
Arga menatap Amy nanar, perkataan Anjar Wiyoso benar-benar membuatnya terpukul. Amy tidaklah mungkin seperti yang ia bilang. Itu pasti hanya akal-akalannya saja, si Tua Bangka itu pasti sengaja ingin memisahkan
dirinya dengan Amy. Namun entah kenapa kata-katanya masih terngiang di telinga, hal itu sangat mengganggu hingga mempengaruhi pikirannya.
“Apakah hilang ingatanmu itu hanya kebohongan? Apakah yang si Tua
Bangka katakan itu benar?” lirih Arga, ia mengambil tangan Amy dan menciumnya lembut.
“Apapun kebenarannya, asal itu keluar dari mulutmu, aku pasti terima konsekuensinya. Tapi aku berharap, kamu tidak akan pernah lupa, aku yang selalu ada untukmu, selalu menjagamu dan mencintaimu dengan
tulus. Dosaku di masa lalu itu adalah dosa terbesar, namun aku tidak sepenuhnya salah, kamu harus tahu itu. Andai saja saat itu tidak ada aku, merekapun belum tentu selamat karena pria brengsek itu sudah merencanakan kematian mereka”
Arga mengusap air matanya, perasaannya benar-benar sangat kacau. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Amy membuka matanya perlahan, ia menatap Arga yang tengah terisak sambil menenggelamkan mukanya di samping tempat tidur. Bersitan rasa sakit terasa menusuk di hatinya, entah apa yang terjadi sehingga membuatnya tampak lemah dan rapuh. Dengan lembut ia usap rambut Arga, sangat menyakitkan melihatnya seperti itu.
‘Mungkinkah, ini semua karena aku?’ tanya Amy dalam hati.
“Arga…” seru Amy dengan nada yang lemah, ia berusaha bangun. Walau sekujur tubuhnya terasa sangat menyakitkan, namun ia tidak menunjukkan rasa sakit itu.
Arga menoleh kearah Amy, matanya tampak bengkak, hidungnya memerah. Tampangnya sangat kacau berantakan.
“Kamu kenapa?” tanya Amy.
Di usapnya air mata Arga, Amy memeluk Arga dengan lembut, iapun menepuk punggung Arga dengan perlahan.
“Seandainya kamu tidak pernah mengalami hilang ingatan, atau sekalipun kamu hilang ingatan dan kemudian pulih, apa kamu masih mau bertahan di sampingku?” tanya Arga.
Arga menatap Amy penuh harap, apa mungkin harapan itu ada? Semua
masalah yang terjadi berawal darinya. Arga benar-benar frustasi di buatnya. Andai saja… jika memang bisa berandai-andai Arga lebih baik tidak pernah bertemu dengan Amy, agar ia tidak mengalami kesakitan ini. Namun nasib begitu egois, ia harus berhadapan dalam situasi yang sangat menyesakan seolah berjalan dalam lingkaran yang tak bertepi.
Sekarang Arga sudah terkurung dalam situasi seperti ini, ia hanya tahu tentang memiliki, ia tidak bisa mengalah ataupun menyerah untuk
__ADS_1
melepaskan Amy, namun saat menghadapi Amy kenyataan orang tuanya meninggal karenanya membuat Arga seakan menghadapi mimpi buruk.
“Kenapa? Apa kamu tahu sesuatu?” tanya Amy.
Arga terdiam, kepalanya terasa berdenyut seakan mau pecah. Arga memeluk pinggang Amy dan menenggelamkan wajahnya, ia tidak tahu harus bagaimana.
“Aku mohon katakan sesuatu” pinta Amy.
Lama Arga tak berkutik, ia tidak tahu harus memulai dari mana, ia sama sekali belum siap kehilangan Amy.
Tok…tok…tok…
Suara ketukan pintu terdengar, Dokter dan Perawat datang untuk memeriksa kondisi Amy, dengan segera Arga bangun dan duduk di sofa memperhatikan Amy yang sedang di periksa.
Amy berbincang dengan perawat, sesekali pandangannya menoleh kearah Arga, ia berharap Arga bisa memberitahunya apa yang sebenarnya, mungkinkah ia mengetahui
sesuatu, mungkinkah informasi tentang masa lalunya telah terungkap atau Arga mengetahui soal keluarganya? Amy benar-benar bingung dengan sikap Arga, apakah Arga mencurigainya berpura-pura hilang ingatan?
Tapi untuk apa Amy harus berpura-pura.
“Baik, semua sudah tampak baik. Di perkirakan minggu depan Nyonya Amy
sudah siap menjalani operasi tahap pertama, jadi harus di siapkan mentalnya, agar prosesnya lancar seperti yang di harapkan.” Ucap Dokter dengan ramah.
