Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Kegundahan


__ADS_3

‘Sangat indah’ gumam Amy, Bibir tipis, hidung mancung serta garis rahang yang kokoh membuat wajah itu tampak pas dan sempurna di matanya.


Sosok itu begitu indah di pandang mata, saat tertidur ia tampak seperti malaikat yang menyejukan, berbanding terbalik saat ia


tersadar, dingin dan mengerikan seperti seorang iblis.


Jantung Amy seakan berhenti berdetak, tiba-tiba Arga membuka matanya,


manik hitam itu menatapnya tajam membuat Amy tercekat dan jatuh dari


tempat tidur.


“Aaww….. sakit” keluh Amy.


“Apa kamu gila? Dasar menyebalkan” gerutu Amy kesal.


Arga mendekat ke arah Amy, ia mendengus kesal karena tingkah Amy yang


ceroboh hingga membuat dirinya sendiri terluka.


Dengan kasar ia menarik tubuh Amy hingga ia terbangun, tanpa berkata apa-apa iapun


pergi meninggalkan Amy yang masih menggerutu kesal karena kesakitan.


Siang itu Naura mengajak Amy pergi ke kebun tak jauh di belakang rumahnya, berbagai macam jenis sayuran tampak subur dan segar, membuat Amy tak sabar ingin segera memetiknya.


Mereka asik berbincang panjang


lebar sambil memilah sayuran yang akan mereka petik.


“Bu…” panggil Amy ragu, sejenak ia terdiam.


“Mmm…. Kenapa sayang?” jawab Naura singkat.


“Mmm… itu…. Tapi Ibu jangan marah ya,”


Naura menatap Amy dan tersenyum lembut, entah apa yang ingin gadis itu tanyakan kepadanya, namun ia yakin itu pasti tentang Arga.


Naura mengangguk perlahan, seraya tersenyum meyakinkan.


“Apa Arga ada masalah?” Tanya Amy ragu.


Naura mengernyitkan kening, ia tampak bingung harus berkata apa, mungkinkah Amy tahu akan sesuatu ataukah Arga memperlakukan Amy dengan tidak baik.


Namun Naura yakin betul, Arga tidak akan pernah menyakiti Amy, dialah yang sudah mendukung Amy secara diam-diam agar Amy bisa tumbuh dengan baik hingga saat ini.

__ADS_1


Walaupun saat itu Arga baru berumur 13 Tahun, namun pemikiran Arga begitu dewasa. Ia bahkan mempertimbangkan banyak hal untuk kebaikan Amy, ia meminta Ayahnya untuk menjadi Investor tetap di Panti dan


mengirim orang-orang untuk menjaga Amy secara diam-diam.


“Hhmm…. Apa ada masalah?” Tanya Naura balik bertanya.


Amy tampak ragu, iapun menggeleng. Mungkin ia sudah salah bertanya, ia


yakin Arga pasti tidak akan membuat orangtuanya kuatir di saat ia ada masalah.


Seharian Amy mencari keberadaan Arga, sedari pagi ia menghilang begitu


saja setelah meninggalkan Amy di kamarnya.


Bahkan orang tuanyapun tidak tau ia ada di mana, beberapa kali Amy menghubungi Arga namun handponnya selalu tidak aktif.


Amy terdiam di balkon menatap langit biru yang mulai mendung, ia menyandarkan tubuh mungilnya di kursi, beberapa kali ia menghela nafas berat. Ingatan semalam terus menghantuinya, Arga tampak rapuh seolah


sedang menanggung beban berat. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun kini mereka sudah menjadi suami istri namun hubungan mereka tidak lebih dari dua orang asing yang tinggal satu atap.


Entah kenapa ada perasaan mengganjal di hati Amy, sekalipun ia tidak menyukai Arga


namun hatinya tidak tenang melihat Arga tampak di rundung sebuah masalah.


Arga menghampiri Amy yang tertidur lelap di kursi balkon, ia melihat handpone Amy berdering beberapa kali, namun Amy sama sekali tidak terusik, ia masih tertidur pulas tak bergeming.


Arga mengecek panggilan masuk dan pesan di handpone Amy, terdapat miscall beberapa kali dari nomor tak di kenal dan juga Bunda Aisyah, ia membaca pesan-pesan yang masuk seperti penguntit.


