
Hari semakin larut, Amy masih terduduk menatap keluar jendela, tampak para pengawal Arga lalu lalang di luar sana menjaga rumah dengan sangat ketat. Ia sudah kehabisan akal, sampai saat ini Amy masih belum menemukan cara, bagaimana ia harus melarikan diri dari ruang menyesakkan ini.
Kepala Amy terasa berdenyut, seharian ini rasa sakit terus menyerang seakan menghantam-hantam.
Semenjak ia mendapatkan sebagian ingatannya, rasa sakit itu selalu muncul, seolah otak kecilnya itu memaksakan diri untuk mengembalikan seluruh ingatan masa lalunya.
Bunyi getar handphone terdengar, Amy mencari arah suara, iapun menemukan handphonenya yang tergeletak di bawah bantal. Amy menatap layar telpon genggamnya, tampak sebuah nomor yang tidak ia kenal beberapa kali menghubungi. Dengan segera Amy menelpon nomor itu
berharap siapapun itu, dia bisa membantunya keluar dari rumah yang seperti penjara itu.
“Halo, siapa ini?” tanya Amy sesaat setelah orang yang di sebrang sana mengangkat telponnya.
“Amy, sayang ini Ibu” jawabnya.
Amy mengernyitkan kening, nomor yang tidak di kenal itu ternyata adalah nomor Naura.
Entah kenapa ada perasaan aneh dalam hati Amy, Naura menghubunginya bukan dari nomor yang biasa, ia justru beberapa kali menghubunginya dengan nomor lain.
“Amy, Ibu ingin sekali membantu kamu supaya bisa keluar dari rumah ini. Ibu tidak bisa melihat kamu harus menderita seperti ini, Ibu benar-benar minta maaf karena Arga sudah keterlaluan,” Naura terdengar terisak, ia tampak seolah sangat sedih melihat sikap anaknya yang kembali dingin dan menakutkan.
“Inilah yang sangat Ibu khuatirkan, sikap Arga yang dingin dan keji membuatku tidak pernah tenang” sambungnya.
Amy mengernyitkan kening, entah apa yang di maksud Naura, namun sangatlah aneh jika seorang Ibu berbicara buruk tentang anaknya sendiri.
“Maksud ibu apa?” tanya Amy berpura-pura tidak mengerti.
“Dari kecil Arga itu anak yang mudah emosian, seolah dalam dirinya terdapat dua kepribadian. Yang satu ia begitu penyayang namun satunya lagi sangatlah keji. Saat ia kecil hingga remaja, ia sering membuat kami orangtuanya kerepotan, kenakalannya sudah melewati batas, ia sering keluar masuk sekolah berbeda karena pihak sekolah yang tidak tahan dengan sikap buruknya, ia sering mencelakai siapapun yang mengusiknya. Bahkan di usianya yang baru belasan tahun ia pernah melukai orang lain hingga menyebabkan kematian,” Naura terisak, sementara Amy hanya terdiam, Air matanya mengalir membasahi pipinya. ‘Mereka adalah Ibu dan pamanku’ gumam Amy dalam hati.
__ADS_1
“Maafkan Ibu sayang, ini semua salah Ibu. Karena sudah gagal mendidik Arga, seandainya Ibu menjaga Arga dengan baik pastilah ia tidak akan memiliki kepribadian sejahat itu. Kini Arga sudah semakin kehilangan akal, Ibu takut dia akan semakin menyakitimu. Maka dari itu Ibu akan membantumu keluar dari rumah ini secepatnya, kamu harus selamat, anggap saja ini sebagai permohonan maaf Ibu ke kamu ya sayang. Ibu benar-benar minta maaf.”
Amy tertegun, entah kenapa ia merasakan hal yang janggal. Iapun teringat dengan pesan Arga sebelunya, jika Naura tidaklah sesederhana yang ia pikir. Arga menyuruhnya untuk berhati-hati terhadapnya. Namun
Amy sangat berharap ia bisa keluar dari rumah terkutuk ini, bagaimanapun caranya.
