Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Sebuah Rasa


__ADS_3

Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, informan yang ia kirim mengabarkan jika Si Rubah Tua itu beberapa kali terpantau memasuki Panti.


Ia sangat yakin, pasti ada sesuatu yang mencurigakan. Arga baru ingat, saat ia hendak menikahi Amy informasi tentang Amy bocor hingga ketangan Si Rubah Tua itu.


"Kurang ajaaar, selama ini ternyata ada mata-mata di Panti" sungut Arga kesal.


Arga benar-benar geram di buatnya, ia sudah bersusah payah mendapatkan Panti itu hingga menjadi miliknya, agar informasi apapun tentang Amy tidak bocor ke tangan orang-orang yang ingin menghancurkannya.


Namun ia salah perhitungan, informasi itu tetap saja bisa terendus oleh Rubah Tua itu.


Sesampainya di pintu gerbang rumah, Arga turun dari mobil dan berlari kearah rumahnya. Ia tak sabaran menunggu gerbang terbuka, ia terengah-engah nafasnya memburu. Arga tampak terkejut saat melihat Amy bersama Bunda Aisyah, mereka tampak terburu-buru dan hendak pergi.


"Bunda...." sapa Arga.


"Kalian mau kemana? sepertinya terburu-buru?" sambungnya.


"Kami mau ke Panti sebentar, tidak apa-apa kan?" seru Amy, ia berharap mendapat izin dari Arga.


"Eemmm.... Bagiamana ya, ini..... sebenarnya Aku mau ajak kamu kerumah Ibu, dia tadi menelponku katanya Ibu ingin sekali bertemu denganmu, Dia mengajak kita untuk makan siang di sana"


"Mumpung Bunda juga ada di sini bagaimana kalo Bunda juga ikut?" ajak Arga.


Arga berharap Bunda Aisyah menolaknya, karena sebenarnya ajakan makan siang hanyalah kebohongannya saja.


Untuk sementara Arga ingin Amy menjauh dari Panti karena ia harus memastikan dulu siapa mata-mata yang bekerja untuk Si Rubah Tua itu.


"Aaahhh.... itu.... lain kali saja, Bunda tidak bisa lama-lama meninggalkan Panti, hari ini ada tamu yang mau datang jadi Bunda tidak bisa ikut, maaf ya...." jawab Bunda.


Bunda Aisyah merasa Arga sengaja menghalangi Amy untuk ikut dengannya, pantas saja Orang itu bilang Arga sangat licik dan pintar, ia pasti memasang CCTV untuk memantau gerak gerik Amy hingga ia bisa datang tepat waktu sebelum mereka pergi.


"Sayang sekli, tapi aku tidak ingin membuat tamu Bunda kecewa"

__ADS_1


"Ia, lain kali kalian saja yang mampir ke Panti, nanti Bunda masakin makanan kesukaan Amy dan Arga" seru bunda, iapun pamit pergi.


Amy merengut sebal, ia benar-benar ingin bertemu dengan orang yang tahu tentang keluarga dan masalalunya, namun Bunda Aisyah melarang Amy untuk memberitahukan Arga maka dari itu ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kenapa?" tanya Arga saat melihat Amy cemberut.


"Aku kangen Panti, apa tidak bisa makan siang di rumah Ibu besok saja?"


Arga menatap Amy dengan tatapan tajam, ia tahu apa yang ada dalam pikiran Amy, 'Mungkinkah kedatangan Bunda Aisyah ada hubungannya dengan Si Rubah Tua itu?' gumam Arga, feelingnya mengatakan sikap Bunda Aisyah akhir-akhir ini memang sedikit berbeda, ia jadi lebih berhati-hati saat berhadapan dengan Arga, padahal sebelumnya Bunda sangat terbuka, karena Arga bukan hanya pemilik Panti namun ia sudah Bunda anggap seperti putranya sendiri.


"Ganti baju kita ke rumah Ibu, dan ingat pakai baju yang pantas!" seru Arga, iapun masuk kedalam rumah meninggalkan Amy yang masih terdiam tampak terkejut.


