Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Dendam


__ADS_3

Arga menatap wajah cantik Amy, ia tampak sangat polos dan menggemaskan. bagaimana bisa mahluk mungil ini berekspresi seperti itu, membuat Arga gemas dan ingin menggigitnya. Dengan perlahan Arga menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Amy sekilas, bibir Amy terasa manis dan hangat membuat Arga menginginkannya lebih.


Arga menatap Amy dengan sayu, seandainya keadaan Amy tidak seperti ini ia pasti akan melahapnya bulat-bulat, Arga sudah cukup bersabar menahan keinginannya namun entah kenapa saat di dekat Amy hasratnya sulit untuk dipendam membuat Arga benar-benar kesulitan.


“Hhaaaah… kamu benar-benar sudah menyiksaku” gumam Arga pelan.


“Hmmm… maksudnya?” tanya Amy polos.


Arga mendengus sebal, semakin melihat ekspresi Amy yang polos semakin ia benar-benar tidak dapat menahannya.


“Aku mau ke kamar mandi, mau menjernihkan pikiran!” seru Arga, iapun masuk ke kamar mandi dengan otaknya yang kusut.


Amy menyunggingkan senyum, ia tahu apa yang Arga inginkan, ia sangat senang bisa mengerjai suaminya itu. Sejujurnya akhir-akhir ini iapun sangat menginginkannya, entah kenapa hormonnya kini semakin meningkat membuat Amy terkadang merasa jengkel.


Namun apalah daya tubuhnya yang belum pulih membuatnya sulit untuk bergerak.


Malam hari Amy tampak kesulitan, ia menoleh kearah Arga yang tampak tertidur di atas map-map yang menumpuk. Dengan perlahan Amy turun dari tempat tidur, rasa nyeri di sekujur tubuhnya seakan mencabik-cabiknya, namun ia mencoba menahannya.


Sambil tertatih-tatih Amy berjalan perlahan menuju kamar mandi, sesekali ia menghentikan langkahnya jika ada yang terasa begitu menyakitkan. Air mata Amy perlahan mengalir, entah harus berapa lama lagi ia menahan kesakitannya itu.


“Sayang…” pekik Arga.


Arga segera bangun dan membantu Amy, lama Amy di dalam kamar mandi, beberapa kali Arga mengetuk namun tidak ada jawaban. Samar-samar terdengar isak tangis dengan panik Arga masuk dan terlihat Amy sedang duduk di atas closet.


“Sayang, kenapa?” tanya Arga khuatir.


“Maaf…” isak Amy.

__ADS_1


Arga mengernyitkan kening, ia tidak mengerti apa maksud Amy, dengan sangat hati-hati Arga membantu membersihkan tubuh Amy dan menggendongnya ke tempat tidur. Amy tampak malu dengan apa yang terjadi, saat ia selesai buang air tangnnya terasa perih sehingga ia tidak bisa membersihkan diri, walaupun Arga membantunya dengan ekspresi biasa saja namun Amy yakin Arga pasti sangat jijik dengannya.


“Maaf…” ucap Amy lagi.


Arga mengelus kedua pipi pipi Amy, Arga mencoba menenangkan Amy. Ia tahu Amy pasti sangat malu namun Arga sama sekali tidak merasa jijik terhadapnya, justru Arga sangat senang bisa membantu Amy. Walau bagaimanapun sudah menjadi tanggung jawabnya menjaga dan merawat Amy sepenuhnya.


Dada Amy terasa hangat, perhatian Arga begitu tulus, ia tidak menyangka, laki-laki dingin yang sangat ia benci dulu bisa bersikap lembut dan perhatian seperti ini. Ia sangat bersyukur bisa menikahi Arga, walau awalnya terpaksa namun sekarang ia merasa sangat beruntung, di dalam hati kecilnya kini ia mulai merasa ada benih-benih cinta yang membuat perasaan Amy terasa berbunga-bunga.


“Pipimu memerah,” seru Arga.


Dengan refleks Amy menutup kedua pipinya, ia sangat malu karena Arga menggodanya.


“Aku menyukainya” sambung Arga, iapun mengecup lembut pipi Amy dan memeluknya.