Entah itu dengan usahanya sendiri ataupun berkat bantuan Naura ia tidak perduli. Namun satuhal yang pasti, kali ini ia tidak boleh lengah, jangan sampai apa yang pernah ia alami dulu terulang lagi. Saat itu ia begitu bodoh dan ceroboh sehingga ia mudah
percaya dengan Anjar, akan tetapi kali ini ia harus penuh persiapan, Amy tidak percaya Naura akan membantunya dengan begitu saja. Ia yakin, Naura pasti memiliki tujuan lain di balik sikap baiknya.
Amy baru ingat, ia pernah melihat Arga menyembunyikan sebuah kotak kedalam berangkas di balik lukisan di sudut kamarnya, dengan segera ia mencarinya. Amy masih tertegun menatap berangkas di hadapannya,
ia sudah dua kali mencoba menekan kode sandi sesuai tanggal lahir Arga namun tetap saja tidak terbuka, sekali lagi ia salah pastilah alarmnya akan berbunyi.
Amy menghela nafas berat, kepala cantiknya tampak berfikir dengan keras, mungkinkah tanggal lahir orang tuanya, ataukan tanggal
“Cckkk…benar-benar menyebalkan.” Dengus Amy kesal.
Lama Amy terdiam menatap berangkas, ia benar-benar buntu, entah berapa nomor sandi berangkasnya. Dengan iseng ia mencoba menekan tombol sandi sesuai tanggal lahirnya, ia tidak perduli lagi jika alarmnya berbunyi karena kepalanya sudah sangat kusut ia menyerah.
Namun siapa sangka ternyata pintu berangkas berhasil terbuka, Amy
mengernyitkan kening. Entah kenapa Arga menggunakan tanggal lahirnya. Sesaat kemudian Amypun berpikir, tentu saja itu mungkin, bukankah Arga itu gila! Sedari kecil ia sudah mengungkitnya seolah terobsesi
terhadap dirinya, akan sangat mungkin jika si gila Arga itu menggunakan apapun yang berhubungan dengan Amy.
Amy membongkar semua isi brangkas, di dalamnya terdapat beberapa berkas penting perusahaan, uang dan tentu saja ada sebuah pistol dan sekotak peluru yang Amy butuhkan saat ini.
__ADS_1
Amy mengambil pistol itu, tangannya terasa gemetar. Ini kali pertamanya memegang senjata api itu, dengan cepat Ia meraih handphonnya dan mencari informasi tentang cara-cara penggunaan senjata api yang ia
pegang di jejaring internet.
Kali ini ia tidak ingin melakukan kesalahan, bisa saja Naura akan mengirim orang jahat untuk membantunya kabur dan akan sangat tidak mungkin jika ia dengan begitu saja membantunya, Amy yakin Naura pasti
memiliki niat yang tidak baik terhadapnya.
Amy mencoba mengoprasikan senjata api sesuai arahan yang tertulis di internet, iapun mengisi full peluru dan mencoba membuka dan menutup pelindungnya agar ia mengerti cara untuk menggunakan dan menyimpan
senjata itu dengan aman.
“Baiklah aku sudah paham, akupun membutuhkan uang tunai untuk berjaga-jaga siapa tahu ada hal yang mendesak” gumamnya, ia tahu ia sudah melakukan sebuah dosa karena mencuri, namun saat ini ia tidak punya pilihan lain.
Saat ini ia tidak memiliki uang tunai di dompetnya akan sangat merepotkan jika di kondisi terdesak ia harus mencari ATM untuk mengambil uang kes.
“Aku hanya butuh ini saja, senjata, uang dan.. hmmm… akan sangat mudah jika aku memakai celana jins dan kaos saja, agar aku bisa bergerak dengan leluasa.”
Amy berganti baju, iapun memasukkan semua yang ia butuhkan kedalam tas
ranselnya. Kali ini ia benar-benar sudah mantap mempersiapkan tinggal menunggu intruksi Naura saja, jika saatnya tiba ia sudah harus siap mental dalam kondisi apapun.
Amy sadar, selama hidupnya masih
berhubungan dengan keluarga Arga, keadaannya pasti tidak akan baik-baik saja. Bahaya akan selalu ada di sekitarnya, maka dari itu ia harus mempersiapkan segalanya dengan matang, agar ia bisa benar-benar
terbebas dari bahaya yang mereka rencanakan.
__ADS_1