
Arga tampak termenung sesaat setelah sampai di kamar hotel tempat ia tinggal kini, ucapan Dimas kepadanya masih terngiang di telinga. Apa yang dia katakan memang benar, selama ini ia masih belum berbuat apa-apa terhadap ibunya, sehingga Naura dengan leluasa bertindak selagkah lebih maju, bahkan kini ia terjebak ke dalam permainan Naura.
“Boss, bagaimana kamu bisa akrab dengan Dimas? Bukankah dia musuh bebuyutanmu?” tanya Tomi heran.
Arga menoleh kearah Tomi, namun sesaat kemudian ia memalingkan wajah dan kembali termenung menatap jendela dengan tatapan kosong. Arga dan Dimas sama sekali tidak akrab seperti yang di bilang Tomi, bahkan kata akrab benar-benar bukan kata yang tepat.
Arga tahu itu, tentu saja kedekatannya karena suatu sebab. Diam-diam Arga pernah menemui Dimas sebelum ia dan Amy pindah ke kota B, walaupun sangat berat menyerahkan Amy kepada Dimas, namun saat itu ia tidak punya pilihan lain.
Arga tahu betul, Dimas sangat mencintai Amy, namun karena alasan itu pulalah ia bisa dengan tenang menyerahkan Amy kepada
Dimas. Arga percaya Dimas akan melindungi Amy dengan sepenuh hatinya, walaupun tak bisa di pungkiri Arga begitu cemburu, apa lagi Dimas selalu mengabari kondisi Amy yang semakin hari semakin bahagia selama
tinggal bersama Dimas, dan tentu saja Dimas tampak sengaja memanas-manasi Arga setiap kali mereka terhubung, hal itu membuat Arga jengah dan ingin sekali menghajar Dimas, akan tetapi ia harus
menahannya. Arga berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat nanti ia benar-benar akan menghajar Dimas untuk melampiaskan kekesalannya itu.
“Tanya orang-orang kita yang memantau Amy, sedang apa Amy saat ini. Apakah Dimas sedang bersamanya atau tidak!”
Tomi mengangguk, matanya mengerling sebal, ia sedang di abaikan. Namun tugas tetaplah tugas, iapun menelpon orang suruhannya untuk mencari informasi. Tak butuh waktu lama, iapun menutup telponnya dan segera memberitahu Arga.
“Saat ini Amy sedang tidur, sementara Dimas pergi. Sepertinya ia tergesa-gesa, karena setelah menerima telpon ia langsung keluar rumah. Orang kita sedang membuntutinya, jika ada hal penting mereka pasti akan langsung memberi kabar.”
“Ya sudah, kamu tetaplah disini. Aku akan pergi sebentar, pantau terus keadaan, jika ada apa-apa, segera beri kabar!” seru Arga, iapun segera pergi meninggalkan Tomi.
***
Amy tampak tertidur pulas, sesekali keningnya tampak berkerut seakan ia sedang mimpi buruk. Perlahan Arga mengelus kerutan itu lembut, mencoba menenangkannya. Perut buncit Amy tampak kembang kempis, sesekali tambak bergoyang. Pemandangan mahluk mungil hidup di dalam kandungan Amy begitu menakjubkan, Arga terkesiap saat tiba-tiba
benjolan runcing tercetak jelas di perut Amy. bulu kuduknya merinding, namun ia sangat kagum dan takjub dengan keajaiban itu.
“Hei…mahluk mungil. Apakah kamu terasa pengap di dalam sana? Apakah gelap? Apa kamu baik-baik saja?” bisik Arga perlahan.
Begitu banyak pertanyaan dalam benak Arga, melihat perut Amy yang terus berguncang.
__ADS_1
Bayi dalam kandungan Amy sepertinya sangat aktif, Arga mengernyit tampak khuatir, apakah itu sangat menyakitkan bagi Amy
ataupun bayinya. Perlahan iapun menyentuh perut Amy dengan ragu-ragu, jantungnya berdegup kencang, kerigat dingin membasahi keningnya. Beberapa kali Arga menelan salivanya, dengan gemetar ia menyentuh
perut buncit Amy, seketika ia tersentak kaget saat hentakkan mengenai tangannya.
“Luar biasa!” seru Arga takjub.
Sekali lagi ia menyentuh perut Amy, dan lagi-lagi mahluk mungil di dalamnya bergerak dengan aktif. Arga begitu bahagia, perasaan itu seakan membuncah memenuhi dadanya. Ingin sekali Arga memeluk dan mencium Amy saat itu, karenanya ia bisa merasakan perasaan luar biasa itu.
“Arga!” gumam Amy, ia mengerjap-erjapkan mata dan menguceknya seakan tak percaya.
