Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Kecurigaan Tomi


__ADS_3

Tomi datang dengan sangat terburu-buru, di tangannya terdapat tumpukan map yang terlihat berat.


Sambil terengah-engah setengah berlari ia cepat-cepat masuk dan menyerahkannya kepada Arga.


Arga sangat sibuk, akhir-akhir ini proyek yang sedang ia jalani cukup menguras perhatiannya, oleh karena itu dimanapun ia berada pekerjaannya selalu mengikutinya. Bahkan saat mejaga Amypun ia tidak pernah lepas dari map-map di tangannya, sedikit apapun waktu yang ia punya ia manfaatkan sebaik mungkin.


“Oh ia Boss, rancangan untuk pembangunan Hotel di Kota B sudah selesai. Pihak klien kita sudah menanyakan kapan kita bisa mulai pembangunannya? Merekapun berharap Boss bisa datang ke Area untuk pengecekan lahan, mereka mengharapkan minimnya kendala saat proses pembangunan, seperti yang Boss tahu, akses jalanan yang rumit takutnya menjadi hambatan.”


Arga tampak memijat keningnya yang terasa pening, ia tidak bisa meninggalkan Amy saat ini.


Namun pekerjaannyapun sangat membutuhkan perhatiannya, Arga paling tidak suka meninggalkan pekerjaan tanpa pengawasannya. Karena Arga tipe yang perfeksionis dalam menjalankan pekerjaannya.


“Kita lihat nanti saja, lihat kondisi Amy membaik dulu baru akan ku urus. Untuk saat ini kamu kirim orang-orang kita untuk memantaunya dan selalu mengabarkannya padaku! Dan bilang ke bagian perancangan, ada beberapa hal yang harus mereka perbaiki di beberapa sudut. Aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun, kamu mengerti!”


Tomi mengangguk patuh, iapun membawa kembali map-map yang sudah Arga periksa. Ia benar-benar lelah, tidak hanya kerja rodi kini pekerjaannya semakin sulit karena harus mondar mandir dari kantor ke rumah sakit, belum lagi tugas-tugas lainnya.


“Hhaaahhh… kalau seperti ini terus bisa-bisa aku mati muda” keluh Tomi, dengan gontai ia berjalan menuju parkiran.


Pekerjaannya sangat melelahkan ia sangat butuh waktu istirahat, namun Bossnya ini selalu saja mengganggu di setiap waktu istirahatnya seolah ada kamera pengawas di otak liciknya.


Tomi menyalakan mobil, ia harus segera pergi kekantor dan menyelesaikan pekerjaannya, ia harus extra bekerja keras demi mendapatkan waktu untuk beristirahat dan memejamkan matanya, badannya sudah terlalu lelah ia benar-benar butuh untuk beristirahat.


Tomi mengedarkan pandangan, ia memastikan tidak ada kendaraan yang lewat, ia harus fokus! karena kelelahan beberapa kali ia melakukan kecerobohan yang bisa menghilangkan nyawanya.


Mata Tomi terpaku, ia melihat sosok Dimas berdiri tak jauh dari mobilnya, rupanya ia sedang berbincang dengan seseorang. Perlahan Tomi mematikan mesin mobil dan memperkatikan gerak gerik mereka.


Lawan bicara Dimas tertutup tiang penyanggah bangunan, Tomi kesulitan untuk melihatnya. Yang terlihat hanyalah gaun biru tosca dengan tas kulit hitamnya yang ia jinjing, rupanya ia sedang berbincang dengan seorang perempuan.

__ADS_1


Lama mereka berbincang, tampang Dimas tampak tidak senang, rahangnya mengeras sepertinya ia sedang menahan emosi. Perempuan yang bersama Dimas akhirnya pergi, dengan gusar Dimas meninju tiang penyanggah hingga tangannya memerah, entah apa yang sudah mereka bicarakan sehingga membuatnya tampak geram.


“Sudahlah bukan urusanku” gumam Tomi, iapun menyalakan mesin mobilnya kembali namun belum juga jalan Arga menelponnya.


“Iya Boss kenapa?” tanya Tomi dengan nada yang malas.


“Sudah bosan hidup kamu ya? Begitukah cara bicaramu dengan Boss!” teriak Arga seperti biasanya.


“Haaahh… ia… ia… kenapa Boss?” jawab Tomi mengalah.


