
Suara dentuman dan teriakan memecah keheningan malam, Amy meringis, ia mencoba tersadar namun kepalanya terasa sakit. Di lihatnya sekeliling tampak orang-orang tergeletak di lantai, mereka berdarah-darah dan terluka. Amy berontak,
namun ia tidak bisa membebaskan diri karena tubuhnya terikat tali sangat kuat, mulut Amypun di sumpal dengan sapu tangan.
Amy mencoba berteriak namun suara yang keluar seakan tercekat, dengan penuh ketakutan ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, orang-orang yang terluka tampak meringis-ringis kesakitan. Mata Amy terbelalak, ia mengenali orang-orang itu! Mereka adalah para pengawal Arga.
Amy berusaha menjerit namun tetap saja suaranya tak bisa keluar, dengan sekuat tenaga ia menyeret tubuhya mendekati salah satu pengawal itu ingin memastikan keadaannya.
“Nyonya… Akhhh…” pengawal itu kesakitan, ia memuntahkan darah segar begitu banyak, Amy menangis, ia berusaha membebaskan diri untuk menyelamatkannya namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Suara tembakan tampak nyaring memekakkan telinga, darah segar muncrat
ke segala arah hingga mengenai wajah Amy, tubuh Amy semakin gemetar, ia menjerit-jerit, pengawal itu seketika meregang nyawa dengan mata terbelalak. Amy terhenyak kaget, tubuhnya di seret dengan kasar, ia
berusaha berontak namun tangan kasar itu semakin brutal menyeret tubuhnya.
Amy meringis, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Sekujur tubuhnya terasa perih dan sakit, entah apa yang sebenarnya terjadi
semuanya tampak rumit dan mengerikan.
“Arga…” jeritnya dalam hati, Amy yakin Arga pasti ada di sini, anak buah Arga banyak yang teluka, namun ia tidak melihat keberadaannya
saat ini.
“Kamu di mana?” gumamnya, entah kenapa ia sangat menyesal, satu-satunya orang yang ada di benaknya saat ini adalah Arga. Amy
menangis, ia ingin melihat Arga walau untuk yang terakhir kalinya. Ia tidak tahu apakan Tuhan masih akan memberikan kesempatan untuknya tetap hidup atau tidak, namun ia ingin melihat sosok Arga dan memastika orang jahat itu tidak melukainya.
“Anjar Wiyoso, brengsek!”
Suara teriakan itu menggema di seluruh ruang gelap itu, dentuman pintu terbanting membuat Amy beringsut menghindari pintu yang terlempar lepas dari engselnya, Amy menoleh kearah suara, Arga berdiri terengah-engah sambil memegang dadanya yang terluka. Amy terbelalak, ia berontak namun cengkraman tangan kasar berhasil meraihnya dan melempar Amy hingga jatuh tersungkur menabrak tembok.
Bau anyir darah menusuk indra penciuman membuat Amy mual hingga ingin muntah, pandangannya terasa kabur, mata sebelah kanannya terasa perih, basah terkena darah segar yang mengalir. Samar-samar suara jeritan memanggilnya, namun Amy tidak bisa fokus, kesadarannya lambat laun
__ADS_1
menghilang dan tumbang.
Arga terbelalak melihat Amy tersungkur di lantai dengan luka di kepalanya, dengan membabi buta ia menghajar Anjar hingga babak belur.
Anjar terkekeh, ia tampak puas melihat Arga yang tersiksa karena wanita yang ia cintai terluka parah, tak akan lama lagi nyawanya
pasti takkan tertolong.
“Bajingan kurang ajar! Bagaimana bisa kamu begitu keji! Bagaimanapun juga dia adalah putrimu brengsek!” sekali lagi Arga menghajarnya, pria itu terkekeh mendengar omong kosong Arga, bagaimana mungkin Amy adalah putrinya, jelas-jelas Amy adalah anak dari hasil perselingkuhan istrinya dengan laki-laki lain.
“Anak haram ini bukan putriku!” ketusnya, matanya menyala-nyala penuh kebencian.
“Dia sudah tidak berguna bagiku, dia pantas mati membusuk di neraka bersama keluarga busuknya!”
Tanpa memperdulikan pria itu, Arga menggendong Amy, ia memerintahkan
Anak buahnya untuk membawa orang-orang yang terluka kerumah sakit, iapun menyuruh mereka agar mengurung Si Rubah Tua itu di ruang bawah tanah rumahnya. Saat keadaan sudah membaik, Arga akan memberi perhitungan dengan Si Tua yang keji itu.
