Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Kunci Rahasia Masalalu


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara yang memanggil, suara itu semakin lama semakin tak terdengar dan kemudian menghilang.


Amy mengedarkan pandangannya mencari-cari, keningnya mengkerut, ia tidak tahu sekarang ada di mana.


Tempat itu sangat asing baginya, ia baru sadar bukankah ia sedang tertidur lelap di kamarnya? lalu dimana ini?


Di sekeliling tampak gelap gulita, pohon2 rindang berjejer rapi di sepanjang mata Amy melihat, tampak cahaya bulan menyelinap dari celah-celah dedaunan memberinya akses untuk bisa melihat ke sekeliling.


"Amy......" panggilan itu kembali terdengar, sekali lagi Amy mencari-cari.


Tiba-tiba Amy tersentak kaget, tak jauh dari hadapannya terdapat sosok siluet hitam berdiri menatap kearahnya, matanya begitu tajam seakan menusuk membuat jantung Amy berdegup kencang.


Sosok itu datang perlahan menghampirinya, tubuh Amy terpaku tak bergeming.


Keringat dingin mengucur membasahi tubuhnya, Ia ingin sekali kabur berlari menjauh namun tubuhnya sama sekali tak mampu bergerak.


Sinar bulan perlahan menapakan cahayanya, sosok di hadapannya kini mulai tampak jelas.


'Arga' gumam Amy dalam hati, ia merasa sedikit lega.


Ia menatap sosok laki-laki di hadapannya, lelaki itu hanya menatapnya tak bersuara membuat Amy merasa bingung dibuatnya.


"Arga. Dimana ini? kenapa aku ada di sini?" lagi-lagi lelaki itu hanya diam membisu menatap Amy.


"Kenapa diam saja? jangan membuatku takut ini.... ini tidaklah lucu!" Amy mulai merasakan ada kejanggalan, mata Arga tampak kosong, wajahnya pucat pasi, tubuh Amy mulai bergetar ia benar-benar merasa takut.


"Arga.... jangan menakutiku, ada apa ini sebenarnya? kenapa diam saja?" air mata Amy mengalir membasahi pipinya, ia benar-benar ketakutan setengah mati namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya seakan membeku tak bisa di gerakan.


Amy memekik sejadi-jadinya, tiba-tiba tubuh arga berlumuran darah, semburan darah segar menyembur dari mulutnya.


Arga terbatuk-batuk ia menjulurkan tangannya meminta pertolongan namun Amy sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.


"Arga.... ya Tuhan kamu kenapa?.... Arga...." pekik Amy, ia berusaha menggapai tangan Arga namun tidak sampai, sekuat tenaga ia mengerahkan tenaganya untuk menggerakan tubuhnya namun tubuhnya tak bisa di gerakan sama sekali.


Amy menangis sejadi-jadinya, ia terus memanggil Arga namun Arga semakin tersiksa dan sekarat.

__ADS_1


"Arga TIDAK.......!"


Amy tersentak. nafasnya memburu, ia mengedarkan pandangannya tampak Arga sedang duduk di sofa sambil menyeruput kopi dan membaca koran.


"A....Arga....." lirih Amy, ternyata kejadian itu hanya sebuah mimpi.


Namun kengerian itu benar-benar tampak nyata, Arga menghampiri Amy, ia tampak terkejut karena Amy sepertinya bermimpi buruk hingga membuatnya seperti ketakutan.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arga, dilihatnya tubuh Amy basah kuyup karena keringat dingin, muka Amy tampak pucat dan matanya berkaca-kaca.


"Hei.... ada apa?" tanya Arga lagi.


"Aku..... Aku hanya bermimpi buruk, maaf aku mau mandi" seru Amy, iapun pergi meninggalkan Arga yang masih tampak bingung.


"Fffttt..... tadi dia memanggil namaku" gumam Arga, ada rasa hangat di dadanya karena Amy memanggil namanya di saat ia bermimpi.


Amy tampak bengong sambil mengaduk-aduk sarapannya, telor mata sapi setengah matang yang cantik kini sudah tampak mengerikan dan menjijikan.


Arga mendengus kesal melihat Amy seperti itu, iapun menyuruh pelayan membereskan meja makan.


"Eeehhh..... tu...tunggu...." sergah Amy.


