Di Balik Tirai Hati

Di Balik Tirai Hati
Obsesi Arga


__ADS_3

Amy tampak gugup, hari ini adalah tahap pertama ia menjalani operasi untuk luka-luka di sekujur tubuhnya. Ia tampak gelisah karena Arga masih juga belum datang seperti yang ia janjikan.


Padahal Arga sudah berulang kali bilang ia akan menemani Amy dan mengenyampingkan pekerjaannya, namun nyatanya Arga masih juga belum muncul. 10 menit lagi suster sudah akan menjemputnya, Amy tampak cemberut, ia benar-benar kesal Arga mengingkari janjinya.


“Sudah, mungkin Arga sedang ada halangan. Mungkin juga ia terjebak macet, lagi pula di sini ada Bunda dan juga Irma yang menemani. Kamu harus tenang, ingat kata Dokter, kamu tidak boleh banyak pikiran. Kamu harus relaks, jaga emosi kamu” bujuk Bunda Aisyah.


Amy menghela nafas, walaupun ada rasa kecewa, namun ia mencoba mengerti. Mungkin saja Arga benar-benar sedang ada halangan.


Waktu operasipun tiba, para perawat membantu Amy menuju ruang operasi. Sepanjang lorong ia mengedarkan pandangan, Amy masih berharap Arga datang saat ini juga.


Mata Amy terpaku, ia menatap sosok Dimas yang sedang menatapnya di ujung lorong. Amy sumringah, ia sangat senang Dimas menemuinya. Amy melambaikan tangan kearah Dimas, beberapa hari ini Amy tidak melihatnya ataupun mendapat kabarnya.


Padahal Dimas pernah berkata, jika ia membutuhkannya, dia akan segera datang. Namun nyatanya Dimas sudah membohongi Amy, bahkan saat Amy menderita iapun tidak muncul. Amy mengerucutkan bibirnya, Dimas sama sekali tidak meresponnya, malah semakin dekat kearahnya Dia justu pergi menghindari. Amy mengernyitkan kening, ia merasa bingung, ada apa dengan Dimas sebenarnya.


“Sayang maaf aku terlambat,” Arga tampak terengah-engah, ia berkeringat.


“Tidak apa-apa” jawab Amy, ia senang Arga akhirnya datang, sekarang ia bisa menjalani operasinya dengan tenang.


“Maaf Pak, Nyonya Amy harus segera masuk. Pak Arga bisa menunggunya di sini, mudah-mudahan prosesnya tidak akan lama.”


Arga mengangguk pelan, sebelum Amy memasuki ruangan, ia terlebih dahulu mengecup kening Amy dan menyemangatinya agar tidak tegang.


Proses operasi berjalan dengan lancar, hanya membutuhkan waktu 2 jam. Sekarang Amy masih dalam pengaruh obat sehingga ia masih belum sadarkan diri, Arga tampak gelisah melihat istrinya masih tertidur pulas seperti orang pingsan, beberapa kali ia memanggil Dokter dan Perawat untuk memastikan. Walaupun Dokter sudah menjelaskan tetap saja ia tidak tenang.

__ADS_1


“Bisakah kamu duduk saja? Sikapmu itu justru membuat orang lain merasa terganggu” ketus Rendra Prasetyo ayah Arga.


Naura menghampiri Arga dan menuntunnya duduk di sofa, ia merapikan rambut Arga yang sangat berantakkan. Kini putranya sudah bukan anak remaja lagi namun sikapnya ini seperti remaja yang lagi puber. Sangat terlihat jelas jika Arga benar-benar mencintai Amy, Naura sangat tahu itu.


21 tahun bukanlah waktu yang sebentar, dengan setia Arga menantikan saat-saat ini agar ia bisa bersatu dengan Amy. Bahkan saat dulu ia membawa Amy, umurnya baru 13 tahun, namun pikirannya benar-benar matang. Ia merencanakan segala hal tentang Amy dengan sangat mendetil hingga membuat Naura khuatir, putra satu-satunya ini sangat terobsesi dengan Amy.


Padahal 2 tahun lalu di usianya yang menginjak 32 tahun, Naura sengaja mengirim putranya ke Amerika dengan kebohongan yang ia rencanakan agar Arga menetap di sana, Naurapun memilihkan seorang gadis anak sahabatnya Agar mendekati Arga dan berencana menikahkan mereka.


