
Dimas menghela nafas berat, kenangan pahit itu masih tercetak jelas di ingatannya, walaupun kejadian itu sudah berlalu puluhan tahun lalu saat ia masih berusia 5 tahun. Namun, lembar demi lembar gambaran
bayangan pahit itu masih teringat dengan jelas.
Mengingat kejadian itu hatinya terasa sakit, terutama saat Naura memperlakukan ibunya seperti seekor anjing. Setiap kali Rendra pergi tugas ke Luar Kota, Naura mengambil kesempatan itu untuk mengurung ibunya di ruang bawah tanah.
Naura memberi makanan sisa yang sudah basi untuk menu makanan ibunnya setiap hari, tak hanya itu, kerap kali Naura memukuli Emelly ibu Dimas dan mengancam akan membunuh Dimas jika ia sampai mengadu kepada Rendra, karena itulah Rendra tidak pernah tahu akan kekejian Naura saat di belakangnya.
Begitupu para pelayan yang bekerja di sana, walaupun mereka sedih akan nasib majikannya akan tetapi mereka sama
halnya tak berdaya, karena Naura mengancam jika sampai ada yang membuka mulut, ia tidak akan segan-segan membunuh mereka beserta sanak saudaranya. Karena itulah kejadiaan naas yang di alami Emelly
tertutup rapat hingga tak bercela,
Semenjak Rendra berhubungan dengan Naura, ia begitu dingin terhadap Emelly dan Dimas. Bahkan dengan terang-terangan mereka mulai menunjukkan kemesraan di hadapan mereka, tentu saja Emelly begitu
sakit hati, namun ia tetap mencoba tegar, ia tidak pernah menunjukkan kebencian ataupun kesedihan di depan keduanya, karena Emelly takut Naura bisa melakukan apapun terhadap Dimas yang masih kecil yang kala itu. Ia
harus melindungi anak semata wayangnya, dari kekejian perempuan licik itu.
***
“Ka Dimas, apa kamu baik-baik saja?” tanya Amy tampak bingung.
Dimas menoleh kearah Amy, bayangan kelam kenangan buruknya seketika buyar. Sekali lagi Dimas menghela nafas berat, ia berusaha sebaik mungkin mengenyampingkan masalahnya, saat ini ia harus terlihat
baik-baik saja di depan Amy.
“Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja rumah ini begitu sepi tanpa adanya ibu, aku sangat merindukannya. Suatu saat nanti maukah kamu menemuinya? Dia sangat baik dan lembut, kamu pasti menyukainya.”
Amy mengangguk antusias, tentu saja ia ingin sekali menemui ibu kandung Dimas. Ia begitu penasaran, sosok seperti apa dia itu, kenapa Rendra bisa memilih Naura dan tega menghianati ibu kandung Dimas dan
mencampakannya.
__ADS_1
“Ya sudah, kamu istirahatlah, nanti setelah keadaanmu membaik aku akan mengajakmu berkeliling di sekitar rumah ini. Kamu pasti akan menyukai tempat ini.”
“Hhmmm… baiklah, aku sudah tidak sabar” seru Amy.
Dimas mengelus lembut rambut Amy, dengan perlahan ia membenarkan posisi bantal dan menyelimuti Amy agar tidak kedinginan. Amy menatap Dimas, akhir-akhir ini manik coklat terang itu selalu tampak redup. Binar mata cerah penuh kebahagiaan kini sudah jarang ia jumpai, entah apa yang sudah terjadi kepadanya, Amy merasa sosok di depannya kini bukanlah Dimas yang ia kenal dulu, seolah ia sedang memikul beban berat di pundaknya hingga membuatnya menjadi sosok yang berbeda.
“Ka Dimas,” seru Amy, ia meraih tangan Dimas saat ia hendak beranjak pergi.
“Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Dimas lembut.
Amy menggeleng, ia menggeggam erat tangan Dimas. Entah apa yang ada dalam dirinya, ia dengan spontan berinisiatif mencegah Dimas pergi, namun ia sendiri bingung dengan sikapnya itu.
“Ada apa?” tanya Dimas lagi.
“Hhmmm… tidak apa-apa, aku hanya bosan. Bisakah Ka Dimas mengajakku jalan sebentar saja? Udara di sini sepertinya bagus.”
Dimas mengangguk, iapun membantu Amy turun dari tempat tidur. Seketika Amy tercekat, spontan ia meraih selimut dan menutupi tubuhnya. Ia baru sadar baju yang ia kenakan sangat terbuka dan begitu tipis, hingga memperlihatkan lekuk tubuh mungilnya.
