
Amy memutar tubuh menghadap Arga, ia menatap suaminya lekat-lekat.
Arga tampak rapuh, manik hitamnya seakan terpendam kesedihan yang mendalam.
Entah apa yang sudah terjadi padanya, Amy benar-benar tidak mengerti. Apakah rasa penyesalan yang sudah membuatnya seperti ini?
“Aku mohon maafkan aku, kamu boleh membenciku ataupun memakiku. Tapi...tolong jangan pernah tinggalkan aku” pinta Arga memohon.
Arga kembali memeluk Amy dengan erat, ia sangat mencintai gadis itu hingga membuatnya seprti ini. Ia membuang jauh-jauh egonya demi membuat gadis ini tetap bertahan di sisinya.
“Asal kamu janji, kamu tidak akan pernah memaksakan kehendakmu lagi, jika ada masalah kita bicarakan baik-baik jangan hanya mengandalkan emosi sesaat”
Arga mengangguk senang, matanya berbinar-binar, ia sangat senang karena itu artinya Amy memaafkannya untuk kali ini.
Hari semakin larut, entah sudah berapa lama mereka berpelukan, keduanya larut dalam suasana, mereka kini sudah saling memaafkan. Arga maupun Amy ingin mencoba memperbaiki hubungan mereka dan mereka berjanji untuk perlahan-lahan saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
“Di sini dingin, bagaimana kalau kita pindah ke kamar?” ajak Arga.
Amy mengernyitkan kening, entah apa yang ia pikirkan, namun Arga meyakinkan ia tidak akan pernah menyentuh Amy tanpa seizinnya.
“Ya sudah kita kekamar” ajak Amy.
“Malam ini, apa boleh aku memelukmu?” Tanya Arga ragu-ragu saat mereka berjalan menuju kamar.
Amy menatap Arga sejenak, iapun meng iakan namun tidak lebih dari itu, hanya tidur berpelukan sepanjang malam.
Amy menghela nafas berat, ia menatap wajah tampan Arga dengan seksama, ia tampak sempurna dalam keadaan tertidur. Arga bagaikan pangeran tampan yang berkharisma.
Sejujurnya hatinya masih terasa sakit, ia belum sepenuhnya memaafkan Arga. Akan tetapi saat melihat Arga yang tampak rapuh, ia seolah merasakan kesakitannya.
‘Apa aku bisa memaafkanmu sepenuhnya?’ gumam Amy dalam hati,
‘Di saat ingatanku nanti kembali, dan seseorang yang ku cintai bukanlah kamu, apa kamu bisa melepaskanku?’ sambungnya.
Amy menghela nafas berat, saat membayangkan ia pergi meninggalkan Arga
ada bersitan menyakitkan di hatinya, mungkinkah ia memiliki perasaan terhadap laki-laki ini?
Bunyi notifikasi pesan beberapa kali berbunyi, perlahan Amy melepaskan pelukannya, tampaknya Arga melalui hari yang berat sehingga ia tertidur dengan lelap.
“Temui aku sekarang, di luar” Amy mengernyitkan kening pesan itu seakan memerintah, entah pesan dari siapa karena tidak ada nama pengirimnya.
“Penting!” pesannya, seakan mendesak.
Amy terdiam, ia menimbang-nimbang. Amy takut jika Arga mengetahuinya ia akan kembali marah dan menyakitinya.
“Ini tentang orang tuamu, 10 menit Aku tunggu!”
__ADS_1
Amy terdiam sejenak, ia teringat dengan pesan Bunda Aisyah, bahwa ada
seseorang yang ingin menemuinya dan memberitahukan tentang keluarganya.
‘Mungkinkah dia orangnya?’ gumam Amy.
Amy menyelinap keluar rumah melalui pintu belakang, penjagaan yang ketat membuatnya sulit untuk bergerak.
Beruntung penjaga lengah, halaman belakang rumah tidak ada penjaga satupun.
Amy menerobos semak belukar setinggi dadanya, walaupun ia takut akan adanya ular namun ia memberanikan diri dan terus mencari celah untuk bisa ia lewati.
Langit yang masih gelap menyulitkannya untuk melihat akses jalanan, sehingga beberapa kali ia terperosok dan terjatuh, ia pun merasakan di sekujur tubuhnya yang tak terlindungi baju terasa perih akibat goresan daun ilalang yang tajam.
Akhirnya ia sampai di tepian jalan tak jauh dari rumahnya, Amy menoleh ke arah kana jalanan tampak jalan setapak yang
menyambung kebelakang rumahnya. Amy mendengus kesal merasa dirinya tampak bodoh.
“Benar-benar bodoh” maki Amy jengkel.