Namun setahun lebih hubungan mereka tak kunjung membuahkan hasil, Arga tetap saja dengan pendiriannya dan terus menempatkan Amy di hatinya hingga Naurapun menyerah.


Namun Naura sangat terkejut, sekembalinya Arga dari Amerika yang ia cari tetap saja Amy, bahkan Arga langsung menikahi gadis itu dengan sangat terburu-buru. Walaupun Naura sangat keberatan, namun tekad putranya ini siapa yang bisa membantahnya.


“Sekarang Amy sudah baik-baik saja, tidak bisakah kamu tenang dan menjaga dirimu baik-baik! Lihatlah kamu sekarang, apa kamu kurang beristirahat? Tampangmu sangat kacau!”


Arga menatap Amy yang masih tertidur pulas, ia menghela nafas berat. Bagaimana mungkin ia bisa beristirahat dengan tenang selama Amy di sana tertidur dengan kesakitannya.


“Aku baik-baik saja, hanya saja pekerjaanku sedang menumpuk sehingga kurang beristirahat. Ini tidak ada hubungannya dengan Amy”


Naura menghela nafas, masih saja Arga seperti itu, ia tidak pernah membiarkan siapapun mengusik Amy.


Terkadang Arga terlalu berlebihan jika menyangkut masalah Amy, karena itulah diam-diam Naura menempatkan mata-mata di sekitar Amy, ia merasa gadis itu terlalu beruntung mendapatkan cinta yang terlalu besar dari putra kesayangannya itu.


Terkadang Arga seperti orang yang kehilangan akal jika sesuatu terjadi dengan Amy, sehingga Naura merasa ia perlu turun tangan dan membantu putranya agar bisa lepas dari gadis itu.

__ADS_1


Setahun lalu ia gagal menyingkirkan perasaan Arga untuk gadis itu, iapun gagal membuat Amy jatuh cinta dengan laki-laki lain. Jika saja kecelakaan itu tidak pernah terjadi, Amy pasti sudah menjadi milik orang lain. Sayangnya semua rencana yang telah ia susun harus pupus karena kecelakaan itu, seolah Tuhan benar-benar sedang mendukung mereka untuk bersatu.


“Bu…Ibu…” panggil Arga.


Sepertinya Naura terlalu hanyut dalam pikirannya, berulang-ulang ia memanggil Ibunya itu namun tidak ada respon.


“Sayang kamu kenapa? Arga memanggilmu sedari tadi!” Rendra menepuk pundak istrinya itu dengan pelan, mencoba menyadarkan istrinya dari lamunan. Naura tampak terkejut, ia menoleh ke arah suaminya.


“Hhmmm… kenapa sayang?” tanya Naura.


“Dari tadi Arga memanggilmu, kamu kenapa?”


“Kenapa? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Naura dengan lembut.


Arga menggeleng pelan, ia menyuruh orang tuanya untuk pulang dan beristirahat. Seperti biasa Bunda Aisyah tidak lama lagi akan datang seperti hari-hari sebelumnya. Karena itu ia bisa beristirahat saat Bunda datang.


“Ya sudah, ingat ya! Kamu harus banyak beristirahat, jangan lupa makan! Kamu harus menjaga kesehatan kamu juga, jangan membuat kami khuatir.”


“Ia, nanti saat Bunda Aisyah datang aku pasti makan lalu beristirahat, jadi tidak usah kuatir” jawab Arga meyakinkan.


Naura dan Rendra pulang meninggalkan Rumah Sakit, mereka berharap anak-anaknya segera pulih sehingga mereka bisa tenang, Naurapun berencana setelah kondisi Amy pulih ia ingin membawa mereka untuk tinggal di rumahnya agar ia bisa menjaga mereka dengan baik.


Arga menghela nafas berat, di tatapnya orang tuanya yang semakin menjauh dari lorong rumah sakit, ia sangat mencemaskan Ibunya itu. Arga tahu semua yang sudah Ibunya lakukan, namun ia selama ini berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Tidak perduli apa yang akan ia lakukan Arga akan selalu menjaga Amy, siapapun tidak akan pernah ia biarkan menyakiti Amy ataupun memisahkan mereka, termasuk Ibunya sendiri!


__ADS_2