Amy mengerjap-erjapkan matanya perlahan, ia meringis kesakitan, kepalanya terasa mau pecah. Ia mencoba bangun akan tetapi tangannya terasa kaku dan kesemutan, iapun perlahan menariknya, namun tangan itu
Amy menoleh, di lihatnya Arga tertidur sampil memegang tangannya yang tidak di infus. Amy terkejut, kemeja yang Arga kenakan begitu banyak noda darah, ia mencoba bangun, sekali lagi sengatan rasa sakit seakan menjalar keseluruh tubuhnya. Amy melihat ke seluruh tubuhnya, begitu banyak perban, kedua kaki, tangan, perut dan juga kepalanya tertutup oleh perban. Ia telihat seperti seorang mumi.
“Amy!” pekik Arga, ia terbangun karena terkejut tangannya seakan tertarik-tarik. ia memeluk tubuh mungil Amy dengan sangat erat. Amy meringis kesakitan, ia mencoba melepaskan diri namun badannya terasa
sangat sakit.
“Sakit!” jerit Amy, ia menangis sejadi-jadinya. Amy menangis bukan karena rasa sakitnya, ia menangis karena bahagia. Tuhan masih
memberikannya kesempatan untuk hidup dan juga bisa bertemu dengan Arga lagi.
Entah kenapa Amy begitu membenci Arga namun iapun sangat bahagia bisa melihat Arga lagi, ia tidak pernah menyadari jika sebenarnya benih-benih cinta sudah mengisi hatinya yang kosong, namun Amy belum
menyadari hal itu.
__ADS_1
“Maaf… maaf… aku terlalu senang kamu sudah siuman, sebentar aku panggilkan dokter” seru Arga segera.
Amy menarik tangan Arga, ia menggeleng sambil menangis sesegukan. Amy menatap luka Arga, Laki-laki di hadapannya masih memikirkan keadaannya sementara dirinya sendiri juga terluka parah.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Amy lirih.
Arga menoleh kearah dadanya yang terluka, ia mengangguk perlahan. Iapun menjelaskan dokter sudah mengobati lukanya, kini keadaannya sudah baik-baik saja.
“Kamu tidak usah khuatir, lukaku tidak separah kamu. Kamu juga tidak usah takut, luka-lukamu akan di obati dengan baik oleh Dokter-dokter ahli, agar tidak meninggalkan bekas.”
Amy melihat ke sekujur tubuhnya, ia ingat betul, saat orang jahat itu menyeretnya seluruh tubuhnya terkena pecahan-pecahan kaca yang berserakan. Ami meringis, kejadian itu sangat mengerikan, spontan ia beringsut memeluk tubuhnya yang gemetar.
“Sssttt… sudah, kamu tidak usah mengingat kejadian itu lagi. Sekarang kamu aman, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi”
Arga memeluk Amy dengan lembut, ia benar-benar merasa bersalah kepada
Amy. Andai saja ia datang tepat waktu pastilah saat ini Amy baik-baik saja. Iapun merasa bersalah karena melibatkan Amy, saat anak buahnya mengabarkan ada seseorang yang mencurigakan.
Arga sengaja memberi orang itu peluang untuk bisa masuk kerumahnya. Ia dan anak buahnya ingin tahu apa sebenarnya tujuan orang itu, Arga tampak terkejut saat mengetahui yang datang itu adalah Anjar Wiyoso Ayah kandung Amy.
Kedatangan Anjar entah untuk tujuan apa, namun Arga sengaja mengambil
kesempatan itu untuk menangkap basah Si Rubah Tua itu. Saat Anjar masuk ke kamar Amy dan membawa Amy pergi, saat itu Arga ingin segera menangkapnya, namun ia urungkan. Arga ingin tahu kemana Anjar akan
membawa Amy, agar ia bisa tahu tempat persembunyian Si Rubah Tua itu.
Walaupun Arga khuatir namun ia yakin Anjar pasti tidak akan pernah menyakiti Amy, karena ia pasti tahu kalau Amy adalah putri kandungnya. Namun dugaan Arga meleset, ******** itu ternyata sangat keji dan tidak
punya hati, bahkan ia tega menyakiti putrinya sendiri.
“Maaf” ucap Arga, ia menenggelamkan wajahnya di pundak Amy.
“Aku yang minta maaf,” seru Amy, “Andai saja aku tidak berfikiran sempit, dengan mudah mau saja ikut dengan orang lain, ini semua tidak akan terjadi! Bahkan gara-gara aku para pengawalmu terluka parah hingga meninggal dunia” Amy terisak, ingatannya masih jelas, pengawal Arga meregang nyawa di hadapannya, bahkan bau amis darah segar itu
__ADS_1
masih bisa ia cium dengan sangat jelas.
“Ssstt… sudah, jangan terlalu di fikirkan. Itu semua bukan kesalahan kamu, yang harus di salahkan adalah pria jahat itu! Ia sangat kejam dan licik, aku akan memastikan ia mendapat balasan yang setimpal”