Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Kegundahan Hati 1


__ADS_3

Sayup-sayup cuitan burung terdengar seakan membangunkan Amy dari tidur lelapnya, Amy mengernyitkan dahi, kepalanya masih terasa pening, dadanyapun terasa sesak karena tertindih sesuatu. Perlahan ia mengerjapkan mata, ternyata langit sudah tampak terang, iapun mencoba bangun namun tubuhnya sulit untuk digerakakkan karena tertahan.


Tubuh Amy bergetar, ia panik, dengan cepat ia berusaha mendorong tubuh kekar laki-laki yang menindihnya itu. Laki-laki itu sudah tidak bernyawa, tubuhnya dingin dan kaku.


Amy menjerit ketakutan, tangannya gemetar, tubuhnya lengket dan bau amis karena bersimbah darah. Rupanya ia sudah membunuh laki-laki itu dengan senjata di tangannya.


Dengan cepat ia keluar dari mobil, kakinya terasa lemas hingga ia terjatuh ketanah. Amy tampak syok tubuhnya gemetar, ia sangat ketakutan. iapun mengambil tas ranselnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.


Langkah Amy tampak sempoyongan, ia terus berlari dengan sekuat tenaga. Perasaannya tampak kacau, tubuhnya masih gemetar mengingat kenyataan ia sudah membunuh seseorang dengan tangannya sendiri.


“Aku pembunuh!...aku sudah membunuh orang…” gumam Amy, ia terus mengulang kata-katanya, Amy tampak syok dengan apa yang telah terjadi. Pikiranya saat ini benar-benar sangat kacau.


“Amy…” teriak seseorang memanggilnya.


Amy menoleh dengan tatapan kosong, raut wajahnya tampak linglung. Melihat kondisi Amy yang seperti itu orang yang memanggilnya bergegas menghampiri Amy dan memeriksa kondisinya.


“Amy, apa yang sudah terjadi? Apa kamu terluka, kenapa bajumu berlumuran darah? Amy, jawab aku! Amy!”


Amy menatap orang di depannya, matanya berkaca-kaca ia memeluk orang itu dan menangis tersedu-sedu.


“Ka Dimas, bagaimana ini!” isaknya.


“Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dimas bingung.


Amy masih terisak, dengan lembut Dimas mengelus punggung Amy menenangkan. dengan perlahan ia melepas pelukkan Amy dan memeriksa kondisi tubuhnya.


Dimas menghela nafas lega, untunglah tidak ada luka sama sekali, namun di bagian leher dan pelipis terdapat lebam yang nampak sudah membiru. Dimas mengelus lembut pelipis Amy, ia tampak menahan amarah karena gadis yang sangat ia cintai telah mengalami kejadian buruk untuk kesekian kalinya.


“Apa ini ulah dimas?” geramnya.


Amy menggelengkan kepala, wajahnya masih tampak syok berat, dengan perlahan Dimas menuntun Amy dan segera meninggalkan tempat itu.


***

__ADS_1


Langkah kaki mungil menuruni tangga satu-persatu, rumah itu tampak minimalis, rapi dan nyaman. Dinding dan furniture bernuansa putih mendominasi seisi rumah, warna warni bunga di pot-pot yang di


letakkan di setiap sudut dan meja membuatnya terlihat cantik dan indah.


Amy melangkah menuju ruang tamu, televisi menyala namun tak seorangpun yang menonton, ia meraih remot dan mematikanya, matanya mengedar meneliti kesetiap sudut ruangan. Rumah itu tampak sepi, namun seketika matanya terpaku menatap sebuah foto yang bersandar di atas meja. Amy tersenyum, dadanya terasa hangat. Foto kenang-kenangan dirinya dan Dimas masih terpajang rapi, ia bahkan tidak tahu apakan foto tentang mereka masih tersimpan di kamar Panti Asuhan, Amy tidak yakin.


Masa-masa itu begitu indah, hidupnya terasa sempurna, namun Amy tidak ingat bagaimana ia bisa berpisah dengan Dimas, kapan Dimas pergi keluar Negri dan bagaimana ia bisa kehilangan ingatannya. Semua itu masih bagai teka-teki dalam benaknya.


Amy berharap semua ingatan masa lalunya kembali pulih, ia sudah terlalu muak di permainkan oleh takdir dan juga orang-orang hingga membuatnya sulit untuk menjalani kehidupannya.


Bahkan saat ini Amy sudah tidak bisa mempercayai siapapun, termasuk dengan Dimas. Setelah ia pikir baik-baik, apa yang terjadi dengannya bukankah harusnya Dimas tahu dan melindunginya? Bukankah saat itu


ia masih kekasihnya, lalu bagaimana mungkin ia justru hanya berdiam diri seolah tidak terjadi apa-apa! Saat kemunculannyapun ia seolah tidak tahu apa yang sudah Amy lalui,


ia justru bersikap bagaikan seorang kekasih yang penuh cinta yang mendekap erat Amy walaupun ia tahu Amy sudah bukan lagi miliknya!


