Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Dejavu


__ADS_3

Arga mencoba memejamkan mata, ia sangat lelah, namun pikirannya selalu mengkhawatirkan keadaan Amy. walapun ada Bunda Aisyah dan para pengawalnya yang menjaga namun ia tetap saja tidak tenang.


Beberapa kali Arga menghubungi para pengawalnya memastikan kondisi Amy, sekalipun jawabannya tetap sama namun ia tetap tidak tenang.


“Haahhh… benar-benar menjengkelkan” seru Naura, ia menatap putranya dari balik pintu. Sedari tadi Arga tampak tidak tenang.


“Bisakah kamu beristirahat sebentar saja? Dari tadi kamu modar-mandir terus, bagaimana kamu bisa beristirahat kalau begitu” seru Naura, ia menghampiri putranya itu dan menyerahkan teh hangat di tangannya.


“Minumlah, setelah itu usahakan kamu tidur hanya sebentar saja” sambungnya.


Arga meneguk teh pemberian Naura hingga habis, lambat laun kepalanya terasa pening, pandangannya kabur hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. Dengan susah payah Naura membopong tubuh Arga hingga ketempat


tidur, Naura terengah-engah, tenaganya seakan habis terkuras.


“Maafkan Ibu, ini demi kebaikanmu” seru Naura. Iapun menyelimuti putranya itu dan meninggalkannya agar Arga bisa tidur dengan lelap.


Hujan deras menderu dan bergemuruh, petir yang menyambar menggelegar memekakkan telinga, Arga mengernyitkan kening, kepalanya terasa pusing hingga membuatnya sempoyongan saat hendak bangun dari tempat tidur.


Arga tersungkur, kepalanya masih terasa sakit, entah apa yang terjadi. Cahaya kilat terus menerus menjilat-jilat, angin kencang menggebu-gebu hingga terdengar pepohonan yang terguncang seakan tertarik.


Jam dinding menunjukkan pukul 11.00 malam, Arga mengernyit, ia sudah terlalu lama tertidur, ia bahkan tidak tahu kondisi Amy sekarang, apakah dia baik-baik saja?


“Halo…” seru Arga menelpon salah satu pengawalnya.


“Bagaimana kondisi Amy? apakah dia sudah baik-baik saja?” sambungnya.


“Nyonya sudah baik-baik saja, sekarang dia sudah tertidur, tadi sempat bangun, makan dan minum obat. Setelah itu Nyonya kembali beristirahat dan tidur!”

__ADS_1


Arga menghela nafas lega, iapun mematikan telpon dan bergegas mandi hendak bersiap-siap. Rumah tampak sepi, Argapun turun dan mencari kunci mobil. Ia harus segera kerumah sakit untuk menemui Amy, walaupun ini sudah larut ia tidak ingin meninggalkan Amy sendirian.


“Sudah malam, mau kemana?” seru Rendra.


Arga menoleh kearah suara, ayahnya keluar dari ruang kerjanya sambil menenteng buku kesukaannya.


“Kerumah sakit!” jawab Arga sambil mengambil kunci dari dalam laci.


“Besok saja, ada Bunda Aisyah yang menemani Amy. kamu butuh istirahat, besok pagi baru kamu ke sana” bujuk Rendra.


“Hhmmm… maaf Ayah. Aku tidak ingin lama-lama meninggalkan Amy, kejadian kemarin itu gara-gara kelalaianku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi kepada Amy!”


Arga pergi meninggalkan ayahnya tanpa menghiraukan Rendra yang tampak jengkel melihat tingkah anaknya itu, rendra tahu Arga pasti sangat khawatir. Namun sikap Arga ini benar-benar sudah keterlaluan, ia bahkan terlalu memaksakan kondisinya saat ini.


“Benar-benar keras kepala” dengus Rendra.


Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, jalanan yang licin dan basah sama sekali tidak ia hiraukan. Saat ini yang ada di pikirannya hanya ingin cepat-cepat sampai di Rumah Sakit dan menemui Amy.


bayangan wajah Amy telintas di benaknya.


