Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Manik Hitam Yang Meredup


__ADS_3

Sosok cantik jelita tercetak jelas di balik kaca meja rias, gaun putih terjuntai hingga menyapu lantai, kalung berlian dengan motif sederhana tampak semakin mempercantik tampilannya.


"Ya ampun, cantiknya kamu Amy" Seru Bunda Aisyah terkagum-kagum.


"Siapapun yang melihatmu pasti terpesona" sambungnya, iapun memeluk putri kesayangannya yang selama ini ia rawat dengan ketulusan hatinya.


Amy tersenyum lembut dan memeluk balik Bunda Aisyah, sejujurnya saat ini ia ingin sekali menangis. Mata Amy mulai berkaca-kaca, sekuat tenaga ia menahannya karena sekali meluncur ia tidak akan pernah bisa menghentikannya dan akan menumpahkan seluruh air mata yang tersisa.


Tepat pukul 07.00 Pagi acara sudah di mulai, ini masih terlalu pagi bagi semua orang yang hadir. Namun tidak untuk Arga, ia begitu bersemangat. Semenjak subuh dia begitu sibuk memarahi siapapun yang lelet atau yang pekerjaanya tidak sesuai dengan keinginannya.


Bahkan beberapa kali ia keluar masuk kamar tempat Amy di rias, dengan teliti ia memperhatikan agar riasan Amy tampak sempurna seperti keinginannya.


Amy duduk tertunduk di kursi pengantin, sesekali ia tersenyum saat para undangan yang hadir menyalaminya dan memberi Do'a.


Amy benar-benar lelah, ingin sekali ia mengakhiri acara resepsi pernikahan ini.


Terlalu menyesakan untuknya, bahkan semakin banyak Do'a terucap membuat Amy semakin tidak nyaman.


Ini bukan keinginannya, ini bukanlah mimpinya, ingin rasanya Ia menangis dan berlari sejauh mungkin namun ia tidak mampu.


Ia tidak ingin melihat kesedihan di raut wajah Bunda Aisyah, demi Bunda, demi anak-anak panti dan demi Panti Asuhan Citra ia harus ikhlas, harus kuat, jika tidak laki-laki brengsek di sampingnya akan menghancurkan semuanya seperti ucapannya saat itu.


"Menikah denganku, atau kehilangan segalanya! kapanpun Aku mau, panti ini bisa Aku ratakan. Nasib Bunda Aisyah dan Anak-anak panti ada ditanganmu, jadi silahkan pilih. waktumu tidaklah banyak putuskan sekarang juga".


Amy menghela nafas berat, ia tidak boleh menyerah. Masa depan panti ada di tangan laki-laki itu, saat ini ia harus kuat, anggap saja ini balasan untuk Bunda Aisyah dan Orang-orang panti yang selama ini sudah tulus merawat dan menjaganya. Ia belum bisa membalas kebaikan mereka selama ini, maka dari itu dengan menikahi laki-laki keji inilah satu-satunya cara.


"Bukankah seharusnya kau bahagia!"


Amy tersentak dalam lamunannya, rupanya ia sedang melamun sedari tadi. Bisikan Arga di telinganya membuat amy kaget sekaligus malu, ini kali pertamanya ia bersentuhan dengan laki-laki itu, apa lagi saat Arga berbisik bibirnya yang hangat tepat mengenai telinganya yang sensitif.

__ADS_1


"Ffttt...." Arga terkekeh kecil melihat muka Amy menjadi merah merona.


"Lihatlah wajahmu tampak memerah, Apa aku mengenai bagian sensitifmu?" Bisik Arga dengan nada menggoda.


"Kau... A....Aku tidak mengerti apa maksudmu, menyebalkan" gerutu Amy kesal.


Lagi-lagi Arga terkekeh ia merasa senang melihat tingkah Amy yang seperti itu.


Hari mulai gelap, Amy benar-benar kelelahan. setelah selesai acara, Arga langsung membawanya kerumah baru mereka yang sudah Arga persiapkan.


Amy tampak bingung, ia baru sadar dia sama sekali tidak membawa apa-apa kerumah ini.


