
Arga dan Amy terengah-engah, peluh membanjiri tubuh keduanya. Buncahan rindu yang tertunda membuat mereka menggila, mereka bergerilya beraksi di setiap sudut kamar hingga membuat seisi kamar menjadi berantakkan seperti kapal pecah. Amy tergelak melihat keadaan mereka yang terkapar kelelahan di atas sofa. Arga memeluk tubuh mungil Amy, sangat melelahkan, keduanyapun mulai terlelap sambil berpelukan seolah tak ingin terpisahkan.
Naura mengintip dari balik pintu yang tidak terkunci, ia tampak geram. Ia harus segera mencari cara untuk memisahkan keduanya, dengan segera ia meninggalkan mereka dan pergi berlalu.
Naura tampak menghubungi seseorang, ia harus bertindak cepat mumpung Amy dan Arga masih tinggal bersamanya. Kesempatan baik ini tidak ia sia-siakan, dengan hati-hati ia menyusun rencana agar Amy meninggalkan Arga dan pergi selamanya. Ia tidak terima Arga harus hidup dengan gadis yang sangat ia benci, selama ini ia sudah cukup menahan diri berpura-pura baik di hadapan Amy agar Arga tidak mencurigainya.
***
Naura tampak sibuk menyiapkan menu makan malam, dengan segera Amy dan
Arga turun menuju dapur. Amy bergegas membantu Naura menyiapkan meja makan, Arga tampak sibuk dengan telepon genggamnya, beberapa kali ia tampak mendengus membuat Rendra yang melihatnya menggelengkan kepala melihat sikap anaknya itu.
“Lihatlah anakmu itu, saat aku muda dulu aku cukup tenang dalam menyikapi masalah, namun putramu itu tidak pernah berubah selalu saja menggunakan emosi” dengus Rendra mengejek Arga.
“Anakmu juga lho Yah…” jawab Naura sambil menjewer kuping Rendra dengan canda.
Amy tersenyum bahagia, melihat kedua mertuanya yang selalu romantis dan penuh cinta, membuat hati Amy terasa hangat. Ia berharap kelak bisa seperti mereka hingga usia senja bersama Arga laki-laki yang paling ia cintai.
“Kamu tuh ya, lihat tuh putri kita memperhatikan sampai senyum-senyum
sendiri” sindir Rendra sambil menganggukkan kepala kearah Amy.
Amy tersipu malu, ia pun mengalihkan pandangan menyibukan diri. Ia tidak menghiraukan gelak tawa kedua mertuanya yang iseng mengejeknya.
“Sepertinya kalian sedang memojokkan istriku, apa mereka menyusahkanmu?” tanya Arga sambil memeluk Amy dengan mesra.
Wajah Amy semakin merah padam, sikap Arga di depan orangtuanya benar-benar membuat Amy tidak nyaman. Entah kenapa di keluarga ini sepertinya mengumbar kemesraan seperti hal yang wajar membuat Amy malu di buatnya. Orang-orang tampak terbahak-bahak melihat Amy yang tersipu, Amy benar-benar polos. Membuat mereka gemas dibuatnya.
__ADS_1
“Sudah-sudah kita makan saja, jangan menggoda Amy terus!” seru Rendra.
Merekapun makan malam dengan penuh keceriaan menikmati hidangan lezat di atas meja. Arga segera pamit sesaat setelah selesai makan malam, ada beberapa hal
yang harus ia kerjakan. Informasi orang misterius yang tertangkap kamera cctv di malam kematian Anjar telah terungkap. Arga tidak ingin menundanya lagi, ia harus segera menemui Tomi, dengan adanya bukti itu
Arga bisa secepatnya menceritakan segalanya kepada Amy agar ia dan Amy
bisa hidup bersama tanpa ada rahasia apapun. Ia berharap dengan adanya bukti itu Amy bisa memaafkannya dan tidak akan pernah meninggalkannya.
“Kalau begitu aku kembali ke kamar ya bu,” seru Amy setelah selesai merapikan piring kotor yang ia cuci.
“Hhmmm… tentu sayang, kamu harus banyak-banyak beristirahat” ucap Naura dengan penuh perhatian.
