
Amy tertegun menatap sosok di hadapannya, laki-laki itu memastikan Amy berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur.
Di tariknya selimut untuk menutupi tubuh Amy yang kedinginan. Laki-laki itu kembali
mengelus kepalanya.
Amy merasa tersentuh, ia tidak tahu laki-laki ini siapa namun ia begitu baik dan perhatian.
“Sudah terlalu larut, istirahatlah. Besok aku kesini lagi,Ok.” Laki-laki itupun pamit meninggalkan Amy yang masih terdiam.
“Eeehhh……. Ya ampun, aku bahkan tidak tau namanya” gerutu Amy sebal, ia seorang bodoh yang pelupa bahkan kesopanannya hilang hanya karena terpana melihat ketampanannya.
‘Aku benar-benar pelupa’ gumam Amy ia menepuk keningnya sepontan, tak ayal kepalanya kembali terasa sakit.
Pintu kamar terbuka, Amy menoleh dengan senyuman manisnya. Namun sesaat raut wajah itu berubah, entah apa yang ada di kepala cantiknya seakan ia berharap yang datang itu adalah laki-laki itu.
“Aduh…. Sakitnya” keluh Amy. Arga berjalan cepat ke arahnya dan memeriksa.
“Aku panggil dokter untuk memeriksamu?” seru Arga, iapun dengan segera menaruh air mineral, buah-buahan dan juga makanan ringan di meja. Namun sebelum Arga pergi Amy menarik tangannya untuk mencegahnya.
“Tidak usah, tadi aku terlalu ceroboh” jawab Amy pelan.
Arga menatap Amy, entah kenapa sepertinya suasana hati Amy sedang tidak baik, padahal tadi Arga sangat senang saat melihat Amy tersenyum manis padanya. Seolah Ami sedang menantikan seseorang datang dan yang pasti orang itu bukanlah Arga. Ada rasa cemburu di hatinya, apakah Amy menyembunyikan sesuatu? Ataukah ia mulai mendapatkan ingatannya.
“Kamu mau minum atau mau aku kupaskan buah?” Tanya Arga.
“Aku mau minum saja,”
“Tadi…. Kamu dari mana?” Tanya Amy.
“Tadi aku ke Minimart sebentar, apa terjadi sesuatu?” Tanya Arga berpura-pura, sebelumnya ia berlari sekuat tenaga saat pihak Rumah Sakit memberitahukannya kalau Amy terjatuh dan terluka.
Namun saat ia datang Arga melihat laki-laki itu dengan Amy, mereka begitu akrab,
senyum Amy yang tulus tak pernah ia tunjukkan padanya namun di depan
laki-laki itu Amy tampak tidak ragu menunjukkannya.
Hati Arga sangat terluka melihat kedekatan mereka, namun ia harus sabar untuk saat ini, jangan sampai ia gegabah dan membuat Amy semakin menjauhinya.
“Aku pergi sebentar, kamu istirahatlah ini sudah larut” seru Arga, iapun pergi dengan raut wajahnya yang murung. Amy mengernyitkan kening melihat tingkah Arga, namun Amy tak mau menghiraukan, iapun mencoba memejamkan mata.
__ADS_1
Hujan deras dan udara yang dingin seolah menghantarkan Amy ke dalam alam mimpi yang terdalam, sosok laki-laki menatapnya tampak mengamati dengan teliti.
Gadis mungil itu kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik dan imut, namun nasibnya yang kurang baik, dia
hanyalah sebuah alat bagi beberapa orang untuk saling menyerang dan mengambil keuntungan.
Walaupun itu sangat menyakitkan dan menyedihkan bagi Amy namun siapa
yang perduli, mereka hanya perduli dengan diri mereka sendiri tak ada waktu untuk memikirkan nasib buruk orang lain.
“Kamu hanya perlu bersikap baik, menurut dan mengikuti alur yang sudah di tentukan. Hingga pada saatnya nanti melenyapkanmu merupakan sebuah bonus dan itu adalah hadiah dariku karena kamu terlahir ke Dunia ini” gumamnya, ia menatap Amy dengan tajam.
Tatapannya sangat mengerikan seakan ingin menelan Amy hidup-hidup, perlahan ia meninggalkan Amy dan pergi menghilang di kegelapan.