Amy tertegun melihat kepribadian Arga yang selalu berubah-ubah, tampangnya yang dingin dengan tatapan membunuhnya membuat Amy merinding.


'Lagi-lagi dengan tampang seperti itu, apa dia punya kepribadian ganda' ketus Amy kesal.


Amy memilah-milah baju yang akan ia kenakan, di tatapnya lemari baju yang ada di hadapannya, dari sekian ruang hanya satu yang ia gunakan karena Amy tidak memiliki banyak pakaian.


"Bahkan aku tidak memiliki gaun satupun haaaahhh...." gumam Amy, ia tertunduk merasa tak semangat.


Ia bingung baju apa yang akan ia kenakan untuk bertandang ke rumah mertuanya, apa lagi keluarga Arga sangat kaya akan tidak pantas jika hanya mengenakan kaos dan rok atau celana jins saja.


"Pakai ini" seru Arga mengagetkan.


Amy menoleh ke arah Arga, di tatapnya kotak pink berhiaskan pita tampak cantik dan elegant.


Perlahan Amy membukanya, isinya terdapat gaun cantik berwarna biru tosca dengan hiasan mutiara dan permata yang sangat indah.


"I...ini....." Amy benar-benar takjub dengan gaun itu, indah dan tampak elegant, pasti harganya sangat mahal.


"Kenapa? tidak suka?" tanya Arga ketus.

__ADS_1


"Tidak.... ini.... ini indah sekali harganya pasti mahal..." seru Amy pelan seakan berbisik.


"Apa kamu mengejekku? apa seorang Arga dari keluarga Prasetyo yang terpandang harus membelikan baju murahan untuk istrinya?" geram Arga, ia tahu Amy terbiasa hidup sederhana karena ia tumbuh hingga saat ini di Panti Asuhan, Namun keadaannya saat ini sudahlah berbeda.


Arga menarik gaun yang ada di tangan Amy dan merobeknya hingga beberapa bagian, iapun pergi meninggalkan Amy yang tampak syok melihatnya.


Mata Amy tampak berkaca-kaca, ia merasa bersalah, gaun yang begitu indah kini telah hancur.


Hanya karena emosi sesaat Arga bisa begitu kejam, ia memang kaya dan bisa mendapatkan apapun sesuai keinginannya, namun tidak sepantasnya ia bersikap seenaknya.


Arga duduk di ruang kerjanya, ia terdiam melihat layar yang menunjukkan gambar Amy sedang menangis sambil memeluk gaun yang baru ia hancurkan.


"Maafkan aku" gumamnya, ia sadar apa yang sudah ia lakukan telah menyakii perasaan Amy, namun entah kenapa di depan Amy ia tidak pernah bisa mengontrol emosinya.


Rasa bersalah sekaligus benci selalu muncul berbarengan, namun tidak bisa di pungkiri kini iapun mencintai Amy entah sejak kapan namun perasaan itu semakin hari semakin tumbuh.


"Apa yang harus aku lakukan? ini tidak seperti yang aku rencanakan" gumam Arga, ia mengacak-acak rambutnya, pikirannya terasa kacau.


Tok... Tok...Tok....


Terdengan ketukan pintu, Arga menoleh ke arah pintu dan mempersilahkannya masuk.


Arga terdiam saat pintu terbuka, pandangannya lurus menatap Amy yang tampak cantik, Amy mengenakan kaus putih polos dan rok merah muda selutut, di kaki cantiknya ia kenakan highils 9cm warna silver membuat tubuh mungilnya tampak sedikit tinggi.


Tak lupa rambut panjangnya yang tergerai kini ia kerli agar terlihat anggun.


'Cantik' gumam Arga, walaupun Amy mengenakan pakaian yang polos dan sederhana namun tak bisa di pungkiri Amy benar-benar sangat cantik.


"Maaf mengganggu, bukankah kita harus segera berangkat? tidak enak kalau Ibu menunggu terlalu lama" seru Amy ragu-ragu, ia takut emosi Arga belum begitu reda.


"Hmmmm.... Ok, kamu tunggu di luar, Aku segera datang" jawab Arga, Amypun pergi meninggalkan ruang kerja Arga.

__ADS_1


__ADS_2