Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Misteri Kematian Anjar


__ADS_3

Arga melemparkan Map yang berisikan beberapa berkas penyelidikan tentang Thalia, Ibu kandung Amy. Dengan teliti Anjar membacanya, Ia terkekeh, bagaimana mungkin ia bisa begitu saja percaya dengan apa yang Arga berikan.


Bisa saja ini hanyalah informasi palsu, untuk


membuatnya merasa bersalah dan melepaskan Amy.


“Terserah percaya ataupun tidak, itu urusanmu!” dengus Arga jengkel.


“Kamu bisa lihat di situ, hasil tes DNA kalian 99% cocok, dia benar-benar putrimu. Tapi kenyataan itu tidak akan merubah apapun,


kenyataannya kamulah yang membuat Thalia di cap sebagai perempuan peselingkuh dan mempermalukan keluarganya, sehingga mereka mengusirnya dan tidak menganggap dia sebagai bagian dari keluarga Tirta lagi. Karena kamu juga dia kehilangan nyawanya, gara-gara kebodohanmu yang percaya begitu saja dengan mulut busuk saudara tiri Thalia, sehingga menjadikanmu seorang pembunuh! Pembunuh istrimu sendiri, istri yang dengan tulus mencintaimu dan mau menerimamu apa adanya, ia bahkan rela kehilangan


hak waris yang sah dari harta keluarga Tirta hanya demi menikahimu. Namun, bodohnya kamu menyingkirkannya dan juga sahabatmu sendiri yang merupakan sepupu Thalia, kamu pikir mereka ada hubungan? Kenyataannya


kamupun harusnya tahu jelas itu tidak mungkin! Bukankah dia yang membantu kalian hingga bisa bersama? kamu terlalu dibutakan kebencian hingga tega menghabisi mereka berdua!”


Arga mendekati Anjar, iapun mencengkram kerah baju Anjar dengan kasar.


“Sialnya saat itu aku berada di tempat yang salah, sehingga mereka kehilangan kendali. Dan merekapun meregang nyawa tepat di hadapanku”


 “Bukannya bersedih atau merasa bersalah, kamu justru memanfaatkan keadaan untuk memeras uang keluargaku dan menjadikan aku sebagai seorang tersangka. Yang paling keji lagi, kamupun beberapa kali mencelakai putri kandungmu sendiri! Manusia seperti kamu apa masih bisa di sebut manusia? Di masa tuamu ini benar-benar menyedihkan!


Orang lain berharap bisa hidup tenang dengan anak cucunya, kamu justru


hidup seperti seorang sampah!”


Arga menghempaskan tubuh Anjar hingga


ia terduduk, Anjar terdiam tatapannya kosong menatap kertas yang berserakkan.


Raut wajah Anjar lambat laun menampakkan perubahan, matanya berkaca-kaca. Ia membaca data yang ada di map itu, tangannya gemetar, rekam medis, percakapan telpon seluller, foto dan juga bukti-bukti


lainnya tersusun lengkap di dalamnya.


Bagaimana bisa ia sangat bodoh,


selama ini ia hidup dengan kebencian, bahkan hingga saat ini kebencian itu masih ada. Namun dengan adanya bukti-bukti itu pertahanannya runtuh, ia tersungkur, bagaimana bisa ia hidup seperti seorang

__ADS_1


monster. Ia sudah banyak menumpahkan darah orang-orang yang mencintainya, bahkan bayi yang tidak pernah ia sentuhpun tak lolos dari kebenciannya. Ia berulang kali mencoba menyingkirkan Amy yang ia


anggap sebagai anak pembawa sial hasil perselingkuhan!


“Belum terlambat jika kamu ingin menebus kesalahanmu, aku tahu kamu merupakan orang yang cerdik. Aku butuh informasi tentang Dimas dan bagaimana Ibuku bisa berurusan dengannya!”


Anjar masih terdiam, tatapannya tampak kosong. Sepertinya informasi yang Arga berikan membuatnya sangat terpukul, beberapa kali Arga menghela nafas berat. Ia tampak tak sabaran namun ia harus menahannya.


“Ya sudah, pikirkan baik-baik ucapanku. Nanti aku akan kembali lagi!”


akhirnya Arga pergi meninggalkan ruang pengap itu, kesabarannya sudah habis menghadapi Anjar yang hanya terdiam seperti orang bodoh.


Sepasang mata mengawasi pintu ruang bawah tanah, ia bersembunyi dengan


waspada karena para pengawal Arga menjaganya dengan sangat ketat.


