
Amy terdiam memikirkan nasibnya saat ini, sebelum ia bertemu dengan Arga hidupnya baik-baik saja seperti orang normal lainnya. Walaupun sederhana, tinggal di Panti namun sangat menyenangkan.
Tidak pernah terpikirkan nasibnya akan seperti saat ini, berkali-kali ia harus merasakan kesakitan.
Amy bahkan merasa yakin, kedepannya hidupnya akan semakin sulit. Ia masih ingat jelas, orang itu selama ini sudah memperhatikan kehidupannya sedari kecil hingga dewasa, dia bahkan mempunyai foto-foto dirinya yang sedang beraktifitas di luar maupun di dalam panti. Itu artinya ia bisa dengan leluasa keluar masuk Panti.
“Siapa sebenarnya dia dan apa motifnya?” pikir Amy, ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Kalau dia musuh Arga, tidak mungkin ia mendekatiku dari kecil hingga saat ini. Aku bahkan belum lama mengenal Arga, mungkinkah tujuan utamanya adalah aku? Tapi atas dasar apa?” sambungnya, Amy merasa kepalanya seakan mau meledak memikirkan hal yang terjadi.
Amy merasa selama ini ia tidak pernah menyinggung siapapun, namun bagaimana bisa sampai ada orang yang sangat membencinya bahkan ingin membunuhnya.
“Seharian ini kenapa aku tidak melihat Arga” gumam Amy. Ia baru menyadari seharian tidak melihat batang hidung Arga, bahkan Tomi yang biasa menjaganyapun tidak terlihat.
“Mungkinkah mereka sedang menemui pembunuh itu?” dada Amy terasa panas, ia benar-benar membenci pria jahat itu. Dia berpura-pura baik untuk menjebaknya dan Arga, pria itu benar-benar sudah keterlaluan.
Amy mendengus kesal, ingin sekali ia menemui pria jahat itu dan membalasnya. Namun apalah daya, jangankan balas dendam turun dari tempat tidur saja tubuhnya terasa di cabik-cabik. Luka yang ia dapat
masih basah, entah berapa lama akan membaik dan sembuh total. Ia menatap tubuhnya yang terbalut kain perban, sesekali Amy menghela nafas berat, bagaimana bisa ia sampai seperti ini.
Tok…tok…tok…
“Assalamualaikum… Amy…”
Amy menoleh kearah pintu, di lihatnya Bunda Aisyah berdiri mematung dengan tangannya menutup mulut menahan isak tangis. Bunda Aisyah tidak dapat percaya dengan apa yang ia lihat, putri kesayangannya sekali lagi harus mengalami kejadian na’as ini, bahkan yang tidak ia percayai justru yang melakukannya adalah ayahnya sendiri.
__ADS_1
“Amy…sayang…” Bunda Aisyah memeluk Amy perlahan, ia tidak ingin sampai menyakiti putrinya itu.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Maafkan Bunda sayang, ini salah Bunda” isaknya sambil mengelus kepala Amy dengan lembut.
“Ini bukan salah Bunda, ini salahku yang ceroboh dan percaya saja dengan orang asing, andai saja aku lebih waspada semua ini tidak akan terjadi. Tidak aka nada yang terluka bahkan gara-gara aku sampai ada
yang meninggal” mata Amy berkaca-kaca, perasaan bersalah itu muncul lagi. Walau bagaimanapun ini memang kesalahannya, karena dia banyak korban berjatuhan.
“Ssttt… sudah, kamu tidak bersalah. Kamu sudah cukup menderita, pria keji itu benar-benar jahat! Bunda tidak menyangka dia akan berbuat seperti ini, waktu dia menemui bunda di Panti dia tampak menyedihkan, dia memohon-mohon agar Bunda membawa kamu menemuinya namun ternyata niatnya begitu jahat! Semua omongannya hanyalah kebohongan belaka”.
“Semua sudah berakhir, Arga pasti akan menjebloskannya kepenjara, Bunda tidak usah khuatir” seru Amy menenangkan Bunda Aisyah.
“Namun… ada yang mengganjal di hatiku Bun, siapa dia sebenarnya? Bagaimana bisa dia begitu membenciku dan ingin membunuhku?” tanya Amy penasaran.
Bunda Aisyah terdiam menatap Amy nanar, ada keraguan di matanya.ia tidak tahu harus mulai dari mana, bagaimana bisa ia mengatakan kebenaran pahit itu.