“Minggu pagi datang ke Panti, seseorang menunggumu” pesan Bunda Aisyah.


Arga mengernyitkan kening, dalam benak bertanya-tanya siapa yang ingin


menemui Amy?, raut wajah Arga tampak geram, ia tahu pasti si Tua itu yang ingin bertemu dengan Amy.


‘Jangan-jangan Bunda Aisyah dan si Rubah Tua itu saling mengenal’ gumamnya.


Arga kembali membaca semua pesan keluar dan masuk, ia ingin mencari tahu sejauh mana mereka bertindak dan mendekati Amy. Arga menghela nafas lega, sepertinya Amy belum tahu kebenarannya karena kebanyakan


pesan yang masuk hanya percakapan biasa dengan teman-temannya.


Namun ada satu pesan yang membuat Arga geram, sebuah pesan yang sangat


mengusiknya membuat ia ingin sekali membanting handphone Amy.


“Amy…. Aku merindukanmu, tidak lama lagi aku akan pulang ke Negara A,

__ADS_1


saat waktu itu tiba aku akan menemuimu”


Pesan itu tidak ada namanya, membuat Arga kesal di buatnya. namun ia yakin pesan itu pasti dari seorang laki-laki, melihat tanggalnya pesan itu masuk sekitar dua hari yang lalu, namun Amy sepertinya mengabaikannya karena ia tidak membalas pesan itu sama sekali.


“Hhemmm…. Tahu diri juga kamu” ucap Arga.


Arga menggendong Amy hendak memindahkan Amy ke tempat tidur, Amy


melenguh seakan enggan di usik dari tidur lelapnya. Amy benar-benar pulas, beberapa kali Arga membangunkan namun ia sama sekali tidak menggubris, entah apa yang sudah ia lakukan seharian sehingga


membuatnya tidur selelap itu.


“Ya sudahlah….” Gumam Arga, tadinya ia ingin mengajak Amy pulang kerumah mereka karena Arga merasa tidak biasa tinggal di rumah orang tuanya.


“Jangan pergi….” Gumam Amy, ia mengigo sambil menarik-narik tangan Arga.


“Jangan…. Ka Dimas…..jangan tinggalkan aku…..” Amy terisak dalam tidurnya, dada Arga terasa sesak, gadis itu bisa-bisanya menyebut nama laki-laki lain di hadapannya.


Arga menepis tangan Amy kasar, namun Amy tetap tak bergeming.


Lagi-lagi Amy memanggil-manggil Ka Dimasnya itu seolah ia benar-benar


pergi meninggalkan Amy sendiri, hingga membuat gadis itu larut dalam kesedihannya.


Arga semakin tidak bisa menahan emosinya, dengan kasar ia mencium bibir Amy hingga ia terbangun dari tidurnya, Amy tercekat


kaget, ia berusaha meronta namun kedua tangannya di sekap oleh tangan


kekar Arga sehingga ia tidak bisa melepaskan diri, Arga menciumnya dengan kasar membuat Amy kesakitan hingga menangis dan menjerit-jerit, ia berharap Arga berhenti dan melepaskannya.


Nafas Arga memburu seakan kerasukan, matanya yang tajam tampak memerah


membuat Amy semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, ia benar-benar tidak menyangka Arga akan berbuat sekasar itu terhadapnya.


Amy beringsut saat Arga mendekatinya, ia takut Arga akan melecehkannya lagi.


Arga menatap Amy dengan tatapan yang dalam, ia tahu ia salah karena perbuatannya semakin membuat Amy menganggapnya sebagai laki-laki berengsek, namun ia tidak bisa mengendalikan diri.


“Maaf…” ucap Arga singkat, ia tertunduk merasa bersalah.


“Siapa Dimas?” Tanya Arga penasaran, Amy mengernyit bingung, dari mana Arga tahu tentang Dimas.


“Jawab aku!” ucap Arga dengan suara baritonnya.


Amy menatap Arga, sorot matanya kembali mengerikan membuat Amy semakin menciut.

__ADS_1


“JAWAB!” bentak Arga semakin emosi.


Air mata Amy mengalir membasahi pipinya yang tampak pucat, bibirnya bergetar, suaranya tercekat seakan tercekik, membuatnya sulit untuk berbicara.


__ADS_2