'Tidak…aku tidak boleh mati, tidak boleh terjadi apa-apa, aku harus segera bertemu Amy’ jeritnya dalam hati.


Dengan cepat Arga mengendalikan kemudi, hingga akhirnya mobil yang ia kendalikan membentur pohon tepat di samping jurang yang dalam. Arga terbelalak, jantungnya memburu, sedikit saja ia melakukan kesalahan nyawanya pasti akan terancam.


Dengan segera ia keluar dari mobil, guyuran hujan yang deras menyadarkannya, ia mundur menjauh dari mobil dan jatuh terduduk merasakan denyutan di kepalanya yang semakin menyerang.


Arga mengerang kesakitan, entah apa yang terjadi, semenjak ia meminum teh dari Ibunya ia menjadi pusing dan sakit kepala, bahkan rasanya semakin menyakitkan.

__ADS_1


Arga menatap jalan yang sepi,hujan yang deras, dedaunan yang tertiup angin riuh bergemuruh melambai-lambai, kilat dan menyambar dan suara petir yang menggelegar memecah keheningan malam.


Seolah dejavu, kejadian ini seolah pernah ia alami. Arga menatap ke sekeliling, jalanan ini, hujan ini, cuaca yang seperti ini sangat ia kenali seakan ia pernah mengalaminya.


“Amy” gumam Arga.


Kilas tragedi berdarah itu kembali terlintas dalam bayangan Arga. Dentuman mobil berguling menghantam jalanan aspal dan menabrak pepohonan pinggir jalan, terdengar gaduh bergemuruh memecah suasana


sepi malam itu, gemericik kaca yang hancur terseret-seret membuat ngilu pendengaran.


Arga mematung tertegun tak bergeming, kakinya seakan kaku tak mampu bergerak, jeritan dan tangisan orang-orang dalam mobil  begitu mengerikan membuat Arga semakin ketakutan.


darah segar mengucur membasahi wajah salah satu penumpang mobil itu yang masih tersadar, ia merangkak berusaha melepaskan diri dari bangkai mobil yang sudah hancur tak berbentuk. Tubuhnya bergetar, ia mendekap erat sosok mungil terbungkus selimut putih bercampurkan darah.


"Tolong...." Serunya. Suaranya tercekat, Ia terbatuk-batuk.


Semburan darah segar menyembur Ia pun tersungkur, sekuat tenaga ia menyerahkan mahluk mungil itu kearah Arga.


"Tolong..... Tolong jaga....." Tak sampai selesai apa yang ingin ia katakan, perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Arga tercekat, kilas bayangan itu seolah nyata di hadapannya. Ia beringsut mundur  menjauh, namun sesaat kemudian semua gambaran bayangan itu menghilang. Arga melihat ke sekeliling tampak sepi, tak ada satupun kendaraan yang lewat. Dengan segera ia menganbil telpon genggamnya dan menelpon Tomi agar segera menjempunya.


Lama Arga menunggu, ia duduk di bawah pohon besar sambil memeluk tubuhnya yang menggigil. Ia baru sadar di jalanan itulah Ibunya Amy meninggal, di situ pula pertama kali ia bertemu Amy dan menggendong Amy kecil di dekapannya. Saat itu cuacanya sama seperti saat ini, hujan deras dengan angin kencang yang bergemuruh serta petir yang


menggelegar.


Namun apa yang terjadi padanya saat ini benar-benar membuatnya bingung, hukum karmakah? Atau penebusan dosa? Sungguh kebetulan yang sangat aneh, membuat Arga bingung dan banyak pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


Tomi datang dan bergegas menghampiri Arga, raut wajahnya tampak panik dengan segera ia memapah Arga masuk ke dalam mobil dan menyelimutinya.


Arga mengernyit bingung, keadaannya baik-baik saja namun tomi memperlakukannya seolah ia cidera parah, bahkan tanpa banyak kata-kata Tomi langsung tancap gas dan melaju menuju Rumah Sakit, ia tidak mau terjadi apa-apa kepada Bossnya itu.


__ADS_2