“Sudah, kamu harus beristirahat. Bunda akan disini menemani kamu jadi kamu tidak usah khuatir”
Amy mengangguk perlahan, iapun mencoba beristirahat, rasa nyeri di tubuhnya sudah terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Bunda, sakit sekali” rengek Amy manja.
Dengan penuh kasih sayang Bunda Aisyah mengelus-elus putrinya itu perlahan, hingga akhirnya Amy tertidur pulas. Bunda Aisyah menatap Amy, selama ini ia sudah berusaha membesarkan Amy dengan sangat baik, namun nasib buruk tetap saja tak bisa lepas dari kehidupannya.
Kejadian dua tahun lalu sudah merenggut ingatanya, baginya itu merupakan Anugrah dari Tuhan agar Amy bisa menjalani kehidupannya dari awal lagi. Siapa sangka hal serupa menimpanya lagi, dan yang tidak habis pikir dalang semua ini justru ayah kandung Amy sendiri.
__ADS_1
Bunda Aisyah baru mengetahui, Anjar Wiyoso adalah ayah kandung Amy yang selama ini Amy cari, awalnya Bunda begitu bahagia akhirnya Amy bisa bertemu dengan keluarganya. Namun ia tidak menyangka, ayah yang Amy rindukan merupakan ******** keji, ia berharap pria itu membusuk di penjara sehingga ia tidak bisa menyakiti Amy lagi.
Bunda Aisyah ingin melindungi Amy bagaimanapun caranya, kalau bisa ia berharap sampai kapanpun Amy tidak pernah tahu sosok ayah kandungnya ini, sebisa
mungkin kebenaran itu harus ia tutupi.
Sore hari Arga datang dengan tampang kusutnya, ia tampak kacau berantakkan. Bunda Aisyah menghampiri Arga dan menanyakan kondisinya namun Arga hanya menggelengkan kepala perlahan.
“Ya sudah, sini kamu istirahat dulu. Amy masih tertidur, beberapa kali ia terbangun badannya pasti sangat kesakitan mungkin juga kejadian itu menyebabkan trauma untuknya. Hhaaaahh…bagaimana bisa selalu begini terus, kita harus lebih ketat lagi menjaganya” seru Bunda Aisyah.
“Ia… maaf ya Bunda, aku tidak bisa menjaga Amy dengan baik” jawab Arga singkat.
Arga terlihat murung ia masih tidak percaya dengan apa yang si Rubah Tua itu katakan, ia meyakinkan diri apapun itu pasti hanya akal bulus liciknya untuk mengecoh Arga saat ini.
Bagaimanapun Amy adalah istrinya, ia adalah miliknya karena Argalah yang sudah menjaganya sedari Amy bayi, iapun selalu ada di sisi Amy menjaganya secara
diam-diam memastikan Amy tumbuh dengan baik. Dari awal Amy memang sudah di takdirkan untuknya, sampai kapanpun ia akan selalu menjadi miliknya. Siapapun yang mencoba merenggut Amy darinya maka ia tidak akan segan-segan menyingkirkan orang itu dengan tangannya sendiri.
Bunda Aisyah begidik ngeri, sorot mata Arga begitu menakutkan. Entah apa yang terjadi pada anak itu, namun ia percaya Arga pasti bisa melindungi Amy seperti yang sudah ia lakukan selama ini. Ia percaya Arga pasti bisa membahagiakan Amy, Bunda Aisyah merasa bersalah karena ia pernah meragukan Arga gara-gara terhasut oleh mulut busuk Anjar
yang keji.
“Bunda pamit dulu, kamu jaga baik-baik Amy, ya. Besok Bunda datang lagi. Kamu juga harus banyak istirahat, kalau kamu juga sakit nanti bagaimana?” Bunda Aisyahpun pergi. Ia tidak mau mengganggu Arga dan Amy, mereka tampak kacau, mereka butuh waktu untuk beristirahat.
Arga mengantar Bunda Aisyah hingga pintu, ia meyakinkan Bunda kalau ia pasti akan menjaga Amy dengan baik, jika ada sesuatu ia akan segera menghubungi Bunda terlebih dahulu. Bagaimanapun juga Bunda Aisyah
__ADS_1
adalah walinya Amy semenjak ia kecil hingga saat ini.