Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Pelarian


__ADS_3

Tubuh bibi Ann gemetar, begitupun dengan kedua pengawal yang mengawal


Amy. Mereka tampak kebingungan dan frustasi karena Amy menghilang


begitu saja. Jika sampai mereka tidak menemukan Amy, Arga pasti tidak akan membiarkan mereka hidup lagi.


Arga mendapatkan kabar tentang hilangnya Amy, ia begitu murka, ia mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari Amy sesegera mungkin, namun kabar baik masih saja belum ia dapati.


Amy terengah-engah berusaha mengontrol nafasnya, pelariannya dari kejaran para pengawal membuat jantungnya berdegup kencang, sangat menegangkan.


Amy terkekeh begitupun dengan Tio, keduanya tampak lega karena akhirnya mereka bisa lolos.


“Ini gila!” seru Amy, masih terengah-engah.


“Lalu apa rencana kita setelah ini?” sambungnya.


Tio menyunggingkan senyum, seolah ia memiliki rencana bagus untuk mereka berdua.


“Ikut aku, kamu pasti suka” seru Tio, ia menggandeng tangan Amy dan menuntunnya berjalan menelusuri sebuah hutan luas yang asri dan indah.


Amy mengernyit, ia sangat bingung kemana Tio akan membawanya, namun pemandangan hutan yang subur benar-benar indah dan damai.


Suara-suara burung berkicau, desiran angin yang meniup dedaunan begitu menenangkan.


“Hhhaaaaahhh… sejuknya, di sini benar-benar menenangkan. Aku suka sekali!”


Tio menatap Amy dengan lembut, di elusnya rambut Amy dengan penuh kasih sayang, membuat Amy merasakan ada desiran aneh di hatinya. Namun entah kenapa, setiap melihat manik coklat Tio, selalu tersirat kesedihan yang mendalam.


“Apa kamu tidak apa-apa?” Tanya Amy.


Tio mengangguk pelan seraya tersenyum, sangat tampan dan menawan membuat jantung Amy seketika berdegup.


Amy memalingkan wajah, ia takut Tio bisa melihat rona merah di pipinya yang terasa hangat. Amy merasa bingung dengan perasaannya, mungkinkah tanpa sadar ia menyukai Tio?


“Apa kamu lelah?” Tanya Tio, ia dapat melihat sedari tadi Amy melamun tanpa memperhatikan jalan, beruntung jalanan yang mereka lewati datar dengan rumput yang hanya semata kaki jika tidak Amy pastilah sudah terperosok dan terjatuh.


“Tidak sama sekali, aku menyukai tempat ini? Apa tujuan kita masih jauh?” Tanya Amy penasaran.


“Hhhmmm… sebentar lagi kita akan sampai”seru Tio, iapun kembali meraih

__ADS_1


tangan Amy dan menggandengnya lembut.


Tangan Tio begitu hangat, terasa nyaman. Amy merasakan seolah kejadian ini seakan dejavu, namun ia tidak yakin apakan di masa lalu mereka pernah bertemu? Karena saat seperti sekarang ini seolah pernah ia alami.


“Tio, apa kita pernah kesini? Apa kita pernah saling mengenal?”


Tio terdiam sejenak, genggaman tangannya terasa semakin erat, entah apa yang terjadi. Mungkinkah Amy sudah menanyakan hal yang salah sehingga membuat Tio tersinggung? Ataukah memang sebelumnya mereka pernah datang ke tempat itu?


“Hhmmm… ia” jawab Tio, perlahan. Suara Tio tampak tertahan, seakan ada yang ia sembunyikan.


“Apa kamu bisa menceritakan yang sebenarnya? Semenjak kita bertemu di


rumah sakit ada perasan yang mengganjal di hati, seolah kita pernah sangat dekat. Perasaan itu terasa akrab namun aku tidak bisa mengingat apapun”


Amy tetunduk, tiba-tiba ada kesedihan di dalam hatinya. Rasa sakit itu begitu nyata namun ia sangat kesal karena ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun.


“Namaku Dimas Prasetyo, dulu kamu memanggilku dengan sebutan Kak Dimas” serunya, Akhirnya ia bisa menggunakan nama yang dulu sering Amy sebut, Dimas tersenyum kecut seakan kenangan masa lalu itu menyimpan sebuah kepahitan.


“Jadi, kamu benar-benar Kak Dimas?” Tanya Amy, ia tampak tidak terkejut, karena dr awal ia sudah menduganya. Laki-laki tampan di hadapannya benar-benar Kak Dimasnya yang tidak bisa ia ingat.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku hilang ingatan? Kenapa Kak Dimas pergi dan baru kembali?” begitu banyak pertanyaan di benak Amy.


