
Arga memejamkan matanya, pijatan demi pijatan membuatnya merasakan kenyamanan. Tangan halus Amy meluncur bergerilya kesana kemari mengikuti alur urat-urat di tangan kekar Arga.
Amy tersipu malu, Tidak menyangka Arga melepas seluruh pakaiannya dan dia hanya mengenakan sehelai handuk saja.
"Dasar mesum, Dia pikir aku pijat ++ kah? Cckkk.... menyebalkan" gumam Amy.
Amy memusatkan tenaganya di ujung jari-jari lentiknya, punggung bidang Arga tampak lebar, perlahan Ia memijat dengan sedikit tekanan di beberapa bagian tubuh Arga yang keras.
Arga memekik saat Amy menekan bagian bahunya, ada benjolan keras dan berwarna kebiruan. Amy mengernyit, tanda itu bukan tanda-tanda karena kelelahan atau salah urat melainkan bekas pukulan benda tumpul, dari warnanya bisa terlihat tanda itu baru ia dapatkan beberapa hari lalu.
"Aku akan memijat bagian ini" seru amy seraya menekan bagian bahu yang membiru.
"Akan terasa sakit, namun ini untuk kebaikanmu. Aku akan memijatnya perlahan agar darah yang tersumbat kembali lancar" jelasnya, tanpa menunggu jawaban Arga ia langsung memijat bagian pundak Arga dengan perlahan.
Arga meringis namun ia mencoba menahan, sakit yang semula terasa ngilu lambat laun rasa sakit itu memudar dan terasa nyaman.
"Hhaaahhh..... selesai, kamu bisa berendam air hangat setelah ini, karena baik untuk melemaskan peregangan otot"
Amy membereskan minyak bekas pijat, Arga tak bergeming. Ia masih diam seperti posisi semula, samar-samar terdengar dengkuran halus dari bibir tipisnya.
"Hhmmm.... ya sudahlah mungkin dia lelah, istirahat sebentar akan membuat tubuhnya segar kembali"
Arga menggeliat, sudah lama ia tidak pernah merasakan tidur senyenyak ini, obat-obatan hingga teraphy tak ada satupun yang bisa membuat mimpi buruknya hilang. Namun pijatan Amy mampu membuat ia bisa tertidur lelap tanpa bermimpi buruk.
"Ajaib...." gumamnya merasa takjub.
Mata Arga terpaku pada sosok mungil yang meringkuk di kursi sofa, Amy menggigil memeluk tubuh mungilnya.
Dengan perlahan Arga bangkit dan berjalan perlahan mendekati Amy.
"Bodoh" Singkat Arga, iapun menggendong Amy dan menaruhnya di tempat tidur.
"Tidak usah berpura-pura tidur, Aku tahu kamu sudah bangun" Seru Arga menahan senyum.
Ia bisa melihat gelagat Amy saat ia gendong, ekspresi mukanya tampak terkejut namun ia enggan membuka mata, pipi mulusnya tampak berubah merah padam.
__ADS_1
"Masih tidak mau buka mata? Baiklah..."
"Ok Aku buka....aku buka...."
Arga menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, Amy benar-benar sangat polos dan menggemaskan, sangat mudah untuk mengerjainya.
"Aku ngantuk mau tidur, Kamu keluar sana tidur di kamarmu" seru Amy, dengan segera ia menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.00, Arga ingin melanjutkan tidurnya, namun ada yang harus ia kerjakan terlebih dahulu.
Beberapa kali Arga menelpon Tomi asistennya, namun tidak ia angkat.
"Benar-benar cari mati! kalau masih tidak di angkat akan ku pecat dia" geram Arga kesal, iapun segera berpakaian dan pergi meninggalkan Amy yang sudah tertidur lelap.
Dering handphone beberapa kali terdengar nyaring, Tomi mendengus kesal.
"Aarrrggghhh..... Aku hanya ingin tidur, satu jam saja hanya satu jam sajaaaa aaaarrrggghhh...." Tomi mengacak-acak rambutnya.
Sudah Dua hari ia belum tidur, bahkan hanya ingin beristirahat saja tidak bisa. Ini semua gara-gara ulah Bosnya yang menyebalkan, ia harus menyalin ulang beberapa dokumen yang sudah hancur di robek-robek Arga karena kekesalannya yang entah karena masalah apa.
