Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Siasat Naura 2


__ADS_3

Suara decitan pintu terdengar membuat Amy terhenyak kaget, iapun menyembunyikan tas ranselnya dan segera naik ketempat tidur menutupi tubuhnya dengan selimut.


Amy memejamkan mata berpura-pura tertidur,


samar-samar terdengar langkah kaki yang semakin mendekatinya. Jantung Amy berdegup dengan kencang, ia benar-benar takut ketahuan namun ia mencoba tetap tenang.


“Nona Amy, Saya orang kiriman Nyonya Naura! Keadaan sudah aman, kita harus segera pergi sebelum Tuan Arga kembali!” seru seseorang, Amypun bangun dan menatap laki-laki itu, ia tampak asing dan terlihat tidak ramah, namun Amy tidak punya pilihan satu2nya cara untuknya bisa pergi adalah dengan mengikuti rencana Naura.


“Kita harus bergegas!” sambungnya.


Amy menganggukan kepala, iapun mengambil tas ranselnya dan mengikuti laki-laki itu. Amy melihat ke sekeliling, para pengawal tampak tergeletak di lantai, entah apa yang terjadi dengan mereka, jantung Amy berdegup semakin cepat. Ia merasa orang kiriman Naura bukanlah orang biasa, bagaimana tidak, para pengawal itu bukanlah sembarang pengawal. Mereka adalah orang-orang terpilih yang sudah professional dalam bidangnya, tentu saja mereka tidak akan mudah untuk di kalahkan. Namun apa yang ada di hadapan Amy benar-benar di luar dugaan, mereka dengan mudahnya di


kalahkan bakan orang itu mengalahkannya tanpa kegaduhan.


“Apa mereka baik-baik saja?” tanya Amy khuatir.


“Mmm… mereka hanya pingsan, tidak usah khuatir! Sebaiknya kita segera pergi, tidak usah menghiraukan yang lain!” seru orang itu, nada suaranya terdengar dingin, Amy benar-benar tidak nyaman.


Disudut ruangan Naura menatap sinis kedua orang yang sedang mengendap-endap itu, ia akhirnya bisa menyingkirkan Amy dengan


mudahnya. Seperti dugaan, Amy sangatlah bodoh, dengan begitu saja ia percaya dan mengikuti rencananya.


“Akhirnya aku bisa menghabisimu, tidak lama lagi kamu akan menyusul orangtuamu pergi ke Neraka! Siapa suruh kamu menghalangi semua rencanaku dan membuat anakku menjauh dariku. Hanya gara-gara gadis


tidak berguna sepertimu, Arga menjadi tidak bisa aku kendalikan, apapun yang menghalangi jalanku, mereka harus aku singkirkan. Jika ingin menyalahkan, salahkan dirimu sendiri karena kamu sudah berurusan


dengan orang yang salah!”


Naura menelpon seseorang, ia tampak berakting ketakutan untuk meyakinkan orang yang di seberang sana. Sesaat setelah telepon di tutup ia menyunggingkan senyuman sinis, Naura sangat yakin kali ini ia


akan mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini.

__ADS_1


***


Arga datang dengan tergesa-gesa, di lihatnya para pengawal yang ia pekerjakan sudah tergeletak dengan luka-luka di sekujur tubuhnya, jantungnya berdegup tak karuan ia berlari menuju rumah. Arga tersentak melihat ibunya yang sedang meringis di bawah tangga, darah segar mengucur dari kening, dengan segera Arga menghampirinya dan memapahnya duduk di kursi.


“Ada apa ini sebenarnya? Amy! Ibu tunggu sebentar aku akan mengecek Amy dikamar!” seru Arga, dengan panik.


“Tunggu…” cegah Naura. Namun Arga sama sekali tidak menghiraukan, ia berlari menuju kamarnya.


Wajah Arga tampak gusar, di tatapnya Naura dengan tatapan penuh tanya. Arga menelpon dokter keluarganya agar secepat mungkin datang dan menyuruhnya membawa beberapa perawat untuk merawat orang-orang yang terluka. Sesaat kemudian ia duduk di hadapan Naura yang terlihat sangat terpukul.


Beberapa kali ia menghubungi nomor telpon Amy, namun selalu diluar jangkauan. Arga tidak menghiraukan Naura yang sedari tadi


memanggilnya, hatinya tak tenang, berulang kali ia terus mencoba namun Amy tetap saja tidak bisa dihubungi.


“Arga, maafkan Ibu sayang, ibu sudah berusaha mencegahnya namun siapa


yang sangka ia benar-benar bertekad meninggalkan rumah ini, bahkan orang yang membantunya begitu kejam! Kamu lihat, ia hanya seorang diri namun dia mampu melukai para pengawalmu, dan saat ibu berusaha mencegah Amy dan menyuruhnya untuk tidak pergi ia justru…Amy…Amy


“Apa maksud ibu?” tanya Arga tidak mengerti.


