Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Kejujuran Hati


__ADS_3

Hamparan taman bunga yang indah dan cantik membuat Amy begitu takjub


melihatnya, taman bunga yang tertata rapi dengan warna-warni bagai pelangi membuatnya ingin menghambur dan berguling di atasnya.


Obsesi kekanak-kanakannya muncul seketika, Amy begitu gemas namun ia harus menahan diri, ia tak ingin sampai hati merusak taman bunga kesayangan Emelly. Sesekali Amy mencium bunga-bunga yang ia jumpai dan


menghirupnya, melihat tingkah Amy yang sedari tadi hanya perduli dengan bunga-bunga di depannya membuat Dimas beberapa kali menghela nafas karena Amy sama sekali tak menghiraukannya.


“Haaahhh… ingin sekali aku petik, namun sangat di sayangkan karena nanti kamu akan layu” gumam Amy sambil terus mengirupnya.


“Haaahhh… sepertinya bunga lebih menarik di bandingkan denganku!” ketus Dimas sebal.


Amy menoleh kearah Dimas, raut wajahnya tampak masam, ia baru sadar sedari tadi dirinya terlalu mengagumi keindahan hamparan bunga di depannya, sehingga ia lupa akan keberadaan Dimas di sampingnya.


“Ka Dimas, aku lelah!” seru Amy.


“Aku antar kamu ke dalam, apakah kamu masih kuat berjalan?” tanya Dimas khuatir.


“Entahlah, kepalaku terasa berdenyut” keluh Amy.


Tanpa banyak bicara Dimas menggendong Amy dan segera membawanya ke dalam rumah, ia begitu panik takut terjadi apa-apa dengan Amy.


“Ka… Ka Dimas, turunkan aku. Ini benar-benar memalukan, aku bisa berjalan sendiri” pekik Amy, ia berontak meminta untuk di turunkan,


namun Dimas sama sekali tak menghiraukan.


“Pak Haidar, cepat telpon Dokter suruh segera datang!” teriak Dimas saat berpapasan dengan Pak Haidar. Dengan sigap iapun menelpon Dokter dan memanggil istrinya agar membantu Dimas merawat Amy hingga Dokter datang.


“I… itu…Ka, ayolah! Aku benar-benar tidak apa-apa! Turunkan aku sekarang, aku bisa berjalan sendiri. Lagi pula kepalaku hanya terasa pusing saja, tidak usah menelpon Dokter, aku hanya butuh istirahat saja!”


Amy mendengus kesal, Dimas sama sekali tidak mendengarkan ucapannya, ia masih saja menggendong dan membawanya kekamar.


“Mas Dimas, biar ibu bantu kompres, sepertinya non Amy demam. Mas Dimas tidak usah khuatir, Dokter akan segera datang!” seru Bu Ratih.


Dimas menatap Amy, raut mukanya terlihat pucat. Entah apa yang terjadi, padahal tadi keadaannya sudah membaik. Melihat keadaan Amy, ia merasa bersalah karena sudah mengajak Amy pergi keluar, padahal


Dokter sudah mengingatkan kondisi tubuh Amy saat ini tidaklah bagus, ia membutuhkan banyak istirahat karena fisiknya terlalu lemah dan kejiwaannyapun sedang tidak stabil.

__ADS_1


“Maaf…” lirih Dimas merasa bersalah.


Amy menatap Dimas, ia menggelengkan kepala seraya menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


“Ka Dimas, ini semua bukan salahmu. Jika saja aku tidak ngeyel dan beristirahat seperti yang Dokter suruh pasti tidak akan seperti ini,


jadi kamu tidak usah khuatir. Lagi pula aku hanya demam, bukan sakit kritis jadi Ka Dimas jangan terlalu cemas, ok!”


Tanpa berkata-kata Dimas hanya mengangguk dan tersenyum lembut, saat ini Amy sedang bersamanya tentu saja ia begitu khuatir. Ia ingin memastikan, selama Amy bersamanya ia harus baik-baik saja, ia ingin


menunjukkan kepada Arga jika dia bisa memberi kebahagiaan kepada Amy dan memastikan selama bersamanya Amy jauh lebih baik ketimbang saat bersama Arga.


“Aku baik-baik saja, Bu. Tidur sebentar nanti juga akan membaik, kalian tidak usah khuatir, maaf sudah merepotkan kalian” ucap Amy


tulus, saat Bu Ratih membantu Amy mengompres keningnya yang terasa


hangat. Iapun merebahkan badan menyamankan diri, ia tidak ingin


merepotkan banyak orang lagi.


“Ya sudah, tidurlah. Aku akan menemanimu di sini sampai kamu tertidur,” ucap Dimas.


kalau aku membutuhkan bantuan aku akan mencarimu.”


Bu Ratih mengangguk, iapun pergi meninggalkan mereka berdua. Sementara


Amy mencoba memejamkan mata, ia begitu lelah dan pusing, tak butuh waktu lama ia sudah tertidur pulas. Dengan lembut Dimas mengelus lembut pipi Amy, bulu matanya yang lentik tampak bergetar, merasa


terusik dengan sentuhan Dimas. Manik coklat Dimas tampak meredup, dengan intens ia memperhatikan kecantikan Amy yang membuatnya semakin terpikat. Dulu ia tidak begitu memperhatikan seperti apa Amy, kini ia baru sadar, Amy sangat imut, semakin dewasa kecantikkannya semakin terpancar, pantas saja Arga yang sombong dan arogan bisa tergila-gila karenanya.