Amy tersentak kaget, sebuah tangan menariknya, sontak tubuhnya menabrak dada orang itu. Amy menoleh melihat siapa yang sudah mengagetkannya, sesaat Amy tertegun, wajah tampan itu tampak terkekeh
melihat wajah Amy yang tampak syok.
“Tio…” pekik Amy jengkel.
Amy mengernyitkan kening, ia menatap Tio dengan tatapan serius, 'mumgkinkah orang itu Tio?' pikir Amy.
“Kamu… kamu yang kirim pesan tadi?” Tanya Amy ragu.
Tio mengernyit, ia tampak bingung. ia menggeleng dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu apa maksud Amy, sejenak Amy tampak terdiam, matanya bergerilya mencari-cari seseorang yang
mengirimkannya pesan. Beberapa kali Amy menghubungi orang itu namun tidak aktif.
“Aneh…” seru Amy, ia benar-benar berharap bisa bertemu orang itu namun kesempatan kali inipun gagal lagi.
“Ada apa?” Tanya Tio penasaran.
“Ada seseorang yang mengirim pesan, dia bilang kalau ia tahu tentang orang tuaku dan juga masalaluku” jawabnya, Amy menghela nafas berat tampak kecewa.
“Mau aku bantu cari?” Tanya Tio menawarkan diri.
“Tidak usah, aku harus segera pulang, mungkin lain kali dia akan menghubungiku lagi” seru Amy, iapun kembali kerumah menelusuri jalan setapak yang ia lihat tadi.
Amy mengendap-endap masuk ke dalam rumah, Arga tampak masih tertidur pulas dengan sangat perlahan ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena keadaannya saat ini benar-benar kotor akibat beberapa kali terperosok dan jatuh.
Amy meringis kesakitan, luka goresan-goresan di tubuhnya benar-benar
__ADS_1
menyakitkan. Perlahan ia masuk ke dalam bathub yang sudah terisi air hangat, tubuhnya bergetar karena perih di mana-mana.
“Ada apa denganmu?” Tanya Arga tiba-tiba.
Amy terlonjak kaget, ia sangat kesal untuk hari ini, sepagi ini jantungnya sudah 2x terkena serangan. Jika sekali lagi ada yang
mengagetkannya mungkin ia tidak akan selamat lagi.
“Haaaahhh……kamu itu ya, bikin kaget saja” rungut Amy kesal.
Arga tersenyum lembut, ia mendekati Amy untuk memastikan, karena sekujur tubuh Amy tampak goresan-goresan merah membuat Arga curiga apa yang sudah Amy lakukan sepagi ini.
Amy beringsut dengan spontan, ia
memeluk dadanya mencoba menutupi, keningnya tampak mengkerut dan bola
matanya membulat begitu menggemaskan.
Arga terkekeh melihat tingkah Amy, sentilanpun mendarat di kening cantiknya, membuat Amy menggerutu.
“Aku tidak akan berbuat apa-apa tenang saja, bukankah sudah aku bilang, aku tidak akan pernah menyentuhmu tanpa seizing kamu” ucap Arga.
Arga menarik tangan Amy lembut, goresan-goresan itu meninggalkan
bekas, di bagian tangan dan betis ami tampak memerah.
Arga mencoba untuk tidak marah, sebisa mungkin ia mengontrol emosinya.
Sekali lagi ia menanyakan Amy tentang goresan-goresa di tubuhnya. Sesaat Amy tampak ragu, ia tampak terdiam seakan menimbang-nimbang.
“Bukankah kita sudah berjanji, kita akan membicarakan baik-baik jika kita ada masalah” bujuk Arga dengan lembut.
“Hhhmmm… itu… sebenarnya tadi aku mendapat pesan, ada seseorang yang
ingin menemuiku, dia bilang kalau dia tahu tentang orang tuaku dan juga masa laluku”
Amy terdiam sesaat, tampak raut wajah Arga berubah seakan menahan emosi.
“Aku minta maaf, tadi kamu tertidur lelap, jadi aku menemuinya sendiri”
“Lalu apa kamu bertemu dengannya?”selidik Arga.
“Mmmm… tidak, susah payah aku keluar lewat belakang untuk menghindari penjaga ternyata dia tidak ada di tempat yang ia bilang” sungut Amy sebal ia menghela nafas berat.
“Ya sudah, kalau kamu benar-benar ingin mencari keluargamu, nanti aku akan menyuruh orang mencarinya. Apa boleh aku minta nomor telpon orang yang tadi kamu hendak temui?”
Amy mengangguk perlahan, kali ini ia ingin Mempercayai Arga, ia berharap Arga benar-benar bisa membantunya agar ia bisa bertemu dengan keluarganya.
__ADS_1