"Oh ya?... lalu kenapa tidak sarapan? lihat piringmu sudah berbentuk seperti apa, menjijikan" ketus Arga, iapun pergi meninggalkan Amy dengan raut muka yang kesal.


"Ciihhh.... dasar menyebalkan, Aku tidak akan mati tanpa sarapan dasar menyebalkaaaannn..." teriak Amy jengkel, iapun pergi kekamarnya dengan berjalan menghentak-hentakan kaki saking kesalnya.


Amy duduk di kursi dekat jendela, di luar sana tampak taman bunga yang indah dan rapi terawat. Namun keindahan itu tak dapat membuat perasaan Amy membaik. Pandangan Amy tampak kosong, Beberapa kali ia menghela nafas berat karena masih kesal dengan sikap Arga yang sering berubah-rubah.


Belum lagi dengan mimpi buruknya, semua tampak nyata hingga membuat bulu kuduk Amy merinding.


Bahkan bau amis darah di mimpinya tercium sangat menyengat membuat perut Amy tiba-tiba bereaksi, rasa mual mulai menyeruak tak tertahankan.


Tok.... Tok..... Tok.....


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Amy, ia melangkah mendekati pintu dan membukanya.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, ada tamu yang mencari anda" seru seorang pelayan menyampaikan.


Amy mengangguk perlahan, iapun turun untuk menemui tamu yang mencarinya.


"Bunda...." pekik Amy merasa senang.


Iapun memeluk Bunda Aisyah, beberapa hari tidak bertemu membuatnya kangen luar biasa.


"Kenapa tidak telpon Bun, kan aku bisa jemput" rengek Amy manja, Bunda Aisyah tersenyum lembut dan mengelus pipi mulus Amy.


"Sudah menikah tapi masih bersikap seperti anak kecil" cubit bunda Aisyah dengan penuh rasa sayang.


Bunda Aisyah sangat takjub dengan rumah yang Amy tinggali saat ini, begitu besar dan mewah. Ia bersyukur Amy bisa menemukan suami yang bisa menjaga dan menjaminnya hidup nyaman.


"Ngomong-ngomong ada sesuatu yang mau Bunda sampaikan" seru bunda tampak serius.


Bunda Aisyah celingukan, ia tidak ingin apa yang ingin dia sampaikan terdengar oleh orang lain, Amy mengernyit bingung tidak biasanya Bunda bersikap seperti itu.


"Ada apa Bunda?" tanya Amy penasaran.


"Ada seseorang yang ingin bertemu sama kamu, tapi...." Bunda Aisyah kembali mengamati kesekeliling dengan hati-hati.


"Jangan sampai ada yang tahu, terutama Arga!" sambungnya.


Amy tampak heran, siapa yang ingin menemuinya bahkan harus sembunyi-sembunyi, dan sikap Bunda benar-benar aneh membuat Amy merasa ada sesuatu yang tidak biasa.


"Siapa bunda? kenapa aku harus diam-diam?" tanya Amy penasaran.


Bunda tampak ragu-ragu menyampaikan, diapun menjelaskan jika ada seseorang yang mendatangi Panti dan mencarinya, orang itu mengatakan jika dia tahu siapa Amy sebenarnya dan juga tentang keluarga kandungnya.


Amy begitu senang mendengar kabar itu, ia begitu antusias apa orang itu kerabatnya atau orang yang mengenal keluarganya.


Air mata kebahagiaan Amy meluncur membasahi pipinya, membayangkan keluarganya selama ini mencarinya benar-benar membuat ia terharu.


"Bunda.... mungkinkah selama ini keluargaku mencari keberadaanku Bun?, selama ini aku selalu menolak di Adopsi karena aku yakin keluargaku pasti mencariku, dan benar saja walaupun sedikit terlambat tapi aku benar-benar bahagia"

__ADS_1


Amy memeluk Bunda Aisyah, ia sangat bahagia. ia ingin segera menemui orang itu, tanpa membuang waktu Amy dan Bunda Aisyah meninggalkan rumah dan hendak pergi ke Panti bertemu dengannya.


Namun baru saja mereka mau berangkat, Arga datang dengan tergesa-gesa, raut wajahnya tampak tegang membuat keduanya heran.


__ADS_2