baik. Bagaimana bisa ia melakukan hal memalukan seperti itu, sekalipun dulu ia sangat mencintai Dimas namun saat ini ia adalah istrinya Arga.


“Kalau kamu mau, kamu tidak usah kembali. Kita pergi sejauh mungkin, hanya kita berdua saja, bagaimana?”


Amy menatap Dimas, perasaannya semakin kacau. Ingin sekali ia setuju dan ikut dengan Dimas namun hatinya terasa sedih saat membayangkan ia harus meninggalkan Arga. Mungkinkah ia mencintai kedua laki-laki itu?


“Aku tidak tahu” jawab Amy gundah.


“Hhmmm… tidak usah terburu-buru, saat kamu ingin pergi, kamu bisa menemuiku! kapanpun.”


Dimas meraih tangan Amy, ia akan melakukan apapun demi gadis di sampingnya itu, perasaan cintanya sedikitpun tak pernah surut. Suatu saat ia yakin bisa merebut Amy dan menjadikannya menjadi miliknya lagi.


Amy menaiki taksi yang Dimas pesan, ia tidak bisa mengajak Dimas ikut bersamanya. Ia takut Arga mengetahuinya dan menyakiti Dimas, Amy tahu betul watak Arga yang temperamental, ia bisa melakukan apapun tanpa ada yang bisa menghentikannya.


Sepanjang perjalanan pikiran Amy melayang tak karuan, ingatan tentang kejadian tadi saat Dimas menciumnya, entah kenapa ia tidak bisa menolaknya. Padahal ia tidak tahu dulu benarkah mereka saling mencintai, lalu kemana Dimas saat ia mengalami amnesia, kenapa Dimas muncul di saat ia sudah menikahi Arga.


Perlahan Amy menyentuh bibirnya yang membengkak akibat ciuman panasnya


dengan Dimas, perasaan itu begitu aneh seakan ada sengatan listrik yang menjalar keseluruh tubuhnya membuat bulu kuduk Amy merinding namun ia menyukainya.

__ADS_1


‘Aaahhh… ya ampun, apa aku sudah gila?’ gumam Amy, ia memukul-mukul keningnya untuk menyingkirkan pikiran kotornya.


Bagaimana bisa ia membayangkan hal yang tidak pantas di kepala cantiknya.


“Nona, sudah sampai!” seru Pak Supir, namun tampaknya Amy masih terbuai dalam lamunannya.


“Nona… maaf nona, kita sudah sampai”


Amy masih terdiam melamun melihat keluar jendela, ia benar-benar tidak mendengar.


Dengan sabar pak sopir diam menunggu Amy, ia menggeleng-gelengkan kepala melihat Amy yang terhanyut dalam lamunannya.


Braaakkk…


Taksi yang Amy tumpangi di gebrak dengan sangat kencang, membuat Amy dan Pak Sopir terlonjak kaget dibuatnya. Pak Sopir tampak gemetar, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, di luar sudah berkerumun


orang-orang dengan seragam serba hitamnya.


“Ampun…ampun… jangan sakiti saya” pekik Pak Supir ketakutan.


Pak Sopir langsung segera tancap gas karena ketakutan, sementara Amy masih diam mematung melihat Arga berdiri bersama anak buahnya.


“Ingat pulang juga kamu, ya!” dengus Arga.


Amy terdiam tak bergeming, ia benar-benar ketakutan. Jantungnya berdebar-debar seakan mau copot.


“Maaf…” gumam Amy perlahan.


Tanpa banyak kata-kata, Arga menarik tangan Amy dan menyeretnya masuk kedalam rumah.


Dari kejauhan sepasang mata menatap memperhatikan mereka, matanya


menatap tajam, rahangnya menggertak menahan emosi. Ia mengepalkan


tangan, buku-buku jarinya tampak memutih, di tinjunya pohon yang ada di hadapannya.


“Brengsek! Lihat saja, jika sampai terjadi apa-apa dengan Amy, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu!” Ucapnya dengan geram.

__ADS_1


Amy meringis kesakitan, pergelangan tangannya seakan mau putus. Arga tak mau melepaskan pegangannya, sekalipun ia sudah memohon agar Arga melepaskannya.


Sesampainya di kamar Arga menghempaskan tubuh Amy hingga jatuh tersungkur di atas tempat tidur, mata Arga memerah, nafasnya memburu. Ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


“Perempuan brengsek, kurang ajar ! Berani-beraninya kamu kabur dariku!”


dengan kasar Arga merobek baju Amy hingga terkoyak.


Amy menjerit, kedua tangannya berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, namun dengan kasar Arga menghempaskan tangan Amy dan mencengkramnya dengan sangat kuat.


“Ini adalah hukumanmu! Kamu dengan berani mencoba kabur dan menghianatiku, maka kamu harus terima akibatnya!”


Amy terisak pilu, lagi-lagi Arga melecehkannya, kali ini ia lebih kasar dari sebelumnya hingga membuat Amy tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tubuhnya terasa ngilu, seluruh tubuhnya seakan remuk, Amy


meringis berharap siapapun dapat menolongnya.


“Dasar brengsek!” jerit Amy kesal, dengan sisa tenaganya yang ia mencoba bangun dan hendak membersihkan diri, namun rasa perih seolah menyengat ke seluruh tubuhnya hingga ia tersungkur dan terjatuh.


Amy meringkuk, tubuhnya seakan tidak bertenaga, iapun memeluk tubuh telanjangnya sambil terisak pilu memecah keheningan malam.


“Seandainya aku tahu, lebih baik aku tidak kembali! Dari pada hidup tersiksa dengan orang brengsek itu, lebih baik aku hidup di jalanan, kalau perlu mati akan lebih baik” sungut Amy penuh kebencian.


“Aku tidak akan membiarkan itu!”


Amy tersentak kaget, ia menoleh kearah suara itu! Matanya terbelalak, ia berusaha sekuat tenaga menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Namun lagi-lagi ia tersungkur, tubuhnya terasa lemas.


Amy terisak, ‘Belum cukupkah penghinaan ini’ jeritnya dalam hati.


Perlahan orang itu mendekati Amy, ia menarik selimut dan menutup tubuh mungil Amy dan memangkunya ke atas tempat tidur.


“Tidak usah takut. Aku bukan orang jahat, aku akan menyelamatkanmu dari si gila Arga! Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku!”


Amy menatap orang itu, ia tidak tahu siapa dia, namun saat ini ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari Arga. Perlahan ia menganggukan kepala, ia berharap orang itu benar-benar orang baik-baik. Karena saat


ini ia sangat membutuhkan pertolongan, tak perduli siapapun itu.


Dengan hati-hati orang itu memangku Amy dan pergi meninggalkan rumah, sangat kebetulan sekali penjagaan sedang lengah hingga membuat mereka dengan mudah kabur dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2