Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Kegundahan Hati 2


__ADS_3

Hari semakin larut, Arga masih terus mencari keberadaan Amy yang entah berada dimana. Setap detik ia terus menelphone para bawahannya yang ikut mencari keseluruh penjuru kota, namun tetap saja masih belum ada kabar baik yang ia terima.


Amy seakan hilang di telan bumi, orang yang


membawanya kabur sudah berhasil teridentifikasi dan keberadaannyapun sudah di temukan. Namun Amy hilang tanpa jejak, justru orang yang membawanya kabur sudah terbujur kaku dengan luka tembak di bagian dadanya. Entah apa yang sebenarnya


terjadi, mungkinkah Amy yang membunuhnya ataukah ada seseorang yang membantunya! Arga benar-benar tidak tahu. Namun untuk menghindari masalah, ia sudah menyingkirkan mayat dan mobilnya, agar tidak ada bukti yang bisa menjerumuskan Amy kedalam masalah.


“Boss… sebaiknya istirahat dulu, boss sudah dari semalam belum beristirahat! Biar kami saja yang mencari, nanti jika ada kabar, kami


pasti akan segera memberitahukannya!”


Tomi tampak khuatir dengan bossnya itu, raut wajahnya tampak kusut, lingkar matanya terlihat menghitam. ia benar-benar merasa kasihan, puluhan tahun Arga berusaha menjaga Amy, dengan tulus dan mencintai gadis itu, namun pada akhirnya gadis itu justru pergi meninggalkannya dengan


kebencian yang tak mendasar.


Kesalah pahaman sudah memenuhi hati gadis itu, sehingga ia tidak pernah tahu kebenaran yang terjadi seperti apa.


Namun Tomi tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Amy, karena sikap Arga


yang dingin dan kaku membuat Amy menjadi semakin salah sangka terhadapnya.


“Boss…”


“Diam!...” bentak Arga,


“Terus cari, jangan sampai ada yang terlewat! Dan kamu, bukankah kamu harusnya mencarinya ke setiap sudut! Kamu bisa meretas semua CCTV di seluruh tempat, siapa tahu keberadaannya bisa terlacak! Turun, sekarang juga kamu pergi dan jangan menghubungiku jika belum ada kabar


tentang Amy. Keluar, sekarang!”


Sang supir menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi di pinggir kota, dengan cepat Tomi turun dari mobil sebelum Arga benar-benar melemparnya keluar. Tomi menghela nafas berat, ia tampak bingung apa


yang harus ia perbuat sesaat setelah mobil Arga pergi menjauh.


Tomi celingukan, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, suasana tampak sepi, tak ada satupun kendaraan yang lewat. Dengan segera ia menelpon seseorang untuk segera menjemputnya, suasana di tempat itu

__ADS_1


tampak menyeramkan, sunyi senyap bagaikan tak ada kehidupan.


“Haiiisshh… tidak sekalian saja tinggalkan aku di tengah-tengah kuburan!” dengus Tomi geram.


Ia melangkahkan kaki mencari tempat yang lebih terang dan terbuka, walaupun ia bukan tipe penakut namun ada saat-saat dimana nyalinya ciut seperti saat ini.


Tomi tampak tak sabaran menunggu, sudah hampir satu jam ia mondar-mandir namun belum juga ada yang menjemput, beberapa kali ia menelpon namun tidak ada satupun yang mengangkat.


“Aaarrrggghh… apa kalian serius! Dasar sial! Kalian pasti sengaja, brengsek!” maki Tomi kesal.


“Ssssttt…”


Samar-samar terdengar suara desissan di belakang Tomi, refleks ia menoleh ke belakang namun sepi, tak ada siapapun di sana.


Angin kencang menderu-deru merpa pepohonan, di sepanjang jalan yang tampak hening dan mencekam. Riuh dedaunan yang tertiup melambai-lambai menambah suasana semakin menakutkan, di tambah udara yang dingin membuat tubuh Tomi menggigil kedinginan, bulu kuduknya terasa merinding seakan ada yang sengaja meniup-niup tengkuknya.


“Aaarrggghhh… ayolah!” teriak Tomi, ia benar-benar sudah ketakutan setengah mati.


Tin…tin…tin…


“Apa kau cari mati!” bentak Tomi jengkel.