"Halo....."
"Dasar $%#&@*&!........ "
Tomi menjauhkan hanphonnya dari telinga, ia yakin Bossnya pasti sedang memakinya habis-habisan.
Ia sudah paham betul watak Arga, Si Boss galak yang tempramental, namun Tomi tak bisa memungkiri, Arga adalah seorang Boss yang paling baik yang sangat perhatian terhadap karyawannya. Maka dari itu seburuk apapun Arga ia tetap setia mengikutinya.
"Halo Tomi.... haiiiiissss...Si Brengsek ini minta di pecat" sungut Arga kesal.
Tomi menghela nafas saat Arga mematikan sambungan telponnya, untuk beberapa menit kedepan dia bisa beristirahat, Arga membutuhkan waktu setengah sampai satu jam perjalanan dari rumah hingga sampai kantor.
Braaakkkk........
Suara pintu di banting, Tomi terperanjat kaget hingga jatuh tersungkur. Ia melihat ke arah suara. Tampak Arga dengan aura membunuhnya berdiri menatapnya tajam.
__ADS_1
'Matilah aku kali ini' gumam Tomi ngeri.
"Bbbbb.....Bbbooos...." seru Tomi gagap.
"Beraninya kamu ya!" Arga melangkah mendekati Tomi dengan raut wajah yang kesal.
"Haiiisss Boss.... Aku hanya ingin tidur sebentar saja, lihat keadaanku sekarang, sudah seperti mayat hidup" keluh Tomi sambil berjalan melewati Arga dan pergi hendak membasuh muka.
Arga mendengus kesal, Asistenya lama-lama semakin berani menantangnya. Padahal dulu jangankan membantah menatap Arga saja seperti anak anjing yang terpojok.
Tomi duduk di sebrang tempat duduk Arga, ia tidak mau berdekatan dengannya, sudah cukup ia babak belur dia tidak ingin ada luka baru bersarang di tubuhnya.
"Sudah ada kabar dari Pak Tua itu?" tanya Arga serius.
"Masih di periksa Bos, Orang kita sudah standby di Bandara memantau keadaan, namun dia sepertinya molor dari jadwal" jelas Tomi tak kalah serius.
Arga mendengus, ia menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, ia tahu Pak Tua itu sudah Sampai di Negara A.
Ia tahu betul Pak Tua itu sangat cerdik, dia akan sangat mudah lolos dari pantauan.
Tinggal menunggu waktu yang tepat saja, ia pasti bisa menangkap Pak Tua itu dan membereskannya.
"Jangan-jangan Dia sudah sampai di kota A Boss, Aku yakin Pak Tua itu sangat cerdik!" seru Tomi yakin.
Arga terkekeh, walaupun lamban namun pemikirannya selalu sama. Mungkin karena Tomi sudah mengikutinya sedari masih di bangku sekolah, insting mereka jadi sama walaupun Arga jauh lebih sensitif.
"Cek Hotel, Rumah kerabat, dan Rekan-rekannya. Aku yakin dia ada di suatu tempat untuk bersembunyi"
"Rubah Tua itu benar-benar menjengkelkan, jangan sampai ia menemukan Amy, kalau tidak semua usahaku akan sia-sia"
Arga benar-benar di buat kesal oleh Pak Tua itu, dia adalah saksi tragedi itu terjadi, walaupun keluarganya sudah menyuapnya dengan uang yang tidak sedikit, bahkan mengirimnya pergi meninggalkan negara A namun kini ia berani-beraninya menampakan diri lagi.
Itulah kenapa Arga mempercepat pernikahannya dengan Amy, Rubah tua itu begitu licik memanfaatkan suasana, ia mengetahui identitas Amy yang sudah sangat rapat ia sembunyikan, namun ia bisa mengetahuinya.
Rubah tua itu lebih pintar dari dugaan Arga, ia harus lebih ketat lagi menjaga Amy agar rahasia yang sudah ia sembunyikan rapat-rapat tidak mudah terbongkar oleh pengganggu itu.
__ADS_1