Seketika Arga beringsut dan bersembunyi, suasana kamar yang temaram membuat Amy tak dapat melihat dengan jelas. Iapun bangun dan menyalakan lampu, matanya beredar ke sekeliling kamar, tak ada siapapun di sana. Ada perasaan kecewa yang Amy rasakan, saat ia membuka mata tadi, ia sepertinya melihat sosok Arga tepat di depannya,
namun kenyataannya tak ada siapapun di sana.
“Haaahhh… sepertinya aku salah lihat lagi,” Amy mengelus perutnya, tatapannya tampak meredup, kecewa. Ia benar-benar merindukan laki-laki itu.
“Bagaimana mungkin papahmu ada di sini, kita memang harus benar-benar melupakannya. Mamah akan berusaha sebaik mungkin menjagamu tanpa papah sayang” ucap Amy.
Amy menghela nafas berat, sejujurnya ia begitu gundah, ia sangat kesepian dan diapun meridukan Arga, namun ia harus menelan kenyataan pahit. Walau berat ia harus melupakan Arga demi kebaikan mereka. Selama mereka dekat dengan Arga, kapanpun bahaya akan mengancam mereka. Amy tidak ingin jika sampai terjadi apa-apa terhadap malaikat kecilnya itu. Dan lagi, mungkin saat ini Arga sudah bahagia dengan perempuan yang pernah ia lihat waktu itu, mengingatnya kembali membuat dadanya terasa sesak, bulir bening meluncur membasahi pipi Amy, ia terisak dalam kesunyian.
***
Arga menatap Amy dari balik jendela kamar, melihat Amy yang bersedih hatinya terasa sakit. Ia bisa merasakan apa yang Amy rasakan, hatinyapun terasa sakit, namun ia masih belum bisa berbuat apa-apa. Benar kata Dimas, sebentar lagi Amy akan melahirkan, untuk mendapatkan Akta Lahir dia pasti membutuhkan surat-surat dan juga dirinya, namun jika ia muncul di saat itu, sementara masalahnya dengan Naura masih belum di bereskan, hal itu pasti akan sangat berbahaya untuk Amy dan bayinya.
“Maaf! Tunggu aku sebentar lagi, aku tidak akan membuat kalian menderita lagi” seru Arga lirih.
Arga meninggalkan rumah Amy dengan perasaan yang campur aduk, tekadnya
sudah bulat, secepatnya ia akan segera kembali ke Negara A dan membereskan urusannya secepat mungkin. Arga tidak bisa menunda lagi, ia tidak ingin anaknya lahir kedunia tanpa dirinya. Jika sampai itu
terjadi, dia pasti tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Tomi, segera bereskan barang-barang kita. Dan pesan tiket kepulangan kita saat ini juga, kita tidak boleh menunda waktu lagi!” perintah Arga kepada Tomi.
Tomi mendengus sebal, selalu saja Arga menelponnya di saat ia baru saja ingin memejamkan mata, seolah-olah Arga mempunyai alarm untuk mengganggunya di saat ia hendak ingin menikmati waktunya
untuk beristirahat ataupun bersenang-senang.
“Benar-benar sial, apa aku tidak bisa beristirahat dengan tenang walau hanya sebentar saja? Cih… Brengsek menyebalkaaaannnn…” dengus Tomi, ia
mengacak-acak rambutnya dan segera membereskan barang-barangnya dengan
gusar.
“Tunggu dulu, ada yang tidak beres! Dimana paspornya!”
Tomi mengacak-acak koper dan lemari, bahkan dompet miliknyapun tidak ada di tempatnya. Dengan panik ia terus mencari namun tak ada di manapun.
“Halo boss,” Tomi tampak gemetar saat menelpon Arga.
“Ada apa?” jawab Arga datar. “Sebentar lagi aku akan sampai!”
Arga datang tepat setelah ia mematikan telpon, ia mengernyitkan dahi
saat melihat Tomi berdiri di depan pintu dengan muka yang pucat.
“Kenapa dengan tampangmu itu?” tanya Arga, iapun masuk melewati Tomi yang masih terdiam tak berkutik.
Arga menghentikan langkahnya, barang-barang tampak berserakan di
mana-mana, seolah telah terjadi sesuatu hingga memporak-porandakkan barang-barangnya.
“Ada apa ini!” teriak Arga geram.
“B…boss…bb…boss… i… itu…itu…” gagap Tomi, ia benar-benar bingung harus berkata apa.
__ADS_1
“Bicara dengan benar! Ada apa ini!” Arga menatap Tomi dengan tatapan tajam, seketika Tomi menelan salivanya, kali ini matilah dia, Arga pasti akan marah besar dan menghabisinya.
“Pa…paspor kita dan dokumen lainnya hilang!”