Pagi-pagi Amy sudah terbangun karena harus menjalani pengecekan rutin, para Perawat memeriksanya dengan seksama. Di lihatnya Arga sedang berbincang serius dengan Tomi, mereka tampak sedang memperdebatkan
sesuatu, namun Amy tidak bisa mendengarnya.
Mereka berbicara dengan berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk map biru di tangan Tomi, seolah sesuatu telah terjadi.
Selesai perawat memeriksa,Tomipun hendak pergi, namun sebelumya ia pamit kepada Amy dengan sangat ramah. Arga mendengus kesal melihat Tomi yang sok akrab dengan Amy, ia menyeretnya keluar dari kamar
dengan paksa dan membanting pintu karena kesal.
“Bagaimana kondisimu? Dokter bilang apa?” Tanya Arga tak sabaran.
“Semua baik-baik saja, besok aku sudah boleh pulang” jawab Amy senang.
Amy sudah tidak betah tinggal di Rumah Sakit yang terkesan menyeramkan, apa lagi bau obat-obatan membuat kepala Amy semakin
pening karenanya.
“Baguslah kalau begitu, nanti setelah sarapan aku mau kekantor dulu ada yang harus aku periksa, kamu tidak apa-apakan aku tinggal
sebentar, apa aku harus telpon Irma atau Bunda Aisyah untuk menemani kamu?”
“Jangan…. Tidak usah. Aku baik-baik saja, lagi pula di sini banyak suster dan dokter, kalau ada apa-apa nanti aku pasti meminta bantuan
mereka. Kamu tidak usah kuatir kamu selesaikan saja urusan kamu, Ok” Arga menatap Amy merasa tidak yakin, namun ia benar-benar harus mengurus sesuatu yang sangat penting.
“Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa ingat! Telpon aku segera,Ok” ucap Arga, iapun mengecup kening Amy dan segera pergi.
__ADS_1
Pipi Amy terasa hangat, wajah pucatnya kini semu merah karena kecupan Arga.
Amy masih belum terbiasa dengan sentuhannya, walau hanya sebuah
kecupan namun dapat membuat jantungnya seakan mau meledak.
Tok…. Tok…. Tok…
Tedengar ketukan pintu, Amy menoleh ke arah pintu, laki-laki yang semalam ia datang lagi. Senyumannya yang meanis selalu menghiasi wajah tampannya membuat Amy senang dan nyaman melihatnya.
“Hai….” Sapanya, iapun mendekati Amy dan menaruh keranjang buah di meja samping tempat tidur Amy.
“Sudah sarapan?” tanyannya perhatian.
“Hmm…. Sudah tadi” jawab Amy, ia merasa bingung laki-laki ini begitu leluasa seolah mereka sudah lama saling mengenal.
“Mau aku kupas apel?” tanyanya lagi.
“Hmm… boleh”
Amy memperhatikan laki-laki itu, ia sangat baik dan perhatian, entah kenapa perasaannya seperti familiar seolah dejavu.
“Eemm…. Apa kita saling mengenal?” Tanya Amy ragu.
Laki-laki itu.menoleh ke arah Amy dan menyuapinya potongan apel ke bibir mungilnya.
“Menurutmu…..” serunya, ia mengelus rambut Amy dengan penuh kasih sayang membuat Amy semakin bingung di buatnya.
“Iiissshhh…. Bagaimana aku bisa tahu?” rungut Amy sebal, bibir tipisnya tampak mengkerucut,membuat laki-laki itu gemas dan mencubit hidung Amy.
Kelebatan bayangan itu tiba-tiba muncul lagi, lagi-lagi bayangan seorang laki-laki tampan itu. Ia tampak sedang memeluknya erat
sesekali ia mencubit hidung Amy dan menggodanya, sinar matahari menghalangi pandangan Amy, ia penasaran seperti apa wajah laki-laki itu seutuhnya.
Setiap bayangan itu muncul selalu saja samar-samar yang bisa ia ingat hanya manik coklat terang, hidung mancung dan bibir
tipisnya.
Deg…. Jantung Amy seakan terhenti, di tatapnya lekat-lekat sosok di hadapannya. Laki-laki itu tampak sama namun berbeda, Manik coklat terang itu kini tampak redup tidak secerah dalam serpihan bayangannya, seakan ia sedang menyimpan kesedihan.
“Itu kamu,” ucap Amy perlahan.
__ADS_1
“Benarkah itu kamu?” Tanya Amy meyakinkan.
“Ka Dimas!”