
Malam itu Evelyn mengalami kesulitan untuk tidur. Pikirannya berkecamuk memikirkan tentang pernikahan dirinya bersama Zaki.
" Ya Allah tolong lindungilah diriku dan kuatkanlah aku untuk selalu berada di jalanmu. Jangan biarkan aku untuk menyerah demi anak yang saat ini mungkin sedang aku kandung!" air mata Evelyn mengalir begitu saja tanpa dia sadari. Betapa berat kehidupan yang selama ini dia jalani.
Ayahnya yang bangkrut tiba-tiba dan meninggal karena serangan jantung. Kemudian, tidak lama setelah itu, ibunya yang merasa tidak tahan dengan kepergian sang ayah dan kemiskinan yang menghampiri kehidupan mereka. Dia menjadi depresi dan masuk rumah sakit jiwa.
Evelyn pun harus menerima kenyataan tentang suaminya yang suka bermain judi dan akhirnya menjual dirinya kepada Zaki untuk membayar hutang-hutang judinya.
" Ya Allah di saat seperti ini, aku hanya memilikimu. Disaat seperti ini, Aku hanya bisa mengandalkanmu!" ucap Evelyn dengan lirih.
Raymond yang melihat dan mendengar semua keluh kesah dan kesedihan Evelyn malam itu. Raymond hanya bisa menatap Evelyn dengan perasaan sedih.
" Aku tidak mengerti. Kenapa kehidupan seorang wanita baik sepertimu harus melewati begitu banyak onak duri dan penderitaan. Aku yakin Evelyn akan ada hari bahagia untukmu di depan sana!" ucap Raymond sambil menutup kembali pintu kamar Evelyn yang tidak pernah dikunci oleh Evelyn.
Evelyn percaya kepada Raymond bahwa dia tidak akan pernah menodai persahabatan mereka dengan hal-hal yang tercela.
Terbukti sudah hampir 1 bulan setengah Evelyn berada di rumah itu. Akan tetapi Raymond tetap berperilaku sopan dan juga menghargai Evelyn sebagai seorang wanita.
" Evelyn! Ayo kita ke tetangga desa. Katanya di sana sedang ada pemeriksaan kesehatan gratis. Kita bisa memeriksakan kehamilanmu sekarang!" ucap Raymond dengan mata berbinar ketika menyampaikan berita itu kepada Evelyn.
__ADS_1
" Tetapi Desa itu sangat jauh Ray! Aku tidak akan kuat untuk berjualan ke sana!" ucap Evelyn menolak ajakan Raymond.
" Ayolah Evelyn kau itu seorang wanita yang kuat dan sehat demi anak yang ada di dalam perutmu kau harus berjuang!" ucap Raymond menasehati dan menyemangati Evelyn.
" Kau tahu sendiri kan Ray? Saat ini kondisiku benar-benar tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Apalagi jalan kaki!" ucap Evelyn sedih.
" Lalu bagaimana dong, usaha kita untuk bisa mengkonfirmasi kehamilanmu Eve? Kita tidak mungkin hanya menebak-nebak saja kan?" tanya Raymond dengan wajah kecewa.
" Kau bisa membeli tespek kepada bu bidan disana Ray. Katakanlah kalau aku saat ini dalam kondisi lemah dan tidak bisa datang ke pemeriksaan itu sendiri!" ucap Evelyn kepada Raymond.
" Mungkin kau bisa minta beberapa vitamin dan penambah darah agar kondisiku bisa lebih baik!" ucap Evelyn mengulas senyum kepada Raymond.
" Rey Apakah aku boleh jujur padamu?" tanya Evelyn sambil menatap tajam kepada Raymond yang memiliki mata begitu bening dan juga kasih sayang yang begitu tulus untuknya. Evelyn bisa merasakan kasih sayang itu dari mata Raymond yang selalu melancarkan kedamaian ketika dia menatapnya. Tidak ada tendensi apapun di sana. Hanya ada kebaikan dan ketulusan.
