
Keesokan harinya Edward pun kemudian pergi ke mall bertujuan untuk mencari kebutuhan-kebutuhan Evelyn dengan berbekal catatan yang diberikan oleh nya.
" Wah ternyata kebutuhan perempuan itu sangat merepotkan!" ucap Edwards tampak frustasi ketika dia membaca catatan tersebut.
Edward tidak menyadari bahwa seseorang dari tadi terus memperhatikannya yang sebentar-sebentar melihat catatan di tangannya.
" Permisi apakah saya bisa membantu Anda? Boleh saya lihat catatan di tangan Anda? Siapa tahu saya bisa membantu!" ucap Zaki yang merasa penasaran kepada Edward yang sejak tadi dia perhatikan membeli barang-barang keperluan wanita yang selalu menjadi favorit dari Evelyn.
Edward yang terkejut melihat seseorang tiba-tiba berada di sampingnya dia pun kemudian menoleh kepada Zaki.
" Maafkan saya Mas. Kalau saya sudah mengganggu waktu belanja anda!" WhatsApp Edward dengan sopan sambil menundukkan kepalanya kepada Zaki yang tersenyum manis kepadanya.
Zaki terus memperhatikan isi troli yang didorong oleh Edward.
" Wah beruntungnya istri anda. Karena mendapatkan perhatian dari seorang suami yang luar biasa seperti anda. Anda Bahkan tidak malu untuk membeli barang kebutuhan paling pribadi untuk seorang wanita!" pesan Zaki ketika dia melihat sebuah soptek berada di dalam troli tersebut.
Seketika pipi Edward memerah karena rasa malu. " Saya belum mempunyai seorang istri. Saya membeli kebutuhan semua ini untuk Baby Sister ibu saya! Dia sibuk untuk mengurus ibu saya di rumah. Oleh karena itu saya menawarkan diri untuk memenuhi kebutuhannya selama dia bekerja di rumah saya!" ucap Edward sambil tersipu.
" Saya sungguh beruntung sekali bertemu dengan anda. Seorang pria baik yang menghormati orang lain walaupun itu berstatus baby sister ibu Anda!" ucap Zaki memuji Edward dengan tulus.
" Anda bisa saja. Saya hanya tidak tega kepadanya. Kalau sampai dia tinggal di rumah saya tanpa memiliki apapun!" ucap Edward.
" Kenapa?" tanya Zaki terheran.
Edward terdiam sejenak. Tiba-tiba dia seakan telah melupakan sesuatu yang sudah dipesan kan oleh Evelyn kepadanya.
__ADS_1
' Ceroboh!' rutuk Edward kepada dirinya sendiri ketika dia menyadari bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan fatal.
" Tidak apa-apa. Baiklah saya permisi dulu ya? Karena saya harus mencari kebutuhan yang lain untuk ibu saya." ucap Edward berpamitan kepada Zaki.
Edward tampak waspada kepada Zaki yang sejak tadi terus mengikutinya dan memperhatikannya.
Walaupun semua kebutuhan Evelyn belum terpenuhi, tetapi Edward yang sudah merasa khawatir dengan keselamatan dirinya. Setelah melihat Zaki yang terus saja mengikuti dirinya.
Edward kemudian menelepon adiknya untuk datang menjemputnya di mall.
Tetapi sang adik tidak juga mengangkatnya sehingga akhirnya Edward pun memilih untuk pergi menggunakan taksi.
Sementara itu Zaki yang merasa sangat curiga dengan Edward. Karena Edward membeli barang-barang yang biasa dipakai oleh Evelyn selama dia menjadi istrinya.
" Aku yakin kalau tadi aku melihat tulisan Evelyn di dalam catatan itu Dan semua barang-barang laki-laki itu adalah favorit Evelyn yang biasa digunakan sehari-hari!" Zaki benar-benar yakin bahwa dia telah menemukan keberadaan istrinya. Oleh karena itu dia langsung mengarahkan semua anak buahnya yang terdekat dengan dirinya untuk mengejar Edward yang sudah keluar dari mall dengan menggunakan taksi.
" Tunggulah aku sayang. Aku pasti akan segera menemukanmu dan membawamu Kembali ke sisiku!" ucap Zaki sambil tersenyum. Ketika dia membayangkan akan bertemu kembali dengan istrinya yang selama beberapa hari ini telah mengusik pikirannya.
" Kalau benar Evelyn tinggal bersama laki-laki itu. Sungguh akan sangat berbahaya sekali. Kelihatannya laki-laki itu adalah seorang dokter. Aku bisa melihat dari penampilannya dan juga aroma tubuhnya yang berbau obat-obatan!" ucap Zaki menganalisis pertemuannya dengan Edward tadi siang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Edward yang merasakan bahwa dirinya sedang diikuti oleh seseorang. Dia tidak berani untuk pulang ke rumahnya.
