
Suasana begitu hening, pelayan yang biasanya lalu lalang kini tak ada satupun yang menunjukan batang hidungnya.
Amy menelusuri lorong-lorong rumah yang seakan tak berujung.
"Seluas apa sih rumah ini? Arga tinggal di rumah sebesar ini sendiri tanpa Orang tua ataupun Saudara, Cckkk.... pantas saja sikapnya sangat dingin, mungkin dia kesepian Fftttt....." Ejek Amy.
"Ya ampuunn... Rumah ini sangat menakutkan" gumam Amy, merasa ngeri.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sepanjang lorong terdapat jendela-jendela kaca yang berukuran besar dengan tiang-tiang beton yang di ukir sangat artistik berjejer menjulang tinggi, ruangan demi ruangan di dekor bernuansa Eropa Klasik yang terlihat mewah dan megah.
Namun rumah sebesar ini begitu mengerikan, keheningannya seolah menelan aura positif yang meninggalkan aura negatif yang sangat pekat.
"Issshhh.... Aku malah membayangkan jangan-jangan Arga keturunan Drakula" gumam Amy bergidik ngeri.
"Tapi apa ia di jaman sekarang ada Drakula?" sambung Amy berbicara pada dirinya sendiri.
"Eehhemmm...."
Amy terperanjat kaget, jantungnya berdetak tak karuan saking kagetnya.
"Kamu!...." teriak Amy kesal, Arga terkekeh melihat raut wajah Amy yang ketakutan.
Mata bulat Amy tampak seperti bola pingpong, bibir tipisnya mengkerut saat cemberut membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Amy terkesiap melihat tawa Arga yang begitu lepas, inilah sosok yang pernah Amy lihat sebelum mereka menikah, Amy berfikir tawa ini sudah hilang setelah mereka menikah.
'Syukurlah mungkin suasana hatinya sudah membaik' gumam Amy dalam hati.
Belum habis kekaguman Amy, tiba-tiba raut wajah Arga kembali dingin, mata hitamnya yang kelam menatapnya sinis membuat Amy jadi tak nyaman.
"A... Aku..... aku kekamar dulu" gagap Amy, iapun dengan cepat melangkah pergi.
Belum sempat ia berlari tangan Amy dengan kasar ditarik hingga Amy jatuh dalam pelukan Arga.
Jantung Amy berdetak kencang, mata bulatnya melebar dan bibirnya terasa kaku.
Arga menatap Amy dengan tatapan pilu dan Amy menatap mata Arga lekat-lekat, ia seolah tenggelam dalam kelamnya manik hitam itu.
__ADS_1
Entah kenapa hati Amy merasakan ada kepahitan di dalamnya, sebuah keputusasaan dan penderitaan yang sangat mendalam.
"Malam ini hibur Aku, atau kamu akan tau akibatnya kalau mengecewakanku!" seru Arga dengan senyuman sinisnya.
Iapun melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Amy yang masih terpaku.
Amy mengerjapkan matanya, ia benar-benar terhipnotis oleh sikap Arga yang bagaikan Angin yang selalu berubah haluan.
"Waaahhh.... benar-benar manusia yang satu ini, Aaaahhh bukan, dia bukan manusia tapi Iblis" jengkel Amy sangat geram.
"Tadi itu apa maksudnya haaahhh?.... dasar brengsek menyebalkan, sekejap manis, sekejap sadis, Aku benar-benar tidak mengerti dengan watak brengseknya... haiiiissss.... sebaaaallll" gerutu Amy jengkel.
"Tunggu dulu....Dia minta di hibur? Aaahhhh jangan-jangan?" muka Amy seketika memerah, ia menepuk-nepuk mukanya yang justru membuatnya semakin merah padam seperti kepiting rebus.
"Haiiissss di saat seperti ini pikiran macam apa ini"
Amy berlari menuju kamarnya, ia tidak mau memikirkan yang tidak-tidak. Sangat memalukan baginya karena ia memikirkan hal yang tidak senonoh padahal dia sebelumnya tidak pernah dekat dengan siapapun dan menjalin hubungan, namun entah kenapa pikiran jorok malah justru terlintas di kepala cantiknya.