Bukan apa-apa, suasana malam ini benar-benar menakutkan, menunggu


sendirian di tempat menyeramkan itu seakan waktu berjalan dengan sangat lamban, setiap detik yang ia lalui benar-benar membuat


jantungnya berdegup tak karuan.


“Sorry…sorry… hahahaaa… apa kau di tendang si Boss? bagaimana bisa terdampar di tempat seperti ini!” serunya sambil terkekeh mengejek.


Tomi masuk dan membanting pintu mobil dengan sangat kasar, saat ini ia benar-benar sebal karena harus tertimpa sial dan mengalami ketakutan yang pasti akan ia ingat terus seumur hidupnya.


“Sial!” dengus Tomi dalam hati.


“Sudah jalan! Tungu apa lagi? Apa kamu mau nanti Boss marah besar karena kamu sudah membuang-buang waktu!” perintah Tomi, suasana hatinya saat ini sangat buruk, ingin sekali ia menghajar seseorang untuk melampiaskan emosi. Harga dirinya seakan terluka, karena ini kali pertamanya sebegitu takut hingga tampak seperti pengecut.

__ADS_1


***


Tomi tampak fokus menatap setiap layar yang terpampang di hadapannya, ia bersama beberapa ahli memperhatikan setiap gambar yang tertangkap kamera dengan teliti. Mereka menatap layar dengan seriusnya, tak sedetikpun mereka biarkan sesuatu lolos dari pandangan mereka.


Beberapa jam sudah mereka lalui, wajah penat dan mata lelah namun tak satupun dari mereka mundur dan menyerah, mereka benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan sekecil apapun gambaran tentang keberadaan Amy, namun sosok Amy benar-benar raib, tak satupun kamera pengawas dapat menangkap keberadaanya.


“Apa sudah ada hasil dari pekerjaan kalian?”


Suara berat Arga terdengar hingga mengagetkan orang-orang seisi ruangan, wajah lelah mereka tampak semakin pucat, satu sama lain saling menatap tak ada satupun yang berani bersuara.


“Apa kalian bisu! Hah…!” bentak Arga geram.


“Boss… sabar dulu sabar, kami sudah berusaha keras, apa bos tidak melihat mereka sudah lelah menatap layar namun satupun tidak ada yang menangkap keberadaan Amy saat ini. Kami pasti akan berusaha keras


mencarinya jadi Boss jangan marah dulu. Lebih baik Boss keruanganmu dulu, istirahat, nanti jika ada kabar apapun aku akan segera


memberitahukannya, ok!”


Tomi melambaikan tangan memberi isyarat agar orang-orang di ruangan itu kembali bekerja, sementara dirinya membujuk Arga agar pergi keruangannya, karena jika Arga masih ada di ruangan itu bukannya mereka mendapatkan hasil, yang ada semua orang menjadi tertekan dan tidak fokus.


“Pastikan jangan sampai ada yang terlewat, sangat tidak mungkin ia bisa lolos dari pengawasan! Ada jutaan kamera cctv di kota ini, di setiap sudut jalan dan gedung pasti ada kamera cctv, bagaimana mungkin ia bisa lolos tanpa jejak!”


Arga mengernyitkan dahi, kepalanya terasa pening, iapun tampak oleng hingga hampir terjatuh. Dengan sigap Tomi dan Arman membantu membawa Arga keruangannya dan membantunya duduk di sofa agar ia bisa beristirahat sejenak.


“Ambilkan kotak obat di laci bawah di sudut itu!” tunjuk Tomi mengarah kesebuah lemari tak jauh dari meja kerja Arga, dengan sigap Arman mengambilnya dan menyerahkannya kepada Tomi.


“Ambilkan air!” sambungnya.


“Boss, minum obat dulu. Setelah itu istirahatlah sejenak, biarkan aku dan yang lainnya bekerja dengan fokus, agar kami bisa segera menemukan Amy.”


Arga mengangguk, ia benar-benar butuh istirahat sebentar saja, setelah itu ia harus segera mencari Amy kembali. Sudah seharian penuh Amy hilang, namun keberadaannya masih saja belum di temukan. Ia benar-benar khuatir, apakah Amy baik-baik saja ataukah ia terluka, karena tempat dimana di temukannya mobil yang membawa Amy pergi hanya


ada mayat laki-laki yang sudah membantunya kabur, namun keberadaan Amy justru tak ada informasi sedikitpun .


Entah ia kemana, Amy menghilang begitu saja, membuat Arga frustasi dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2