“Entah apa yang sudah terjadi, bagaimana mungkin gadis polos seperti Amy bisa sekeji itu. Selama ini ibu sudah memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, namun dengan teganya ia berbuat seperti ini.”


“Itu tidak mungkin!” seru Arga dengan suara baritonnya.


“Siapa yang sudah membantunya? Apa ibu melihat orang itu dengan jelas?”


Naura menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak bisa mengenali orang itu karena saat itu sangat gelap. Naura menceritakan, awalnya ia


terbangun dan menuju dapur karena haus, namun saat menuruni tangga di lihatnya Amy bersama seorang laki-laki sedang bergegas hendak pergi, Naura tersentak kaget, ia berusaha mencegah Amy namun siapa sangka Amy begitu tega mendorongnya hingga terjatuh dan tersungkur. Naura memohon Amy agar jangan pergi namun ia tidak menghiraukannya.


“Oh ia, ibu baru ingat. Tidak lama setelah kamu pergi, sepertinya ibu melihat seseorang mengendap-endap masuk kedalam kamar kalian. Saat itu ibu sedang terburu-buru membawakan air dan obat karena jantung Ayahmu kambuh, jadi ibu tidak terlalu memperdulikannya. Ibu berniat setelah

__ADS_1


Ayahmu tenang, ibu ingin memeriksa kekamar kalian namun karena keadaan


Ayahmu yang belum stabil sehingga membuat ibu lupa dan tertidur.”


Arga terdiam sejenak, ia tidak percaya dengan apa yang Naura katakan. Namun, melihat kondisi ibunya ia ragu, mungkinkah Amy begitu membencinya sehingga tega melampiaskan kemarahannya terhadap Naura.


Tak lama dokter datang dengan para perawat, merekapun segera memeriks orang-orang yang terluka. sementara Arga, ia pergi meninggalkan rumah dan menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh.


Sepanjang perjalanan pikirannya benar-benar kacau, semuanya menjadi berantakkan hanya dalam waktu semalam. Usahanya selama ini untuk menjaga Amy kini menjadi sia-sia, pada akhirnya ia justru kehilangan apa yang yang sudah ia coba pertahankan.


“Aaaaarrrggg…”


Arga berteriak sekuat tenaga, pikirannya benar-benar buntu. Ia tidak tahu harus berbuat apa, membayangkan ia harus kehilangan Amy membuat hatinya terasa sakit.


***


Jantung Amy berdegup dengan kencang, entah kenapa hatinya terasa sakit dan gundah. Kini ia sudah meninggalkan rumah Arga, seharusnya ia sudah bisa merasa tenang. Namun, ia justru merasakan kekosongan.


Amy melirik kearah laki-laki di sebelahnya, sedari tadi ia tampak fokus mengendarai mobil, mulutnya tertutup rapat tak ada satu katapun yang terucap membuat suasana menjadi sangat canggung.


Amy menatap jalanan yang semakin menjauh dari jalan utama, ia mengenal jalur jalanan itu. Saat ini mobil melaju menuju jalur hutan yang


kengarah ke pantai tempat di mana ia pernah datangi dulu bersama Dimas. Namun belum sampai di pantai mobil berhenti tiba-tiba,


laki-laki itu terdiam tak bergeming membuat Amy bingung dibuatnya.


“A…ada apa? Apa ada masalah?” tanya Amy gagap.


Laki-laki itu menatap Amy dengan tatapan tajam, tanpa basa-basi ia mencekik Amy dengan tangan kasarnya. Amy berontak, ia mencoba membebaskan diri namun cengkramannya semakin kuat.


“Uhuk…uhuk…aakhh…ja…jangan…jangan…” mohon Amy sabil terus memberontak namun laki-laki itu mencekiknya tanpa ampun.

__ADS_1


Tangan Amy memukul-mukul dengan kekuatannya yang tersisa, iapun menggapai tas ranselnya dan berusaha mengambil senjata api yang ia bawa. Dengan susah payah akhirnya Amy berhasil meraih senjata itu dan membuka pengamannya, namun laki-laki itu lebih sigap darinya. Sebuah hantaman mendarat tepat di pelipis mata, Amy terhuyung sebuah kilatan seakan menghantamnya, namun sekuat tenaga ia terus berontak hingga terdengar sebuah letusan yang memekakkan telinga membuat Amy terbelalak, dadanya terasa sesak, lambat laun kesadarannyapun hilang hingga akhirnya iapun tidak sadarkan diri.


__ADS_2