“Map kerja sama dengan perusahan JS Enterprise apa ada padamu? Kalau ada bawa kesini segera, sepertinya ada yang terlewatkan. Aku harus segera mengeceknya sebelum terlambat.”


Tomi menghela nafas berat, di periksanya map-map yang ada padanya. Setelah menemukan map yang Arga inginkan Tomipun segera pergi untuk menyerahkannya.


Tok…tok…tok…


Ciri-ciri baju dan tas yang ada di meja samping tempat tidur sangat mirip dengan yang ia lihat tadi di parkiran, Tomi sangat serius memperhatikan, ia benar-benar yakin dengan apa yang ia lihat. Namun ia tidak berani menyimpulkan karena itu menyangkut Ibu Bossnya.


Arga mengernyitkan kening melihat Tomi tampak serius memperhatikan Ibunya, dengan kasar ia memukul kepala asistennya itu karena sudah bersikap tidak sopan.


Tomi meringis, ia mengusap-usap kepalanya dan menggerutu. Ia pun pamit pulang untuk segera kembali keperusahaan.


“Bu…sudah sore sebaiknya Ibu pulang sekarang, Ayah pasti sedang menunggumu di rumah”


Naura menoleh kearah Arga, anaknya ini tampak sibuk dengan urusan pekerjaannya, bagaimana mungkin ia bisa pulang. Naura ingin membantu menjaga Amy untuk meringankan beban anak kesayangannya itu.


“Tidak apa-apa, Ayah kamu pasti mengerti. Lagi pula ada Bi Nah yang bisa membantunya jika ada yang ia butuhkan, sementara kamu sudah cukup kerepotan dengan urusan pekerjaan. Amy biar Ibu saja yang menjaganya, kamu fokus saja dengan pekerjaan kamu” ucap Naura sambil membereskan piring bekas Amy makan.

__ADS_1


“Aku sudah selesai, berikan itu padaku. Sekarang Ibu pulang saja, Ok” Argapun menggiring Ibunya keluar dan menyuruhnya pulang.


“Dasar anak ini ya… mengusir Ibunya dengan terang-terangan! Bilang saja kamu mau berduaan dengan Amy! Haiiiisss… ingat ini Rumah Sakit tidak boleh macam-macam” ejek Naura sambil terkekeh.


“Ciihh…pikiran macam apa itu” dengus Arga,


iapun terkekeh melihat tingkah Ibunya itu.


Arga masuk kedalam dan menutup pintu, Amy tampak sedang sibuk memainkan handponnya,dengan usil Arga mengambilnya dan mencoba membacanya namun sayang handpone Amy memerlukan kata sandi untuk membukanya.


Arga mengernyit, iapun menyuruh Amy menghapus kata sandi itu, ia benar-benar tidak suka. Karena dengan begitu ia tidak bisa leluasa memeriksa handpone Amy, siapa yang tahu apa yang ada di kepala cantik istrinya itu.


Arga tidak ingin memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mendekati Amy tanpa sepengetahuannya, walaupun hanya melalui sebuah pesan!


“Buka! Aku tidak suka kamu menggunakan kata sandi” seru Arga dengan nada yang dingin.


Amy memicingkan mata, suaminya ini benar-benar pecemburu. Hanya sebuah kata sandi saja sudah merengut cemberut begitu, ‘dasar laki-laki egois’ gumam Amy dalam hati.


Dengan patuh Amy membukanya dan mematikan pengaturan kata sandi di handponnya, ia tidak ingin suaminya ini marah hanya gara-gara hal sepele, toh Amy tidak pernah menyembunyikan apapun, jadi ia tidak khuatir sama sekali.


“Sudah kubuka, jadi jangan marah lagi, Ok” bujuk Amy.


Arga tersenyum senang, iapun memeluk istrinya itu dengan lembut. Sekilas ia mengecup pucuk kepala Amy dan mengelus punggunya perlahan.


“Cepatlah pulih, aku benar-benar merindukanmu!” gumam Arga, nada suaranya tampak berat, jantungnya berdegup dengan kencang manik matanya seolah berkabut.


Amy mendongak menatap wajah Arga, sepertinya ada yang aneh dengan ekspresi Arga hari ini namun Amy tidak terlalu mengerti ada apa dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2