“Jangan terlalu di paksakan, perlahan saja. Dokter menyarankan agar kamu tidak memaksakan diri karena itu bisa mempengaruhi kesehatan kamu. Kita sudah sampai lihatlah…!” tunjuk Dimas.


Dimas terkekeh melihat tingkah Amy yang kekanak-kanakan, namun ia sangat menyukainya, Amy masih saja sama seperti di ingatannya begitu polos seperti anak kecil.


“Hati-hati nanti kamu terjatuh” seru Dimas saat Amy melompat kesana kemari.


“Kak Dimas sini... Kak sini…”


Deg… jantung Dimas seakan berdenyut, panggilan itu sudah lama sekali tidak ia dengar. Ia begitu merindukan masa-masa saat dulu ia bersama Amy, namun, saat ingatan Amy kembali apakah ia masih memiliki kesempatan itu.


“Kenapa diam saja?” Tanya Amy merasa bingung.


Bersitan bayangan tiba-tiba muncul kembali, Amy memekik kesakitan, kepalanya seakan di tarik-tarik.


 “Kak Dimas, sakit!” lirih Amy.


Dimas berlari saat melihat Amy meringis kesakitan, tubuhnya terhuyung-huyung, dengan segera ia memeluk tubuh Amy dan menggendongnya menjauh daru laut, ia menyandarkan Amy di sebuah pohon besar agar ia bisa bersandar sejenak.

__ADS_1


“Istirahatlah sebentar saja!”


Dimas memeluk Amy dengan lembut, tangannya mengusap rambut Amy. Ia


tidak tau harus bagaimana, ia begitu kuatir.


"Lebih baik kita segera pulang, aku akan mengantarmu ke Rumah Sakit!" seru Dimas, raut wajahnya tampak begitu kuatir.


"Jangan Ka, tetap seperti ini sebentar saja" pinta Amy.


Dimas berharap Amy bisa mengingat masa lalunya namun iapun berharap Amy tidak mengingat kejadian pahit yang sudah membuatnya menjadi seperti ini.


Hati Dimas terasa gundah, apapun


yang akan terjadi ia sangat takut Amy akan menjauhinya dan membuat Amy tersakiti lagi.


Amy mencoba memejamkan matanya, berharap rasa sakit itu perlahan hilang. Ia sangat tersiksa dengan penyakitnya ini, sakit yang tak tertahankan kadang membuatnya ingin menyerah saja.


Bersitan bayangan itu kini muncul lagi, suara tawa seakan menggema di telinga Amy, tapak kaki tampak jelas tercetak di pasir putih yang


begitu luas. Debur ombak seakan menari-nari mengelilingi seorang gadis yang yang meliuk-liuk mengikuti hembusan angin laut yang menerbangkan gaun putihnya.


“Ha…ha…ha… sini Kak,” panggilnya, memanggil seorang laki-laki yang


tengah berlari kecil menuju kearahnya.


Kedua insan itu menari  dan berlari mengikuti pasang surut air laut yang seakan menggoda mereka, tawa itu tampak riang penuh kebahagiaan.


Amy meringis, bayangan itu lama-lama memudar, ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka, namun manik coklat terang itu selalu muncul menatapnya penuh cinta namun mengandung kesediahan yang mendalam.


“Amy,” panggil Dimas tampak kuatir.


Amy membuka matanya perlahan, manik coklat itu menatapnya dengan tatapan cemas, entah kenapa hati Amy terasa sakit saat menatapnya. Ada apa sebenarnya? Mungkinkah kedua bayangan itu dirinya dan Kak Dimasnya? diakah laki-laki yang dulu ia cintai?


“Kak Dimas, seperti apakah kita dulu?” Tanya Amy.


Mata Amy berkaca-kaca, hatinya terasa sakit, namun entah kenapa! Dimas mengelus lembut pipi Amy, bibirnya bergetar, ia tidak tahu harus menjawab apa.


Namun ia meyakinkan dirinya sendiri, saat ini yang ia inginkan hanyalah Amy, ia ingin Amy menjadi miliknya lagi seperti dulu.

__ADS_1


Amy terpaku saat wajah tampan Dimas perlahan mendekati, hembusan nafasnya begitu hangat seakan membelai pipi Amy dengan lembut, jantungnya berdegup tak karuan hingga bibir mereka terpaut mencecap rasa masing-masing. Begitu hangat dan lembut, air mata Amy mengalir membasahi pipinya, ciuman itu terasa tak asing, ia begitu merindukannya.


Keduanya terhanyut dalam suasana, walaupun mereka tau apa yang mereka lakukan salah, namun keduanya terlena dalam gejolak rasa seakan ingin menumpahkan segala kerinduan yang selama ini hilang tertelan oleh asa.


__ADS_2