“Apa yang ada dalam kepala cantikmu itu? Aku perhatikan kamu melamun sedari tadi, bahkan kedatangankupun tidak membuatmu terusik!” seru Dimas, iapun memeluk tubuh mungil Amy dengan lembut.


“Tempat ini begitu indah,” Amy memandang keluar jendela menikmati pemandangan yang begitu menakjubkan.


“Hhmmm… ini rumah masa depan kita, dulu!”


Dimas terdiam, raut wajahnya meredup, manik coklatnya tampak sayu seakan mengandung kesedihan yang mendalam.


“Dulu?” tanya Amy.


“Hhmmm… sebelum tragedi itu terjadi… rumah ini merupakan rumah yang kita bangun bersama, cat dan furniture seisi rumah ini merupakan pilihanmu. Kamu sangat menyukai nuansa putih seperti yang kamu lihat, ini semua kamu sendiri yang mendekor" ucapnya.


Dimas menghela nafas berat, ia menenggelamkan wajahnya di pundak Amy, Dimas merasa segala hal yang tidak Amy ingat membuatnya menjadi bimbang. Ia berharap Amy bisa mengingat masa-masa indah bersamanya, namun iapun berharap Amy tidak bisa mengingat masa lalu, terutama kejadian disaat ia lebih memilih pergi ketimbang bertahan seperti yang Amy harapkan.


“Maaf, aku belum bisa mengingat” ucap Amy lirih.


“Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang kamu ada dalam dekapanku. Kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu seperti yang sudah kulakukkan dulu!”

__ADS_1


Amy mengernyitkan kening, mendengar ucapan dimas membuat dadanya sesak, di lubuk hatinya yang terdalam merasakan ketidak nyamanan, entah apa yang terjadi. Bukankah dulu ia sangat mencintai Dimas? Lalu kenapa saat ini ia justru merasa aneh dan ingin sekali ia menjauhi laki-lki itu.


“Ka Dimas, maaf. Aku lelah, bolehkah aku pergi ke kamar? Aku ingin beristirahat!”


“Tapi kamu belum makan, aku sudah memasak makanan kesukaanmu, makanlah


sedikit baru setelah itu kamu kembali beristirahat”


Amy mengangguk perlahan, iapun mengikuti langkah Dimas menuju ruang makan. Iga asam manis dan tumis sayuran memang makanan kesukaannya, dengan lahap Amy memakannya tanpa memperdulikan Dimas sedari tadi tampak memperhatikannya yang sedang makan dengan lahapnya.


“Uhuk..uhuk…” Amy terbatuk-batuk tersendak makanan.


“Makanya makan dengan perlahan, jika kamu merasa kurang aku akan memasakkannya lagi untukmu!” seru Dimas sambil menepuk lembut punggung Amy.


Amy memicingkan mata merasa sebal, dengan geram ia mencubit perut Dimas hingga ia meronta meminta ampun agar Amy melepasnya.


“Aku terbatuk bukan gara-gara makanannya kurang! Tapi kamu memperhatikanku makan benar-benar sangat mengganggu apa kamu tahu itu!” dengus Amy sebal.


Dimas terkekeh, iapun mengambilkan air minum dan menyerahkannya. dimas berharap saat-saat seperti ini bisa terus ia rasakan, ia


berjanji kepada dirinya sendiri, kedepannya ia akan menjaga Amy sebaik mungkin untuk menebus kesalahannya di masa lalu.


Walaupun ia sadar, kini dihati Amy sudah terisi oleh Arga, entah Amy sadar atau tidak,


namun Dimas bisa melihat dari ekspresi Amy saat dekat dengannya, seolah ia membatasi diri, tanpa sadar tubuhnya selalu memberikan penolakkan dan manik mata indahnya selalu menunjukkan ketidak nyamanan saat berdekatan dengannya.


“Kamu beristirahatlah, untuk saat ini kamu aman disini. Nanti setelah keadaanmu membaik baru kita pikirkan apa yang akan kita lakukan kedepannya. Saat ini Arga tidak mungkin tinggal diam, dia pasti mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencarimu, aku akan berusaha mencari solusi supaya kamu bisa lolos darinya!” ucap Dimas, namun di


dalam hatinya ia pasti akan menyembunyikan Amy, agar siapapun tidak ada yang bisa menemukannya.


Ia akan berusaha sebaik mungkin hingga Arga tidak memiliki celah sedikitpun, Amy adalah miliknya sampai kapanpun ia akan selalu menjadi miliknya, siapapun yang mencoba menyakiti Amy dan memisahkan mereka, ia tidak akan segan-segan menyingkirkan orang-orang itu.


***

__ADS_1


__ADS_2