Amy merasa tenang saat di pelukan Arga, dada bidangnya terasa nyaman membuat Amy ingin selalu ada di pelukannya.


“Aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka berdua, sampai kapanpun Amy hanya milikku, siapapun tidak berhak memilikinya” dengus Dimas dengan kesal.


Dimaspun pergi meninggalkan kedua insan itu, hatinya sangat sakit melihat mereka berdua bermesraan. Ia benar-benar tidak terima posisinya di renggut begitu saja, andai saja saat itu ia tidak melakukan kesalahan dan tidak membuat Amy mengalami kecelakaan hingga menyebabkannya hilang ingatan, saat ini orang yang memeluknya pastilah dirinya.


“Aku tidak akan melakukan kesalah kedua kalinya, apa yang menjadi miliku akan aku rebut kembali, kamu sudah cukup membuat hidupku menderita, gara-gara kamu dan ibumu Aku harus kehilangan kasih sayang Ayah dan Ibuku tidak akan hidup menderita hingga menyesali kehidupannya hingga ajal menjemputnya. Pada saatnya nanti kalian semua akan menerima balasannya! Lihat saja nanti!”


Sorot kebencian terlihat jelas di mata Dimas, Arga dan Ibunya adalah orang-orang yang tidak pantas hidup bahagia. Mereka adalah orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa memperdulikan orang lain, jika Amy terus-menerus bersama mereka pada akhirnya ia akan mengalami hal serupa seperti yang di alami ibunya.


Suara dering telphon berbunyi, Dimas mengernyitkan dahi, entah siapa yang melephonnya karena tidak ada namanya.


“Halo…”

__ADS_1


Hening, tak ada suara yang menjawab di sebrang sana. Dimas mencoba mendengarkan, namun tetap orang yang menelpon masih terdiam. Dengan gusar ia mematikan telponnya dan melanjutkan berjalan pulang.


Sekali lagi telpon berbunyi, Dimas tampak malas untuk mengangkatnya. Ia yakin seseorang pasti sedang berbuat iseng dengan kesal iapun mematikannya. Namun lagi-lagi telpon itu berbunyi lagi membuat Dimas geram di buatnya.


“Halo… jika tidak mau bicara jangan membuang-buang waktu!” geram Dimas merasa kesal.


“Ka Dimas…”


Dimas mengernyit, terdengar suara seorang gadis di sebrang sana. Namun itu bukanlah suara Amy.


“Siapa ini?” tanya dimas datar.


Lama gadis di seberang telepon itu terdiam seakan ragu, dimas mendengus kesal, suasana hatinya sedang tidak bagus. Ditambah telepon mengesalkan yang mempermainkannya.


“Terserah…” dengus Dimas.


“Tunggu Ka… ini aku, apakah Ka Dimas sudah melupakan aku?” tanya gadis itu, suaranya tampak bergetar.


Dimas menghela nafas berat, ia sedang tidak ingin memainkan teka-teki. Ia pun mematikan handphonnya dan ia pergi menembus kegelapan malam.


Gadis itu terisak, bagaimana bisa Dimas mengacuhkannya, padahal dulu hubungan mereka baik-baik saja. Namun gara-gara Amy kini jangankan dekat, Dimas justru semakin menjauhinya.


“Ini semua gara-gara Amy, dia sudah menghancurkan hubungan kami, gara-gara dia pula hidup keluargaku menjadi hancur hingga kami harus kehilangan segalanya,sementara dia hidup enak dengan suami kayanya. Bagaimana bisa perempuan sepertinya bisa hidup dengan penuh keberuntungan tanpa merasa bersalah sedikitpun, benar-benar tidak tahu diri” dengus gadis itu penuh kebencian.


Gadis itu bertekad, ia pasti akan menghancurkan hidup Amy, dan merenggut semua kebahagiaannya.


Ia tidak terima dulu Amy sudah merebut Dimas darinya, bahkan kecelakaan yang di alami Amy di kait-kaitkan oleh pihak asuransi, bahwa itu murni kelalaian perusahaan milik ayahnya, yang dengan ceroboh menyewakan mobil rusak, dan akibatnya hingga menyebabkan kecelakaan fatal.

__ADS_1


__ADS_2