
Arga menatap para informan yang ia kirim untuk menjaga Amy, mereka tertunduk, tubuh mereka bergetar, betapa besar ketakutan mereka akan kemarahan Arga. Mereka tampak bingung, selama ini mereka menjalankan tugan dengan sangat baik dan detil, namun bagaimana bisa sampai ada
sebuah kesalahan. Bahkan kesalahan itu benar-benar sangat fatal.
“Ada yang bisa menjelaskan?” Tanya Arga, ia melempar berkas-berkas informasi tentang Amy ke lantai.
Salah satu dari mereka memeriksa berkas yang Arga lemparkan, dengan teliti ia baca lembar demi lembar, ia merasa informasi itu persis seperti yang ia kirimkan ke Arga.
“Boss… apa ada sesuatu yang salah? Bukankah ini semua yang kami laporkan!”
Arga mendengus kesal, di ambilnya berkas yang sebelumnya ia terima, isinya tampak jauh berbeda, banyak informasi yang terlewat.
“Maaf Boos, ini bukan berkas yan kami kirim” ucapnya, ia tahu betul semua yang terjadi dengan Amy mereka catat dengan teliti, termasuk dengan kasus Amy dekat dengan laki-laki bernama Dimas dan insiden
kecelakaannya.
Arga menatap Tomi, keduanya tampak bingung. Jika apa yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran, itu artinya ada mata-mata di sekitar mereka.
“Kalian pergi dulu, kerjakan tugas kalian dengan baik jangan sampai ada kesalahan lagi. Dan pastikan, siapapun yang berhianat aku tidak akan segan-segan. Bahkan keluarga kalianpun akan ikut andil menerima hukumanku” ancam Arga.
“Aku akan memeriksanya, ada yang mencurigakan. Ada seseorang yang
sengaja membuatmu lengah Boss” seru Tomi, Arga mengangguk setuju, iapun menyuruh Tomi menyelidikinya dengan teliti secara diam-diam.
Arga kuatir mata-mata itu pasti berada di sekelilingnya, akan lebih baik jika arga lebih berhati-hati dalam bertindak.
Hujan sore itu begitu deras, gemuruh terdengar menggulung-gulung, sesekali petir menyambar menggelegar membuat Amy ngeri di buatnya.
Rumah Arga yang begitu besar seakan berdengung-dengung menggema,
pantulan-pantulan suaranya sangat mengerikan hingga Amy begidik ngeri.
“Pak Her maaf, apa Arga belum pulang?” Tanya Amy saat ia menjumpai kepala pelayan Arga yang biasa di panggil Pak Her.
__ADS_1
“Belum… mungkin seperti biasa Mas Arga pulang malam” serunya, “Makan malam apa sudah siap?” Tanya Amy memastikan, Karena sebelumnya Arga mengatakan ia akan makan malam di rumah.
“Nyonya tenang saja, semua sudah beres, apa Nyonya mau makan malam sekarang? Saya akan segera siapkan” ucap Pak Her dengan sopan.
“Tidak usah, tunggu Arga pulang baru kalian siapkan ya” Pak Herpun pamit pergi setelah Amy menyuruhnya untuk melanjutkan
pekerjaannya, Amy tidak mau mengganggu, iapun pergi kekamarnya.
Amy tampak murung, rasanya begitu melelahkan. Akhir-akhir ini ia berusaha mencoba sebaik mungkin mulai membuka hatinya untuk Arga, namun entah kenapa sangat sulit baginya seolah ada yang mengganjal. Ia begitu ragu, entah ragu akan cinta Arga atau ia ragu pada dirinya sendiri.
Nama Dimas selalu terngiang di benaknya, entah dia itu siapa, namun entah mengapa karenanya Arga sampai lepas kendali dan emosi. Semenjak Arga mengungkitnya bersitan-bersitan kenangan selalu muncul, Amy benar-benar merasa terganggu. Ia tidak ingat pernah dekat dengan seseorang, terutama seorang laki-laki. Kecuali Pak Ikhsan mendiang suami Bunda Aisyah yang sudah ia anggap seprti ayahnya sendiri.
Sementara Dimas, siapa dia sebenarnya? Ada hubungan apa Amy dengan laki-laki itu, dan kenapa Amy bisa lupa?. Amy benar-benar tidak bisa mengingatnya.