" Suamiku saat ini pasti sedang mencari keberadaanku. Anak buahnya tersebar di mana-mana Ray. Kalau sekarang aku menampakan diri di depan umum dan namaku tercantum di balai kesehatan. Hanya masalah waktu untuk dia pasti akan menemukan keberadaanku. Aku tidak ingin kembali kepadanya Ray. Aku sudah nyaman dan bahagia hidup di sini bersamamu! Walaupun kita hidup dalam kekurangan dan kesederhanaan. Entah kenapa hatiku sangat damai dan merasa tenang tinggal di sini!" ucap Evelyn mengulas senyum tulus kepada Raymond yang menganggukkan kepalanya.
" Baiklah Eve! Aku mengerti kesulitanmu sayang. Oke! Sekarang aku akan datang ke sana dan membeli obat serta tespek untuk kamu. Sehingga kita bisa mengecek kehamilanmu dan kita bisa segera mengkonfirmasinya. Agar bisa lebih hati-hati kedepannya!" ucap Raymond dengan senyum bahagia yang begitu kentara.
Evelyn hanya menganggukkan kepala saja dialah merasa senang remon yang selalu bersikap baik kepadanya.
__ADS_1
" Eve aku juga nanti akan pergi ke pasar ya? Untuk membeli tambahan kasur agar tidurmu bisa lebih nyenyak dengan kasur yang empuk!" ucap Raymond dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
" Tidak usah Rey! Kau belilah kasur untuk dirimu sendiri. Badanmu pasti pegal-pegal setelah seharian bekerja di ladang. Malamnya kau malah tidur di lantai yang hanya beralaskan tikar yang tipis!" ucap Evelyn dengan prihatin.
" Tidak apa-apa Eve. Percayalah! Kau tidak usah memperdulikan aku. Aku itu seorang laki-laki Eve! Aku harus kuat dan harus berani berkorban untuk seorang perempuan. Tetapi kau adalah seorang wanita hamil ada makhluk hidup di dalam perutmu. Jadi mulai sekarang aku harus ekstra hati-hati untuk memperhatikanmu!" ucap Raymond.
" Terima kasih Rey untuk perhatianmu dan juga kasih sayangmu. Semoga Allah yang membalas semuanya!" doa tulus meluncur begitu saja dari mulut Evelyn untuk penyelamatnya dan juga pelindungnya.
" Ya sudah Eve. Aku pergi dulu ya? Kau harus berhati-hati jangan sembarangan membuka pintu ketika aku tidak ada. Aku takut kalau anak buah suamimu bisa sampai ke tempat ini dan menemukanmu!" ucap Raymond mengingatkan kepada Evelyn untuk selalu berhati-hati ketika dia meninggalkan Evelyn sendirian di rumah.
" Kau juga berhati-hatilah Rey! Jangan pulang terlalu malam ya? Karena aku sangat mencemaskanmu. Ketika kau belum pulang juga dikala matahari sudah menaik tinggi ke peraduannya!" ucap Evelyn berpesan kepada Raymond untuk tidak pulang terlambat.
" Baiklah Eve Aku pergi dulu!" setelah kepergian Raymond. Evelyn langsung masuk ke dalam rumah. Mersihkan semuanya agar lebih rapih dan lebih nyaman ditempati.
" Akhirnya selesai juga! Ah ternyata sangat melelahkan menjadi seorang wanita yang harus mengurus rumah. Padahal rumah ini hanyalah empat kali enam saja dan tidak terlalu luas seperti rumah milik Zaki maupun rumah milik Mas Tara!" ucap Evelyn sambil duduk di lantai yang biasa di tempati oleh Raymond setiap malamnya.
" Ya Allah betapa kerasnya lantai ini kalau malam pasti sangat dingin! Kasihan Raymond dia sudah banyak sekali berkorban untuk menolong dan menyelamatkanku!" ucap Evelyn dengan Lirih sambil menatap sebuah foto yang ada di atas nakas di ruang tamu.
" Wah, sepertinya Raymond dulunya bukan orang biasa. Orang hebat ternyata. Kenapa dia bisa ada di hutan ini dan menjalani hidup dalam keterasingan?" tanya Evelyn bermonolog kepada dirinya sendiri ketika dia melihat foto Raymond yang begitu mentereng dengan pakaian tuxedo dan limosin yang sedang dia tunggangi dengan begitu gagah dan tampan.
__ADS_1