Pintu ruang bawah tanah terbuka, Arga keluar dengan raut wajahnya yang dingin tak terbaca, entah apa yang terjadi di dalam sana membuat mata-mata itu bertanya-tanya.


“Kalian jaga dia baik-baik, kalau ada apa-apa segera melapor!” seru Arga tegas, dengan kompak mereka menjawab dengan cepat.


Arga segera pergi ke kamarnya, ia butuh mandi dan berganti baju sebelum kembali ke Rumah Sakit, akhir-akhir ini ia benar-benar


Selesai mandi Arga segera berpakaian, suara gaduh di bawah membuat Arga terusik.


Dor…Dor…Dor…


Pintu kamar di gedor dengan kencangnya, Arga mendengus kesal iapun berteriak memanggil yang menggedor pintu agar segera masuk, tampak salah satu pengawal masuk dengan mukanya yang panik. Arga mengernyit, melihat tampang pengawalnya pasti ada sesuatu yang terjadi.


“Boss… itu, anu Boss…Anjar… Anjar bunuh diri!”


Mata Arga terbelalak, dengan cepat ia berlari menuju ruang bawah tanah. Di lihatnya Anjar sudah tergeletak bersimbah darah, lehernya


tertusuk sendok garpu hingga dalam.


“Panggil Ambulan! Cepat panggil Ambulan!” teriak Arga panik.


Semua orang terdiam, tidak ada yang berkutik. Walaupun mereka panggil

__ADS_1


Ambulan datang itu percuma saja, karena Anjar sudah tidak bernyawa.


“Brengsek… apa kalian tuli! Panggil Ambulan sekarang atau kalian akan bernasib sama sepertinya!” teriak Arga geram.


“Boss… Anjar sudah tidak bernyawa” seru salah satu anak buahnya.


Dengan geram Arga melayangkan bogem mentah hingga membuat pengawal itu


jatuh tersungkur. Arga terduduk lemas, ia memijat keningnya yang terasa pening. Dengan sigap para pengawal membungkus mayat Anjar dan memasukkannya ke dalam kantung mayat. Mereka hendak membawanya ke Rumah Duka untuk proses pemakaman.


“Tunggu…bawa ke Rumah Sakit saja, suruh Dokter Autopsi dengan teliti. Sepertinya ini bukan gara-gara bunuh diri, bagaimana bisa orang yang bunuh diri dengan sendok garpu hingga tembus di lehernya. Butuh kekuatan besar untuk itu, kecuali ada yang menusuknya hingga ia terjatuh dengan posisi sendok mengarah ke lantai dan tekanan bobot


tubuhnya menekan garpu hingga tembus.”


Dengan segera mereka membawa mayat Anjar ke Rumah Sakit, Arga mengekor


di belakang. Langit sudah mulai terang, ia harus segera kembali ke Rumah Sakit sebelum Amy terbangun.


Muka Arga tampak kusut, semalaman ia belum tidur, kepalanya terasa pening karena stress. Sesampainya di rumah sakit tampak para pengawal masih berjaga di depan pintu kamar Amy, Arga masuk dengan perlahan, di


sofa Tomi tertidur dengan pulas, suara ngoroknya sangat kencang benar-benar merusak pendengaran.


Arga tampak terkejut, di lihatnya Amy sedang duduk dengan muka cemberut, raut wajahnya tampak kusut.


“Sayang kamu sudah bangun?” tanya Arga, iapun mendekati Amy dan mengecup keningnya sekilas.


“Kenapa? Pagi-pagi sudah cemberut?” sambungnya.


“Semalaman kamu kemana? Kenapa justru Tomi yang disini? Kamu dengar itu, bagaimana bisa aku tidur dengan suara dengkuran Tomi yang sangat mengganggu!” rungut Amy kesal.


Arga terdiam, entah apa yang harus ia katakan. Arga benar-benar merasa tertekan, namun ia tidak ingin Amy tahu apa yang sudah terjadi.


Setidaknya untuk saat ini Amy tidak boleh tahu dulu, setelah keadaan membaik ia pasti akan mengatakannya. Arga berharap pada saatnya nanti Amy tidak menyalahkannya, walaupun Arga tahu kemungkinan Amy


memaafkannya sangat kecil walau bagaimanapun Anjar mati di rumahnya


dan alas an bunuh diri sepertinya sangat tidak logis. Arga berharap hasil Autopsinya bisa secepatnya terungkap, ia yakin kematian Anjar bukanlah kasus bunuh diri, seseorang pasti yang membunuhnya.

__ADS_1


‘Mungkinkah ada seseorang yang ingin menjebakku?’ gumam Arga dalam


hati.


__ADS_2