" Pak! Bisa tolong antarkan saya ke kantor polisi terdekat? Kelihatannya Saya sedang diikuti oleh sekelompok orang yang sangat mencurigakan!" ucap Edwards memberikan perintah kepada sopir taksi yang sejak tadi kebingungan hendak mengantar Edward ke mana.
__ADS_1
Mereka sudah berputar di jalan yang sama hampir tiga kali. Tetapi Edward belum memutuskan akan turun di mana.
" Anda benar Tuan. Si saat keadaan seperti ini memang Kantor Polisi adalah tempat yang paling aman. Apakah anda memiliki musuh? Sehingga ada orang yang mengikuti anda?" tanya Sopir itu kepo dengan urusan Edward.
Edward sudah merasa trauma dengan kejadian sewaktu ada di mall tadi. Dia tidak mau mengulangi lagi untuk bercerita sesuatu yang tidak penting kepada orang yang asing.
" Saya hanyalah seorang dokter biasa yang bekerja di rumah sakit dan tidak pernah memiliki musuh siapapun. Entahlah! Saya juga tidak tahu telah menyinggung siapa. Sehingga ada sekelompok orang yang sejak tadi terus mengikuti saya! Karena sejujurnya saya pun sangat bingung!" ucap Edwards dengan berusaha tetap tenang.
" Baiklah saya akan segera mengantar Anda ke kantor polisi. Semoga permasalahan ini segera selesai. Nanti anda bisa menghubungi orang rumah untuk menjemput anda di sana. Supaya keselamatan anda lebih terjamin! Berhati-hatilah Pak. Zaman sekarang banyak sekali Kejahatan yang tidak terlihat!" ucap sopir taksi itu memberikan nasehat kepada Edward.
Begitu mereka sampai di kantor polisi Edward langsung turun.
" Terima kasih pak dan mohon maaf karena anda sudah dibuat susah oleh saya. Saya mohon kepada anda. Untuk mengantarkan barang-barang yang ada di bagasi mobil anda. Tolong kirimkan ke alamat rumah yang ada di kartu nama ini. Katakanlah kalau ini dari saya dan minta adik saya untuk menjemput saya di sini. Oh ya, satu lagi Pak. Katakan kepada adik saya untuk sekalian bawakan beberapa pakaian untuk saya. Sehingga saya dengan mudah bisa lolos dari pengintaian mereka!" ucap Edward memberikan perintah kepada sopir taksi itu.
" Baik Tuan anda jangan khawatir. Saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk melaksanakan tugas ini!" ucap sopir dengan penuh rasa semangat mendapatkan tugas penting dari Edward.
" Ini saya tambahkan ongkos taksinya. Terima kasih banyak atas bantuan anda. Tolong anda harus menyampaikan pesan saya. Karena saya sedang tidak bisa menggunakan ponsel saya yang lowbat sekarang!" gocap Edward sambil memperlihatkan ponselnya yang mati kepada sopir taksi tersebut.
Setelah memberikan perintah pada sopir taksi. Edward pun kemudian masuk ke dalam kantor polisi dan bersiap untuk menunggu adiknya yang nantinya akan menjemputnya dengan mobil pribadi miliknya yang masih dia parkir di mall. Mobil itu nantinya akan di ambil oleh adiknya dan tugas supir itu adalah mengantarkan adiknya untuk pergi ke lokasi mobilnya yang di parkir di sana.
Edward sudah memberikan uang sebesar Rp500.000 dan juga kunci mobilnya kepada sopir taksi itu untuk membawa adiknya ke mall sehingga bisa mengambil mobilnya dan menjemput dirinya di kantor polisi.
Dengan semangat 45 Sopir itu pun langsung melaksanakan tugas yang diberikan oleh Edward. Apalagi dengan upah sebesar itu yang bisa dia gunakan untuk biaya makan keluarganya selama satu minggu.
Sopir taksi itu melaksanakan tugas dari Edward dengan senang hati dan dia pun datang ke kediaman Edward dengan sangat hati-hati. Dia khawatir kalau mobilnya diikuti oleh orang yang sejak tadi siang selalu mengikuti mereka.
__ADS_1
Setelah dirasa aman. Barulah Supir itu benar-benar datang ke kediaman Edward dan memberikan barang belanjaan kepada Evelyn. Dia memberikan pesan dari Edward kepada adiknya yang tampak bingung dengan kelakuan kakaknya yang tidak biasa.
" Mobil kami diikuti oleh beberapa orang asing sejak kami berada di mall. Oleh karena itu, kakakmu meninggalkan mobilnya di parkiran sana. Dia memintamu untuk segera mengambilnya dan menjemput dia di kantor polisi. Oh ya, Kakakmu juga meminta untuk dibawakan pakaian ganti agar dia bisa keluar dari kantor polisi tanpa dicurigai oleh orang-orang yang sedang menguntitnya!" ucap sopir taksi dengan hati-hati. Karena dia khawatir, kalau pesan yang disampaikan oleh Edward ada yang terlewat olehnya.