"Iiiissshhhh.... ini gara-gara Irma, tadi pagi dia bertanya hal yang tidak-tidak, Aku jadi memikirkan hal itu saat berdekatan dengan laki-laki menyebalkan itu"
Irma adalah teman Amy di Panti, dia satu-satunya sahabat yang paling dekat dengan Amy.
Sampai-sampai Irma di hadiahi jeweran oleh Bunda Aisyah.
Sementara raut wajah Amy tampak kecewa karena mengingat sikap Arga semalam. namun saat melihat Bunda Aisyah ia langsung berekting seolah ia benar-benar bahagia.
Amy mondar-mandir merasa tak nyaman, jantungnya tak henti-hentinya berdebar.
Ia benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan, apakah Arga akan melakukan hubungan itu atau hal yang lain? namun Amy bingung apa yang di maksud harus menyenangkannya.
Suara decit pintu terbuka, Amy terperanjat, Ia masih belum siap dengan apa yang nanti Arga inginkan.
Pikiran Amy saat ini benar-benar sangat kacau, raut wajahnya tampak begitu jelas. Arga menatap Amy dengan tatapan dinginnya membuat Amy semakin tidak nyaman.
"Suasana hatiku sedang tidak baik, sudah menemukan cara?" tanya Arga dengan suara baritonnya.
"Itu....itu....Aku.... Eeemmmm.... Aku...."
__ADS_1
"Cckkkk.... sungguh menjengkelkan" dengus Arga, Ia duduk di tepian tempat tidur menatap Amy dari atas hingga bawah.
"Apa aku harus...."
"Pijat!...." sergah Amy dengan spontan.
"Apa?..." tanya Arga heran.
"Aku....Aku bisa pijat!" jawab Amy sambil cengengesan kaku, ia takut laki-laki di depannya akan mengatakan hal yang tidak ingin ia dengar.
Pijat refleksi memang keahliannya saat di Panti, Bunda Aisyah dan teman-temannya selalu meminta Amy memijatnya karena pijatan Amy sangat menenangkan dan membuat tubuh jadi nyaman dan segar.
"Benar-benar Ajaib" gumam Arga.
Saat wanita lain menawarkan tubuhnya untuk menyenangkan Arga yang justru membuatnya jijik, namun perempuan di hadapannya hanya menawarkan sebuah pijatan!.
Arga melangkah mendekati Amy yang masih mematung, tubuh tinggi Arga tampak mendominasi membuat Amy menjadi ciut dan gugup.
"Aa....Aku... bisa membuat kamu nyaman, Aku bisa pijat tubuh kamu agar relax" gugup Amy menundukan muka tanpa menatap Arga.
"Aku ingin kamu menyenangkanku dengan cara lain" seru Arga menatap Amy tajam.
Amy menoleh, secepat kilat ia menunduk menyembunyikan pipinya yang terasa panas dan memerah.
"Aku jamin kamu pasti suka dengan pijatanku, jika...ji...jika...nanti.... jika nanti kamu tidak puas terserah Kamu mau lakukan apapun" Amy tergagap, suaranya nyaris tidak terdengar saat mengatakan pernyataan terakhirnya, ia benar-benar sangat bodon entah kenapa kata-kata itu terlontar dari mulutnya.
"Apa? Aku tidak mendengar perkataanmu dengan jelas" seru Arga berpura-pura, padahal ia dengan sangat jelas mendengarnya.
Namun melihat kepolosan Amy membuatnya tergoda untuk mengerjai gadis itu.
"Aa...aaaahhh....i...itu.... Aku....." Amy terhenti. Ia dapat menebak, Arga pasti sedang mengerjainya.
"Terserah kalau kamu tidak mendengar ya sudah" kesal Amy.
Arga menatap Amy dengan tajam, Ia sendiri tidak tahu ada apa dengannya, terkadang ia ingin sekali melihat Amy yang tersipu malu dan tertawa bersamanya, akan tetapi bayangan tragedi itu selalu muncul.
Membuatnya marah pada dirinya sendiri dan membuat Amy salah faham seakan-akan Arga begitu membencinya.
__ADS_1
Padahal kebenarannya tidaklah seperti itu.
Arga membenci dirinya sendiri dan merasa bersalah, namun ia tidak ingin Amy tahu dan membencinya.