
Naura begitu bersemangat menyiapkan menu makan siang, telpon Arga yang tiba-tiba membuatnya jengkel sekaligus bahagia.
Ia jengkel karena anak itu bisa-bisanya berbohong mengatas namakan dirinya, namun ia begitu bahagia karena menantunya yang cantik akan datang berkunjung.
“Apa hari ini ada yang spesial?” tanya Davian Prasetyo ayah Arga.
Naura tersenyum lembut mengangguk, ia memberitahu Davian, Amy dan Arga
akan datang berkunjung makan siang bersama mereka.
Davian merasa senang mendengarnya, apa lagi kehadiran Amy ke dalam keluarga mereka seolah memberi secercah harapan.
Berkat Amy kini mereka bisa merasakan anak mereka Arga seolah kembali ke kehidupannya.
Tragedy masa lalu membuat Arga hidup penuh tekanan, ia menjadi sosok pendiam dan dingin.
Mereka benar-benar putus asa dengan keadaan anaknya itu, bertahun-tahun ia mengasingkan diri menyibukan diri
dengan belajar dan bekerja seakan berambisi, namun mereka tahu arga seperti itu untuk mengalihkan perhatiannya karena merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.
Beruntung kini Arga bertemu dengan Amy, gadis polos baik hati yang membuat Arga lambat laun mulai terlihat seperti dulu kala.
“Sayang, dulu Arga sangat menyukai Sup Kepiting, bagaimana kalau kamu
masak itu juga” usul Davian.
Naura mengangguk setuju, Arga selalu meminta di buatkan Sup kepting di
setiap waktu makan seolah itu adalah makanan yang wajib ada di meja makan, dengan penuh kehangatan kasih sayang seorang Ibu, Naura memasak berbagai macam makanan kesukaan Arga.
“Assalamualaikum…..” seseorang mengucapkan salam, Davian pergi untuk
melihat siapa yang datang.
“Oh…. Sini masuk…. Masuk….” Sambut Davian.
“Sayang…. Amy dan Arga sudah datang” panggilnya sesaat setelah mempersilahkan Arga dan Amy masuk.
Naura menyambut mereka dengan pelukan hangat, Amy menyerahkan bingkisan untuk Ibu Mertuanya.
Merekapun pergi ke dapur menyiapkan dan menata menu makan siang mereka.
Amy memperhatikan keharmonisan orangtua Arga, walaupun usia mereka sudah paruh baya namun cinta mereka masih tampak seperti masa-masa muda, sangat romantis. Jauh berbeda dengan hubungannya yang tidak jelas, mereka menjalin hubungan yang benar-benar aneh. Mereka menjalin sebuah Pernikahan yang di paksakan, dan merekapun saling membenci satu sama lain, kemesraan yang mereka tunjukkan di depan orang-orang
__ADS_1
hanyalah kedok belaka.
Arga membawa Amy ke kamarnya, Naura meminta mereka untuk tinggal selama beberapa hari di sana, Walaupun Arga tampak engan namun akhirnya ia menyetujuinya.
“Orangtuamu sangat baik” seru Amy sesaat setelah ia sampai di kamar Arga.
“Hmmm…..” seru Arga seolah tak tertarik.
Amy mendengus kesal dengan sikap Arga, ia benar-benar menjengkelkan.
Sementara saat di depan orang tuanya ia sangat manis membuat Amy merasa muak.
“Menyebalkan…” dengus Amy kesal.
Amy merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, nuansa kamar Arga benar-benar sesuai karakternya yang dingin dan kaku.
Tatanan kamar Arga mendominasi warna-warna gelap, hitam dan abu-abu tua, namun penataannya sangat rapi dan elegant.
“Seleramu bagus juga, cocok dengan karaktermu” seru Amy, iapun bangun
dan berjalan memperhatikan setiap sudut yang menurutnya sangat menarik.
Amy berjalan menuju balkon, ia memandang ke sekeliling tampak indah dan asri, tak jauh dari taman terdapat sebuah kolam ikan yang lumayan luas ditata secantik mungkin, iringan-iringan ikan berwarna cerah
merah dan putih membuat Amy berdecak kagum.
Rumah orang tua Arga tidak sebesar rumah yang mereka tinggali, di sini sangat nyaman dan suasananya benar-benar hangat. Tidak seperti rumah Arga yang sangat luas namun suasananya benar-benar dingin dan menyesakkan.