“Kamu hanya milikku seorang! Siapapun tidak ada yang bisa merebutmu dariku!” seru Dimas, iapun mengecup lembut bibir Amy dengan sangat hati-hati.


***


Suara deburan ombak menyadarkan Amy dalam lamunan, entah sejak kapan ia berada di sana. Seingatnya ia sedang tertidur di kamarnya, Namun, ia justru sedang berdiri bertelanjang kaki di atas pasir putih yang lembut, menatap lautan luas dengan ombak yang menggulung-gulung. Suasana pantai begitu sunyi, ia merasakan kedamaian walau sesaat.


“Amy…”

__ADS_1


Samar-samar terdengar suara memanggilnya, suara itu terdengar lirih penuh kerinduan, Amy mengedarkan pandangan mencari arah suara, namun ia tak menemukan siapapun di sana.


“Amy…”


Lagi-lagi suara itu terdengar, Amy melangkahkan kaki mencari, namun,


pandangannya terhalang kabut tebal. Cahaya bulan yang menyinari tak mampu menembus kedalamnya. Langkah demi langkah ia telusuri hamparan pasir pantai, pandangannya bergerilya mencari ke rerimbunan hutan gelap yang mengelilingi sekitar pantai, seketika langkahnya terhenti, ia berusaha memicingkan mata memfokuskan pandangannya. Sontak saja jantungnya berdegup tak karuan, sosok siluet berdiri tak jauh dari hadapannya. Sosok itu perlahan melangkah mendekati Amy yang berdiri tak bergeming. Amy mencoba melangkah mundur, namun kakinya seakan terpaku tak dapat ia gerakkan, tubuh Amy bergetar hebat, ia berusaha melepaskan diri dan ingin berlari menjauh, namun tubuhnya benar-benar kaku.


“Ka… kamu…kamu siapa?” gagap Amy.


Sosok itu terus melangkah mendekati, tubuh Amy yang semakin bergetar, ia begitu ketakkutan. Amy memejamkan mata, ia benar-benar takut, bibirnya seakan terkunci, dalam hati ia terus memanggil Dimas memohon agar ia segera datang menyelamatkannya. Namun, tiba-tiba tangan kekar memeluknya erat, Amy memekik badanya seakan lemas karena tak kuasa menahan ketakutan yang amat sangat. Sesaat kemudian seketika ia terdiam, wangi rempah kayu-kayuan menyeruak menembus indra penciumannya, rasanya sangat familiar, ia sangat mengenali wangi tubuh itu. Jantung


Amy seketika seakan terhenti, dengan perlahan ia menengadah menatap kearah sosok yang memeluknya. Mata bulat Amy terbelalak, benar saja, pemilik tubuh itu sangat ia kenal, ‘Arga!’ pekik Amy tak percaya.


“Arga… kamu…”


“Kamu… kemana saja selama ini? Kenapa kamu tega meninggalkanku” lirihnya.


“Aku sangat merindukanmu, kembalilah! Jangan pergi lagi!” pintanya penuh penekannan.


Bulir bening mengalir membasahi pipi, hatinya terasa hangat, iapun begitu merindukan laki-laki itu. Dengan erat ia memeluk Arga, mencurahkan kerinduannya yang selama ini dia pendam.


“Akupun merindukanmu, Arga!” seru Amy, ia mengeratkan pelukannya seoah tak ingin melepasnya lagi.


***


“Arga!” gumam Dimas.


“Bahkan dalam mimpipun, kamu masih menyebut namanya! Sia-sia aku membawamu pergi jauh darinya, kamu malah semakin merindukannya. Sedikit saja, tidak adakah aku dalam hatimu? Apa kamu benar-benar sudah menyingkirkanku dari hatimu? Bukankah ingatanmu sudah pulih,


lalu kenangan masa lalu kita bersama sebegitu tidak pentingkah untukmu? Apakah sebanding, kamu menukar masa lalu kita dengan masa-masa pahit bersama Arga dan kamu justru masih saja memilihnya! Memilih


laki-laki sombong dan arogan yang selalu menyakitimu, membuatmu menderita!” Dimas mengepalkan tangannya, hatinya terasa hancur saat Amy menyebut nama Arga dalam igauannya.


“Aku memang sudah berbuat salah, akan tetapi saat itu aku terpaksa melakukannya! Namun, apakah pantas kamu membalasku seperti ini? Jangan salahkan aku, jika aku memaksamu selalu ada di sampingku, aku akan membawamu pergi sejauh mungkin. Tak akan aku biarkan kamu kembali kepada laki-laki brengsek itu, dari awal kamu milikku, selamanya akan tetap menjadi milikku! Jadi bertahanlah, hingga kamu benar-benar


melupakannya dan menerimaku kembali! Aku berjanji, aku akan membahagiakanmu seumur hidupku!”

__ADS_1


Dimas menggenggam erat tangan Amy, sinar matanya penuh tekad, ia benar-benar tidak akan pernah melepaskan Amy untuk kedua kalinya, cukup ia sudah menyia-nyiakan Amy, kali ini dia akan melindunginya dan tak akan pernah membiarkan Amy pergi dari hidupnya lagi.


__ADS_2