“Baiklah, aku tunggu kamu di luar, kamu bisa memakai baju yang ada di lemari sana!” tunjuk Dimas, kearah lemari sudut samping kamar mandi.
Dimas pergi meninggalkan Amy, sejujurnya jantungnya berdegup tak karuan, tubuh mungil Amy begitu sexy dengan balutan baju tidur tipis milik ibunya itu. Walau sedikit kepanjangan hingga menyapu lantai
namun tampak begitu pas hingga lekuk tubuhnya tercetak jelas dalam balutan gaun yang ia kenakan.
“Aaarrrghhh… singkirkan pikiran kotormu Dimas! Tenangkan dirimu, jangan sampai kamu melakukan hal gila yang akan membuat Amy membencimu!” geram Dimas kepada dirinya sendiri. Ia mengacak-acak rambutnya dan bergegas menjauhi pintu kamar Amy dengan langkah kaki yang panjang.
Amy memilah-milah baju yang tergantung rapi di lemari, ia mengernyitkan kening, di dalamnya hampir semua baju berwarna pink
soft. Ia pun baru menyadari seisi kamar semuanya berwarna senada, tempat tidur, gorden, sofa, hiasan dan furniture semuanya serba pink. ‘Benar-benar seperti kamar seorang gadis remaja’ gumam Amy.
“Baiklah, sepertinya ini pas untukku,” gumam Amy.
***
__ADS_1
Amy melangkah menelusuri lorong ruangan yang begitu luas, ia mengedarkan pandangan, rumah itu begitu nyaman, sejuk dan indah.
Lantai kayu yang kokoh dan mengkilat tampak terawat, di sepanjang sisinya di hiasi pot-pot bunga yang terlihat indah dan segar di
pandang mata. Amy tersenyum bahagia melihat keindahan di depan matanya, ia melangkahkan kaki sambil menikmati pemandangan di bdsepanjang lorong menuju halaman depan, dinding bilik dengan motif
bunga di anyam dengan sangat rapi.
Amy bisa menebak, rumah yang indah itu seperti sebuah villa mewah dengan desain tradisional yang sangat kental. Ia begitu kagum, pemilik rumah itu pasti sangat menjunjung tinggi tradisi, terlihat di dinding berjejer lukisan-lukisan kuno yang unik dan artistik bernuansakan kerajaan masa lalu. Walaupun Amy tidak faham betul, tapi dia bisa menebaknya karena lukisan itu masih
berwarna hitam putih dan lukisannya menggambarkan nuansa-suasana pada jaman dahulu.
“Indah bukan? Semua yang ada di rumah ini ibukulah yang mendesainnya. Dia begitu menyukai semua hal klasik” seru Dimas, tiba-tiba.
Sontak saja Amy terperanjat kaget, ia begitu fokus menatap sebuah lukisan sehingga ia tidak menyadari kehadiran Dimas di belakangnya.
“Ka Dimas! Menyebalkan” dengus Amy.
Dimas terkekeh, ia mengelus kepala Amy gemas melihat bibirnya yang mengerucut. Iapun membujuk Amy dan mengajaknya berkeliling melihat pemandangan sekitar yang begitu indah di kelilingi kebun bunga yang cantik dan berwarna-warni.
“Ini semua ibuku yang menanam, Bu Ratih dan suaminya Pak Haidar yang merawatnya semenjak ibuku sudah tidak di sini lagi.”
“Apa kamu sering pulang kesini?” tanya Amy penasaran.
“Hhmmm… sesekali” singkat Dimas.
Amy menghela nafas perlahan, ia tahu Dimas pasti sangat sedih harus berjauhan dengan ibunya. Namun melihat kondisi Naura yang menggila di saat terakhir kali mereka bertemu, Amy yakin Ibu kandung Dimas pasti
masih ada dan kemungkinan Dimas sengaja menyembunyikan ibunya agar Naura tidak lagi menyakitinya. Namun yang membuat Amy bingung, bukankah seharusnya Dimas tetap bungkam dan membiarkan Naura meyakini jika Ibunya itu sudah tiada? Bukankah setelah ini Naura tidak akan
tinggal diam dan akan mengerahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Emelly? Amy begitu bingung dengan cara pemikiran Dimas, entah apa yang sudah ia rencanakan, namun ia berharap semuanya akan cepat berakhir dengan baik, tak perduli siapapun itu ia hanya mengharapkan tak ada lagi yang tersakiti. Ia hanya menginginkan
kehidupan yang normal dan tentram, ia sudah begitu lelah hidup dalam ketakuttan hingga membuat hidupnya tidak tenang.
__ADS_1