Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Hampa


__ADS_3

“Apa kamu yakin, Amy benar-benar melihatku?” tanya Arga tanpa ekspresi.


Hatinya terasa gelisah, namun iapun merasa sedikit tenang, karena kejadian pagi tadi terlihat oleh Amy. Itulah yang ia inginkan, bukannya sengaja Arga ingin menyakti Amy, namun dengan begitu Amy pasti membencinya dan dengan mudah melupakannya, tentu akan sangat mudah bagi Amy  melanjutkan hidup sesuai yang ia harapkan.


“Iya, Boss. Saya sangat yakin, tepat di depan pintu lobi tak jauh dari Boss, dia melihatnya di dalam mobil. Seperti dugaan, ia bersama dengan Dimas.” Jelas Tomi.


“Hhhmmm… baguslah!” seru Arga. Ia terdiam memandang ke luar jendela, ini sudah keputusannya untuk melepas Amy, walaupun begitu menyakitkan baginya. Namun, keselamatan dan kebahagiaan Amy yang terpenting, selama ia masih di sisinya hidup Amy akan sangat sulit.


Tomi menghela nafas berat, ia menatap Arga dengan tatapan sedih, ia begitu prihatin dengan nasib Bossnya itu. Walaupun Arga terlihat dingin dan kejam, namun ia sebenarnya adalah orang yang sangat baik.


“Andai aku bisa membantumu, Boss. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, kehidupanmu begitu rumit. Di sisi lain ada ibumu, di sisi


lainnya ada istrimu. Siapapun pilihanmu, mereka berdua akan tersakiti begitupun dengan dirimu.”


Tomi meninggalkan Arga yang masih diam melamun menatap keluar jendela, walau ia begitu khuatir dengan Bossnya itu, namun ada banyak hal yang harus ia lakukan. Tomi tidak ingin menambah beban Arga, sebagai


asisten sekaligus sahabat dekatnya, ia ingin melakukan apapun untuk meringankan beban Arga walau hanya sedikit saja.


***


Malam sunyi seperti malam-malam sebelumnya, sama sekali tidak ada yang


spesial. Arga meneguk minuman beralkohol untuk menenangkan pikirannya sejenak, beberapa kali ponselnya berdering tak henti-hentiya, Arga merasa kesal, ingin sekali ia mematikan ponselnya namun ia


mengurungkan niat. Arga mentap layar ponsel, tatapannya begitu jijik saat melihat nama Hellen yang terus menghubunginya. Namun, saat ini ia tak boleh berbuat gegabah, kalau tidak semua yang ia rencanakan akan


hancur dalam seketika.


“Halo…” ucap Arga, sesaat setelah ia menerima panggilan telponnya.


“Sayang kamu dimana?” rengek seorang gadis dengan suara manja.


“Di kantor, ada apa?” ucap Arga datar.


“Apa kamu lembur? Mau aku temani di sana?” ucapnya manja dengan logat yang genit.


Arga menggerutu dalam hati, gadis bernama Hellen itu membuat kepalanya terasa pening. Suaranya yang di buat-buat membuat Arga jijik, apalagi saat dekat dengannya, ia selalu menunjukkan lekuk tubuhnya yang palsu


dengan genitnya.

__ADS_1


“Tidak usah, banyak yang harus aku kerjakan. Kamu tidurlah duluan, mungkin aku akan pulang larut” seru Arga, iapun menutup ponselnya karena Arga tahu Hellen pasti akan mendesakknya agar ia menyerah dan


membiarkan gadis itu menemaninya dan mengganggunya.


Tegukkan demi tegukkan minuman lolos di tenggorokan, sudah botol ke-3 namun Arga masih belum tumbang juga. Padahal ia berharap minuman ini bisa membuatnya tak sadarkan diri, dengan begitu ia bisa melewati


malam ini dengan penuh ketenangan.


“Boss… sudah cukup, jangan minum lagi!” seru Tomi khuatir.


“Tidak, biarkan aku mabuk untuk malam ini!”


“Setiap malam kamu ini sering minum-minum, tapi bukannya bisa beristirahat dengan tenang, kamu justru selalu membuat keributan.”


Tomi mengambil gelas di tangan Arga, iapun menjauhkan botol-botol minuman yang masih ada isinya.


“Kamu!... kamu cari mati!” teriak Arga kesal, namun beberapa detik kemudian Arga tumbang dan jatuh tersungkur.


“Haaaiiiiissshhh… Boss…” dengus Tomi, iapun berusaha membangukan Arga.