Amy menaiki tangga, entah kenapa tubuhnya selalu saja gampang lelah akhir-akhir ini. Mungkin karena kondisinya yang belum begitu pulih membuatnya tidak bisa seaktif dulu lagi. Naura menatap sinis kearah Amy yang tampak sempoyongan menaiki tangga ia berharap bisa secepatnya menyingkirkan gadis itu agar hidupnya bisa tenang. Iapun menelpon seseorang memberi intruksi agar secepatnya bertindak, karena saat ini waktu yang sangat tepat. Arga tidak ada, dengan begitu rencananya akan berjalan dengan sempurna.
“Apa kamu sedang menunggu seseorang?”
Amy tersentak kaget, iapun menoleh kearah suara, matanya terbelalak dengan sontak ia bangun dan menghampiri sosok di depannya itu.
“Dimas!” seru Amy dengan riangnya.
“Sepertinya kamu sangat merindukanku ya?” ejek Dimas, iapun memeluk Amy dengan sangat erat.
Amy mendorong tubuh dimas dan mundur menjauh, entah kenapa itu sangat aneh. Mungkin saat ini hatinya hanya untuk Arga sehingga secara tidak sadar tubuhnya menolak pelukan laki-laki lain. Dimas mengernyit melihat perubahan Amy, namun sesaat kemudian ia tersenyum lembut
mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, ada apa kamu kesini? Bagaimana bisa kamu masuk kekamarku? Apa tidak ada orang yang mengetahuinya?” tanya Amy, ia sangat tidak nyaman. Jika sampai ada yang melihat mereka berdua
bagaimana nanti ia akan menjelaskan. Terutama saat ini ia sedang berada di rumah mertuanya akan sangat tidak pantas jika mereka tertangkap sedang berduaan.
“Sudah nanti saja, kita pergi keluar. Aku tidak ingin jika sampai ada yang melihatmu di sini”
Dimas tersenyum, iapun menarik tangan Amy dan membawanya mengendap-endap keluar dengan sangat hati-hati. Rumah tampak sepi,
mungkin semua orang sudah terlelap, walaupun begitu jantung Amy terasa ingin copot ia seperti seorang maling.
“Sudah di sini saja!” seru Amy, iapun melepas tangan Dimas yang sedari tadi menggenggamnya.
“Katakan ada apa kamu menemuiku? Apa kamu yakin tadi tidak ada siapapun yang melihatmu masuk kekamarku?” Amy tampak panik , raut wajahnya menyiratkan ketidak nyamanan saat ini.
“Kamu tenang saja, tidak ada yang melihatku. Jadi kamu tidak usah khuatir” ucap Dimas menenangkan.
“Aku kesini ingin memberitahukanmu hal yang penting, ini… soal keluargamu!” sambung Dimas, iapun memberikan map informasi tentang keluarganya yang sebenarnya sudah tidak ada lagi.
Tubuh Amy bergetar air matanya mengalir membasahi pipinya, foto kecelakaan orang tuanya, surat kabar yang memuat semua berita tentang mereka tertulis jelas di dalamnya, bahkan yang semakin membuat Amy terkejut dan tidak percaya laki-laki yang telah mencelakainya adalah ayah kandungnya sendiri. Belum reda keterkejutannya Amy terhenyak melihat foto kematian Anjar yang mengenaskan, dan penyebab semua kejadian dalam hidupnya adalah Arga!
“Ini…tidak mungkin!”
Amy menjatuhkan berkas-berkas itu, tubuhnya terasa tak bertenaga airmatanya terus mengalir membasahi pipinya, hingga membuatnya pingsan dan tak sadarkan diri.
Dimas menggendong Amy dan membawanya masuk kedalam rumah, dengan sangat hati-hati ia meletakan Amy di tempat tidur dan menyelimutinya.
Dimas menatap sayu Amy yang masih pingsan, hatinya terasa sakit melihat Amy yang seperti ini, namun apa yang ia lakukan demi kebaikan Amy kelak, setelah semuanya beres ia akan membawa Amy sejauh mungkin, hanya dia dan Amy.
__ADS_1
Dimas berjanji jika saat itu tiba siapapun yang mencoba merebut Amy kembali ia tidak akan segan-segan menyingkirkannya terutama Arga, Adik tirinya!