“Baik Dok, terimakasih” ucap Amy senang.
“Ya sudah, setelah makan, minum obat, lalu beristirahat. Kalau ada apa-apa jangan sungkan panggil saya”
Amy tersenyum, ia menganggukan kepala perlahan. Saat Dokter sudah pergi berlalu di liriknya Arga yang masih diam membisu di sofa.
“Arga…” panggilnya.
“Hhmmm…” Arga menghampiri Amy, ia duduk di samping Amy. Dengan sigap ia menyiapkan makan malam Amy yang sudah tersedia di meja samping tempat tidur, Arga menyuapi Amy makan sambil terdiam tanpa satu katapun. Beberapa kali ia terlihat tak fokus,tatapannya kosong hingga ia tak menyadari Arga hanya menyuapi Amy nasi tanpa lauk, Amy mengernyit sebal karena Arga bahkan tidak meresponnya saat ia
__ADS_1
memanggilnya beberapa kali.
Arga masih saja terdiam, ia terhanyut dalam lamunannya. Dengan kesal Amy merebut piring makannya dan meletakkannya di meja.
Arga tersentak, ia benar-benar kaget. Di tatapnya Amy yang cemberut sambil mengunyah makanannya dengan kasar.
“Kenapa? Apa makanannya tidak enak? Apa mau aku belikan makanan yang lain?”
Amy menghela nafas berat, ia menggeleng perlahan. Amypun mengambil piring makanannya dan memakannya sendiri, ia tidak mau di suapi lagi. Arga mengerutkan kening, ia merasa bersalah karena terlalu hanyut dalam lamunannya sehingga membuat Amy menjadi marah seperti itu.
“Kamu makan juga, kamu butuh istirahat nanti kamu sakit” ucap Amy.
Amy menyuapi Arga dengan perlahan, Arga sangat bahagia karena bisa mendapatkan perhatian Amy, mereka makan saling menyuapi satu sama lain.
“Apa kamu mau nambah? Nanti aku suruh Tomi membawakan makanan lagi” tanya Arga.
“Hhmmm…tidak usah, aku sudah kenyang. Kalau kamu mau lagi silahkan” jawab Amy.
Arga menggeleng, ia sudah cukup mendapatkan energi dari makanan yang
Amy suapi. Perasaan Argapun kini sedikit lega, saat-saat seperti ini sangat ia impikan. Walaupun mungkin ini yang pertama dan terakhir namun ia sangat bersyukur.
Arga mengelus pipi Amy, sesaat setelah ia membantu Amy minum obat, Ia benar-benar senang bisa bersama Amy, bahkan sikap Amy yang sekarang sedikit berubah sangat lembut dan perhatian.
“Kenapa?” tanya Amy bingung, pipi Amy memerah pipinya terasa hangat dengan cepat ia memalingkan muka karena malu.
Arga terkekeh, dengan lembut ia meraih dagu Amy, mata mereka saling bertemu. Hembusan nafas Arga terasa hangat membelai pipi Amy perlahan Arga mendekat memperhatikan apakah Amy akan menolaknya kali ini, namun Amy tak bergeming. Arga menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, ia benar-benar senang, Amy menyambutnya tanpa penolakan. Dengan perlahan Arga mengecup bibir Amy lembut.
Jantung Amy berdegup dengan kencang, kecupan-kecupan lembut dari bibir Arga yang terasa hangat seakan memabukkan, tanpa sadar ia melingkarkan tangan memeluk tubuh Arga. Sesaat Arga terdiam, ia sangat terkejut
dengan keagresifan Amy namun ia semakin senang di buatnya. Tanpa ragu lagi Arga melahap bibir tipis Amy mencecapnya dengan tanpa ampun hingga heduanya terengah-engah karena kekurangan oksigen dengan rakus mereka menghela nafas memenuhi rongga dadanya.
Amy memeluk Arga dengan erat menikmati irama degup jantung Arga yang memburu, seandainya saat ini tubuhnya tidak dalam kondisi sakit pastilah ia menginginkan lebih namun sangat di sayangkan karena kondisinya Amy harus bisa bersabar.
__ADS_1
‘Ya ampun, apa aku sudah gila’ gumam Amy dalam hati, entah kenapa sifat liarnya muncul dalam kondisi yang tidak tepat. Hal itu membuat Amy malu dan membuatnya semakin menyembunyikan mukanya yang memerah seperti kepiting rebus di dada bidang Arga.
Arga tersenyum, ia bisa melihat kuping Amy yang sangat merah, saat ini ia tahu Amy pasti sangat malu. Dengan lembut ia peluk tubuh mungil Amy dan mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.