Tomi membopong Arga dan meletakkanya di tempat tidur, Tomi sengaja tidak membawa Arga pulang, karena ia tidak suka membawanya ketempat di mana terdapat rubah betina yang genit dan menjijikan seperti Hellen. Lagi pula, Arga pasti benar-benar akan membunuhnya jika sampai ia jatuh kepelukkan perempuan genit itu.


Bulir bening membasahi, kerinduannya terhadap gadis yang ia cintai sudah tak dapat ia bendung lagi, namun Arga belum bisa berbuat apa-apa. Saat Amy jauh darinya kemungkinan dalam bahaya sangat kecil sekali, namun saat Amy bersamanya , kapanpun dia bisa saja terluka bahkan kehilangan nyawa. Karena itulah ia harus menerima rasa sakit jauh dari orang yang sangat ia cintai, Arga berharap secepatnya ia bisa menyelesaikan masalah yang


ada, agar ia bisa datang dan menjemput Amy kembali kesisinya.


***


“Boss… kopimu”


Tomi meletakkan kopi panas di atas meja kerja Arga, seperti biasa Arga selalu menatap keluar jendela dengan tatapannya yang kosong.


“Sudah ada kabar?” tanya Arga tanpa menoleh kearah Tomi.


“Hhhmmm… sudah, saat ini mereka dalam perjalanan menuju Negara B, mungkin dalam beberapa jam lagi mereka sudah sampai. Untuk saat ini nona Amy baik-baik saja, Boss tidak usah khuatir. Namun, ada satu hal


yang akan membuat Boss repot!”


“Apa?” tanya Arga penasaran, ia menoleh kearah Tomi dengan raut wajah penasaran.

__ADS_1


“Nona Hellen ada di lobi, dan dia sedang menuju lift!” seru Tomi, di sudut bibir tipisnya tersungging senyum meledek, walau kasihan dengan Bossnya itu namun melihat tingkah Hellen yang menggelikan dan Arga yang tampak risih ada hiburan tersendiri baginya.


“Sial…”


Arga bergegas keluar, ia benar-benar tidak ingin bertemu makhluk jadi-jadian itu sepagi ini, “Awas jangan katakan aku ada di mana,


bilang saja aku sedang ada urusan di luar” serunya lalu iapun pergi menuju tangga exit.


“Ckckck… lihatlah dirimu saat ini boss… dulu semua orang menghindarimu namun saat ini kamulah yang menghindar  ffttt…” ledek Tomi.


Tok…tok…tok…


“Sayang… aku masuk ya…”


Hellena masuk dengan senyum sumringahnya, matanya bergerilya


mencari-cari di setiap sudut, namun di sana hanya ada Tomi yang sedang duduk dengan santainya sambil menyeruput kopi panasnya.


“Di mana Arga? Kamu ngapain ada di sini?” tanya Hellen dengan ketusnya.


“Apa nona Hellen memiliki masalah penglihatan? Tidakkah kamu lihat aku


sedang menyeruput kopi pagiku!” jawab Tomi tak kalah ketus.


“Ciiihhh… kamu hanya seorang asisten, tapi lihatlah dirimu yang kurang ajar ini! Jangan salahkan aku jika kamu di pecat! Lihat saja,


secepatnya aku akan menyuruh Arga untuk menyingkirkan kamu, biar tahu rasa ciiihhh…”


“Ciiihhh… kamu hanya seorang pengganti, bahkan Boss sama sekali tidak melirikmu! Tapi gayamu sudah seperti nyonya saja! Apa kamu tidak sadar diri? Tingkah lakumu sangat menjijikan, lihatlah lekuk tubuhmu yang palsu ffttt… kamu pikir Boss akan tergoda?” dengus Tomi kesal.


“Kamu!... dasar kurang ajar! Cepat atau lambat aku akan menjadi Nyonya Prasetyo dan saat waktunya tiba, aku benar-benar akan


menyingkirkanmu!” geram Hellen, iapun pergi meninggalkan ruang kerja Arga dengan membanting pintu.


“Haaahhh… benar-benar menjengkelkan, tapi akhirnya aku bisa menyingkirkan iblis betina itu hahahaaa…” seru Tomi tertawa senang.


“Kamu sangat keterlaluan, tapi aku suka!”


Arga terkekeh senang, melihat Hellen pergi dengan raut wajah yang gusar. Arga tidak menyangka asistennya itu bermulut pedas. Namun ia sangat berterimakasih setidaknya lewat mulut Tomi, apa yang menjadi unek-uneknya terwakilkan.

__ADS_1


__ADS_2