Samar-samar kelebatan sosok laki-laki muncul di kepala Amy, sosok itu menggandeng tangan Amy dan menatap Amy dengan tatapan penuh cinta.
Manik coklat terang begitu indah terkena sinar matahari seakan bercahaya, hidung mancung, beralis tebal dan bibirnya yang tipis wajah itu tampak begitu tampan berkarisma, senyumannya yang manis membuat hati menjadi tenang.
Tiba-tiba dada Amy terasa sesak, kelebatan bayangan itu muncul membuat kepalanya terasa di tarik-tarik. Amy merintih kesakitan, ia menangis meminta pertolongan, namun tidak ada yang mendengar. Entah kenapa
Samar-samar terdengar suara orang berbincang, Amy mengernyitkan kening, kepalanya masih terasa pening.
“Amy….” Arga menghampiri Amy, tampak raut wajahnya begitu panic. Amy mengedarkan pandangan, ruangan, nuansa putih dengan bau obat-obatan membuatnya bingung bagaimana bisa ia ada di rumah sakit.
“Kamu pingsan” Seru Arga, “Apa kamu merasakan sakit? Di bagian mana?”
Amy menggeleng perlahan, entah apa yang terjadi setelah kelebatan bayangan itu muncul di kepalanya, karena setelah itu ia tidak ingat
apa-apa lagi.
“Ya sudah kamu istirahat, Dokter bilang kamu terlalu banyak pikiran, apa ada sesuatu yang terjadi? Kamu jangan sungkan bercerita sama aku” ucap Arga lembut, ia mengecup kening Amy sekilas membuat pipi Amy tampak memerah.
“Aku tidak apa-apa, kamu tidak usah kuatir”
__ADS_1
Arga memeluk tubuh mungil Amy, ia merasa bersalah terhadapnya, ia sudah membuat gadis itu menderita. Sebesar apapun usahanya tetap saja itu semua tidak akan pernah bisa menebus kesalahannya.
Suasana malam di Rumah Sakit begitu sepi, Amy benar-benar tidak menyukainya sangat mengerikan. Sementara di ruangan itu ia hanya sendirian, entah Arga pergi kemana Amy tidak mengetahuinya.
Perlahan Amy turun dari tempat tidur, ia sangat haus namun di ruangan itu tidak ada air sama sekali. Lorong-lorong rumah sakit begitu lengang, ia bingung harus pergi ke arah mana. Amy melangkahkan kakinya menelusuri lorong Rumah Sakit sambil mendorong tiang infusan, sesekali
ia mengintip ke kamar-kamar pasien berharap ada seorang susater atau dokter jaga yang bisa ia temui, namun ia tidak menemukannya.
“Aaaahhh…. Dinginnya” gumam Amy, ia mengusap-usap tangannya, angin malam yang dingin dalam cuaca gerimis membuat udara jadi lembab.
Angin berhembus semakin kencang dan gerimisnya semakin lebat, Amy menghela
nafas berat, diapun berjalan kembali menuju kamar rawatnya. Udara dingin menelusup tembus ke dalam baju Amy yang tipis membuatnya semakin menggigil, mukanya semakin memucat dengan tertatih-tatih ia
berusaha secepat mungkin berjalan agar segera sampai di kamar.
“Aaaarrrggghhh…..” Amy menjerit kesakitan, ia jatuh tersungkur, kepalanya terasa pening.
“Kamu tidak apa-apa?”
Belum sempat Amy menjawab orang itu membantu Amy bangun dan memapahnya
berjalan ke kamar.
“Terimakasih….” Ucap Amy.
Amy meringis kesakitan, tanganya berdarah, jarum infus di tangannya tertarik hingga darah mengalir naik ke selang infusan, dengan segera orang yang membantu Amy memanggil suster agar membantunya.
“Sekali lagi terima kasih… maaf sudah merepotkan,” Ucap Amy sungkan.
Laki-laki itu tersenyum lembut, ia mengelus lembut rambut Amy. Matanya tampak sayu, seolah ada kesedihan yang tersimpan di dalamnya.
“Lain kali kamu harus hati-hati, jangan sampai terluka lagi, kalau ada apa-apa panggil suster saja kamu jangan turun dari tempat tidur, kamu masih lemah”
__ADS_1
Amy mengerutkan kening, dadanya terasa hangat namun sesaat kemudian begitu menyesakkan. Sosok di hadapannya seperti tidak asing baginya, siapa laki-laki ini sebenarnya?