Hari menjelang malam, ia duduk di sofa kamar sambil menonton tv, beberapa kali Amy melirik kearah pintu namun Arga belum juga muncul.
Ia pamit untuk menemui Tomi di kantor namun sudah selarut ini masih belum pulang juga.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 malam, Amy masih belum merasakan ngantuk, iapun berjalan kearah balkon mencari angin segar. Malam hari suasana tampak sepi, apa lagi rumah orang tua Arga yang jauh dari
komplek peruhan membuat suasana malam agak menyeramkan. Sejauh mata memandang, rumah itu di kelilingi sebuah taman dan pepohonan yang
rindang.
Tatapan Amy terpaku pada sosok yang sedang duduk di kursi samping kolam, ternyata Arga sudah pulang namun ia tampak terdiam dengan tatapan kosong, beberapa kali ia menghela nafas beras dan mengusap
mukanya seakan ia telah mengalami hal yang sangat berat.
Amy turun hendak menghampiri Arga, sesampainya di sana langkahnya
__ADS_1
terhenti, Arga sedang berbicara dengan seseorang di telephone.
Arga terkekeh kesal, raut wajahnya tampak menyeramkan membuat Amy mengurungkan niatnya untuk menghampiri Arga.
“Apa kau sudah benar-benar yakin? Si Rubah Tua itu ada hubungannya dengan Amy?” Tanya Arga dengan suara baritonnya yang menakutkan.
Amy diam terpaku, Arga menyebut-nyebut namanya dan Raut muka Arga tampak berubah, seseorang di sebrang sana seolah memberikan kabar buruk membuat Arga seketika diam membisu.
“Sungguh luar biasa” dengus Arga.
“Bagaimana bisa ada orang yang begitu berengsek, dasar ******** gila” geram Arga tampak marah.
Amy mundur perlahan, saat ini Arga sedang tidak bisa ia hadapi harena suasana hatinya sedang buruk. Ia tidak mau mengambil resiko, walaupun Arga tidak mungkin menyakitinya tetap saja ia harus berhati-hati.
Tangan Ami di tarik paksa membuat jantungnya seakan terhenti seketika,
ia benar-benar kaget di buatnya. Arga menatapnya dalam membuat tubuh
Ami bergetar ketakutan.
Kening Arga tampak mengkerut melihat reaksi Amy yang seperti itu, Arga menghela nafas berat seakan hidupnya terhimpit beban yang sangat berat.
Arga menarik tubuh mungil Amy kedalam dekapannya, jantung Amy semakin
berdetak tak karuan, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya laki-laki ini lakukan ia benar-benar sangat bingung dengan sikap Arga.
“Sebentar saja, hanya sebentar” ucapnya lirih.
Amy diam tak berkutik, tanpa di sangka tubuhnya tidak menolak dan melakukan perlawanan, ada sebuah perasaan hangat di dalam hatinya, tubuh Arga terasa hangat dan nyaman. Lama mereka berpelukan, tak ada
kata yang terucap, keduanya diam membisu tenggelam dalam keheningan.
“Sudah malam kamu masuklah” seru Arga tiba-tiba.
“Aahh… Emm… ia… kamu juga” jawab Amy merasa canggung.
Keduanya masuk ke dalam rumah, merekapun tidur di tempat tidur yang sama saling membelakangi, suasana saat itu sangat canggung membuat Amy tidak bisa memejamkan matanya.
Dalam benak Amy begitu banyak pertanyaan, sikap Arga tadi benar-benar aneh. Jantung Amy kembali berdegup, pipinya tampak menghangat dan memerah mengingat saat Arga memeluknya.
Seketika ia teringat kembali, entah kenapa perasaan saat Arga memeluknya terasa seperti dejavu, seolah kejadian itu pernah ia alami.
Namun Amy merasa bingung seingatnya ia tidak pernah seintim itu dekat dengan seseorang apa lagi dengan lain jenis. Namun ia benar-benar yakin seakan kejadian itu pernah dia alami secara nyata bukan hanya
__ADS_1
bayangan ataupun sebuah mimpi. Namun dengan siapa dan kapan? Ia bahkan
tidak dapat mengingatnya.