Dengan perlahan ia membuka pintu kamar mandi dan mengintip, untunglah Arga tidak ada di kamar saat itu.


Amy celingukan di dalam kamar mandi mencari-cari, matanya tertuju di lemari sudut, tampak ada beberapa jubah handuk yang tergantung rapi.


"Ya ampun, apa Aku yang terlalu kecil atau ukuran jubah ini yang kebesaran?" gumam Amy.


Namun Amy tidak punya pilihan, ia tidak mau tubuhnya terlihat oleh laki-laki yang sangat ia benci.


"Kenakan baju itu, lalu tidurlah"


Amy terperanjat kaget saat Arga muncul tiba-tiba dan melempar sebuah kemeja putih kearahnya.


"Suruhanku sedang mengambil barang-barangmu di panti, besok baru kamu bisa bereskan, terserah kamu mau menatanya di mana Aku tidak perduli. Kamar ini sekarang kamarmu jadi silahkan mau di apakan juga sesukamu"


Arga pergi berlalu dan membanting pintu kamar, Amy masih tertegun melihat tingkah Arga saat ini. Ada yang aneh dengannya, namun Amy tidak mengerti.


Sebelumnya Arga tampak periang walaupun tingkahnya semena-mena, namun Arga yang barusan seperti bukan dirinya.

__ADS_1


Dia tampak dingin, di manik matanya yang hitam kelam seolah menyimpan kepahitan yang mendalam.


Amy terduduk diam membisu di samping tempat tidur, ini adalah malam pernikahannya, malam di mana sekarang ini ia adalah seorang pengantin, seorang istri dari laki-laki yang tidak ia harapkan.


Namun tingkah Arga tadi seolah-olah pernikahan ini adalah kesalahannya.


'Bukankah ini keinginan laki-laki itu? bukankah Aku disini korbanya? lalu apa maksud dari sikapnya itu?' Gumam Amy jengkel, dengan segera ia mengenakan pakaian yang Arga beri, lalu ia naik ketempat tidur dan mematikan lampu.


Hari ini begitu berat, ia hanya butuh istirahat, ia tidak ingin memperdulikan apapun lagi.


Malam semakin larut, perlahan Arga masuk kedalam kamar. Amy tampak tidur dengan lelap, seharian berdiri di pelaminan tentu membuatnya sangat kelelahan.


Arga menatap sosok rapuh itu, manik mata Arga yang hitam kelam tampak mengandung kesedihan yang mendalam. ia benar-benar merasa menyesal karena sudah menyakiti Amy dan membuatnya menderita bahkan dari sebelum mereka bertemu.


Arga mengulurkan tangannya, ingin sekali ia membelai rambut gadi itu, namun ia tak sanggup.


Kini Amy ada di dekatnya, sudah menjadi miliknya, Namun Arga tidak sanggup menggapainya karena Dosa yang telah ia perbuat sudah terlalu besar dan tidak bisa terampuni.


Ia menikahi Amy karena ingin menebus segala kesalahannya, pernikahan yang di paksakan ini hanyalah satu-satunya cara agar ia bisa selalu ada di sisi Amy dan membayar semua kesalahannya.


Namun entah kenapa, justru apa yang ia lakukan selalu saja salah dan justru membuat Amy semakin membencinya.


Arga semakin takut jika kenyataan pahit itu terkuak, apakah Amy bisa memaafkannya, atau justru semakin membencinya dan menjauh!


'hhhmmmm....' Amy menggeliat, ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


Di pandangnya sekeliling, hanya kegelapan. Ia tidak menemukan siapapun di sana, Amy pun dengan perlahan menarik selimut dan melanjutkan tidurnya.


Arga mendengus kesal, kenapa juga ia harus bersembunyi. Sekalipun Amy melihatnya bukankah itu wajar, karena mereka kini sudah menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


Sekali lagi Arga mengamati wajah polos Amy, keningnya tampak berkerut 'Mungkinkah dia sedang mimpi buruk?' gumam Arga.


Dengan perlahan Arga meninggalkan kamar, saat ini ia butuh ketenangan hati, untuk sementara ini akan lebih baik jika mereka tidur terpisah di kamar masing-masing.


__ADS_2